Ringgo, Kura-Kura Menembus Batas
Dua Pemburu dari Kota
Dua orang pemburu sedang memegang senapannya, mereka sedang berburu kijang di sekitar perkebunan milik pak Tohir. Mereka sedang berlibur dari pekerjaan mereka dan mengambil liburan untuk memburu hewan kijang atau hewan lainnya.
Perkebunan yang luas, baik tanaman; sawit, karet, ataupun tanaman perkebunan lainnya. di sekitar tempat pak Tohir adalah perkebunan milik PT yang sangat luas. Maka, kedua pemburu itu senang memasuki areal perkebunan untuk mencari hewan buruan yang bisa mereka tembak.
Keduanya memasuki perkebunan jauh, mereka membawa perlengkapan lengkap dengan senjata. Mereka menyapa pak Tohir sebelum berangkat masuk ke perkebunan dan menitipkan kendaraan mobil mereka di rumah pak Tohir. Di sekitar rumah pak Tohir terdapat rawa yang jernih airnya, dan di sana hidup banyak sekali kura-kura termasuk adalah kura-kura Ringgo dan rekan-rekannya.
Kedua pemburu itu terlalu asyik berburu, hingga waktu sudah petang. Mereka baru menyadari karena di dalam perkebunan sudah gelap. Mereka mendapatkan satu ekor buruan dan segera keluar dari perkebunan karet. Saat mereka tiba di rumah pak Tohir, malam sudah menyapa. Mereka pun terpaksa menginap di rumah pak Tohir tersebut.
Kedua pemburu itu akan pulang besok paginya, dan malam itu mereka membuat api ungun untuk memanggang daging kijang yang mereka dapatkan siang harinya. Mereka pun mempersiapkan kayu dan bersiap menghidupkan api.
Pak Tohir sedang keluar sebentar untuk mencari minyak untuk keperluan dapurnya. Sebelum pergi, pak Tohir sudah berpesan kepada kedua tamunya. Pesan itu adalah agar tidak menggunakan api atau melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan api besar. Maklum, sekarang adalah musim kemarau sehingga air sedikit mengering dan perkebunan juga sedang dalam kondisi keguguran.
Sepercik api sangat berbahaya jika manusia sembrono dan teledor. Namun, kedua pemburunya sepertinya lupa akan pesan dari pak Tohir karena keduanya sudah tidak sabar untuk memanggang daging kijang yang sudah mereka bersihkan.
Mereka berdua pun berhati-hati dalam membuat api unggun. Mereka akan menjaga api dengan baik agar tidak sampai merambat ke daun kering atau ranting kayu di sekitar api unggun.
Mereka mulai membakar daging, dan mereka menikmati malam dengan angin yang semilir.
Sayangnya, keduanya lupa bahwa keduanya sedang bersenang-senang. Saat sebagian daging kijang matang, mereka menyalakan rokok karena gembira.
Dan, salah satu dari mereka membuang puntung rokok yang dihisabnya tanpa mematikan nyala di rokoknya. Saking gembira memakan daging panggang, saat itu puntung rokok itu menempel pada daun kering yang ada di sekitar mereka.
Sepercik api di puntung rokok itu membakar satu daun kering pada awalnya, dan merambat. Api semakin menjalar dan besar. Kedua pemburu baru menyadari akan hal itu. Mereka baru sadar saat mencium asap mulai mengepul. Keduanya langsung panik dan berteriak, keduanya juga berusaha mengambil air di rawa. Namun, air rawa yang sedikit mengering menyusahkan kedua pemburu untuk memadamkan api yang terus membesar.
Kedua pemburu pun panik, keduanya hanya bisa berlarian kesana-kemari mengambil air sebisanya. Namun, api terus membesar. Keduanya berteriak-teriak minta tolong dan kebakaran meluas.
Saat itu, pak Tohir yang baru datang kaget. Dia melihat asap mengepul dari kejauhan, saat dia datang dia segera berusaha mengambil air. Pak Tohir berteriak-teriak agar ada penduduk di desa ramai tahu kalau ada kebakaran di perkebunan.
***
”Kebakaran!”
”Kebakaran, cepat keluar dari sini. Tempat kita dikepung oleh api!”
”Cepat lari!”
”Lari!”
Ringgo kaget, dia sedang berada di perkebunan. Malam itu dia mencium bau asap saat belajar berlari. Kegiatan Ringgo saat malam adalah belajar berlari lebih kencang dan lebih kencang. Dia ingin membuktikan dengan kemampuannya bahwa kura-kura bukanlah makhluk dengan sebutan si hewan paling lambat.
Kura-kura mampu berlari cepat, hal itu karena fisiknya didukung dengan baik oleh Tuhan dengan tempurung kuat dan kaki empat yang kuat.
”Kebakaran!”
Suara itu adalah teriakan dari teman-temannya yang sedang istirahat di dekat rawa, di dekat rumah pak Tohir yang merupakan petani di sana. Apa yang terjadi? Ringgo pun harus segera tahu.