Seni Seviyorum Aisyah

Adegan di Toko Buku

"Iya santay aja kok La," ujar Aisyah dengan tersenyum riang.

 

Baginya buku adalah teman yang bisa menghiburnya terkadang Aisyah juga mendapat pengetahuan lebih dari membaca buku hampir setiap malam dia menghabiskan waktu membaca buku dan memperlajarinya.

 

"Syah, tante aku pamit pulang ya makasih untuk penginapannya." Aqila pun pamit pulang setelah selesai makan karena merasa tidak enak jika berlama-lama di rumah Aisyah dan sudah pasti akan merepotkan keluarganya.

 

Aisyah mengangguk lalu tersenyum kepada Aqila, "Hati-hati ya La, makasih loh udah nganterin aku ke tempat undangan."

 

"Iya kamu hati-hati ya di jalan, Nak Aqila!" seru Adiba dengan suara yang lembut.

 

"Bun, aku mau hubungi Fatimah dulu ya takut dia gak bisa temeni aku," ujar Aisyah sembari beranjak dari duduknya.

 

"Ya sudah sana sayang nanti mau ditemani Pak Ujang enggak?"

 

Mendengar pertanyaan Adiba membuat Aisyah kaget ternyata Bundanya memberikan kebebasan kepadanya namun hal itu terdengar aneh dan menjadi tidak biasa apa jangan-jangan Adiba benar-benar akan mengikuti keinginannya dan membebaskannya begitu saja.

 

"Hemm nanti aku kabarkan lagi jika sudah bicara dengan Fatimah," ujar Aisyah dengan tersenyum simpul.

 

Adiba mengangguk lalu Aisyah pun pergi ke depan halaman rumahnya dan duduk di bangku panjang yang ada di sana, tidak butuh waktu lama sambungan telepon pun akhirnya terhubung.

 

"Assalamualaikum Syah, ada apa?" Terdengar suara Fatimah dari sebrang sana.

 

"Waalaikumsalam Fat, kamu sibuk gak hari ini?"

 

Fatimah diam sembari berpikir, "Hemm, sepertinya tidak Syah memangnya kenapa?" tanyanya setelah berpikir tidak ada jadwal ke mana-mana.

 

"Anterin aku yuk ke toko buku di Asty City," jelas Aisyah yang sangat mengharapkan Fatimah dapat mengantarnya.

 

Mendengar ajakan Aisyah yang ingin keluar tentu saja membuatnya senang, "Baiklah, naik apa ke sananya?"

 

"Nanti aku akan menjemputmu ya kamu siap-siap saja," seru Aisyah dengan sangat senang.

 

Sambungan pun terputus setelah Aisyah mendengar bahwa Fatimah bersedia menemaninya ke toko buku di Asty City, sebenarnya dia sendiri pun berani untuk ke sana sendiri tapi mengingat bahwa hari minggu biasanya di sana banyak sekali cewek dan cowok yang nongkrong di dekat sana, hal itu akan membuatnya iri merasa kesepian tanpa ada yang menemaninya dari pada dengan cowok mending dia pergi ngajak sahabat saja.

 

"Bun, aku pamit pergi dulu ya!"

 

Adiba yang sedang menonton televisi menoleh menatap anaknya yang sudah rapih dengan tas yang menggantung di lehernya.

 

"Ya sudah jangan lama ya Nak, mau naik mobil Pak Ujang atau bagaimana?" Adiba kembali menanyakan hal itu.

 

"Iya Bun, bareng Pak Ujang aja deh." ujar Aisyah dengan tersenyum manis.

 

Siang ini dia mengunakan kerudung pasmina terbaru dengan warna hijau hitam begitu pun gamis yang dia gunakan adalah model terbaru yang memang sengaja dia untuk berpegian saja.

 

Pak Ujang pun memanaskan mesin mobil terdengar asap yang mengebul dan deru mobil dari ruang tengah, tidak lupa Aisyah pun membawa ponsel miliknya yang tadinya dia letakan di nakas dengan kamarnya.

 

"Bun, aku pamit pergi dulu ya assalamualaikum," tukas Aisyah sembari mencium tangan Adiba dengan patuh.

 

"Waalaikumsalam, kamu hati-hati ya owh iya Ayah bilang dia mau pulang nanti malam," seru Adiba membawa kabar yang paling membahagiakan dari Ayahnya hal itu memang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi.

 

"Ah Bunda aku rindu sekali dengan Ayah," ujar Aisyah dengan memeluk Bundanya yang sepertinya merasakan kerinduan yang sama.

 

"Iya sudah sana pergi dulu nanti ke buru sore." Adiba terkekeh mendapatkan perilaku manja anaknya.

 

Akhirnya Aisyah pun melepaskan pelukannya dan mencium Bundanya dengan sayang, lalu beranjak pergi ke depan untuk menemui Pak Ujang.

 

"Mau diantar ke mana Non?" tanya Pak Ujang dengan tersenyum ramah.

 

Aisyah membuka pintu mobilnya dengan sendiri karena jujur saja dia tidak suka diperlakukan sebagai tuan tumah, "Ke rumah Fatimah Pak," sahut Aisyah sebelum masuk ke dalam mobilnya.

 

"Owh siap Non." Pak Ujang langsung berbalik badan lalu bergegas masuk ke dalam mobil.

 

Kini mobil pun sudah melaju meninggalkan kediaman rumah Aisyah dan membelah kota Jakarta yang terlihat begitu lancar, tiba-tiba Aisyah mengernyit heran saat melihat postingan Raka di instagramnya.

 

"Cowok itu banyak gaya juga ya!" gumamnya pelan karena takut terdengar oleh Pak Ujang dan itu terasa tidak enak apalagi jika Pak Ujang mengira bahwa dirinya sedang suka dengan laki-laki meski sebenarnya hal itu biasa saja.

 

Buru-buru Aisyah menghubungi Fatimah untuk menanyakan apakah cewek itu sudah siap atau belum dan perjalanannya menuju rumah Aisyah sebentar lagi akan sampai.

 

"Non, Aisyah sebenarnya mau ke mana?" tanya Pak Ujang.

 

Aisyah kaget sesaat, "Eh aku sih sebenarnya mau pergi ke toko buku Pak yang di Asty City itu loh, sudah 1 minggu aku gak pernah ke sana dan buku di perpustakan rumah sudah kubaca semua."

 

Pak Ujang mengangguk paham dan diam tanpa berkata lagi sedangkan Aisyah sudah terhubung dengan Fatimah yang sudah menunggunya di depan rumahnya.

 

"Okey Fat, sebentar lagi nih mobil aku sampai," kata Aisyah sambil menoleh ke arah jendela yang terbuka sehingga angin alam bisa masuk ke dalam mobilnya.

 

"Ya sudah aku tunggu ya Syah, eh aku bawa uang gak nih takutnya nanti kamu ngajak aku makan lagi." Fatimah seperti mengenal sahabatnya itu yang suka dadakan dalam mengambil keputusan.

 

Aisyah terkekeh mengingat kelakuannya yang minta diantar ke foto copy yang katanya sebentar jadi waktu itu Fatimah tidak membawa uang sama sekali tiba-tiba Aisyah lapar dan mengajaknya makan bakso sebelum pulang, "Iya iya bawa saja, dari pada aku harus traktir kamu."

 

Kini terdengar suara tertawa Fatimah yang sangat nyaring di telinganya, "Hahaha, ya elah Syah baru itu doang loh kamu traktir aku kayanya gak ikhlas gitu."

 

"Hey bukanya gitu Fat, ya sudah nih aku sudah ada di depan gerbang buruan keluar!"

 

Mendengar suara mobil dari depan rumahnya Fatimah sudah mengira bahwa itulah mobil sahabatnya dengan bergegas dia pun memutuskan sambungan dan mengunci pitu rumahnya lalu berjalan menghampiri Aisyah.

 

"Aisyah buka!" teriak Fatimah dari kaca jendela.

 

Aisyah pun membukaan pintu mobil dan mempersilahkan Fatimah untuk masuk ke dalam mobilnya dan perjalanan menuju gudang buku pun dimulai, Aisyah berbincang-bincang tentang buku yang akan dibeli hari ini.

 

"Syah, sudahlah beli buku roman lagi saja ya," ujar Fatimah karena jika Aisyah membeli buku roman dia akan mudah untuk membacanya setelah Aisyah.

 

Mendengar ucapan Fatimah, mata Aisyah pun melirik dengan tajam dan bibir yang terlipat ke dalam, "Hem, kamu mah emang maunya aku beli yang roman biar kamu juga bisa baca kan? tapi untuk hari ini kayanya aku akan membeli buku sejarah saja deh."

 

"Ya sudahlah terserah kamu saja deh." Fatimah melipat ke dua tangannya di depan dada dan membalikan diri menghadap ke depan.

 

"Fat, tahu gak sih sikap Raka tadi pagi beda banget tahu sama aku dia jadi perhatian, pagi-pagi dia nelepon aku gitu katanya bangunin aku salat subuh aku sih tahu itu alibi dia saja," ungkap Aisyah dengan raut wajah yang sumringan.

 

Fatimah menoleh memandang sahabatnya yang selalu heboh saat bercerita tentang cowok yang bernama Raka itu, yang sejak pertama kenal sudah menarik hati sahabatnya meski harus dia sembunyikan diam-diam agar semua orang tidak tahu kecuali dirinya.

 

"Apa mungkin Raka suka sama kamu Syah?" tebak Fatimah dengan menggerakan tangannya.

 

Gak mungkin! Raka gak mungkin punya perasaan yang sama dengan dirinya, Aisyah pun berusaha menapik pikirannya yang nanti akan menjadi masalah bagi dirinya, namun tentu saja dia akan senang jika itu memang benar.

 

Mendengar hal tersebut Aisyah kaget dan menepuk lengan Fatimah pelan, "Ya gak mungkinlah,"

 

Fatimah mengerti apa yang sahabatnya ini rasakan karena dia juga pernah mengalami hal tersebut, "Ya mungkin saja Syah, tapi ya sudahlah tidak usah dipikirkan lagipula kamu jangan langsung percaya sama tuh cowok ya!" ujarnya.

 

Aisyah tersenyum mendengar Fatimah yang selalu menjadi penasehatnya, "Iya Fat, aku gak akan mudah untuk percaya kok owh iya Fat kemarin kan Raka dan Ilham mengantarkan aku dan Aqila pulang ke rumah." Aisyah pun bercerita kejadian semalam.

 

"Hah, seriusan kamu Syah? kamu naik motor berdua dengan Raka?" teriak Fatimah dengan sangat kencang.

 

Mulut Fatimah pun dibungkam oleh tangan Aisyah karena takut Pak Ujang akan mendengar pembicaraannya. "Sssttt, Fatimah suara kamu gak berubah-berubah ya! lagi pula jika aku sampai naik motor berdua sudah pasti Bunda akan menghukumku." Aisyah pun kembali melepaskan tangannya dari mulut Fatimah.

 

"Ya ampun maaf Syah aku kaget banget denger kamu ngomong gitu, lalu bagaimana jika tidak naik motor berdua?" tanya Fatimah dengan mengernyitkan keningnya bingung.

 

"Awalnya memang mau naik berdua tapi masa iya aku mau, ya akhirnya aku bilang sama Aqila kita naik taksi saja namun Raka mengusulkan untuk mengawalku dengan motor mereka masing-masing, pada akhirnya ke dua cowok itu mengikuti kita dari belakang," jelas Aisyah dengan singkat.

 

Fatimah pun mengangguk mengerti, "Owh iyaiya aku mengerti Syah."

 

"Aku semakin terpesona dengan Raka saat itu Fat, keren bukan dia?" ujar Aisyah dengan senangnya.

 

Bola mata Fatimah berputar dengan jengah saat mendengar Aisyah kembali memuji Raka, "Terserah pendapat kau saja Syah!"

 

Aisyah pun menepuk lengan Fatimah pelan, "Yeee kok gitu sih, kamu kalau ada diposisiku pasti merasakan juga."

 

Tiba-tiba ponsel Fatimah berdering menampilan panggilan suara dari Reyhan, mata Fatimah pun memandang ke arah Aisyah karena merasa tidak enak hati dengan tersenyum Aisyah menjawabnya.

 

"Terima kasih aku jawab dulu ya!" kata Fatimah sembari membalikan tubuhnya menghadap ke jendela.

 

Melihat kedekatan Fatimah dengan Reyhan membuat Aisyah senang karena cowok itu selalu bisa membuat Fatimah bahagia tapi entah bagaimana hubungan diantara keduanya Aisyah tidak tahu pasti yang jelas sepertinya mereka saling menyukai satu sama lain.

 

"Pak Ujang masuk ke dalam saja ya Pak sekalian parkir di sana nantinya," seru Aisyah kepada Pak Ujang.

 

Akhirnya mobil pun sudah sampai di Asty City yang mana di dalam sana ada gudang buku yang bisa dipinjam atau dibeli, di depannya ada penjual makanan dan minuman sehingga sangat nyaman untuk sekadar nongkrong sambil baca buku di sana.

 

"Fat ayuk turun!" ajak Aisyah.

 

Fatimah masih teleponan dengan Reyhan yang menanyakan tentang pelajaran dan yang pasti ada rasa rindu juga di sana membuat Aisyah tidak berani untuk menganggunya.

 

"Pak Ujang mau ke warung atau tunggu di sini saja?" tanya Aisyah kepada Pak Ujang agar setelah dia keluar dari Asty City dia bisa tahu di mana Pak Ujang.

 

Pak Ujang menoleh menatap bosnya itu, "Saya tunggu di warung sana ya Non, mau minum kopi dulu hehehe."

 

Aisyah tersenyum, "Owh baik Pak tidak apa-apa, nih uangnya untuk makan dan ngopi di sana!" Aisyah memberikan uang sebesar lima puluh ribu kepada Pak Ujang.

 

Dengan tidak enak hati Pak Ujang hanya terpaku diam dan ragu untuk mengambil pemberian Aisyah tersebut tapi Aisyah yang paham dengan Pak Ujang langsung memberikannya.

 

"Nih pegang Pak, tidak apa-apa," kata Aisyah dengan tersenyum.

 

Pak Ujang pun mengambil uang dari tangan Aisyah, "Alhamdulillah terima kasih banyak Non."

 

"Sama-sama Pak, kita masuk dulu ya ke dalam!" Aisyah pun pamit kepada Pak Ujang lalu berlalu pergi bersama Fatimah yang masih sibuk berbicara dalam teleponnya.

 

"Fat, kalau kamu mau ngobrol dulu tunggu di sini saja!" kata Aisyah memberikan kesempatan untuk sahabatnya berbicara dengan Reyhan.

 

Fatimah menoleh menatap Aisyah, "Okey deh sebentar lagi selesai kok, nanti aku akan menemuimu di dalam."

 

Mendengar jawaban Fatimah, Aisyah pun tersenyum dan langsung masuk ke dalam yang langsung disambut oleh beberapa pelayan di sana dan penjaga kasirnya yang memberikan senyuman ramah kepadanya.

 

"Terima kasih." Aisyah kembali tersenyum kepada penjaga kasir tersebut yang memang sudah mengenalnya.

Toko buku di Asty City bukan hanya ada buku baru saja tetapi ada beberapa buku lama yang bisa dibaca di sini terkadang Aisyah juga menghabiskan membaca buku di sini karena lebih nyaman tidak ada yang mengganggunya.

 

Saat Aisyah melihat-lihat buku dari satu lemari ke lemari lainnya akhirnya dia pun menemukan buku yang dapat menarik hatinya dengan judul 'Rindu Dia' dengan sangat hati-hati Aisyah mengambil buku tersebut yang terletak di bagian paling atas membuatnya agak kesusahan untuk meraihnya tiba-tiba tubuhnya hampir jatuh ke lantai jika tidak ada tangan laki-laki yang menangkap tubuhnya.

 

Akhhh ...

 

Ketika tubuh Aisyah merasa ada sesuatu yang memegang tubuhnya, matanya pun terbuka dengan perlahan dan menatap cowok yang memang sedang menatapnya juga, mata kecoklatan yang dia kagumi selama ini bisa dilihat secara dekat membuatnya menambah terpesona dengan cowok itu.

 

"Raka!" gumam Aisyah pelan.

 

Raka tersenyum tapi matanya terbelalak saat melihat siapa cewek yang dia selamatkan ini, ah Aisyah kenapa jantungan kini berdetak sangat kencang menatap bola mata yang indah itu, saat satu sama lain tersadar Raka pun langsung membangunkan Aisyah dan bersikap gugup kepada cewek itu yang sepertinya tersipu malu melihatnya.

 

"Duh, maaf ya Syah aku tidak sengaja memegangmu," ujar Raka dengan gugup dan tidak ingin menatap Aisyah karena terlanjur malu terhadap cewek itu.

 

Begitupun dengan Aisyah yang terus menunduk karena malu, "Aku juga minta maaf dan terima kasih ya sudah menyelamatkanku," katanya dengan sangat lembut.

 

Raka jadi merasa bingung dan gugup berada di dekat cewek itu, Raka jadi malu untuk sekadar menatap cewek itu yang akhir-akhir ini sudah memenuhi pikirannya.

 

Dan Aisyah pun merasakan malu dan gugup jantungnya berdetak dengan sangat kencang dia sampai berpikir kenapa cowok itu ada di gudang buku ini? apakah memang kebetulan atau bagaimana? batin Aisyah berkata-kata.

 

"Aisyah! kamu sedang apa di sini?" akhirnya Raka memberanikan diri untuk bertanya setelah bertarung dengan pikiran dan hatinya.

 

Aisyah masih menunduk takut untuk kembali menatap Raka, "Aku mau beli buku, kamu sendiri sedang apa di sini?"

 

"Sudah menjadi kebiasaanku di hari libur main ke tempat ini untuk membaca buku di sini," ujar Raka dengan tersenyum canggung.

 

Mendengar jawaban Raka membuat Aisyah kaget ternyata cowok itu sering ke tempat ini tapi kok dia jarang ya ketemu padahalkan dia juga hampir setiap minggu ke tempat ini.

 

"Owh iya ini bukunya Syah! kamu mau ambil buku ini kan?" Raka menyerahkan buku yang ingin Aisyah ambil sebelumnya.

 

Aisyah pun mengambil buku tersebut, "Makasih ya Rak," ujarnya.

 

"Aisyah, lah kok ada kamu juga Rak?" seru Fatimah yang sempat terhenti saat melihat Raka bersama dengan Aisyah.

 

Aisyah dan Raka menoleh menatap Fatimah yang menunjuk Raka karena sedikit kaget melihat cowok itu berada di gudang buku ini.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!