Sebelum Kau Pergi Lagi

DI ANTARA IBUKOTA DAN RASA YANG TAK DIUNDANG

POV: Kinan

 

Perjalanan dari rumahku ke Jakarta terasa lebih panjang dari biasanya. Padahal Rio yang menyetir, dan mobil ini lebih nyaman daripada mobil mana pun yang pernah kutumpangi. Tapi tetap saja, setiap kilometer terasa seperti aku sedang meninggalkan satu versi diriku dan memasuki versi lain yang tidak kukenal.

Aku memandangi sawah yang mulai tergantikan bangunan. Jalanan yang makin ramai. Udara yang berubah jadi lebih padat.

“Minum,” kata Rio, menyodorkan botol air.

Aku mengambilnya. “Terima kasih.”

Rio menatap jalan, tapi aku tahu dia memperhatikan dari sudut mata. “Kamu masih gemetar?”

Sedikit,” jawabku jujur.

Dia mencondongkan sedikit tubuhnya, nada suaranya menurun. “Kalau kamu mau kita berhenti sebentar, bilang.”

“Aku nggak apa-apa. Aku cuma masih shock.”

Rio mengangguk.

Ada keheningan panjang. Tapi bukan keheningan tidak nyaman. Lebih seperti kami berdua sedang memproses apa yang telah terjadi dalam beberapa jam terakhir.

Rio tiba-tiba berkata, “Kita sampai apartemenku sebentar lagi.”

Aku menggeleng kecil. “Apartemen kita,” koreksiku tanpa sengaja.

Rio menoleh sekilas, pandangan yang cukup memberi getaran ke seluruh tubuhku.

“Ya,” katanya pelan. “Apartemen kita.”

Dan entah kenapa, kata itu terasa seperti sesuatu yang tidak boleh kubiarkan menggoyahkan dinding pertahananku. Tapi sudah terlambat, aku sudah goyah.

Kami memasuki Jakarta sebelum sore. Jalanan macet. Klakson bersahutan. Orang-orang terburu-buru. Semuanya seperti menelan suara pikiranku.

“Ada wartawan di sekitar lingkungan apartemenmu?” tanyaku.

“Mungkin.”

“Rio…”

“Tenang,” katanya. “Keamanannya ketat. Aku sudah bilang ke sekuriti tadi.”

Aku menelan ludah. “Aku bukan takut buat aku.”

Rio menatapku beberapa detik, lebih lama dari seharusnya. “Aku tahu,” katanya akhirnya.

“Kamu takut buat orang lain. Itu justru bikin aku makin pengen jaga kamu.”

Jantungku berdebar.

Saat akhirnya mobil memasuki halaman apartemen Rio—yang lebih mirip hotel mewah daripada tempat tinggal biasa—aku tiba-tiba merasa terlalu kecil, terlalu asing.

Bangunan tinggi menjulang. Lobi besar dengan kaca bersih berkilau. Petugas keamanan berdiri tegak seakan ini kantor kedutaan.

“Aku… beneran tinggal di sini?” gumamku tanpa sadar.

Rio tersenyum kecil. “Sekarang iya.”

Aku ingin tertawa. Atau menangis. Atau kabur. Tapi jemari Rio menyentuh punggung tanganku sebentar, hanya sesaat, dan napasku kembali stabil.

“Kita naik,” katanya.

Begitu pintu apartemen terbuka, aku langsung terpaku.

Tempat ini terlalu sunyi. Terlalu rapi. Terlalu elegan. Terlalu… Rio.

Sofa kulit abu gelap. Lukisan-lukisan hitam putih. Kaca besar dari lantai sampai langit-langit yang memperlihatkan seluruh kota.

Tapi tidak ada foto. Tidak ada barang personal. Tidak ada aroma manusia.

“Aku nggak banyak tinggal di sini,” jelas Rio. “Biasanya cuma pulang buat mandi dan tidur.”

Aku mengangguk. “Kelihatan.”

Rio mendekat ke arahku. “Kinan.”

“Hm?”

“Mulai sekarang, tempat ini bukan cuma punyaku.”

Aku menatapnya. Butuh beberapa detik untuk benar-benar mencerna kalimat itu.

“Aku buatkan kamar kamu,” katanya pelan.

“Kamar kita?” tanyaku spontan.

Rio tersenyum kecil. Senyum tipis yang berbahaya, yang membuatku ingin mundur tapi juga ingin mendekat.

“Kamar kamu dulu,” jawabnya. “Kamar yang kamu nyaman.”

Aku tidak tahu kenapa kata itu membuatku ingin menangis.

***

 

POV Rio

 

Aku tahu Kinan merasa canggung. Siapa pun pasti akan seperti itu. Rumah ini dingin. Sunyi. Tidak ada kehangatan. Tidak ada tanda bahwa seseorang benar-benar tinggal di sini.

Karena tidak ada.

Aku tidak pernah mengizinkan siapa pun masuk hidupku cukup lama untuk meninggalkan jejak.

Tapi Kinan…

Dia bahkan tidak berusaha meninggalkan jejak. Dia hanya berdiri di sana, memeluk dirinya sendiri, menahan rasa asing yang terlalu besar.

Dan itu membuatku ingin memeluknya. Tapi aku menahan diri.

“Duduk dulu,” kataku. “Aku buatkan teh.”

Dia menggeleng. “Aku bisa...”

“Kinan,” potongku lembut. “Duduk.”

Dia menuruti. Bagus. Aku masuk dapur dan menyiapkan teh, memperhatikan cara tangannya bergetar ketika menyentuh sofa. Ini semua terlalu cepat, terlalu keras, terlalu besar untuknya. Dan aku membawanya masuk ke pusat badai.

Aku menaruh teh di depannya. “Minum.”

Dia memegang cangkir itu dengan dua tangan. Aku duduk di sebelahnya. Cukup dekat untuk menunjukkan bahwa aku ada di sini, tetapi cukup jauh untuk tidak menekan.

Setelah beberapa menit, ia berkata pelan,

“Aku takut kamu menyesal.”

Aku menoleh cepat. “Kinan…”

“Aku bukan siapa-siapa bagi dunia ini,” lanjutnya. “Media bisa menghancurkan aku kapan aja. Dan aku… aku nggak mau kamu rugi karena aku.”

Aku menahan napas.

Lalu aku berkata dengan suara yang tidak pernah kutunjukkan pada siapa pun. “Kamu pikir aku peduli sama rugi?”

Dia terdiam.

“Kinan, aku sudah lama menjalani hidup dengan cara yang salah,” lanjutku. “Dunia yang aku jalani, nggak ada yang nyata. Semuanya pencitraan, kontrak, sorotan. Kamu satu-satunya hal yang, bukan akting.”

Dia mengerjap. “Rio…”

Aku menatap ke depan, bukan padanya. Kalau aku menatap dia sekarang, aku takut kalimat berikutnya keluar terlalu cepat.

“Aku nggak akan menyesal. Yang aku sesali cuma, aku telat ketemu kamu.”

Keheningan panjang jatuh lagi. Lalu ponselku berdering. Nama yang muncul adalah Mak Monit. Dadaku mengencang.

Kinan langsung menegang. “Angkat, Rio.”

“Aku nggak mau kamu...”

“Aku keluarga kamu sekarang.”

Dia menatapku.

“Aku nggak mau kamu lindungi aku dari ibumu.”

Sial. Kalimat itu menghantamku. Aku akhirnya angkat.

“Halo, Mak.”

“Rio, kamu di Jakarta?”

“Ya.”

“Kamu ke Jakarta tanpa bilang apa pun?”

Aku menutup mata sebentar. Ini dia.

“Mak, aku jelasin...”

“Tidak perlu jelaskan. Mak mau bicara dengan Kinan.”

Aku menatap Kinan. Dia mengangguk pelan.

Aku mengulurkan ponsel.

“Kinan… Mak Mon mau bicara.”

Dia menelan ludah. “Baik.”

***

 

POV Kinan

 

Aku mengambil ponsel Rio dengan tangan yang sedikit berkeringat.

“Halo… Mak.” Suaraku serak.

“Kin,” Nada suaranya tidak marah, tapi dingin. Mengintimidasi dengan cara yang tenang.

Aku menatap lantai. “Iya, Mak.”

“Kamu baik-baik saja? Banyak wartawan di luar rumah Mak hari ini.”

Dadaku ditekan. “Iya, Mak.”

“Kamu siap menghadapi hidup yang tidak mudah?”

Nada itu bukan ancaman, lebih seperti ujian.

Aku menarik napas panjang. “Kinan akan berusaha, Mak.”

Wanita itu hening cukup lama untuk membuatku mati rasa. Lalu akhirnya, “…bagus.”

Aku mengangkat wajah, terkejut.

“Datanglah besok. Mak kangen.”

Aku membeku. “Be-besok?”

Rio langsung menatapku tajam, siap menyela.

“Dan jangan takut. Mak tidak akan membenci kamu.”

Aku meneteskan napas lega kecil.

“Mak hanya ingin memastikan satu hal.”

Aku menunggu.

“Bahwa kalian berdua menikah, bukan karena terpaksa.”

Aku menutup mata.

Itu pertanyaan yang aku sendiri belum bisa jawab dengan jujur.

Tapi aku berkata, “…Kinan ingin bersama Rio, Mak.”

Suara di ujung telepon terdengar sedikit melunak.

“Baik. Sampai besok.”

Telepon terputus.

Aku menyerahkan ponsel ke Rio. Tubuhku terasa lemas.

“Apa katanya?” tanya Rio cepat.

“Aku harus ketemu ibumu besok.”

Rio memijit kening. “Sial.”

“Tidak,” potongku. “Rio… dia tidak marah. Dia cuma… ingin tahu.”

Rio menatapku lama. “Kamu siap?”

Aku menggigit bibir. “Aku nggak tahu.”

Rio mendekat. Sangat dekat. Matanya tidak lepas dari mataku.

“Kinan,” suaranya turun, “kamu nggak perlu siap buat dunia. Kamu cuma perlu siap… buat aku.”

Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Rio menatap bibirku sesaat, lalu menahan napas.

“Tapi kita bicara ini besok. Setelah kita ketemu Mak Monit.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Rio berdiri. “Aku siapkan kamar kamu.”

Aku menahan lengannya. “Rio…”

Dia berhenti.

“Terima kasih.”

Rio menoleh perlahan. Ekspresinya sulit dijelaskan. Antara lega, capek, dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Kinan,” katanya pelan.

“Aku nggak pernah keberatan jaga kamu.”

Dia pergi ke kamar tamu.

Dan aku berdiri di tengah ruang tamu, memegang dada sendiri, karena jantungku terlalu cepat dan aku takut segala yang kusimpan akan meledak.

Satu hal yang kutahu dengan jelas. Besok bisa mengubah semuanya. Entah menjadi lebih baik atau lebih rumit. Tapi aku tidak lagi sendirian.

Dan itu membuatku berani.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!