Restu untuk Raya

SIAPA AYAH RAYA?

Raya menyaksikan pemandangan itu dalam diam, terpaku di tempatnya. Dunia di sekelilingnya seakan berhenti berputar. Detik-detik terasa beku, setiap bunyi di luar rumah menguap dalam keheningan yang pekat. Hatinya adalah medan perang. Satu sisi retak, nyaris rapuh menjadi kepingan yang sulit untuk direkatkan lagi. Penolakan terang-terangan dari keluarga Danu—keluarga yang seharusnya menjadi keluarganya juga—laksana tornado yang menghantam seluruh jiwanya.

Namun badai yang paling dahsyat bukan datang dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Sisi hatinya yang lain telah menjadi serpihan seringan kapas, menguap terbawa angin, mendapati kenyataan bahwa laki-laki yang selama ini dia percayai sebagai ayah kandungnya yang telah meninggal, ternyata tak pernah jelas asal-usulnya. Sebuah misteri gelap kini menjelma seperti lubang hitam yang menganga tepat di depan matanya. Siapa sebenarnya ayah Raya? Siapa dirinya?

Tubuhnya seketika lemas, kekuatan meninggalkannya begitu saja. Ia terduduk di lantai, bersandar pada dinginnya dinding. Dingin itu menembus kulitnya, menjalar ke tulang-tulang, menembus sampai ke hatinya. Tak ada lagi tenaga bahkan untuk sekadar menangis atau berteriak. Semua emosi bergumpal jadi satu, menyesakkan dada.

Berbagai pikiran bertalu-talu, saling bertabrakan, berputar-putar tak beraturan dalam kepalanya yang terasa seperti mau pecah. Apa yang terjadi sebenarnya? Kalau ayah kandungku belum meninggal, mengapa Samiadi mengatakan asal usulku tidak jelas? Sebuah pikiran paling menakutkan, paling kotor, mulai menyelinap masuk, membisiki keraguan dalam dirinya. Apakah Mama seorang pelacur? Bagaimana bisa ia tidak tahu siapa ayahku?

Pikiran itu menamparnya keras. Ia membenci dirinya karena berani memikirkannya, tapi kalimat itu terlanjur hidup, menggeliat di benaknya seperti ular. Rasa sakit dan kebingungan itu memicu pertanyaan-pertanyaan lain yang selama ini tersembunyi di sudut kesadarannya.

Raya baru menyadari, selama ini ia tidak pernah mengenal kakek-nenek dari pihak Meylin. Ia hanya tahu Abah Juhri dan Emak Juminah, kedua orang tua Surya, yang ia kenali sebagai kakek-neneknya. Lalu di mana keluarga Meylin? Mengapa tidak ada satu pun sanak saudara Meylin yang Raya kenal? Begitu pula dengan keluarga ayah kandungnya. Siapa pun dia.

Selama dua puluh lima tahun hidupnya, Raya tak pernah mengenal kakek, nenek, om, tante, atau siapa pun dari pihak ayahnya. Bahkan kuburan ayah kandungnya pun tak pernah ia lihat dengan mata kepala sendiri. Semua yang ia percayai hanyalah berdasarkan cerita Surya semata. Cerita yang kini terasa seperti dongeng belaka. Kebohongan yang membangun seluruh pondasi hidupnya.

Hampir satu jam ketiganya terpenjara dalam diam yang memekakkan. Satu jam yang terasa seperti keabadian bagi Raya, membiarkannya tenggelam dalam pusaran pertanyaan dan rasa sakit. Napas Meylin kini mulai teratur sepenuhnya, ritmenya kembali normal. Surya beranjak, mengambil obat yang biasa diminum oleh Meylin, lalu dengan lembut membantu istrinya menelan obat itu. Tak lama setelahnya, efek obat bekerja. Meylin tertidur di pangkuannya, wajahnya tenang namun menyimpan kepedihan yang dalam.

Surya menghela napas lega. Ditatapnya wajah perempuan yang telah menemaninya hampir separuh hidupnya itu. Di balik ketenangan Meylin, ia tahu, badai yang sama juga sedang mengguncang jiwa istrinya.

Dengan hati-hati, penuh kelembutan, Surya membopong tubuh Meylin ke kamar mereka. Diletakkannya di atas tempat tidur, diselimutinya dengan selimut tebal, lalu diusapnya kepala perempuan itu, memastikan posisinya nyaman. Ia mengecup kening Meylin lama, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk melindunginya dari ingatan masa lalu.

Ketika akhirnya ia keluar dari kamar, Surya menutup pintu perlahan. Di ruang tengah, Raya masih meringkuk di lantai, air mata mengering di pipinya. Wajahnya kosong, seperti seseorang yang kehilangan arah pulang.

Surya duduk di hadapannya. Tatapan matanya lembut, tapi di dalamnya bergolak perasaan bersalah yang menahun. “Papa tahu, kamu pasti sudah sangat penasaran,” ucapnya parau, hampir seperti bisikan. “Maafkan papa dan mama karena menyembunyikan rahasia besar ini darimu. Sungguh, semua ini kami lakukan karena kami sangat menyayangimu, Raya. Papa ingin melindungi kalian berdua dari kebenaran yang pahit ini. Kebenaran ini terlalu menyakitkan, terutama bagi mamamu.”

Raya mengangkat kepala, menatap ayah yang selama ini ia anggap sempurna. Matanya merah, sembab, namun ada kilatan keteguhan di dalamnya. Campuran antara luka, kebingungan, dan amarah.

“Tapi papa rasa, sekarang waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.” Surya menelan ludah, suaranya bergetar. “Apa yang dikatakan orang tua Danu tadi malam… tidak salah. Meski papa bisa menjamin satu hal, bahwa kamu tetap darah daging papa, Raya. Melebihi apa pun.”

Ada getaran yang menyayat hati dalam suaranya, pengakuan yang seperti menelanjangi jiwanya sendiri.

“Lalu siapa orangnya?” tanya Raya pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, tapi di baliknya tersimpan tuntutan yang keras, hak untuk tahu siapa dirinya.

Surya menatap mata putrinya dalam-dalam, mencoba menyampaikan betapa rumit dan menyakitkan jawabannya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara nyaris patah, “Papa tidak tahu. Begitu juga mamamu. Dia tidak mampu mengingat wajah lelaki itu. Apalagi mengenalnya.”

Raya tertegun. “Maksud papa?”

Pikiran buruk yang tadi ia usir kembali menyeruak. “Apa mama… dianiaya?” bisiknya dengan suara hampir tak terdengar.

Surya menunduk. Bahunya bergetar halus. Butuh waktu lama sebelum ia mengangguk pelan. “Ini adalah cerita kelam mamamu, Raya. Kalau mungkin, mamamu sangat ingin menghapus episode itu dari hidupnya. Tapi sayangnya tidak bisa. Karena ada kamu… yang menjadi bagian terpenting di dalamnya.”

Kata-kata itu jatuh perlahan, tapi efeknya menghantam keras dada Raya. Ia terpaku, lalu menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras, membasahi lutut yang ia peluk erat.

“Apa mama seorang pelacur? Sampai tidak tahu siapa yang menghamilinya?” ucap Raya di antara isak, menatap Surya dengan mata penuh harap agar dugaannya salah, agar kalimat itu tak perlu menjadi nyata.

Mata Surya memancarkan kilat kesakitan dan kemarahan yang tertahan. “Jauhkan pikiran itu dari kepalamu, Raya!” suaranya meninggi, tapi cepat mereda jadi parau dan berat. “Mamamu perempuan terhormat! Apa yang terjadi padanya adalah tragedi, bukan pilihan! Papa tidak pernah menyesal menikahi mamamu, dan papa tidak akan pernah membiarkan siapa pun merendahkan martabatnya, termasuk kamu.”

Raya menunduk, tubuhnya gemetar. Suara ayahnya menggema di kepalanya, namun bayangan peristiwa yang belum pernah ia ketahui justru semakin nyata, semakin menakutkan.

“Lalu, bagaimana bisa mama hamil aku tapi tidak tahu siapa yang menghamilinya? Bagaimana ini bisa terjadi, Pah?”

Pertanyaan itu seperti memaksa Surya membuka kembali luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam. Ia menutup matanya erat, menarik napas panjang. Setiap helaan terasa berat, seperti mengangkat beban yang tak kasat mata.

Kenangan dua puluh lima tahun lalu kembali berkelebat. Malam-malam di mana Meylin tidak pulang, tubuhnya ditemukan dalam keadaan luka dan trauma, ingatannya berantakan. Mereka waktu itu masih muda, baru menikah beberapa bulan. Surya ingat bagaimana ia menggenggam tangan Meylin di rumah sakit, ketika perempuan itu terisak, berulang kali mengatakan bahwa ia tidak ingat apa pun. Ia hanya tahu bahwa ada kegelapan, ada ketakutan, dan kemudian… ada kehidupan yang tumbuh dalam rahimnya. Raya.

Surya menelan sesak di dadanya. Ia telah melewati masa-masa di mana ia hampir menyerah, di mana orang-orang mencibirnya karena menikahi perempuan “bermasalah”. Tapi ia bertahan. Karena ia mencintai Meylin. Dan karena bayi yang ada di kandungannya adalah nyawa yang tidak bersalah.

“Pah…” Sentuhan tangan Raya di lengannya membuyarkan lamunan itu. Dingin dan gemetar, tapi nyata.

Surya membuka matanya. Tatapannya berat, tapi penuh cinta. “Kamu lahir dari sebuah peristiwa yang tak seharusnya terjadi, Raya. Tapi kamu bukan kesalahan. Kamu adalah harapan. Mamamu hampir kehilangan segalanya waktu itu. Harga diri, masa depan, bahkan hidupnya sendiri. Tapi ketika tahu ada kamu di rahimnya, dia memilih untuk bertahan. Dia bilang pada papa, ‘Biarkan aku melahirkan anak ini. Mungkin Tuhan memberi aku dia agar aku tidak mati dalam kebencian.”

Air mata menetes dari mata Surya, tanpa ia sadari. “Sejak saat itu, papa bersumpah untuk menjaga kalian berdua. Tidak peduli apa kata dunia. Tidak peduli darah siapa yang mengalir di tubuhmu, kamu tetap anak papa. Dan kamu harus tahu, papa tidak pernah menyesal.”

Raya menatapnya lama. Dunia di sekeliling mereka seolah memudar, menyisakan hanya dua jiwa yang terhubung oleh cinta dan luka.

“Kenapa papa dan mama tidak pernah menceritakan ini sebelumnya?” suaranya lirih, namun tajam oleh kepedihan.

“Karena kami ingin kamu tumbuh tanpa bayangan masa lalu itu. Kami ingin kamu percaya bahwa hidupmu bersih, penuh cinta. Tapi dunia tidak selalu sebaik yang kita kira. Rahasia selalu menemukan jalannya untuk keluar.”

Sunyi kembali melingkupi ruangan itu. Jam dinding berdetak pelan, satu-satunya suara yang memisahkan mereka dari keheningan mutlak.

Raya menatap lantai, lalu perlahan berucap, “Berarti aku… bukan siapa-siapa.”

Surya langsung menggeleng keras. “Kamu adalah segalanya bagi kami. Kamu anak kami, Raya. Tak ada yang bisa menghapus itu.” Ia memeluk putrinya erat, memaksanya untuk merasakan detak jantung yang tulus, hangat yang nyata. “Kamu bukan aib, kamu adalah anugerah.”

Tangisan Raya pecah di dada Surya. Untuk pertama kalinya sejak badai itu datang, ia membiarkan air matanya mengalir bebas. Di balik pelukan itu, dua hati yang remuk perlahan menemukan kembali bentuknya. Tak sempurna, tapi saling menyembuhkan.

Dan di kamar seberang, Meylin terlelap dalam tidur berat, mungkin bermimpi tentang masa lalu yang ingin ia lupakan, tentang bayi kecil yang kini sudah dewasa—yang akhirnya tahu kebenaran, dan suatu hari, mungkin akan memaafkannya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!