Sebelum Kau Pergi Lagi
AKU DI SINI
Itu kalimat terakhir yang keluar sebelum ia memalingkan wajah, menutup mata sesaat.
Dan Rio tahu. Hari ini, sesuatu sudah bergeser.
Dan tidak akan kembali ke tempatnya semula.
***
POV: Kinan
Malam perlahan merayap masuk. Rumah kecilku yang biasanya sunyi kini terasa seperti memegang napasnya sendiri, seolah menunggu sesuatu terjadi antara aku dan Rio. Sesuatu yang bahkan belum kumengerti.
Setelah percakapan barusan, aku masuk kamar, bukan untuk menjauh, tapi untuk menenangkan diri. Aku duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang kaca buramnya memantulkan cahaya lampu kecil di meja.
Aku memejamkan mata.
Apa aku benar-benar takut atau aku hanya belum siap?
Pernikahan ini awalnya seperti pagar tinggi. Aman, jelas batasnya. Tinggal bersama Rio seperti tinggal dengan orang asing yang sopan: tidak saling mengganggu, tidak saling menuntut.
Tapi perlahan, pagar itu retak. Dan retakan itu membuatku melihat hal yang tidak seharusnya: Rio yang perhatian tanpa berlebihan, Rio yang jujur tanpa menyakiti, Rio yang memerhatikan detail kecilku tanpa sengaja. Dan yang paling parah, Rio yang membuatku merasa dilihat. Dihargai. Dipilih.
Tidak ada seorang pun yang pernah membuatku merasakan itu sedalam ini. Aku menunduk, memegang dada sendiri.
“Kenapa begini?”
Ada ketukan pelan di pintu.
“Kin? Boleh masuk?”
Suara itu rendah, tapi tidak memaksa. Aku mengusap pipiku—yang ternyata panas—lalu berdiri dan membuka pintu.
Rio berdiri di sana, rambut sedikit berantakan, T-shirt hitam, dan mata yang terlalu lembut untuk menyelamatkanku dari kebingungan ini.
“Ada apa?” tanyaku, berusaha terdengar biasa.
“Aku mau kasih ini.”
Ia menyerahkan sebuah hoodie. Hoodie-ku sendiri, yang tadi ia pakai saat udara mulai dingin di kebun dan aku meminjamkannya. Tshirt-nya tampaknya terlalu tipis waktu itu, dan aku reflek memberi hoodie ini untuknya.
“Kamu lupa ambil,” katanya.
“Oh.” Aku mengambil hoodie itu. “Makasih.”
Tapi Rio tidak pergi. Ia menatapku, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Aku nggak akan masuk kalau kamu tidak mau bicara,” katanya pelan.
“Tidak. Masuk saja.”
Suaraku sendiri membuatku kaget.
Rio masuk, menutup pintu tanpa suara.
Kami berdiri beberapa langkah berjarak. Canggung, tapi bukan canggung yang buruk. Hanya canggung karena terlalu jujur.
“Kin,” katanya pelan. “Kita baik-baik saja, kan?”
“Baik,” jawabku.
“Tapi kamu terlihat gelisah.”
Aku menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang. “Aku cuma belum terbiasa.”
Ia mendekat dan duduk di kursi dekat meja. Bukan di sampingku. Dia memberi jarak. Jarak yang nyaman. Jarak yang aman. Jarak yang membuatku bisa bernapas.
“Aku tidak akan memaksa kamu terbiasa,” katanya.
Aku menatapnya. “Tapi kamu terus berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Kamu semakin dekat.”
Rio tersenyum kecil. “Karena kamu semakin membuka pintu.”
Aku menegang.
Ia bersandar sedikit ke depan. “Dan aku cuma masuk sejauh yang kamu izinkan.”
Deg.
Kalimat itu menusuk dengan cara yang lembut tapi dalam. Seolah memeluk ketakutanku sekaligus menantang keberanianku.
“Aku…” suaraku patah. “Aku takut nanti kamu pergi.”
Rio diam. Sangat diam.
Aku menyesal. “Lupakan saja. Itu...”
“Aku tidak akan pergi.”
Nada suaranya tegas.
Bukan marah.
Bukan janji kosong.
Tapi seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat ia ingin tetap tinggal.
Aku terpaku.
Rio melanjutkan, suaranya lebih lembut, “Kalau kamu tidak ingin aku pergi, bilang saja.”
Aku menatapnya lama. “Rio, kamu tidak mengerti.”
“Coba jelasin.”
Aku menggeleng keras. “Aku takut berharap. Kalau aku berharap, lalu semua ini hancur.”
“Hancur kenapa?” tanyanya pelan.
“Karena pernikahan ini dimulai bukan dari cinta.”
Aku menelan napas.
“Dan aku takut kamu tidak merasakan yang sama dengan aku.”
Itu kalimat yang membuat seluruh ruangan berhenti bergerak.
Aku menutup mulut, kaget pada diriku sendiri. Aku tidak bermaksud mengatakan itu. Tidak dengan kata langsung seperti itu. Tidak dengan jujur seperti itu.
Rio berdiri perlahan.
Langkahnya mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dia berhenti di depanku. Tidak menyentuh. Tapi jaraknya cukup dekat untuk membuatku rasanya ingin hilang dalam udara.
“Kinan,” katanya pelan, “kamu pikir aku tidak takut hal yang sama?”
Aku mendongak. “Hah?”
“Kamu pikir aku tenang-tenang aja waktu kamu pergi tadi?”
Dia menghela napas dalam.
“Kamu pikir aku nggak merasa apa-apa waktu kamu bilang kamu butuh jarak?”
Aku terdiam.
“Kamu salah, Kin.”
Dia menatapku, matanya tidak kabur sama sekali.
“Aku juga takut.”
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Sangat takut.”
Aku menggigit bibir. “Kenapa?”
“Karena aku ingin kamu di sini.”
Dia menyentuh dadanya sendiri.
“Di bagian ini.”
Jantungku melompat. “Rio…”
“Kamu takut salah langkah?”
Dia menunduk sedikit, menatap mataku dari jarak lebih dekat.
“Aku juga.”
“Kamu takut kita jatuh ke tempat yang salah? Aku juga. Kinan…” Suaranya turun sampai hampir bergetar. “Aku takut kehilangan kamu padahal kita bahkan belum benar-benar punya apa-apa.”
Aku memejamkan mata.
Dia mendekat setengah langkah lagi. “Kalau kamu bilang kamu ingin mencoba, aku akan di sini.”
Suaraku keluar pelan. “Dan kalau aku bilang, aku belum siap?”
Dia tersenyum sedikit. “Aku akan tunggu.”
Air mataku jatuh. Tidak banyak. Hanya satu garis. Tapi Rio melihatnya.
Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangan.
Lambat.
Pelan.
Seperti seseorang yang menyentuh kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.
Ia menyentuh pipiku.
Hangat.
Lembut.
Tidak memaksa.
Aku tidak menjauh.
Dia menghapus air mata itu. “Terima kasih sudah jujur.”
Aku mengembuskan napas gemetar. “Aku tidak tahu kenapa aku bilang begitu.”
“Karena kamu sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri,” jawabnya tenang.
Dan itu membuatku menangis lebih keras.
Rio duduk di sampingku. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup dekat agar aku tahu aku tidak sendirian.
“Aku di sini, Kin,” bisiknya. “Pelan-pelan saja.”
Aku menunduk dan menangis dalam diam, membiarkan dinding-dinding pertahanan yang kubangun turun sedikit demi sedikit.
Untuk pertama kalinya aku tidak mencoba kabur.
Aku hanya membiarkan Rio ada.
Di sini.
Di ruang paling yang kutakuti untuk dibuka.
***
POV: Rio
Melihat Kinan menangis seperti itu membuat sesuatu di hatiku remuk. Bukan remuk karena sedih. Tapi karena aku akhirnya mengerti betapa kerasnya ia berusaha bertahan sendirian selama ini.
Dia tidak rapuh. Dia kuat. Tapi bahkan orang kuat pun butuh tempat untuk berhenti sejenak.
Aku mengusap pipinya lagi, memastikan ia tahu aku tidak akan menyentuh lebih jauh dari yang ia izinkan. Tangannya gemetar sedikit. Bukan takut, tapi melepaskan sesuatu.
“Kamu boleh takut,” kataku pelan. “Aku juga.”
Dia mengangguk kecil.
“Kamu belum siap?”
Aku menatapnya.
“Tidak apa-apa. Aku nggak akan tarik kamu.”
Matanya berkaca lagi.
“Tapi, Kin,” aku menambahkan, “tolong jangan dorong aku menjauh.”
Ia menutup mata, menarik napas dalam. “Aku akan mencoba.”
Dan itu lebih dari cukup.
Kami berdiam di kamar itu lama. Tidak saling menyentuh selain sentuhan kecil di pipi. Tidak ada percakapan besar lagi. Tapi hening itu penuh makna.
***