Restu untuk Raya

KEPUTUSAN DANU

Tiga setengah bulan setelah malam makan malam yang menyakitkan itu, beban penyesalan menggerogoti Danu. Baru sekarang ia memiliki keberanian untuk mendatangi Raya di apartemennya. Namun, nihil. Apartemen itu kosong melompong. Lemari pakaiannya pun sudah tidak ada. Beberapa barang pribadi milik Raya sudah tak ada lagi di tempat biasanya. Raya pergi, menghilang dari kehidupannya tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Malam itu, Danu menghabiskan waktu, bahkan tidur, di apartemen yang selama beberapa tahun ini ditempati Raya. Setiap sudut ruangan terasa hampa, namun masih tersisa aroma yang biasa menguar dari tubuh Raya saat Danu memeluknya. Bantal, kasur, dan tiap sudut ruangan merekam jejak Raya dengan sangat baik, namun kini hanya kenangan yang tersisa.

Kurang dari dua bulan lagi, ia dan Cita akan menikah. Memulai lembar baru sebagai pasangan hidup, sebuah lembar yang tidak pernah ia inginkan. Danu meraba layar ponselnya, foto Raya masih tertinggal di sana. Senyum manis Raya yang selalu menenangkan, kini justru terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Tidak bisa dipungkiri, ketidakhadiran Raya selama tiga setengah bulan ini mampu menciptakan ruang kosong yang begitu gelap di dalam rongga hati Danu, lubang yang terasa tak akan pernah terisi.

Esoknya, dengan sisa-sisa harapan, Danu mendatangi kantor Raya, mencoba mencari tahu di mana gadis itu tinggal. Untuk kedua kalinya, Danu dibuat terkejut dan merasakan pukulan telak. Raya sudah tidak bekerja di sana. Bahkan beberapa teman Raya tutup mulut tentang keberadaan Raya, seolah melindungi Raya dari dirinya. Danu meremas rambutnya dengan kasar. Tiga setengah bulan. Ya, hanya tiga setengah bulan dia menepi sejenak, tenggelam dalam kebimbangan antara cinta dan tanggung jawab. Namun, kenapa Raya sudah melangkah sejauh itu? Saat Danu belum bisa menentukan jalan mana yang harus dia pilih, Raya sudah mampu membuat peta perjalanan yang baru, meninggalkannya jauh di belakang.

“Mas Danu?”

Sebuah suara di belakangnya membuat Danu yang sedang duduk pun memutar tubuhnya dan menatap lelaki yang kini berhadapan dengannya. Itu Ares. Danu mengenali wajah itu.

“Ares? Kamu Ares, kan? Temannya Raya?” Danu bertanya, matanya penuh harap.

“Iya, Mas. Ngomong-ngomong Mas Danu ada perlu apa ya ke sini?” Ares memilih kursi di depan Danu untuk tempat duduknya, sikapnya tenang namun waspada.

“Saya mencari Raya. Kamu pasti tahu Raya ada di mana.” Suara Danu terdengar mendesak.

“Raya? Kenapa Mas Danu mencari Raya? Bukannya kalian mau menikah ya?” Ares berpura-pura tidak tahu kandasnya hubungan Raya dan Danu, tatapannya menelisik reaksi Danu.

Danu menghela napas berat, merasakan pahitnya pengakuan ini. “Ada sedikit masalah di antara kami. Raya marah. Baru semalam saya datang ke apartemennya dan dia nggak ada di sana. Saya pikir dia ada di sini. Tapi saya malah dapat kabar dia sudah mengundurkan diri. Kamu pasti tahu keberadaan Raya.” Ia berharap Ares akan iba dan membantunya.

“Wah, sayang sekali Mas, saya nggak tahu sekarang Raya ada di mana,” ujar Ares datar, tanpa ekspresi yang mengkhianati.

“Kamu nggak sedang menutupi sesuatu, kan? Saya tanya yang lain juga semua kompak menjawab tidak tahu.” Danu merasakan frustrasi, tangannya mengepal samar di bawah meja.

“Raya sudah berhenti bekerja kurang lebih dua bulan lalu. Setelah itu, dia nggak pernah datang lagi ke sini. Kami nggak tahu dia sekarang ada di mana. Memangnya Mas Danu tidak bisa menghubungi Raya?” Ares bertanya balik, mengalihkan pertanyaan dan menekan Danu dengan kenyataan.

“Dia memblokir nomor saya. Di medsosnya juga tidak ada postingan baru yang menunjukkan posisi dia sekarang,” jawab Danu, nada suaranya dipenuhi kekecewaan.

“Maaf Mas. Saya betul-betul nggak tahu Raya ada di mana.” Ares mengulangi, mempertahankan sikapnya. Dalam hati ia bertanya,

Ke mana saja Mas Danu selama ini? Baru sekarang mencari Raya setelah dia menghilang?

Ares khawatir, jika terlalu lama berinteraksi dengan Danu, dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia tahu Raya telah terluka parah.

“Ya sudah tidak apa-apa. Boleh saya minta kertas dan pinjam pena? Saya mau menulis surat untuk Raya. Tolong kamu simpan. Siapa tahu, besok atau lusa Raya menghubungi kamu, bisa kamu berikan surat yang saya tulis untuk dia.” Danu tak menyerah, mencoba cara lain.

Ares hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak ingin berlama-lama bicara dengan Danu. Hatinya dipenuhi rasa campur aduk antara iba melihat Danu, dan kemarahan atas apa yang telah Danu dan keluarganya lakukan pada Raya.

***

Lima bulan kemudian.

Gaun pengantin putih yang indah melambai pelan seiring langkah Danu dan Cita memasuki ballroom hotel mewah. Denting gelas, tawa riuh, dan ucapan selamat berbaur di udara, menciptakan suasana pesta yang meriah. Danu, dalam balutan setelan jasnya, menyalami para tamu yang mengucapkan selamat kepadanya. Ia mencoba menampilkan senyum terbaiknya, senyum seorang pengantin pria.

“Kamu menyesal?” Samiadi melirik sekilas ke arah Danu, tatapannya menyiratkan kepuasan sekaligus pertanyaan.

“Kalau aku bilang menyesal, apakah ayah mau mengubah keputusan ayah?” Danu malah balik bertanya, sebuah kalimat yang terdengar pasif agresif, mengungkapkan keraguan yang tak terucap.

“Satu hari nanti, kamu akan berterima kasih kepada ayahmu ini.” Samiadi sesumbar, yakin dengan keputusannya.

Danu memilih diam. Mengapa ia harus berterima kasih atas kehilangan yang begitu besar? Cita bukanlah orang baru dalam hidup Danu. Mereka masih memiliki hubungan kerabat dari pihak Samiadi. Kakek buyut Danu adalah kakak kandung nenek buyut Cita. Keduanya sudah saling mengenal sejak kecil dan bertemu dalam setiap acara kumpul keluarga besar. Namun, kedekatan itu tidak pernah berujung pada perasaan yang sama seperti yang ia rasakan pada Raya.

“Ada masalah, A?” bisik Cita di telinga Danu, suaranya lembut, penuh perhatian.

“Nggak ada.” Danu mencoba untuk tersenyum, senyum yang terasa hambar di bibirnya. Ia belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya. Cinta Danu sudah habis di Raya. Ia tahu itu, jauh di lubuk hatinya.

Berbeda dengan Cita. Sejak remaja, Cita sudah mengagumi Danu. Bahkan saat awal masuk kuliah, Cita secara terang-terangan pernah mengatakan rasa sukanya kepada Danu. Sayang, Danu tidak pernah serius menanggapinya. Maka, ketika orang tuanya menyampaikan lamaran dari Samiadi, Cita langsung menerimanya tanpa bertanya kenapa Danu tidak jadi menikah dengan Raya. Ada ambisi tersembunyi, sebuah keyakinan bahwa ia bisa mengubah hati Danu.

Di antara riuh tamu undangan yang terus saja berdatangan , Danu justru merasa sendirian, terasing di tengah keramaian pernikahannya sendiri. Tatapan mata Raya yang sarat dengan rasa sakit seakan menghantui hari-hari Danu selama lima bulan belakangan, sebuah bayangan yang tak bisa ia usir. Perasaan bersalah dan menyesal terus saja menggerogoti pikiran Danu. Ia tahu, Raya tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa. Begitu pula Meylin, tidak bisa menentukan takdir apa yang akan dijalani dalam hidupnya. Danu terus merutuki kebodohannya yang tidak bisa berjuang mempertahankan hubungannya dengan Raya. Alih-alih mengejar Raya, Danu malah memilih diam ketika orang tuanya bergerak melamar Cita, sebuah keputusan yang kini ia sesali dengan dalam.

Hanya dalam kurun waktu sebulan, persiapan pernikahan Danu dan Cita sudah mulai dirancang. Sejatinya, tanggal pernikahan itu adalah milik Danu dan Raya. Begitu pula

wedding organizer, vendor katering, suvenir, undangan, gedung, bahkan make-up dan gaun pengantin, semuanya menggunakan konsep yang sudah direncanakan Raya. Entah mengapa Cita menyetujui semuanya dengan sangat mudah, seolah tak peduli dengan jejak masa lalu yang melekat pada setiap detailnya.

Tentang Cita, Danu tidak pernah mau tahu apa yang ada di pikiran gadis itu. Hanya dua kali mereka bertemu dan sekali terlibat dalam obrolan serius. “Aku anggap orang tuaku sudah menceritakan semuanya. Aku hanya menegaskan, jangan berharap banyak kepadaku. Pernikahan ini bukan kemauanku. Semuanya sudah diatur sama orang tua kita,” tegas Danu, kata-kata yang dingin, jujur, namun tanpa belas kasihan.

“Cita tahu, A. Semuanya demi nama baik keluarga dan demi karier Aa yang mau nyalon jadi bupati. Nggak apa-apa kalau Aa nggak cinta sama Cita, Cita bisa menunggu,” jawab Cita, suaranya tenang, menyimpan kekuatan yang tak Danu duga.

Bukan tanpa alasan Cita mengatakan hal itu kepada Danu. Sebagai perempuan yang memiliki garis keturunan yang sama dengan Danu, Cita sudah dididik sedemikian rupa untuk menjaga nama baik keluarga besar mereka. Cita memiliki pengendalian diri yang sangat luar biasa. Selalu tampak tenang di permukaan. Raut wajahnya nyaris tak pernah menunjukkan riak yang berlebihan. Ketika keluarga Danu datang untuk melamarnya, Sekar sudah memastikan kalau dia dan suaminya akan berdiri di garda terdepan yang akan membela Cita jika Danu menyakitinya. Cita langsung melakukan negosiasi dengan begitu baik. Memastikan bahwa hanya dia yang akan menjadi satu-satunya pendamping Danu. Cita memang mencintai Danu, namun dia tidak bodoh untuk menerima begitu saja keputusan kedua keluarga. Cita tahu, tak ada cinta yang bisa Danu berikan kepada dirinya. Untuk itulah Cita harus memastikan keluarga Danu berdiri di belakangnya, memastikan posisinya tak tergoyahkan.

***

   

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!