Seni Seviyorum Aisyah
Sulitnya Meminta Izin
"Aisyah bangun sayang!" teriak Salsabila Bundanya Aisyah yang melihat putrinya itu masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupinya.
"Ah Bunda, aku masih ngantuk," gerutu Aisyah sambil membalikan tubuhnya.
"Ayo bangun! mandi dulu nanti kita sarapan, Ayahmu sudah menunggu di ruang makan," ujar Salsabila dengan menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu.
Aisyah menggeram, "Nanti aku mandi Bun, tunggu lima menit lagi ini cuacanya dingin banget."
Salsabila hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan anaknya, "Kalau nunggu dingin kapan mau mandinya? Mau siang hah?"
Aisyah membalikan tubuhnya yang masih nyaman berada di atas kasur dia membuka matanya dan menatap Bundanya, "Ah Bunda aku masih ingin tidur," lirihnya.
"Ayoo bangun! masa anak gadis bangunnya siang," tukas Bundanya.
Aisyah menggeliat dengan enaknya lalu mengulurkan tangannya, "Iya Bunda, Bangunin!"
Setelah Aisyah bangun dan beranjak ke kamar mandi Salsabila pun berlalu untuk turun ke bawah.
"Bunda tunggu di bawah ya kamu jangan lama-lama mandinya!" pinta Salsabila sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar Aisyah.
Aisyah Zahira merupakan anak kedua dari dua bersaudara dia terlahir dari orangtua yang selalu mementingkan pendidikan dan ketaatan dalam beribadah, kakaknya bernama Huri Sabil yang kini sedang melanjutkan studynya di universitas istanbul atas prestasinya dan keinginan dari sang Ayah untuk melanjutkan pendidikannya di sana apapun yang telah diputuskan oleh Azmi tidak akan ada yang bisa menolaknya, Huri memang anak yang pintar dan selalu juara di sekolahnya hal itu menjadi cerminan untuk Aisyah agar bisa menjadi seperti kakaknya.
Air terasa seperti air es saja membuat Aisyah takut untuk menyentuh air di bak mandi untung saja hari ini dia libur sekolah membuatnya merasa beruntung tidak akan berjalan menembus jalanan yang cuacanya dingin seperti ini
"Huhf kenapa hari ini dingin sekali ya?" gumam Aisyah setelah selesai mandi.
Dengan cepat Aisyah memakai pakaiannya untuk segera turun menemui kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di ruang makan.
"Pagi Ayah Bunda," sapa Aisyah saat melihat Ayah dan Bundanya makan.
Ayahnya hanya tersenyum, "Kebiasaan banget kalau hari libur pasti bangunnya siang," omel Azmi.
Aisyah mengakui kesalahannya itu dan memang benar saja alasannya ya malas mandi karena dingin.
"Ya sudah ayo buruan makan!" sergah Salsabila sambil menuangkan nasi ke piring dan memberikannya kepada Aisyah.
"Ayah mau pergi ada rapat di kantor hari ini," ujar Azmi yang selalu memberi tahu kemana dia akan pergi.
Aisyah menatap Ayahnya yang memang sedang berpakaian rapi dengan dasi yang melekat di keranya. "Ayah Aisyah juga boleh pergi?" tanyanya meminta izin.
Salsabila menoleh menatap putrinya itu dengan kerutan di keningnya Aisyah hanya tersenyum kelu sambil menunggu jawaban dari Ayahnya.
"Memangnya mau pergi kemana hah?"
"Aisyah sudah ada janji akan pergi ke rumah Anna soalnya ada tugas kelompok kemarin," jelas Aisyah yang sebenarnya tidak ingin pergi ke mana-mana, hanya saja ada tugas kelompok dan teman-temannya ingin mengerjakan di rumah Anna bukan di rumahnya dengan alasan rumah Anna lebih dekat dengan rumah yang lainnya.
Ayah masih diam sambil melahap sarapannya, "Sudah jam tujuh Ayah harus berangkat dulu ya!"
"Ayahhh!" gerutu Aisyah karena permintaan izinnya belum dijawab oleh Ayahnya.
"Mobil sudah siap Tuan Azmi," ujar Pak Jaki supir pribadi di rumah ini. Muhammad Azmi nama Ayahnya Aisyah.
Aisyah menatap Bundanya dengan nelangsa, "Ayah, aku pergi dibolehin ya! Nanti kalau aku gak pergi gak akan dapet nilai," ancam Aisyah dengan kesal.
Azmi menatap Aisyah sambil berpikir sesuatu, "Pak Jaki antar anak saya ke rumah temannya saja biar saya pergi naik mobil sendiri," pinta Azmi mengambil keputusan.
"Ayah," gumam Salsabila sembari bangkit dari duduknya.
"Bundaa!" rengek Aisyah yang memang tidak ingin jika dia pergi selalu diantar jemput oleh supir.
"Ini yang terbaik buat kamu jika tidak mau ya sudah tidak usah pergi!" tukas Ayahnya sambil beranjak pergi.
Salsabila membawakan tas kerja dan mengikuti suaminya ke depan rumah sedangkan Aisyah kembali terduduk sambil menyantap buah pir yang ada di atas meja makan.
"Kapan mau pergi Neng?" tanya Pak Jaki sambil menunduk patuh.
Salsabila masih merasa kesal dan berpikir jika dia tidak pergi maka dia bisa kena omel oleh teman kelompoknya dan tentu nilainya akan dikurangi Aisyah jadi merasa bingung.
"Sekarang Pak," jawab Aisyah dengan ketus.
"Siap Non!" ucap Pak Jaki dengan tegas dan berlalu pergi.
Salsabila telah kembali yang berarti Ayahnya sudah pergi.
"Bunda memangnya kakak juga dulu seperti itu ya?" tanya Aisyah yang penasaran akankah sikap Ayahnya memang seperti itu kepada anak-anaknya yang lain.
Salsabila mengangguk, "Iya sayang, Ayahmu memang sangat mengkhawatirkan anak-anaknya apalagi ke dua anaknya perempuan semua," jawab Salsabila sambil mengelus kepala Aisyah yang tertutup dengan hijab.
"Tapi kan Bun sampai kapan Ayah akan selalu menyuruh Pak Jaki untuk mengantar jemputku jika aku pergi? Kan aku juga ingin naik motor dengan teman-temanku jika pulang sekolah," ungkap Aisyah.
"Temen cewek apa cowok?" ejek Salsabila dengan menggoda anak gadisnya ini.
Aisyah terkekeh, "Ah Bunda selalu saja menggodaku, aku tidak pernah membayangkan bagaimana jika aku bisa berani diantar oleh seorang laki-laki ke rumah dan Ayah tahu itu," seru Aisyah membayangkan.
"Hehehe," Bunda hanya tertawa karena ikut membayangkan jika itu terjadi bagaimana ekspresi suaminya itu.
Selama ini ke dua putrinya selalu patuh akan perintah Azmi untuk tidak berpacaran karena harus pokus dengan pendidikan apalagi Aisyah mempunyai hafalan Al-quran bagaimana nantinya hafalan itu akan tetap bertahan saat putrinya berbuat maksiat.
"Ya sudahlah Bun, lagi pula aku percaya bahwa keputusan Ayah adalah yang terbaik buat anak-anaknya," ujar Aisyah dengan tersenyum.
Salsabila pun mengangguk sembari tersenyum, "Ya sudah lanjutkan sarapannya!"
"Sudah Bun, aku mau pergi dulu ya," pamit Aisyah sambil mencium tangan Bundanya itu.
"Hati-hati ya sayang belajar yang benar." Salsabila memberikan kecupan hangat untuk putrinya itu.
Aisyah berlalu pergi berjalan menuju pintu keluar sudah terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Pak Jaki.
"Ke mana Neng?" tanya Pak Jaki saat membukakan pintu mobil untuk Aisyah.
"Ke jalan Mawar no 04 Pak," sahut Aisyah sembari menggunakan sabuk pengaman.
*"Na, gue udah berangkat nih."
Aisyah mengirim pesan untuk memberitahu jika tidak seperti itu maka temannya ini akan mengomel.
*"Baiklah gue tunggu."
Gue dan lo memang perkataan biasa yang memang sering Aisyah gunakan untuk berbicara dengan teman-temannya dan tidak ada masalah bukan? Karena rata-rata teman-temannya berbicara dengan Gue dan lo, jadi menurut Aisyah itulah perkataan untuk lebih dekat dengan teman-temannya terkadang juga Aisyah menggunakan kata saya ketika berbiraca formal dengan teman-temannya atau pun Guru-guru.
"Belok kanan Pak," seru Aisyah saat sudah sampai di gang rumahnya Anna.
"Baik Non," sahut Pak Jaki.
"Pak Jaki boleh pulang dulu ya, nanti pulangnya akan aku kabarkan lewat Bunda ya," ujar Aisyah sambil tersenyum kasihan jika Pak Jaki harus menunggu dia selesai belajar.
"Owhh baik Neng kalau begitu." Pak Jaki tersenyum mendengarnya.
Tinn ... tinn ....
Rumahnya Anna pun dijaga dengan saptam Pak Jaki dengan sengaja membunyikan klakson mobilnya lalu terdengar suara Anna yang memanggil saptamnya.
"Pak Abdul buka gerbangnya Pak!"
Dengan cepat gerbang pun dibuka Aisyah turun dari mobilnya.
"Woyy Jaki!" seru Pak Abdul menyapa supir pribadi Aisyah mereka memang sudah saling kenal karena sering bertemu kala Aisyah main ke rumah Anna.
Pak Jaki melambaikan tangannya dan tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.
"Silahkan masuk Neng," ujar Pak Abdul mempersilahkan.
"Makasih Pak," sahut Aisyah kepada Pak Abdul sambil tersenyum sambil melangkah menghampiri Anna yang sudah menunggu di depan pintu rumahnya.