Sang Pelindung Bumi
Surat dari Paman Agra
Sebuah portal dimensi terbuka, beberapa Hunter keluar dari sana. Portal itu berada tidak terlalu jauh dari pertempuran dahsyat yang terjadi, antara para Hunter dengan pasukan dari Aries. Mereka cukup terlambat karena pertarungan sudah berjalan lama, dan para Hunter sudah dikalahkan cukup parah.
[Kalahkan pasukan nomor satu dari 100 kekuatan milik Giganos. Kekuatan dari Aries, makhluk terkuat dan panglima perang tertinggi. Kekuatannya mampu menghancurkan suatu planet dengan kekuatannya!]
Dinan harus siap dengan kekuatan pasukan nomor satu yang dimiliki Giganos. Dinan sudah cukup banyak mengumpulkan energi dan menambah kekuatannya, dia sudah siap jika harus berhadapan dengan para musuh yang yang kuat. Bahkan, jika Giganos datang maka Dinan tidak akan mundur selangkah sekalipun.
Musuh yang sangat kuat, bekas pertarungan dan ledakan bahkan membuat para Hunter terjatuh. Dinan keluar bersama dengan Raymond dan Aline. Mereka sudah menyelesaikan tiga Portal Langka. Artinya, Portal Dimensi langka tersisa dua dan juga penghalang dimensi bumi sudah tak sempurna. Kekuatan Giganos akan segera memasuki bumi, Dinan harus lebih cepat dalam mengumpulkan serpihan Galaxy Soul.
Saat keluar dari Portal Teleportasi, sebuah ledakan besar terjadi dan membuat tekanan yang sangat kuat. Dinan dan juga dua Hunter yang bersamanya, merasakan energi ledakan. Mereka bahkan harus menggunakan energi defensif untuk mempertahankan keseimbangan mereka.
Mereka tentu saja kaget karena baru saja keluar dari portal dimensi. Setelah ledakan besar terjadi, dari kejauhan mereka melihat pemimpin kuat dari pasukan musuh. Seorang yang kuat sedang mendekati seorang wanita yang tengah jatuh di tanah.
Pedang makhluk besar itu mengayun, dan hampir mengenai sosok manusia yang sudah tidak melawan tersebut.
Dinan melihat hal itu, itu adalah Sophie Noemie. Dinan ingat betul siapa dia, seorang yang harus dijaga, karena dia adalah anak dari paman Agra, sosok yang selalu membantunya saat dia kesulitan dulu sebelum menjadi Hunter.
Dia harus cepat!
[Manipulasi waktu ditingkatkan hingga maksimum!]
[Stealth ditingkatkan hingga maksimum!]
Dinan berusaha menghentikan waktu dengan kekuatannya, dia juga mengeluarkan skill Stealth yang merupakan gerakan tak terlihat karena kecepatan tinggi. Aline dan Raymond bahkan tak menyadari, dan seolah waktu berhenti. Mereka baru sadar setelah menemukan Dinan sudah tidak ada, dan menahan serangan makhluk besar itu saat akan mengakhiri nyawa hunter Sophie.
Hembusan kekuatan seolah menampar Sophie dengan kuat, dia sudah pasrah. Bahkan, dia memejamkan matanya. Nyawanya seolah terlepas, tapi kenapa seolah tidak terasa sakit?
Sophie membuka matanya, di depannya makhluk besar dari Dimensi yang pecah di langit masih memegang pedangnya. Seseorang menolongnya, di sampingnya sosok manusia menahan serangan pedang yang kuat itu. Sosok itu adalah ...
”Siapa kamu manusia?” Aries menggelengkan kepalanya ke kanan, tanda penasaran.
Lelaki itu membuka penutup kepalanya dan membukanya ke belakang, ”Aku adalah, Dinan. Guardian of Earth!”
”Ha... ha... ha...,” Aries mendongakkan kepalanya ke atas sambil tertawa penuh kesombongan.
”Kamu ...!”
Klang!
Mata Aries terbelalak kaget. Belum sempat meneruskan kata-katanya, pedangnya sudah terpental terbang ke atas. Pedang itu jatuh di sebelah kanan Aries cukup jauh, pedang itu disingkirkan oleh manusia itu dengan kekuatan energinya. Aries sempat takjub dengan kecepatan manusia tersebut.
Dinan berdiri dan membantu hunter Sophie untuk berdiri. Dia menuntun Sophie agak menjauh dari Aries. Aries membiarkan hal itu, dia merasa marah karena tidak dihiraukan. Namun, dia menahan amarahnya. Dia mampu melakukan itu karena dia adalah komandan tertinggi dari Bangsa Cyprus. Dia membiarkan manusia itu melakukan apa saja keinginannya, sebelum dia akan memusnahkan mereka semua.
”Kamu..., Kamu adalah ...,” wajah Sophie terlihat pucat, karena dirinya dipegangi tangannya oleh Dinan dan diajak menjauh dari musuh. Sophie tampak kebingungan, musuh mereka di belakang. Namun, pemuda itu seolah tak peduli dan tetap menuntun Sophie lebih jauh lagi, hingga mencapai beberapa Hunter Rank S lainnya yang masih terluka dan penasaran. Mereka semua menatap Dinan yang menuntun Sophie.
”Apakah kamu, Dinan yang dicari oleh mereka?” tanya hunter Sophie setelah Dinan melepaskan tangannya, dan dia berada di antara Hunter-hunter yang lainnya.
”Benar. Aku adalah Dinan,” Dinan memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, surat yang selalu dia jaga. Selama belum memberikannya pada orang yang diamanahi, dia tidak akan bisa tenang.
”Ini adalah surat yang ditinggalkan Paman Agra. Katanya, puterinya adalah sosok Hunter kuat yang membela manusia dari monster. Dia membuat pesan, surat ini adalah kata-kata terakhir darinya. Jadi, aku sudah melunasi tanggungjawabku padanya.”
Dinan menyerahkan surat dalam amplop tersebut, Sophie gemetaran menerima amplop surat tersebut. Jadi, benarkah selama ini Dinan adalah orang yang mengenal Ayahnya? Selama ini, dia terlalu sombong dan merasa bahwa Dinan adalah orang yang hanya mencari muka saja.
Surat sudah diberikan, Dinan bersiap dan meninggalkan Sophie dan maju untuk menghadapi pasukan Aries. Surat itu merupakan pesan terakhir dari seorang ayah kepada Anaknya. Tentu saja, Dinan harus menyampaikan surat ini. Jika sudah diberikan, Dinan merasa bahwa dia sudah mengabulkan permintaan dari paman Agra.
”Dinan ...,” suara panggilan lembut dan gemetar dari hunter Sophie.
Dinan berhenti dari langkahnya, dia tertahan dan menunggu apa yang akan disampaikan oleh Sophie.
”Maafkan Aku, selama ini ...,”
”Tidak perlu meminta maaf. Paman Agra adalah sosok pahlawan bagiku dan keluargaku. Selamanya, aku akan berhutang budi padanya. Dia sudah kembali kepada Tuhan, tugas kita sekarang adalah meneruskan perjuangannya untuk melindungi bumi.”
Dinan melangkah tanpa ragu lagi, semua tugas sudah ditunaikan. Dinan juga meninggalkan salah satu klon jiwanya di rumah, dan menjaga adik lelakinya. Dia tak perlu ragu lagi, untuk bertarung dengan kekuatan penuhnya. Pertarungan kali ini, sepertinya akan membuatnya harus benar-benar menggunakan sepenuh kekuatannya.
Dia berjalan dan meninggalkan para Hunter di belakangnya, semuanya berharap bahwa pemuda itu, yang entah dari mana datangnya. Dapat menghadapi pasukan yang mengerikan tersebut. Basten melihat Dinan, dia yakin bahwa Dinan akan bisa menahan pasukan musuh. Karena dia, pernah bertarung bersama dengan Dinan.
”Dinan! Jangan lupa untuk selamat!” hunter Sophie sedikit berteriak, dia kini merasa bahwa punggung pemuda itu, adalah satu-satunya harapan bagi umat manusia. Semua Hunter Rank S di sana, bahkan tidak memiliki kekuatan untuk sekedar menahan serangan, dari pemimpin pasukan musuh itu.
Dinan tersenyum dan menyadari bahwa keberadaannya, adalah harapan bagi para Hunter di belakangnya. Dia tidak boleh ragu lagi untuk melindungi bumi, waktunya untuk habis-habisan. Dan, dia tak peduli dengan sebutan apapun soal dirinya. Jika semua orang mengatakan bahwa dia adalah pahlawan, maka Dinan tidak peduli lagi. Pahlawan adalah bagi mereka yang berani berkorban untuk membela kepentingan orang lain.
Menjadi Pahlawan adalah pilihan setiap manusia, menang dan kalah itu bukan lagi soal kebanggaan. Karena bumi membutuhkan seorang pahlawan untuk dapat mengusir semua ancaman terhadap bumi yang indah ini.
”Jadi ..., apakah kamu adalah Guardian of Earth? Sosok yang menjadi raja bagi manusia,” tanya Aries sambil menggerakkan kepalanya. Dia mengangkat tangan kanannya dan pedang besarnya diselimuti energi dan tertarik menuju tangannya.
Klap! Pedang tertarik dan langsung dalam genggaman Aries.
Dinan masih maju dan mendekati Aries. Dia mengumpulkan energi di seluruh tubuhnya, dia bersiap menghadapi semua pasukan Aries yang jumlah ribuan monster dan memiliki kekuatan besar.
”Aku hanyalah manusia yang datang dari ribuan kematian! Aku kembali ke bumi untuk melindungi tanah yang indah ini. Kembalilah pada Giganos, dan katakan untuk mengurungkan niatnya menguasai bumi. Jika tidak, aku akan memusnahkan bangsa Cyprus!”
Angin berhembus dengan kencang, angin seolah marah dan mendesis tiba-tiba. Pasukan Aries membelalakkan matanya. Mereka marah seluruhnya, bahkan tangan Aries yang memegang pedang besarnya ikut bergertar bergetar.
”Makhluk Hina! Matilah sebagai tumbal bagi Rajaku, Giganos!”
Teriakan menggelegar dari Aries disambut dengan lolongan teriakan dari seluruh pasukannya. Dan ..., Dinan tidak gentar serta bersiap dengan kekuatan yang dimilikinya. Bumi ..., harus dilindungi!