Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Kecurigaan

Pagi itu Eliza berdiri lama di depan lemari kecil kosnya. Ia mengeluarkan map lusuh berisi kertas-kertas yang sudah lecek: fotokopi KTP, surat keterangan RT, dan satu lembar yang paling sering ia pegang—surat penemuan bayi.

Tangannya bergetar saat membacanya ulang. Nama saksi tertulis di sana, dua orang. Salah satunya alamatnya sudah tak jelas, satunya lagi hanya nama panggilan.

“Harus mulai dari sini,” gumam Eliza pelan.

Ia tak bisa lagi menunda. Tak bisa lagi menyembunyikan Starla.

Siang menjelang, Eliza dihampiri Bu Gendhis di kamar kosnya. Kepalanya menyembul di ambang pintu yang terbuka separuh.

"Mbak El!" serunya membuatku menoleh. "aku boleh jagain Starla lagi. Putraku ngijinin. Tapi kalau anak sama mantuku pulang, aku fokus ke cucuku dulu, ya," lanjutnya semringah, sambil bertepuk tangan dan melambai ke arah Starla yang sedang mainan.

Eliza mengerjap, menahan napas sesaat karena terkejut.

"Serius, Bu?" kata Eliza sembari bangun. "Tar ngeprank kek undian 17an," kekehnya, membuka pintu lebar, menyilakan beliau masuk.

Bu Gendhis tertawa, dia teringat peristiwa tahun lalu, gagal dapat kipas angin sebab tidak hadir sampai selesai.

"Ndaaaak, ciyus Mbak El." 

Tatapanku meneduh, haru, beliau baik sekali padaku dan Starla. "Matur nuwun sanget, aku sudah lebih dari cukup dibantu," ucapku serak, diangguki beliau.

Bu Gendhis langsung duduk di depan Starla. Wajah kecil itu langsung berbinar.

“Nenek!” Starla memeluk tubuh gemoy dan renta itu erat-erat.

“Lho… kangen to, Nduk?” Bu Gendhis tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. “Nenek yo kangen.”

Eliza berdiri di ambang pintu, dadanya hangat oleh pemandangan sederhana itu. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa tidak sendirian lagi. 

Tuhan seakan tahu kegundahan hatinya, baru saja berpikir jika dirinya kerja, Starla sama siapa? Tapi, pertolongan datang. Rupanya nasib sedang melembut untuknya hari ini.

“Bu, aku izin ya. Aku mau keluar sebentar,” katanya pelan. "Sekalian berangkat kerja," sambung Eliza, meminta salim ke Bu Gendhis.

“Monggo. Starla karo aku wae,” jawab Bu Gendhis mantap.

Starla menoleh. “Ibu mau ke mana?”

“Kerja sekalian cari berkas, Sayang. Nanti pulang,” Eliza tersenyum, berjongkok mencium kening anak itu.

Starla mengangguk, lalu kembali menarik tangan Bu Gendhis, mengajaknya bermain congklak dari tutup botol.

Eliza menutup pintu dengan hati yang lebih ringan.

Sepulang kerja, Eliza tak langsung kembali ke kos. Ia menyempatkan diri mampir ke sebuah gang lama, di belakang pasar kecil. Di sanalah alamat salah satu saksi tertulis—alamat lama yang ia sendiri tak yakin masih ada.

Ia bertanya pada warung, pada tukang parkir, pada ibu-ibu yang duduk di teras.

“Oh, Pak Darto?” seorang ibu mengernyit. “Sudah pindah lama. Katanya ikut anaknya ke luar kota.”

“Ke mana, Bu?”

“Wah, kurang tahu. Sudah bertahun-tahun.”

Eliza mengucapkan terima kasih, meski hatinya merosot pelan. Ia mencatat apa pun yang bisa dicatat, sekecil apa pun. Nama, perkiraan waktu, cerita samar.

Malam itu ia pulang dengan langkah lelah, dengan membawa petunjuk kecil yang berarti. Saksi satunya masih ingat, meski perlu diyakinkan tadi.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme baru.

Paginya Eliza bekerja, menahan kantuk dan cemas. Siang atau sore, ia menyisihkan waktu—menyambangi RT lama, mendatangi kantor kelurahan, menanyakan arsip lama yang hampir hilang. Malamnya, ia pulang ke kos, mendengar cerita Starla tentang hari-harinya bersama Bu Gendhis.

“Nenek ngajarin aku lagu Jawa,” kata Starla sambil menggambar. “Terus aku dikasih pisang."

Eliza tersenyum, duduk di sampingnya. “Starla senang?”

“Iya.” Satu kata itu cukup untuk membuat Eliza bertahan sehari lagi.

Bu Gendhis juga tampak semangat kembali. Starla bagai teman hidupnya yang sepi, mungkin dianggap cucunya juga sebab beliau membantu mengurus Starla dari bayi.

“Wes, ora opo-opo, Mbak El,” katanya suatu sore. “Sing penting aku isih iso weruh Starla.”

Eliza mengangguk, matanya hangat. Selalu begitu, kalimat Bu Gendhis selalu membuatnya tenang.

*

Suatu malam, Eliza membuka map lusuh itu lagi. Kini ada tambahan kertas catatan alamat, nomor telepon nama-nama yang ia harap masih bisa ditemui.

Belum ada hasil signifikan. Belum ada jawaban. Tapi dia tidak lagi diam.

Eliza menatap Starla yang tertidur pulas di kasur tipis, boneka lusuh terpeluk di dada kecilnya.

“Aku usahakan,” bisiknya pelan. “Pelan-pelan, tapi ibu cari.”

Malam terasa lebih tenang dari biasanya. Seakan memberi ruang bagi seorang ibu yang akhirnya berani melangkah—bukan karena ia kuat, tapi karena ia tak punya pilihan lain selain menjaga kebenaran itu tetap berpihak pada anaknya.

***

Sejak beberapa hari terakhir, Hasnawati kerap termenung. Duduk di ruang keluarga dengan televisi menyala tanpa benar-benar ditonton, atau berdiri lama di depan jendela, menatap halaman yang sama tanpa tahu apa yang dilihatnya.

Julia menyadarinya lebih dulu.

Sore itu, ia duduk di tepi ranjang mertuanya, lututnya dipeluk. Wajahnya pucat, mata sembab. Hasnawati ada di kursi dekat jendela, diam, jemarinya saling mengait.

“Ma…” suara Julia pecah. “Aku haid lagi.”

Hasnawati tak langsung menoleh.

“Bulan ini gagal lagi,” lanjut Julia, suaranya bergetar. “Lima tahun, Ma. Hampir lima tahun aku sama Saba. Aku udah periksa, Mas Saba juga. Katanya sehat semua. Tapi kenapa… kenapa belum hamil juga?”

Air mata Julia jatuh satu-satu. Biasanya, Hasnawati akan mendekat. Mengusap rambutnya. Mengucap kalimat penghiburan yang sama. Tapi kali ini, ia hanya diam.

Julia menunggu. Tak ada pelukan. Tak ada respon.

“Mama?” Julia mengangkat wajahnya. “Mama dengerin aku nggak?”

Hasnawati mengangguk kecil, tapi sorot matanya kosong. Pikirannya sibuk menghitung. Tahun. Bulan. Usia. Waktu yang meloncat-loncat di kepalanya, lalu berhenti pada satu titik yang membuat dadanya sesak.

Julia mendesah kesal. “Mama mikirin apa sih?”

Hasnawati tersentak. Buru-buru memperbaiki duduknya. “Nggak apa-apa.”

“Kok Mama jadi aneh?” suara Julia meninggi. “Biasanya Mama yang paling cerewet soal aku. Sekarang malah bengong terus.”

Ia terdiam sebentar, lalu berkata lirih tapi tajam, “Kalau Mas Saba minta nikah lagi gimana, Ma?”

Hasnawati langsung menoleh. “Nggak mungkin,” katanya cepat. “Saba bukan pria seperti itu.”

Namun setelah kalimat itu keluar, ia kembali terdiam. Bengong lagi. Seolah jawaban itu lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Mama!” Julia bangkit berdiri, menghampiri Hasnawati. “Kenapa sih?”

Hasnawati menarik napas dalam. “Julia, Mama lagi pusing. Ini bukan hal besar. Kamu lakukan saja seperti biasa. Jalan-jalan. Ke salon. Cari hiburan.”

Julia menatap ibu mertuanya lama, matanya menyipit. “Mama mikirin apa sih? Anak itu?” katanya tajam. “Anak yang ditabrak itu?”

Hasnawati tak menjawab. Diamnya terlalu panjang.

Julia tertawa kecil, tapi tak ada humor di sana. “Pantes,” gumamnya. “Pantes Mama berubah.”

Ia berbalik, melangkah keluar kamar dengan langkah cepat. Pintu ditutup agak keras.

Hasnawati tetap duduk. Tangannya mengepal di pangkuan. Di kepalanya, potongan-potongan itu kembali berputar—tanda lahir. Kecocokan waktu.

Di luar kamar, Julia berhenti. Ia meraih ponselnya, menekan satu nomor yang jarang ia hubungi.

“Saya mau minta tolong,” katanya pelan tapi tegas. “Cari tahu soal anak kecil yang ditabrak mobil kami di rumah sakit tempo hari.”

Ia menelan ludah. “Namanya Starla, kalau tidak salah. Cari tahu semuanya. Siapa dia. Dengan siapa dia tinggal.” Julia menutup telepon, matanya mengeras.

Di dalam kamar, Hasnawati masih duduk diam. Tak tahu bahwa pencarian yang ia takuti—dan ia tunda—baru saja dimulai dari arah yang sama sekali tak bisa ia kendalikan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!