Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Ayahku
“Atau apa, hm?”
Julia berdiri tegak, sorot matanya menyala. Menantang. Menunggu Saba melanjutkan ancamannya, seolah ia masih ingin memastikan sejauh mana dirinya benar-benar bisa dibuang.
Saba akhirnya mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menatap Julia lurus. “Atau kamu pergi,” ucapnya pelan. “Dengan caramu sendiri. Tanpa melibatkan anak itu lagi.”
Hasnawati memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, nada suaranya melunak. “Julia. Kalau kamu masih mau bertahan, bertahanlah dengan cara yang benar. Tapi kalau kamu memilih melukai—” ia menggeleng pelan, “—Mama tidak akan membelamu lagi.”
Itu kalimat paling menyakitkan. Julia menoleh satu per satu. Mertuanya. Suaminya. Ruangan ini. Semua terasa asing.
“Dan akan aku kembalikan ke keluargamu.”
“Oh, ngancam?” Julia menyeringai. Tawanya tipis, penuh racun. “Aku juga bisa bilang kamu selingkuh sama gembel yang pernah aku tolong. Atau jangan-jangan gembel Eliza itu sengaja nabrakin anaknya biar morotin kita, Ma?” Pandangannya menancap ke Hasnawati, menuntut pembenaran.
Hasnawati menggeleng cepat. “Julia, jangan mengada-ada.”
“Ya kan zaman sekarang, semua dipakai biar mapan instan,” Julia menyahut, bahunya terangkat malas. “Lagian mungkin memang selera Saba perempuan panti, sih—”
“Julia!” Hasnawati sudah mengangkat tangan, tapi pergelangannya tertahan.
“Ma,” kata Saba, suaranya rendah namun tegas. Ia berdiri di samping meja, tubuhnya kaku, rahangnya mengeras. “Tangan Mama nanti yang sakit. Dia nggak akan berubah.” Ia menoleh ke arah Julia. “Namanya juga musang.”
“Musang?” Julia tergelak, tawa yang pecah dan kasar. “Terus kamu apa dong? Parasit berjas?” Ia meraih tasnya kasar, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Sepatunya menghantam lantai, pintu tertutup keras di belakangnya, menyisakan sunyi yang berdenyut.
Beberapa detik berlalu sebelum Hasnawati duduk perlahan. “Kapan aku bisa main dengan Starla?”
Saba menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup. “Lusa.” Dia menghela napas panjang. Bahunya jatuh, seolah beban yang selama ini ia sanggah baru benar-benar terasa. “Ma… aku nggak mau Starla tumbuh di tengah kebencian.”
*
Malam itu, hujan turun tipis. Eliza duduk di lantai, menatap Starla yang sudah terlelap. Bocah itu memeluk bantal, wajahnya damai. Eliza mengusap rambutnya perlahan, hatinya sesak oleh rasa takut sekaligus pasrah.
Lampu kamar sudah redup ketika ponsel Eliza bergetar pelan di samping bantal. Ia melirik layar.
Saba. ["Kalau Julia ganggu kamu, bilang ya."]
Eliza tidak langsung menjawab. Ia hanya membaca, lalu mengunci layar. Dadanya menghangat, entah oleh perhatian itu atau oleh rasa cemas lain.
Beberapa menit kemudian, layar menyala lagi.
["Starla sudah tidur? Boleh aku minta fotonya?"]
Eliza menoleh ke arah kasur. Starla terlelap, satu tangannya memeluk boneka, napasnya kecil dan teratur. Eliza meraih ponsel, mengambil foto tanpa flash. Hanya cahaya lampu tidur yang lembut.
Ia mengirimkannya. Tak lama, balasan masuk.
["Terima kasih, El. Terima kasih."]
Eliza menatap kalimat itu lama. Lalu membalas satu emoji, tangan bertangkup.
Ia teringat sore itu, sepulang dari mall. Saba menggendong Starla masuk ke kamar kosnya tanpa ragu. Tidak ada rasa canggung atau ekspresi jijik atau kaget. Langkahnya mantap, seolah ruang itu bukan tempat asing.
Kosan Eliza sederhana. Tapi bersih. Ia selalu memastikan lantai disapu, parfum ruangan tergantung kecil di sudut, perabotan tertata rapi. Sprei wangi—ia menggantinya rutin, tiga hari sekali. Kebiasaan kecil sejak di panti.
Saba tidak memandangi sekeliling. Pandangannya hanya pada Starla. Ia menurunkan anak itu perlahan, menidurkannya di kasur. Saba duduk di sisinya cukup lama. Melepas jas. Lalu ikut berbaring sebentar, satu tangan menyentuh tepi bantal, memastikan Starla nyaman.
“Susunya belum habis?” tanya Saba ketika melihat rak kecil di sisi ranjang, tempat Eliza menyusun makanan dan minuman Starla dengan rapi.
“Belum,” jawab Eliza. Ia duduk di dekat pintu, sungkan mendekat.
Pandangan Saba lalu jatuh pada tumpukan buku sekolah. Gambar anak-anak. Lalu satu kertas yang berbeda—gambar seorang perempuan.
“Ini… kapan?” suara Saba pelan.
Eliza menarik napas. “Beberapa pekan lalu. Pertama kali dia ikut ke makam Mbak Wulan.” Ia berhenti sebentar. “Malamnya demam. Sampai dibawa ke RS waktu ketemu Anda pertama kali.”
Eliza menelan ludah. “Starla bilang… Mbak Wulan datang ke mimpinya.”
Saba terpaku. Jemarinya menyentuh gambar itu, sangat pelan, seolah takut merusaknya. Ia memotretnya dan berdiri. Melangkah ke pintu. Tubuhnya membungkuk sedikit sebelum pergi.
Di titik itu, Eliza sadar, hatinya mulai lunak. Bukan karena janji. Tapi karena cara Saba hadir, diam, utuh, dan penuh hormat.
Keesokan hari, dan hari-hari setelahnya, Saba rutin mengantar dan menjemput Starla. Ia datang tepat waktu, menunggu dengan sabar, pulang dengan senyum kecil.
Sampai suatu sore, Starla bertanya sambil mengayun-ayunkan tasnya, polos dan jujur. Saba atau Eliza tak menjawabnya kala itu.
*
Senja sudah turun di kamar kosan yang sempit itu. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit, membuat bayangan bergerak pelan di dinding yang catnya mulai kusam.
Eliza duduk di tepi ranjang. Starla berdiri di depannya, masih mengenakan seragam sekolah yang belum diganti, tas kecilnya tergeletak di lantai.
Pertanyaan tempo hari muncul lagi. Starla menatap Eliza.
“Kenapa sih, Om Saba sekarang suka antar jemput Starla?” tanya Starla polos. “Ibu mau pergi, Starla mau di titip bukan sama Nek lagi?”
“Nggak.” Jawab Eliza cepat, tapi suaranya goyah. Matanya berkaca-kaca, berusaha tersenyum namun gagal.
Starla menangkap perubahan itu. Bibir kecilnya bergetar. “Ibu kenapa?” Ia mulai terisak. “Starla bandel, ya?”
Eliza menggeleng cepat. “Bukan.” Suaranya patah. “Starla b-ba-ik.” Air mata jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya.
Starla naik ke pangkuannya, mengusap air mata Eliza dengan tangan kecilnya. Lalu memeluk leher Eliza erat-erat. Tangisnya ikut pecah.
“Starla…,” panggil Eliza lirih.
Starla melepas pelukannya, menatap wajah Eliza yang basah. “Iya?”
“Om Saba itu, sayang sama Starla.”
“Iya.” Jawab Starla pelan.
Starla menatap lantai sebentar, lalu kembali menatap Eliza. “Starla nakal ya, ibu sedih?”
Starla ikut berkaca-kaca. Eliza malah menangis lebih keras kini. Ia menutup mata, seolah menyiapkan diri untuk sesuatu yang terlalu berat diucapkan.
“Om Saba itu…” suara Eliza bergetar.
Starla menunggu. Matanya sembab, napasnya tertahan.
“Dia…” Eliza menelan ludah, lalu membuka mata. Tatapannya bertemu dengan mata Starla. “Ayahmu.”
Starla diam. Tak berkedip. Seolah dunia berhenti sesaat.
“Ayah?” tanyanya pelan. "Starla?"
Udara terasa dingin. Hanya suara kipas angin tua yang berderit pelan, sesekali berhenti lalu berputar lagi. Eliza memeluk Starla di pangkuannya, dahi mereka hampir bersentuhan. Air mata jatuh ke kain baju Starla, diserap perlahan.
Starla memeluk leher ibunya, jemarinya mencengkeram kain punggung Eliza, seolah takut dilepas. Di ruang sekecil itu, kata-kata tentang ayah terasa terlalu mendadak untuk Starla.
.
.
TAMAT ... sampai jumpa di season 2.