Sebelum Kau Pergi Lagi

Pertemuan yang Tidak Mencari Damai 1

Rio tahu, saat ia berdiri dan meninggalkan restoran itu, ia telah melewati satu titik tanpa kembali.

Armand tidak mengejarnya. Ia tidak perlu. Ia tahu tekanan akan bekerja lebih efektif daripada kemarahan.

Keesokan harinya, kabar buruk datang bertubi-tubi. Satu sponsor menarik diri. Satu proyek resmi “ditinjau ulang”. Satu artikel panjang terbit dengan judul yang terlalu rapi untuk kebetulan “Sumber dekat menyebutkan Rio mengalami konflik personal yang memengaruhi profesionalismenya”.

Rio membaca artikel itu dengan rahang mengeras. Ia mengenali gaya bahasa itu. Ia tahu persis dari mana asalnya. Ia memanggil pengacaranya.

“Kita gugat,” katanya singkat.

Pengacara itu menghela napas. “Ini akan panjang.”

“Aku tidak butuh cepat,” jawab Rio. “Aku butuh bersih.”

Untuk pertama kalinya sejak karirnya dimulai, Rio memilih konflik terbuka. Bukan dengan emosi, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa diam tidak lagi menyelamatkan siapa pun.

Namun ada satu hal yang lebih berat daripada gugatan: ketidaktahuan. Ia tidak tahu apa yang sedang Kinan lakukan. Ia tidak tahu apakah Kinan baik-baik saja. Ia tidak tahu apakah keputusannya bertahan justru memperpanjang jarak.

Malam itu, ia duduk di rumah kosong, membuka kembali kertas yang ditinggalkan Kinan. Huruf K di bawah kalimat terakhir terasa seperti tanda tangan yang menuntut tanggung jawab.

“Aku bertahan,” gumamnya pelan. “Aku janji.”

***

Waktu bergerak aneh pada minggu itu.

Bagi Kinan, hari-hari terasa lambat tetapi penuh. Ia bertemu jurnalis perempuan yang datang tanpa kamera, tanpa alat rekam mencolok. Percakapan mereka berlangsung lama, lebih banyak diam daripada bicara.

“Apa yang paling Anda takutkan?” tanya jurnalis itu akhirnya.

Kinan berpikir lama sebelum menjawab. “Menjadi versi diriku yang ditentukan orang lain.”

Ia tidak menyebut nama Rio. Ia tidak menyalahkan. Ia berbicara tentang dirinya, tentang pilihan, tentang batas, tentang hak seseorang untuk tidak selalu siap menjadi konsumsi publik.

Wawancara itu tidak langsung terbit. Dan justru itu membuat Kinan merasa dihormati.

Sementara itu, bagi Rio, waktu terasa brutal.

Setiap jam membawa berita baru. Setiap rapat membuka luka lama. Armand merespons gugatan dengan senyum tipis dan tim hukum yang besar. Ia tidak marah. Ia hanya ingin menang.

“Kamu membuat semuanya lebih sulit,” kata Armand dalam satu pesan singkat.

Rio membalas satu kalimat: Kamu membuatnya tidak manusiawi.

Untuk pertama kalinya, Armand tidak membalas.

***

Malam itu, di dua tempat berbeda, Kinan dan Rio melakukan hal yang sama tanpa saling tahu: mereka membuka ponsel dan mengetik pesan yang tidak mereka kirim.

Kinan menulis: Aku mulai bicara. Bukan untuk melawanmu. Untuk menyelamatkan diriku.

Rio menulis: Aku sedang bertarung. Bukan demi karier. Demi ruang kita.

Keduanya menghapus pesan itu sebelum terkirim.

Namun keputusan mereka sudah bergerak lebih dulu dari kata-kata.

Beberapa hari kemudian, sebuah artikel terbit, bukan sensasional, bukan menyerang. Artikel itu membingkai Kinan sebagai subjek, bukan bayangan. Media lain mengikutinya, perlahan, ragu-ragu.

Di hari yang sama, gugatan Rio resmi masuk ke pengadilan. Nama Armand tercantum jelas. Dunia industri terbelah. Tidak ada pemenang hari itu.

Namun ada satu hal yang berubah: narasi tidak lagi sepihak.

Di rumah kecilnya, Kinan menutup laptop dan tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak ia pergi.

Di rumah besarnya, Rio menatap layar kosong dan menarik napas panjang, napas seseorang yang akhirnya berhenti menghindar. Mereka belum bertemu. Mereka belum bicara. Mereka bahkan belum saling mengirim pesan. Tetapi untuk pertama kalinya sejak berpisah, mereka berjalan ke arah yang sama, bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk berdiri sebagai diri sendiri.

Dan ketika dua orang berhenti berlari, pertemuan bukan lagi kecelakaan. Ia menjadi kemungkinan.

***

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil yang tidak memiliki nama besar, tidak pula identitas yang bisa dipamerkan. Tempat itu berada di antara dua dunia: cukup dekat dari pusat kota, tetapi cukup jauh dari jalur yang biasa dilalui wartawan. Kinan memilih tempat itu karena satu alasan sederhana, ia bisa duduk di sana tanpa harus merasa diawasi.

Rio datang lebih dulu. Ia duduk di meja dekat jendela, memesan kopi hitam, lalu membiarkannya mendingin. Tangannya terlipat di atas meja, bahunya sedikit kaku, seperti seseorang yang sedang menunggu hasil pemeriksaan penting. Wajahnya lebih kurus dari terakhir kali Kinan melihatnya di rumah, matanya menyimpan kelelahan yang tidak sepenuhnya bisa disamarkan oleh ketenangan.

Ketika Kinan masuk, Rio langsung mengenalinya. Bukan karena penampilannya, tetapi karena cara ia berhenti sebentar di ambang pintu, menyesuaikan diri dengan ruang sebelum melangkah masuk. Cara itu tidak berubah.

Mereka saling menatap. Tidak ada senyum refleks. Tidak ada sapaan cepat. Hanya pengakuan sunyi bahwa jarak yang mereka ciptakan benar-benar ada.

Kinan duduk di hadapan Rio tanpa menyentuh apa pun di meja. Jaketnya masih ia kenakan, seolah pertemuan ini adalah sesuatu yang bisa ia tinggalkan kapan saja.

“Terima kasih sudah datang,” kata Rio akhirnya.

Kinan mengangguk. “Aku tidak datang untuk menyelesaikan apa pun.”

Rio menerima kalimat itu tanpa membantah. “Aku juga tidak.”

Kejujuran itu membuat udara di antara mereka sedikit lebih lapang. Mereka diam beberapa saat. Tidak canggung, tetapi penuh pertimbangan.

“Aku baik-baik saja,” kata Kinan lebih dulu, seolah tahu pertanyaan itu akan datang jika ia tidak mengatakannya.

Rio mengangguk. “Aku senang mendengarnya.”

“Aku mulai bicara ke media,” lanjut Kinan. “Dengan caraku.”

Rio menegakkan tubuhnya sedikit. “Aku tahu.”

“Kamu tidak keberatan?”

Rio menatap cangkir kopinya. “Aku keberatan kalau kamu terpaksa.”

“Aku tidak,” jawab Kinan. “Aku memilih.”

Kalimat itu jatuh tenang, tapi tegas. Dan Rio tidak mencoba mengoreksinya.

“Aku juga memilih,” kata Rio pelan. “Aku menggugat Armand.”

Kinan menatapnya lama. “Itu bukan langkah kecil.”

“Aku tahu,” jawab Rio. “Dan aku tidak melakukannya untuk terlihat benar.”

“Lalu untuk apa?”

Rio menghela napas. “Untuk berhenti ditentukan.”

Kinan mengangguk pelan. Ia memahami itu, lebih dari yang Rio kira.

“Aku tidak pergi untuk menghukummu,” kata Kinan. “Aku pergi karena aku hampir kehilangan diriku sendiri.”

Rio menatapnya, suaranya rendah. “Dan aku tidak ingin kamu kembali jika itu berarti kamu harus mengecil.”

Kinan menatapnya balik. “Aku juga tidak ingin kamu bertahan jika itu berarti kamu harus berbohong pada hidupmu sendiri.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada janji.

Namun ada sesuatu yang lebih sulit: saling mengakui batas.

Ketika mereka berdiri untuk pergi, Kinan berkata satu hal terakhir, “Aku belum siap kembali.”

Rio mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi aku tidak menutup pintu,” tambah Kinan.

Rio tidak tersenyum. Namun napasnya terasa lebih utuh. Semua terasa makin lapang. Makin terang dan makin jelas arah yang akan mereka tuju.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!