Sebelum Kau Pergi Lagi

DI TITIK DI MANA SEGALANYA MULAI BERUBAH

POV Rio

 

Rumah kecil itu terasa lebih sunyi saat matahari perlahan tenggelam, meninggalkan semburat jingga yang memantul di dinding ruang tamu. Aku duduk memandangi layar laptop, namun fokusku tidak benar-benar tertambat pada naskah yang seharusnya kuperiksa. Dari dapur, suara denting peralatan masak sesekali terdengar, ritme yang mulai akrab di telingaku.

Ada sesuatu tentang kehadiran Kinan yang tidak bisa kujelaskan. Dia bergerak dengan ketenangan yang membuat ruang sekelilingnya ikut stabil. Tidak berusaha menciptakan kesan, tidak berusaha tampil anggun, tidak juga mencoba menyenangkan siapa pun. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Dan itu justru yang memancing kekacauan di dalam kepalaku.

Aku menutup laptop pelan. “Kin?”

Ia tidak langsung menjawab, tapi aku mendengar suaranya menggema lembut dari balik lemari es yang sedang ia buka. “Ya?”

“Kamu bikin apa?”

“Sup jagung,” jawabnya singkat. “Aku butuh sesuatu yang hangat.”

Aku bangkit dari kursi. Entah apa yang mendorongku untuk melangkah menghampiri dapur.

Dapur itu kecil, terlalu kecil untuk dua orang dewasa berdiri berdampingan. Tapi entah mengapa, justru ruangan kecil itu terasa seperti pusat gravitasi rumah ini.

Kinan memutar badan ketika aku tiba di ambang dapur. Rambut ikalnya masih sedikit basah setelah mandi, kaus lengan panjang yang ia pakai kebesaran, membuatnya tampak lebih muda. Lebih lembut.

“Ini hampir selesai,” katanya, tanpa melihatku terlalu lama. Sikapnya seperti biasa. Datar, tenang, tidak canggung. Dan itu sedikit menggangguku karena aku lah yang justru merasa canggung.

Aku menjadi orang asing di rumah perempuan yang menjadi istriku.

“Kamu capek?” tanyaku.

Dia mengaduk sup pelan. “Lumayan.”

“Kalau kamu capek, jangan masak. Kita bisa pesan makanan.”

Kinan menghentikan gerakannya sekejap. “Masak santai kok. Lagi pula, kamu sudah sering makan luar. Sekali-kali makan yang sederhana.”

Aku mendekat beberapa langkah, hingga jarak kami hanya sehelai napas. Ia tampak terkejut ketika aku mengambil sendok kecil dan mencicipi sup yang sedang ia masak.

Kinan melotot kecil. “Hei! Itu belum ...”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, aku mengangguk pelan. “Ini enak.”

Dia terdiam. Lalu menghela napas. “Kamu suka semua makanan sepertinya.”

“Aku suka makanan enak.”

Kinan mengerjap pelan. “Oh.”

Jawaban yang entah kenapa membuat sudut bibirku terangkat sedikit.

Aku kembali ke sisi meja makan. “Besok kita ke kebun kopi lagi, ya?”

Kinan mematikan kompor. “Yang di Tanggamus?”

“Hmm.”

Dia menoleh. “Kamu yakin nggak capek? Hari ini saja kamu nyaris tertidur waktu wawancara Pak Harun.”

“Bukan capek,” sahutku ringan. “Aku cuma bosan.”

“Bosaaaan?” Kinan mendengus tak percaya. “Kamu yang minta ketemu Pak Harun.”

“Wawancara panjang lima jam itu menyiksa.”

“Empat jam tiga puluh menit.”

“Masih terlalu lama,” protesku.

Kinan tertawa kecil.

Itu pertama kalinya aku mendengar tawa itu dari jarak sedekat ini.

Dan entah kenapa, suaranya memukul sesuatu di dadaku. Lembut tapi nyata.

Sial.

Aku memalingkan wajah.

***

 

POV Kinan

 

Aku berusaha tidak memikirkan bagaimana Rio tampak tadi saat mencicipi sup langsung dari panci. Caranya mengulurkan tangan, caranya menatapku dengan ketenangan yang justru membuat jantungku seperti habis menyeberangi jalan raya tanpa lampu merah.

Pernikahan ini tidak seharusnya begini.

Tidak seharusnya terasa nyaman.

Aku mengambil dua mangkuk dan menuang sup ke masing-masing. Rio duduk di sofa, membuka laptopnya lagi, tapi aku tahu dia tidak fokus. Ekspresinya bilang begitu.

Kami makan tanpa banyak bicara, tapi keheningan ini bukan keheningan yang membuatku gelisah. Keheningan ini seperti selimut tipis yang menutupi sesuatu yang belum siap kami buka.

Saat makan, aku memperhatikan Rio diam-diam.

Dia makan dengan tenang. Perlahan. Tidak terburu-buru seperti laki-laki yang selalu dikejar waktu. Dan itu membuatku bertanya-tanya, apakah dia selalu sedamai ini kalau tidak sedang ditonton dunia? Atau hanya ketika dia merasa aman?

Aman. Kata itu mengusikku.

Rio memecah lamunanku. “Kamu besok ada agenda?”

“Tidak.”

“Bagus. Kita berangkat pagi.”

Aku mengangguk. “Kamu yakin risetnya butuh sebanyak ini?”

“Kamu ingin filmku gagal?”

Aku memutar bola mata. “Tidak.”

“Kalau begitu, ikut saja.”

Nada suaranya datar. Tapi aku mengenalnya cukup untuk tahu bahwa itu versi lembut dari Aku senang kamu ikut. Jangan hilang dari sampingku.

Aku tidak menjawab. Hanya menyesap sup.

“Kinan.”

Aku menoleh. “Ya?”

Rio mengusap belakang lehernya, kebiasaan ketika ia ingin mengatakan sesuatu yang serius tapi tidak ingin terlihat serius.

“Aku janji, pernikahan ini tidak akan menyulitkanmu.”

Ucapannya meluncur pelan. Jujur. Tanpa lapisan sarkasme.

Dan itu membuatku menahan napas.

“Rio…”

“Aku serius.”

Aku ingin menjawab. Tapi aku tidak tahu harus memakai kata apa.

Karena, bukankah pernikahan ini sudah mulai menyulitkanku?

Bukan karena kewajiban. Bukan karena wartawan. Bukan karena status. Tapi karena keberadaan Rio itu sendiri. Keberadaannya mulai mengubah ritme hidupku.

Dan aku takut akan suatu hal yang seharusnya tidak boleh terjadi dalam pernikahan kontrak.

Aku takut.

Aku akan mulai merasa sesuatu.

***

POV Rio.

 

Malam itu, ketika Kinan masuk ke kamar dan pintu tertutup, aku masih duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu kamarnya.

Kenapa dadaku terasa berat?

Kenapa sekarang justru terasa salah?

Kontrak itu harusnya membuat semuanya sederhana. Datar. Rapi.

Tanpa emosi.

Tanpa kemungkinan jatuh.

Tapi hari-hari bersama Kinan mulai membentuk sesuatu yang tidak kami rencanakan.

Dan yang paling berbahaya adalah…

Aku mulai tidak membencinya.

Justru sebaliknya.

Aku mulai terbiasa dengan suaranya. Perhatiannya. Caranya memasak. Cara dia tidur terlalu cepat. Cara dia tidak memaksa apa pun dariku.

Aku mulai merasa lebih tenang saat dia ada.

Itu masalah.

Masalah besar.

Aku menarik napas panjang lalu berdiri dan masuk ke kamar.

Besok akan jadi hari panjang.

Dan aku tidak boleh membiarkan hatiku bermain-main.

Tidak dengannya.

Tidak dengan perempuan yang tidak pernah kuizinkan masuk lebih jauh.

Tidak dengan istriku sendiri.

***

 

POV Kinan

 

Aku terbangun oleh suara alarm ponsel Rio di kamar sebelah. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menembus dinding tipis rumahku. Jam di ponselku menunjukkan pukul 05.12 pagi. Masih terlalu dini untuk bangun, tapi aku tidak bisa kembali tidur.

Ada sesuatu dalam keheningan pagi ini yang membuat dadaku terasa penuh. Mungkin karena semalam kami makan seperti dua orang yang sedang mencoba mencari cara berfungsi dalam ritme yang sama. Atau mungkin karena tatapan Rio sebelum masuk kamar, tatapan yang terlalu lama untuk ukuran pernikahan tanpa cinta.

Aku duduk di tepi ranjang, merapikan rambut, lalu keluar kamar.

Lampu dapur sudah menyala.

Rio berdiri di depan kompor, membuat telur dadar yang… entah kenapa bentuknya selalu kacau. Dia sudah mencoba tiga kali seminggu terakhir ini, dan tidak sekali pun berhasil.

Lucu. Dan sedikit manis.

Dia menoleh ketika mendengar langkahku. “Pagi.”

“Pagi,” jawabku, menahan tawa melihat omelette yang lebih mirip pulau Jawa yang patah di tengah.

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!