Sebelum Kau Pergi Lagi
ADAPTASI
Jika ada satu hal yang tidak pernah diajarkan hidup kepadaku, itu adalah bagaimana menghadapi keheningan di dalam rumah orang lain, rumah yang kini secara sah menjadi rumahku juga. Kinan berjalan beberapa langkah di depan, membuka pintu rumah mungilnya, mengizinkanku masuk tanpa banyak bicara. Tidak ada balon ucapan selamat datang, tidak ada dekorasi romantis pengantin baru. Hanya bau kayu, kopi, dan kebiasaan sepi yang menempel di dinding rumah ini.
Aku meletakkan tas, menatap sekeliling. Ruangan kecil. Sederhana. Tapi bersih dan berjiwa. Ada sesuatu dari rumah ini yang terasa jujur.
Tidak seperti rumahku di Jakarta yang luas, dingin, dan selalu kudatangi hanya untuk tidur beberapa jam. Rumah ini terasa hidup, karena pemiliknya memang hidup di sini setiap hari, dari mata terbuka hingga tertidur. Dan aku, untuk alasan yang tidak kumengerti, ingin menjadi bagian dari ritme hari-harinya.
Kinan tidak membahas tentang semalam. Dia tidak bertanya kemana aku pergi, tidak menuntut apapun. Sikap seperti itu aneh, sekaligus melegakan. Aku sudah terlalu sering berurusan dengan perempuan yang membangun istana di kepalanya hanya karena aku menatap sedikit lebih lama dari biasanya. Kinan berbeda. Jarak itu dijaga dengan wajar. Namun entah kenapa, setiap jarak yang dia buat malah membuatku ingin melangkah lebih dekat.
Aku menatap punggungnya, kecil namun tegap. Perempuan ini menghabiskan sebagian besar harinya di dapur, pada adonan, pada krema, pada kehalusan tekstur hidangan pencuci mulut yang bahkan tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Tapi itu semua ada pada dirinya. Dan mungkin, itu sebabnya aku pertama kali memperhatikannya.
Ketika Kinan bersedia menikah —atau sebaliknya, ketika aku mengajaknya menikah— aku pikir semuanya akan mudah. Dua orang dewasa, sama-sama tidak butuh cinta, sama-sama butuh solusi. Sederhana.
Yang tidak kuperhitungkan adalah keberadaannya. Caranya menunduk saat bingung. Caranya menghela napas pelan. Caranya tidak tahu bahwa ia memiliki kekuatan untuk membuat ruangan kecil ini terasa penuh.
Dan aku benci mengakui bahwa itu cukup menggangguku.
***
Aku membuka koper. Menyusun baju di lemari kecil kamar tamu. Kamar itu lebih kecil daripada walk-in closet di apartemenku. Tapi tidak apa. Anehnya, tidak ada rasa risih sedikit pun. Hidupku selalu terlalu luas dan terlalu sepi. Ruangan kecil ini justru terasa lebih masuk akal.
Saat aku sedang menyusun tiga buku skenario di rak, aku mendengar suara motor menyala dari depan. Kinan pergi. Tanpa bilang apa-apa. Bahkan tanpa basa-basi.
Aku menatap jendela. Dia melaju pergi begitu saja, rambutnya berkibar, bahunya tegang. Dia memilih pergi daripada berada di rumah bersamaku.
Ada yang mencelos di dadaku, sesuatu yang tidak mau kuakui.
Tidak peduli, kataku pada diri sendiri.
Tapi aku mengambil kunci mobil.
Meski tak peduli, aku tetap mengikutinya hingga ke depan Dejavu.
Aku duduk di dalam mobil, memperhatikan dari jauh saat Kinan masuk ke kafenya. Beberapa wartawan masih berkeliaran. Karena akulah penyebab kekacauan itu.
Perempuan itu tidak paham bahaya apa yang bisa menimpanya hanya karena menikah denganku. Publik, kamera, penggemar obsesif, gosip. Dunia yang sudah lama ingin kutinggalkan, namun terus saja menyeretku kembali.
Kinan tidak mengerti itu. Atau dia mengerti, tapi tidak peduli.
Entahlah.
Aku mengetik pesan.
Di mana kamu?
Siapa ini?
Tawa kecil lolos dari tenggorokanku. Dia bahkan tidak menyimpan nomorku. Perempuan aneh.
Suamimu.
Ada jeda.
Aku menatap pintu kafe.
Dia muncul beberapa jam kemudian. Rambutnya berantakan, apron bernoda krim dan cokelat. Mata perempuan itu selalu menjadi hal pertama yang membuatku terpaku. Fokus. Serius. Penuh renjana tanpa ia sadari.
Dia mengintip ke arah mobilku dan baru menegakkan tubuh saat melihatku menyandar santai.
Ia tampak kesal.
Anehnya, itu membuatku ingin tersenyum.
“Sudah selesai?” tanyaku ketika ia mendekat.
“Sudah. Kenapa kamu masih di sini?” nada suaranya tajam. Kinan seperti pisau, tapi pisau yang tidak tahu bahwa dirinya tajam.
“Aku sudah bilang akan menunggumu.”
Kinan mendengus, tapi masuk ke mobil. Dia tidak menatapku selama hampir lima menit pertama perjalanan. Aku membiarkannya.
Sampai akhirnya dia berkata:
“Kamu serius ya menjalani peran suami istri ini?”
“Tentu.” jawabku. “Aku tidak pernah main-main.”
Itu fakta.
Apa pun yang aku sepakati, aku jalankan. Tidak peduli perasaanku pada pernikahan ini masih segelap ruang editing film yang tidak berlampu.
Aku meliriknya. Kinan terdiam. Ujung bibirnya mengerucut sedikit. Emosi kecil yang sulit dibaca. Dia sering seperti itu. Tenang di luar, ribut di dalam.
“Satu lagi,” ujarku pelan.
Ia mendongak.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk menikah denganku.”
Wajahnya—yang selama ini datar dan kuat—mengendur sesaat. Hampir seperti ia tidak siap menerima ucapan itu.
“Tidak usah berterima kasih,” katanya. “Kita sama-sama butuh.”
“Iya,” jawabku. “Tapi tetap saja… terima kasih.”
Setelah itu, ia diam. Tapi diam yang berbeda. Diam yang menyimpan kehangatan samar.
Beberapa hari kemudian.
Ritme tinggal di rumah Kinan ternyata.
Aku terbangun pagi-pagi karena aroma kopi. Kinan selalu bangun duluan. Rambutnya diikat acak, wajah tanpa riasan. Lebih cantik dari yang ia sadari. Ia menuangkan kopi ke dalam dua cangkir. Satu untuknya. Satu untukku.
Kata-kata tidak banyak keluar. Tapi keheningan dengannya berbeda. Tidak menyesakkan. Tidak mengungkit luka.
Keheningan dengannya seperti jeda antara satu adegan dan adegan lain.
Damai.
Terkadang aku ingin mengatakan itu padanya, tapi tidak pernah berani.
***
Aku sedang gagal total membuat omelette. Kinan datang berdiri di sebelahku, menahan tawa.
“Ini bentuk apa?” tanyanya.
Aku menatap wajan. Omeletteku tampak seperti proyek sains anak SD yang salah langkah.
“Seni abstrak,” jawabku.
Kinan terkekeh pelan. Lalu ia mengambil alih wajan. Gerakannya cepat, rapi, percaya diri. Ada sesuatu yang memikat melihat seseorang melakukan apa yang dia kuasai.
Ketika ia menyodorkan omelette buatannya, aku mencicipi. Lidahku tersentak.
“Luar biasa,” ujarku jujur.
Ia tersipu sedikit. Sesaat saja. Tapi aku menangkapnya.
***
Aku pulang larut. Kinan masih di dapur, membuat kue. Cahaya kuning lembut memantul dari kulitnya. Aroma vanila memenuhi ruangan. Rasanya seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.
Kinan terkejut melihatku.
“Kamu sudah pulang?”
“Baru saja,” jawabku.
Ia menyodorkan kue tart. Aku mencicipinya. Tuhan. Lidah dan perasaanku seperti ditarik turun bersamaan.
“Ini sempurna,” kataku.
Matanya membesar sedikit. Ia tidak tahu bahwa ia bisa membuatku terpana.
Kami berbincang. Hal-hal kecil. Tapi percakapan itu jatuh seperti kepingan puzzle yang perlahan menyatu.
Ketika aku masuk ke kamarku malam itu, aku sadar satu hal.
Kinan tidak mencintaiku.
Dan itu seharusnya melegakan.
Aku menikahinya karena itu.
Tapi sekarang, ada rasa asing yang menghampiri setiap kali aku melihatnya tertawa kecil, atau menunduk malu, atau hanya sekadar berjalan di depanku.
Perasaan yang tidak boleh ada.
Tidak boleh tumbuh.
Tidak boleh dibiarkan.
Karena ini pernikahan kontrak.
Dan aku sudah terlalu sering kehilangan hal-hal yang kuberi hatiku.
Aku memastikan semuanya cepat. Aku ingin menepati janji. Bukan untuk membuatnya berterima kasih. Tapi karena aku ingin ia berhasil.
Saat ia menerima surat dari bank, ia terlihat terkejut. Teralis matanya bergetar. Tangannya memegang kertas itu seakan tidak percaya.
Dia menatapku.
Aku pura-pura sibuk dengan laptop.
Jika aku menatap balik, aku takut akan merasakan sesuatu yang tidak boleh.
Dia bukan hanya perempuan yang menerima tawaran nikahku.
Dia bukan hanya pemilik kafe kecil dengan mimpi besar.
Dia bukan hanya istri tanpa cinta yang menjaga jarak.
Dia adalah rumah yang tidak pernah aku rencanakan untuk singgahi.
Dan aku sedang belajar beradaptasi.
Pelan. Hati-hati.
Karena aku tahu—baik aku maupun dia—tidak boleh jatuh duluan.
Tapi setiap hari yang kulalui di rumahnya, membuatku semakin sulit membedakan mana pernikahan kontrak dan mana kehidupan nyata.
***