Sebelum Kau Pergi Lagi

RUMAH KINAN

Mereka pun out dari hotel. Rio mengurus segala administrasi sementara Kinan menunggu di lobi. Beberapa pasang mata masih melirik ke arah mereka. Wajar saja, pengantin baru yang terlihat agak dingin. Kinan hanya memaksakan senyum tipis setiap kali ada yang menyapanya.

Perjalanan menuju rumah Kinan terasa canggung. Rio menyetir mobilnya sendiri, mobil yang Kinan taksir harganya puluhan kali lipat dari nilai rumahnya. Kinan hanya menatap keluar jendela, sesekali melirik Rio yang tampak tenang di balik kemudi.

Rumah Kinan adalah rumah sederhana di sebuah perumahan yang cukup tenang. Dindingnya berwarna krem dengan beberapa tanaman hias di teras kecil. Saat Rio melihatnya, ia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Kinan merasa lega. Ia khawatir Rio akan mencibir atau menunjukkan kekecewaan.

“Masuk saja,” kata Kinan saat mereka sudah di depan pintu. Ia membuka kunci dan mempersilakan Rio masuk.

Rumah itu bersih dan rapi, meskipun kecil. Sebuah ruang tamu kecil yang menyatu dengan ruang keluarga, lalu dapur di bagian belakang. Ada dua kamar tidur, satu untuk Kinan dan satu lagi kamar kosong yang biasa ia gunakan sebagai gudang kecil.

“Ini kamarmu,” Kinan menunjuk kamar kosong itu. “Maaf kalau tidak nyaman. Aku akan membersihkan isinya nanti.”

“Tidak masalah. Aku bisa tidur di mana saja.” Rio meletakkan tasnya di lantai. Ia menoleh ke Kinan. “Kamu bisa istirahat dulu, aku akan mencoba settle in.”

Kinan mengangguk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Merasa aneh dengan kehadiran Rio di rumahnya. Seorang laki-laki asing, yang kini resmi menjadi suaminya, akan tinggal di bawah satu atap dengannya.

Kinan memutuskan untuk pergi ke Dejavu. Ia butuh pelampiasan, butuh kesibukan. Telepon Misye berdering saat ia sedang memakai sepatu.

“Kin, beneran kamu mau ke kafe?” suara Misye di seberang sana terdengar panik. “Kamu ini gila ya? Wartawan masih berkeliaran di sana! Belum lagi penggemar Rio!”

“Aku tidak bisa diam, Mis. Aku butuh mengurus sesuatu.” Kinan berusaha terdengar tenang.

“Sesuatu apa? Kamu pengantin baru, Kin! Seharusnya kamu menikmati waktu santai. Atau, paling tidak, cari aman dulu!”

“Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak berencana membuka kafe untuk publik. Aku hanya ingin mengecek bahan-bahan atau mungkin membuat dessert baru.”

“Terserah kamu deh. Tapi kalau ada apa-apa, hubungi aku! Awas ya kalau enggak!”

Kinan tersenyum tipis. Misye memang sahabat terbaiknya.

Ia mengambil kunci motornya. Ia lebih suka menggunakan motor ketimbang mobil, karena lebih praktis di jalanan Bandar Lampung.

Di sisi lain, Rio mulai membereskan barang-barangnya. Ia membuka koper dan mengeluarkan beberapa pakaian. Ia melihat sekeliling kamar yang akan ditempatinya. Kecil, tapi terasa nyaman. Ada jendela yang menghadap ke taman kecil di belakang rumah. Rio berjalan ke arah jendela, menatap ke luar.

Pandangannya tertuju pada Kinan yang sedang menyalakan motor di depan rumah. Rio mengerutkan dahi. Kenapa Kinan nekat ke kafe, padahal ia tahu situasinya belum aman? Apakah perempuan ini memang sebegitu keras kepalanya? Atau dia hanya ingin menghindar darinya?

Rio tersenyum sinis. Mungkin ia memang membutuhkan seseorang yang keras kepala dan tak bisa diatur, yang tidak akan dengan mudah jatuh cinta padanya. Seseorang yang bisa menjaga jarak emosional.

Ia memutuskan untuk mengikuti Kinan. Bukan karena ia ingin mengawasinya, tapi lebih karena ia merasa punya tanggung jawab untuk memastikan Kinan aman. Lagipula, ia juga ingin melihat langsung kafe Dejavu yang begitu penting bagi Kinan. Rio mengambil kunci mobilnya dan segera keluar.

Motor Kinan melaju di jalanan yang tidak terlalu padat. Ia menikmati angin yang menerpa wajahnya. Perjalanan ke kafe memang selalu menjadi terapi tersendiri baginya. Setibanya di sana, Kinan melihat beberapa orang masih berdiri di depan kafe, memotret dan sesekali berbisik. Benar kata Misye.

Ia memarkir motornya di bagian belakang, area khusus staf. Setelah masuk, ia mendapati kafe dalam keadaan kosong dan rapi. Hanya ada bau kopi yang samar-samar tertinggal. Ia menghela napas, menikmati keheningan itu.

Kinan mulai mengecek stok bahan di dapur. Cokelat, butter, telur, buah-buahan. Semuanya tampak baik. Ia meraih buku resepnya, mulai memikirkan ide-ide baru.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan kafe. Rio keluar dari mobil itu. Ia melihat kerumunan kecil di depan kafe dan menghela napas. Mereka masih di sana. Rio melirik ke arah pintu belakang, tempat Kinan biasanya masuk. Ia tidak ingin menambah keributan. Ia memutuskan untuk menunggu di mobil dan mengamati dari jauh.

Di dalam kafe, Kinan sedang asyik dengan pikirannya. Ia mulai menyiapkan adonan untuk dessert baru. Sebuah tart dengan filling cokelat dan topping buah naga. Ia membayangkan bagaimana rasanya, teksturnya, aroma yang akan menguar saat dipanggang. Dalam kesibukan inilah, ia bisa melupakan sejenak status barunya. Melupakan Rio.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Di mana kamu?”

Kinan mengernyit. Siapa ini? Ia tidak merasa punya janji dengan siapa pun.

“Siapa ini?” Kinan membalas.

“Suamimu.”

Kinan hampir menjatuhkan ponselnya. Rio? Bagaimana Rio tahu ia ada di sini?

“Kamu kenapa ke sini? Ini belum aman,” Kinan mengetik cepat.

“Aku di mobil. Aku tidak akan masuk. Hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kamu butuh sesuatu?”

Kinan menatap ke arah jendela depan kafe, mencoba mengintip. Ia melihat mobil Rio diparkir agak jauh, di bawah pohon rindang. Rio terlihat seperti orang yang sedang menunggu seseorang.

Sebuah perasaan aneh menyergap Kinan. Rio, suaminya, yang semalam meninggalkannya begitu saja, kini ada di luar kafe, menunggu dan mengkhawatirkannya. Perhatian kecil ini… apakah itu bagian dari kewajiban seorang suami atau ada hal lain? Kinan menggelengkan kepala. Tidak, jangan berpikir macam-macam. Ini pasti karena Rio merasa bertanggung jawab atas dirinya, mengingat ia adalah istrinya di mata publik.

“Tidak. Aku baik-baik saja. Kamu bisa pulang.”

“Aku akan di sini sampai kamu pulang.”

Kinan membiarkan pesan itu tanpa balasan. Ia kembali ke adonannya, namun kali ini konsentrasinya sedikit buyar. Ada Rio di luar sana, menunggunya. Perasaan itu mengganggu, tapi entah kenapa, juga terasa sedikit… nyaman.

Beberapa jam berlalu. Kinan selesai dengan tart barunya. Ia mencicipinya, rasanya sempurna. Ia pun mulai membersihkan dapur. Saat Kinan melirik ke luar jendela, ia melihat mobil Rio masih terparkir di tempat yang sama. Ini sudah sore. Rio benar-benar menunggunu.

Ia mengirim pesan lagi kepada Rio.

“Aku sudah mau pulang. Kamu bisa pergi duluan.”

Tidak ada balasan.

Kinan menghela napas. Ia memutuskan untuk keluar melalui pintu depan, menghadapi saja apa pun yang ada. Saat ia melangkah keluar, Rio sudah berdiri di samping mobilnya, menyandar dengan santai. Para wartawan dan penggemar sudah bubar.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!