Seni Seviyorum Aisyah
Mimpi Menjadi Nyata
Raka pokus memandang mobil taksi yang berwarna biru itu dengan pikiran yang tidak melayang ke mana-mana, dia merasa bahwa hatinya terus merasa senang ketika melihat Aisyah tapi kadang sikap cewek itu membuatnya kesal.
"Rak, woy setelah ini lo main ke rumah dulu ya! kan yang lain belum pada pulang." Ilham mengajak Raka berbicara dengan suara yang nyaris teriak.
Suara bising jalanan kadang membuat orang mendadak tuli, untung saja malam ini tidak hujan jadi susananya sangat bagus untuk mereka.
"Siap, asal sediakan saja cemilannya," seru Raka dengan terkekeh.
Mobil taksi pun berjalan dengan sangat cepat membuat ke dua cowok itu terus mengejarnya, Aqila bersandar di punggung bangku dengan mata yang terpejam sedangkan Aisyah masih pokus dengan jalanan.
Tiba-tiba ponsel Aisyah berdering dengan sangat nyaring, menampilkan nama Bundanya di sana lalu jarinya menekan tombol hijau untuk dapat menyambungkan panggilan suara.
"Assalamualaikum Bun," ujar Aisyah pelan, dia merasa lelah hari ini.
Terdengar suara Adiba yang sedang memanggil Pak Ujang, "Waalaikumsalam, Aisyah kok kamu tidak pulang bareng dengan Pak Ujang?"
"Iya Bun, maaf Aisyah pulang dengan taksi bareng Aqila," sahut Aisyah dengan lemah dia sumarah jika Bundanya mau mengomel atau memarahi kesalahannya.
"Kenapa tidak sama Pak Ujang, kan Bunda sudah menyuruh Pak Ujang untuk mengantar kamu dan Aqila!?"
Aisyah menghela napasnya, "Maaf Bun, aku akui ini kesalahanku."
Adiba jadi bingung dan merasa iba kepada anaknya, "Ya sudah kamu sudah ada di mana sekarang?" tanyanya begitu panik.
"Aku masih di jalan sebentar lagi sampai kok." Aisyah menoleh manatap luar jendela untuk mencari petunjuk ada di daerah mana dia sekarang.
"Kamu hati-hati ya di jalan, ya sudah jika sudah sampai kabarkan lagi ya, Nak."
"Baik Bun," seru Aisyah kemudian sambungan pun terputus begitu saja.
Aisyah mendengar suara Bundanya yang nampak begitu khawatir terhadap keselamatan dirinya, ini adalah yang pertama kalinya dia keluar malam dan naik taksi karena sebelumnya dia selalu bersama Ayahnya atau Pak Ujang jika ingin keluar.
"Syah apakah masih lama?" Aqila terbangun dari tidurnya.
Aisyah kaget mendengar suaranya. "Sebentar lagi kok," jawabnya dengan menoleh ke belakang.
"Pak berhenti di depan ya!" jawab Aqila begitu sadar bahwa sudah sampai tujuan.
Raka dan Ilham pun berhenti saat mobil taksi yang diikutinya berhenti di depan gerbang rumah Aisyah, sepertinya ini pertama kalinya Raka ke rumah Aisyah.
"Rak, yuk turun!" ajak Ilham.
"Hah? maksud lo mau masuk gitu?" Raka kaget mendengar Ilham yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah Aisyah.
"Iya," balas Ilham sembari melepas helmnya.
Aisyah dan Aqila pun turun dari mobil dan berdiri menghadap ke dua cowok itu, melihat Raka hati Aisyah kembali bergetar entah kenapa dia merasakan ada magnet yang menarik dirinya untuk terus memandang cowok itu.
"Syah kita langsung pulang saja ya," ujar Raka dengan lembut.
Ilham memukul bahu Raka, "Ye gimana sih lo Rak, sudah masuk aja dulu yuk!"
"Ilham sudah malam, nanti jika Bunda tahu aku pulang sama kalian Bunda pasti marah," sergah Aisyah.
Raka terkekeh, "Tuh denger, kan gue bilang langsung pulang saja yang penting mereka selamat sampai tujuan kan?" Raka melirik Aisyah dan tersenyum genit.
"Ya sudahlah buruan gih kalian masuk ke dalam," ujar Ilham yang kembali duduk di atas motornya.
Aqila sudah mengantuk sejak tadi, "Kalian hati-hati ya di jalan, Raka awasin Ilham ya jangan sampai dia merokok malam ini."
"Owh siap, kamu tenang saja Aqila." Raka tersenyum dan menatap Ilham yang melemparkan tatapan mematikan kepadanya.
"Kamu apaan sih, gak percaya banget kalau aku gak akan merokok lagi," sahut Ilham merasa kesal dengan sikap Aqila.
Aisyah hanya tersenyum, "Sudah jangan bertengkar! makasih ya Raka, Ilham."
"Sama-sama Aisyah, salam buat Bunda kamu ya!" ujar Ilham sambil tersenyum.
Mendengar hal itu Raka terperangah, ternyata Ilham sudah dekat dengan orangtua Aisyah membuat dirinya iri dan ingin bertemu dengan sosok orangtua cewek itu yang sepertinya sangat menjaga Aisyah.
"Iya, kita masuk dulu ya assalamualaikum," ujar Aisyah lalu menggandeng tangan Aqila untuk masuk bersama ke rumahnya.
"Waalaikumsalam," sahut Raka dan Ilham serempak.
"Rak, Aisyah beda banget ya dari yang lain dia cewek yang cuek dengan cowok dan selalu menjaga pandangannya beda sekali dengan Aqila meski dia saudarinya, subhanullah banget Rak." Ilham berseru tanpa sadar telah membedakan kekasihnya dengan wanita lain.
"Istigfar lo, nanti kalau Aqila dengar saja bisa-bisa dia jauhin lo baru tahu rasa," sahut Raka dengan sensi. "Yuk pulang!"
Mereka pun akhirnya pergi dari kediaman Aisyah motor mereka membelah jalan kota Jakarta yang nampak ramai meski di malam hari namun tidak macet seperti di siang harinya. Ada yang aneh pada hati Raka setelah mendengar ucapan Ilham mengenai Aisyah, cewek yang berpenampilan sederhana namun terlihat istimewa di mata cowok hanya saja cewek itu sangat cuek membuat Raka malas untuk mendekatinya tapi saat dengan Ilham cewek itu nampak begitu asik dan lucu.
"Sayang kamu baru datang?" tanya Adiba melihat anak bungsunya sedang duduk di ruang tamu.
Aisyah bangkit lalu mencium tangan Bundanya dengan sopan, "Iya Bun."
"Ya sudah Bunda ambilkan air dulu ya buat kalian." Adiba berlalu mengambil air di kulkas yang terletak tidak jauh dari sana.
Aqila sibuk dengan ponselnya, dia berniat menghubungi Mamahnya dan pembantunya di rumah tapi tidak ada yang dapat dihubungi membuatnya kesal.
"Aqila, kamu mau nginap bersama Aisyah?" tanya Adiba yang duduk di samping Aisyah.
Aqila menoleh memandang Adiba, "Hemm aku bingung Tante," katanya dengan menggaruk-garuk kepalanya.
"Ada apa La?" Aisyah merasa ada sesuatu yang terjadi pada saudarinya itu.
"Gak apa-apa Syah." Aqila menggeleng dengan tersenyum simpul.
"Ya sudah Aqila menginap saja ya di sini nanti tidurnya bareng Aisyah." Adiba mengusap punggung Aqila memberikan ketenangan pada cewek itu.
Aqila tersenyum senang, "Baiklah Tante."
"Aisyah jelaskan ke Bunda kenapa kamu menyuruh Pak Ujang untuk pulang duluan?" Adiba berubah menatap anaknya dengan tajam.
Hal itu membuat Aisyah takut dan mencoba untuk memikirkan penjelasan yang benar dan bisa diterima oleh Bundanya Aqila lantas menoleh kepada Aisyah yang diam ketakutan.
"Maafkan aku Tante ini kesalahanku, aku yang menyuruh Pak Ujang untuk pulang karena aku ingin mengajak Aisyah jalan-jalan malam dan naik taksi namun mengingat di Jakarta rawan sekali akhirnya Mamahnya Ilham menyuruh kami untuk langsung pulang dengan taksi dan diikuti oleh Ilham dan Raka dari belakang menggunakan motornya." Aqila menjelaskan panjang lebar dan memohon maaf kepada Adiba agar Aisyah tidak kena marah, "Saya minta maaf Tante atas kejadian ini."
Mendengar penjelasan Aqila membuat Adiba terdiam tanpa kata, dia berpikir bahwa apa yang dijelaskan itu benar tidak ada niat buruk lainnya pada ke duanya padahal dia sudah berburuk sangka kepada anaknya itu.
"Bun, Aisyah minta maaf ya atas kesalahanku ini aku janji gak akan terulangi lagi tapi Bunda juga jangan cerita ke Ayah ya tentang ini." Aisyah memohon kepada Bundanya agar senantiasa menerima maafnya dan merahasiakannya.
Adiba terdiam lalu tersenyum hangat, "Lain kali jangan gegabah dalam bertindak, Bunda tidak mau sesuatu terjadi pada anak Bunda maupun Aqila," ujar Adiba dengan menatap Aqila, "Ya sudah sana ke kamar ganti baju lalu pergi tidur."
Senang rasanya mempunyai Ibu seperti Adiba yang tidak banyak mengomel meski anaknya berbuat salah Aqila merasa iri kepada Aisyah, tapi tentu saja dia juga bersyukur masih mempunyai seorang Ibu, Aisyah dan Aqila pun berlalu masuk ke dalam kamarnya begitu pun dengan Adiba yang akhir-akhir ini dia merasakan kesepian tidur sendiri.
Ada rasa senang dalam diri Aisyah, kini dia tampak memang tampak lelah namun perasaannya tidak bisa dibohongi jika dia sangat senang bisa berdekatan dengan Raka apalagi mendengar suara lembut cowok itu, Aisyah merasa bahwa Raka dapat memahami sikapnya ya cowok itu sangat istimewa di hatinya.
"Makasih Raka telah mewujudkan mimpiku seperti nyata," gumam Aisyah sebelum terlelap dalam mimpinya.