Sebelum Kau Pergi Lagi
JANJI BERSAMA
POV: Kinan
Hening itu… kejujuran.
Hening itu… awal.
Hening itu… sesuatu yang kami berdua tidak bisa lagi pura-pura tidak rasakan.
Aku tidak tahu berapa lama aku menangis dengan cara yang sunyi, tenang, dan melepaskan. Bukan menangis sesak, bukan menangis hancur. Hanya menangis seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat aman untuk meredakan beban yang tidak pernah ia akui ada.
Rio tidak menanyakan apa pun. Tidak menyentuh lebih jauh. Tidak mencoba memelukku tanpa izin. Ia hanya duduk di sampingku, jarak setengah lengan, dengan tangan yang siap tapi tidak memaksa.
Itu cukup untuk membuatku tenang. Lebih dari cukup.
Setelah pikiranku perlahan stabil, aku mengusap wajah. “Maaf.”
Rio menggeleng. “Tidak perlu minta maaf.”
Aku menegakkan tubuh, menatap lantai. Masih sulit menatapnya langsung. Tapi kehadirannya tidak lagi menakutkan. Tidak lagi membuatku ingin lari.
“Aku…” Aku berhenti, mencoba merangkai kata.“Aku takut hubungan ini berubah jadi sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.”
Rio menjawab pelan, “Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan biasanya justru hal yang paling jujur.”
Aku menggigit bibir. “Itu masalahnya.”
“Aku tahu,” katanya. “Tapi kita tidak harus mengendalikan semuanya hari ini.”
Aku menghela napas panjang. “Aku cuma nggak mau kamu merasa aku tarik-ulur.”
“Aku tidak merasa ditarik-ulur,” katanya cepat. “Aku merasa kamu belajar percaya padaku. Itu saja.”
Aku terdiam. Tidak ada yang pernah membaca perasaanku sedetail itu. Tidak pernah ada yang memahami diamku sedalam itu.
Aku mengumpulkan keberanian dan akhirnya menatapnya. “Kamu benar-benar nggak marah?”
“Aku marah kalau kamu pura-pura nggak ngerasa apa-apa,” katanya jujur. “Tapi kamu nggak pura-pura.”
Aku tidak bisa menahan senyum kecil. “Kamu juga.”
Dia tertawa pelan. “Aku? Aku dari awal sudah jelek-bohongnya.”
Kami sama-sama terdiam, tapi kali ini terasa hangat.
Rio lalu bangkit, memutar badan sedikit. “Mau tidur?”
Aku mengangguk kecil. “Kamu nggak mau istirahat?”
“Nanti. Kamu duluan.”
Aku berdiri. “Kamu mau kembali kerja?”
“Tidak.” Ia tersenyum kecil. “Aku cuma mau memastikan kamu tidur dulu.”
Deg.
Aku menunduk, lalu melangkah ke ranjang dan berbaring. Rio mematikan lampu kamar, meninggalkan lampu tidur kecil menyala.
Ketika ia hendak keluar kamar, aku memanggilnya.
“Rio?”
“Hm?”
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya berkata, “Terima kasih.”
Dia tidak menjawab dengan kata, hanya memberi senyum yang entah kenapa terasa seperti menenangkan badai.
Lalu ia keluar kamar, menutup pintu perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku tertidur bukan karena lelah. Melainkan karena merasa aman.
***
POV: Rio
Aku berdiri di luar pintu kamar Kinan beberapa detik, memastikan suaranya tenang. Nafasnya terdengar teratur. Dia tertidur lebih cepat dari dugaanku.
Aku berjalan ke ruang tamu, duduk di sofa, tapi pikiranku masih tertinggal di kamar itu. Di wajahnya yang resah tapi jujur. Di kalimatnya yang membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
“Aku takut kamu tidak merasakan yang sama dengan aku.”
Kalimat itu terus terulang di kepalaku.
Aku merebahkan diri di sofa, menatap langit-langit. Ketakutanku sendiri ikut naik ke permukaan. Ketakutan yang selalu kutahan dari awal kami menikah.
Aku tidak pernah memikirkan masa depan dengan siapa pun. Tidak pernah membiarkan siapa pun tinggal cukup lama untuk membuat rencana jangka panjang.
Tapi Kinan, dia berbeda. Dan justru itu menakutkan. Dia bukan seseorang yang mudah aku lepaskan. Bukan seseorang yang bisa kusimpan setengah hati. Bukan seseorang yang pantas diberi setengah kejujuran.
Dia perempuan yang membuatku ingin belajar bagaimana caranya tidak merusak sesuatu yang baik.
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Aku sudah terlanjur.”
Kata itu meluncur lirih.
Aku sudah terlanjur peduli. Sudah terlanjur ingin melindunginya. Sudah terlanjur ingin membuatnya tetap di sampingku, bahkan tanpa kesepakatan apa pun.
Masalahnya bukan apakah aku merasakan sesuatu. Masalahnya, seberapa jauh aku berani mengakuinya.
Saat jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, aku akhirnya berdiri dan kembali ke kamar tamu. Kamar yang sejak kami menikah kubiarkan kosong karena aku lebih sering ketiduran di sofa.
Tapi malam ini, aku butuh ruang untuk memikirkan semuanya.
Sebelum tidur, aku mengetik pesan, “Besok tunda semua jadwal meeting. Aku butuh waktu di Lampung lebih lama.”
Aku tidak tahu ini keputusan bodoh atau keputusan yang benar. Yang aku tahu, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin pergi dari tempat ini.
***
POV: Kinan
Ketika aku bangun pagi-pagi sekali, rumah masih gelap. Aku bangkit perlahan, membuka pintu kamar, dan mengintip ke ruang tamu.
Rio tertidur di sofa.
Selimut asal yang ia tarik sampai dada. Lengan kirinya tertekuk menutupi mata, rambut sedikit berantakan, napasnya teratur. Dia terlihat lelah tapi damai.
Aku berdiri lama memperhatikan.
Rasanya, aneh melihat seseorang tidur di ruanganku, di rumahku, dengan begitu nyaman seolah tempat ini memang tempatnya sejak lama. Dan aku benci mengakui betapa hangat melihatnya di sana.
Aku masuk ke dapur pelan, membuat kopi tanpa membuat suara. Aku berniat membangunkannya, tapi akhirnya aku hanya berdiri di sisi sofa, memegang dua cangkir kopi yang mengepul lembut.
Tidak ada alasan untuk menatapnya selama ini. Tapi aku melakukannya. Aku suka melihat Rio seperti ini, tanpa topeng. Tanpa formalitas. Tanpa kamera. Tanpa dunia yang menuntut apa pun darinya.
Kopi di tanganku mulai mendingin.
Rio mengerjap, mengangkat lengannya dari mata. Pandangannya kabur sebentar. Lalu ia melihatku.
Dia tersenyum kecil, setengah mengantuk. “Pagi, Kin.”
Dan aku merasakannya lagi.
Deg.
“Pagi,” jawabku pelan.
Ia menggosok mata. “Kamu sudah bangun?”
“Sudah.”
“Ada apa kamu berdiri di situ?”
Aku menggeleng cepat. “Tidak ada.”
Rio menunjuk gelas di tanganku. “Satu buat aku?”
Aku ragu sejenak sebelum menyerahkannya. “Iya.”
Ia menerima cangkir itu, jemarinya sengaja tidak menyentuh tanganku, seakan ia takut salah langkah lagi.
“Kamu tidur nyenyak?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Kamu juga?”
“Lumayan. Tapi sofa kamu kecil.”
Aku mendengus. “Salah sendiri tidur di situ.”
“Kalau kamu mau, aku pindah ke kamar tamu.”
Aku tertegun. “Kenapa?”
Ia mengangkat bahu. “Biar kamu nggak canggung.”
Aku menatapnya lama. Sangat lama.
Rio memperhatikanku balik, mata hitamnya jernih di bawah cahaya pagi.
Dan tiba-tiba, dengan keberanian yang aku sendiri tidak tahu datang dari mana, aku berkata, “Rio, kamu tidak perlu pindah.”
Dia terdiam.
“Aku nyaman kamu di sini.”
Untuk sesaat, hanya suara pagi dan napas kami yang terdengar. Lalu sudut bibir Rio terangkat sedikit. Tidak berlebihan. Tidak mengancam. Hanya… tulus.
“Kalau gitu,” katanya pelan, “aku tetap di sini.”
Dan entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar keputusan kecil.
Rasanya seperti janji. Rasanya seperti langkah pertama ke tempat yang sama-sama kami takuti, tapi akhirnya kami mulai dekati.
Bersama.
***