Seni Seviyorum Aisyah

Rahasia Hati Aisyah

Lalu Aisyah pun membuka ponselnya yang memang penuh dengan pesan akhirnya dia memutuskan untuk menaruh al-qurannya di tasnya kembali, ya memang setiap hari Aisyah selalu membawa al-quran berukuran sedang di dalam tasnya.

 

*Ilham

 

"Syah, maaf aku mau minta tolong sesuatu boleh sama kamu?"

 

"Tolong buatkan puisi ya cuma 10 baris kok Syah, please aku minta tolong ya!"

 

Membaca pesan Ilham membuat Aisyah tersenyum yang benar saja cowok itu menyuruhnya untuk menulis puisi, Fatimah menatap pesan Ilham yang tidak sengaja terlihat olehnya.

 

"Udah Syah, bantuin aja kasihan dia," seru Fatimah yang berada di dekatnya.

 

"Tapi kan."

 

"Gak ada tapi-tapian dalam menolong orang yang membutuhkan Syah," sergah Fatimah.

 

Aisyah memang suka menulis syair tapi itu hanya untuk di tulis dalam buku diarynya saja bukan untuk dijadikan tugas sekolah, dia tidak begitu yakin bahwa tulisannya itu bagus makanya dia selalu menolak jika ada yang mengatakan bahwa dia pandai menulis.

 

Akhirnya Aisyah mengangguk setelah berpikir dengan cukup lama, bagus enggaknya itu urusan Ilham yang terpenting dia sudah membantunya untuk mengerjakan tugasnya.

 

"Okey deh Ham, aku akan mengerjakannya tapi jangan bilang jika itu tulisanku."

 

Aisyah pun mengirim balasan kepada Ilham dan kembali pokus kepada akun sosmednya dan melihat kutipan-kutipan motivasi di sana, rumah Fatimah sudah terlihat dari samping.

 

"Syah makasih ya, aku turun di depan saja owh iya kalau udah sampai rumah kabarin aku lagi ya!" ujar Fatimah saat mobil sudah berhenti di depan gerbang rumahnya.

 

Aisyah tersenyum manis kepada Fatimah, "Okey Fat, makasih juga ya sudah menemaniku."

 

Fatimah pun turun dari mobil Aisyah, kini mobil pun kembali berjalan meninggalkan kediaman rumah Fatimah yang masih nampak sepi seperti hanya Fatimah seorang diri yang tinggal di rumah sebesar itu, Aisyah jadi merasa rindu dengan Ayahnya.

 

"Pak, tolong bawa mobil dengan cepat ya! aku sudah rindu dengan Ayah," seru Aisyah kepada Pak Ujang dia sudah tidak sabar ingin sampai rumah.

 

Pak Ujang mengangguk dan menatap Aisyah dari kaca depannya. "Siap non," katanya

 

Mobil pun kembali membelah jalanan kota Jakarta, untuk ke dua kalinya dia melihat senja di sore hari yang tampak begitu cantik dengan jemarinya Aisyah mencoba menghalangi sinar senja tersebut yang begitu menyilaukan pandangannya dan tidak lupa dia pun mengambil gambar dirinya bersama senja.

 

"Bagus," gumamnya saat melihat foto dirinya sendiri.

 

Ya siapa lagi yang akan memujinya selain dirinya sendiri, tidak lama kemudian mobil pun sudah memasuki gang melati dan akan masuk ke gang berikutnya yang mana itu adalah gang rumahnya.

 

"Non, sepertinya Bapak belum pulang deh," ujar Pak Ujang yang melihat tidak ada mobil lain di depan rumahnya Aisyah.

 

Mendengar kabar tersebut Aisyah pun langsung turun dari mobilnya untuk menemui Bundanya yang sudah pasti sedang menunggunya di dalam, akhirnya dia pun memutuskan untuk turun dari mobilnya.

 

"Pak, aku berhenti di sini saja deh nanti jangan lupa mobilnya dimasukan ke dalam ya!" ujar Aisyah sembari membuka pintu mobilnya lalu beranjak keluar dari mobil.

 

"Owh siap non tidak masalah," kata Pak Ujang lalu memasukan mobilnya ke dalam garasi yang terletak di samping rumahnya.

 

Dengan rasa senang hati Aisyah pun membuka pintu rumahnya namun tidak melihat Bundanya di dalam membuat hati Aisyah seketika gelisah, dia pun mencari sosok Bundanya di dapur yang hasilnya tetap saja nihil dia pun kembali mencari Bunda ke kamar yang ternyata kosong tidak ada seseorang pun di sana, akhirnya Aisyah memutuskan untuk menelpon Bundanya.

 

'Duh, Bunda ke mana sih? katanya nungguin aku pulang tapi kok gak ada di rumah?' sesal Aisyah dalam hatinya menunggu panggilannya terhubung dengan ponsel milik Bundanya.

 

Terdengar dering telepon berbunyi Aisyah pun mencari di mana asal suara tersebut yang ternyata ponsel milik Bundanya yang terletak di atas nakas ruang tamu di samping bingkai.

 

"Ada apa non?" tanya Pak Ujang tidak sengaja melihat bosnya mondar-mandir tidak jelas.

 

Aisyah menoleh menatap Pak Ujang yang sedikit mengangetkan, "Duh Pak Ujang," keluh Aisyah. "Pak, kok Bunda tidak ada di rumah ya? aku sudah cari di mana-mana tapi tidak juga melihatnya."

 

"Hehehe si Non mah kaya gak tahu Ibu saja, kan sore ini ada pengajian Ibu-ibu di rumah Bu Maya," seru Pak Ujang dengan terkekeh.

 

"Hah, Pak Ujang aku lupa banget dan kenapa Bunda meninggalkan ponselnya di rumah coba kan biar bisa dihubungin," gerutu Aisyah pada Bundanya yang membuatnya cemas.

 

Pak Ujang hanya terkekeh, "Ya sudah mungkin sebentar lagi juga pulang, Pak Ujang pamit ke belakang dulu ya Non."

 

"Iya Pak, makasih ya," ujar Aisyah sebelum Pak Ujang berlalu pergi.

 

Dia pun akhirnya pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan menunggu ke datangan ke dua orangtuanya, perlahan Aisyah melepaskan hijab yang dia gunakan dan meletakannya di bangku rias lalu meraih handuk di gantungan pakaian dan masuk ke kamar mandi.

 

"Alhamdulillah airnya tidak dingin seperti biasanya," ujar Aisyah dengan riang.

 

***

 

Haris pun kembali dari kantornya diantarkan oleh salah satu asistennya, pekerjaannya telah selesai dengan lancar hari ini membuat dirinya bisa langsung pulang ke rumah.

 

"Pak, apakah kita langsung pulang?" tanya Aji asistennya di kantor.

 

Haris yang memang sudah merindukan keluarganya, "Iya langsung pulang saja istriku sudah menyiapkan makanan untuk nanti malam."

 

"Wah hebat banget ya Pak, istri Bapak sangat pengertian," seru Aji dengan tersenyum mengakui bahwa Adiba selalu menanyakan kabar kepulangan suaminya.

 

"Ya sudah buruan makanya cepet-cepet nikah biar bisa diperhatiin penuh hahaha," ceteluk Haris dengan terkekeh.

 

Perjalanan dari kantor ke rumah memang memakan waktu cukup lama, Haris pun yang merasa kelelahan memutuskan untuk tidur di mobil sedangkan Adiba pulang dari pengajian rutinnya.

 

"Assalamualaikum," ujar Adiba saat membuka pintu rumahnya.

 

Aisyah yang berada di kamar langsung meraih kerudung instan dan berlari keluar kamarnya untuk menghampiri Adiba yang terdengar sudah suaranya.

 

"Waalaikumsalam, Bundaaa!" teriak Aisyah sambil memeluk Bundanya dengan senang lalu dia pun mencium tangan dengan sopan. "Bunda kok pergi tidak bilang ke aku sih, tadi aku panik banget waktu pulang tidak melihat Bunda di rumah." Aisyah menceritakan kekesalannya yang barusan dia rasakan.

 

Dengan lembut Adiba mengusap-usap kepala Aisyah, "Sayang, Bunda minta maaf ya! ya sudah Bunda mau siap-siap dulu ya takut Ayah kamu sebentar lagi pulang."

 

"Ya sudah deh Bun, biar aku bantu ya Bun?" Aisyah yang sudah rapih berniat membantu Bundanya menyiapkan hidangan makan malam bersama Ayahnya.

 

"Okey deh terserah kamu saja." Adiba tersenyum senang mendengar ketulusan anaknya itu.

 

Mereka pun berlalu ke dapur untuk merapihkan hidangan makan malam, Aisyah melihat semuanya sudah siap tinggal dirapihkan dan dibawa ke meja makan, Adiba pergi ke kamar mandi untuk membersikan dirinya lalu menghampiri Aisyah yang sedang bolak-balik membawa makanan ke meja makan, ada rasa senang terhadap diri Adiba melihat sosok anaknya yang mulai tumbuh dewasa.

 

"Bunda semuanya sudah siap," seru Aisyah dengan tersenyum.

 

"Wahh baru ditinggal sebentar, meja makan sudah terlihat penuh saja." Adiba menguji hasil kerja Aisyah yang begitu cepat dan rapih tidak ada bercakan yang tumpah-tumpah. "Ya sudah, sebentar lagi adzan magrib kamu siap-siap buat salat nanti kita kumpul lagi di meja makan."

 

"Siap Bunda." Aisyah memberikan penghormatan kepada Bundanya.

 

Mobil Haris pun sudah sampai di depan rumahnya dia terbangun saat terdengar suara adzan dan akhirnya dia pun menunaikan ibadah di masjid terdekat klakson mobil pun dibunyikan gerbang dibuka oleh Pak Ujang yang melihat kedatangan bosnya.

 

Kringg ... kringg

 

Bunyi jam weker menggema di ruangan kamar Aisyah membuat gadis yang sedang tertidur pulas itu terbangun merasa terganggu dengan suara yang membuatnya bangun.

 

"Ah, jam berapa sih kok sudah bunyi saja alarmnya," gerutu Aisyah dengan terduduk menatap jam weker yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.

 

Pantas saja jamnya berbunyi ternyata sudah jam 04:15 WIB, hal itu membuat Aisyah beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil air wudhu sebelumnya dia tidak pernah lupa untuk membaca doa setelah bangun tidur ada kertas bacaan yang dia tempel di jam weker yang menjadi pengingatnya.

 

'Jangan lupa baca doa ketika bangun tidur' begitulah isi kertas yang dia tempelkan pada jam wekernya diakhiri dengan emot senyuman buatannya sendiri.

 

"Baru saja Ayah mau bangunin kamu eh sudah bangun duluan," ujar Haris yang kini berada di depan pintu kamar Aisyah

 

Aisyah sendiri yang masih mengantuk hanya mengangguk dan memberikan senyuman simpul kepada Ayahnya, "Aku ke kamar mandi duluan ya Ayah."

 

"Ya sudah sana wudhu, Ayah sama Bunda rencana mau pergi hari ini kamu gak apa-apa kan sendiri di rumah?" Haris memang berniat mau mengajak Adiba untuk pergi ke kantornya sekaligus mengenalkan istrinya kepada seseorang.

 

"Hah? kok bilangnya mendadak sih Yah," tukas Aisyah yang tiba-tiba terasa segar mendengar info tersebut.

 

Haris terkekeh, "Aisyah, Ayah sama Bunda perginya gak lama kok nanti sore kalau gak malam sudah sampai rumah."

 

"Ya sudah deh." Akhirnya Aisyah dapat memahaminya dan mengizinkan ke dua orangtuanya pergi.

 

Mendengar persetujuan anaknya Haris meminta maaf karena harus pergi meninggalkan anaknya dan sosok Ayah itu pun memberikan pesan kepada Aisyah untuk jangan pergi ke mana-mana tanpa sepengetahuannya, Aisyah hanya tersenyum lalu kembali berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu karena dia harus melaksanakan salat subuh sebelum waktunya habis.

 

Ke dua orangtuanya memang selalu bangun duluan dibandingkan dirinya, dan jika ada kakaknya pasti Aisyah menjadi yang paling terakhir bangun duluan entahlah kenapa dia sampai begitu susahnya Aisyah dibangunkan apalagi saat cuacanya sedang dingin.

 

Setelah selesai salat Aisyah pun tidak lupa untuk membaca al-quran serta mengulang kembali hafalannya, dulu dia sangat takut untuk menghafal dengan sebab dia khawatir tidak bisa istiqomah dan takut akan hafalannya yang hilang, alhamdulillah Aisyah merasa perasaannya kepada Raka membuat dirinya bertambah rajin dalam menghafal karena Aisyah tahu bahwa Raka sendiri pun mempunyai halafan yang banyak terbukti cowok itu selalu mendapatkan juara tahfidz dan BTQ di sekolahnya itulah mengapa Raka dikenal oleh seluruh murid di sekolah dengan prestasinya dan prilakunya yang sopan meski anak kelas Raka dan cowok yang dekat dengannya tahu bahwa Raka adalah sosok yang suka menanggapi cewek yang naksir kepadanya namun tidak beberapa, dan Ilham juga pernah bilang bahwa Raka adalah sosok teman yang selalu merasa tidak enak hati ketika diajak ke mana-mana.

 

"Astagfirullah, aku sampai lupa bahwa tugasku belum selesai," desis Aisyah saat melihat tumpukan buku di meja belajarnya seketika pikirannya langsung teringat akan tugasnya yang semalam belum diselesaikan semua.

 

Akhirnya Aisyah pun menyelesaikan bacaan al-qurannya dan merapihkan mukenanya kembali lalu pergi ke meja belajarnya, terlihat puisi yang semalam dia buat terbengkalai begitu saja tanpa tahu bagaimana meneruskannya karena apa yang sudah dia rangkai tidak bisa diulang kembali. Aisyah pun menyalakan musiknya untuk kembali membangkitkan moodnya yang sempat hilang sebab masalah itu.

 

Sedikit demi sedikit Aisyah mulai merangkai lagi dan menggabungkan diksi-diksi indah ke dalam syair puisi tersebut dan alhamdulillah moodnya pun kembali lagi sehingga dia dapat terus menulis dan mengerjakan tugasnya yang baru setengah.

 

"Alhamdulillah selesai juga puisinya, entah bagus tidaknya aku tidak peduli yang penting aku sudah membantunya," jelas Aisyah yang merasa cuek dengan hasilnya tersebut.

 

Setelah puisi pun selesai ditulis dengan 6 bait syair-syair Aisyah melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai, 'ah sepertinya aku akan tidak tidur untuk pagi ini' pekik Aisyah dalam hatinya yang biasanya dia selalu menyempatkan waktu untuk tidur setelah salat subuh kini dia harus disibukan dengan tugas-tugas sekolahnya.

 

Ponselnya pun bergetar menandakan pesan masuk di sana, Aisyah pun langsung mengusap layar ponselnya dan menampilkan chattannya dari beberapa yang kini pandangannya teralihkan oleh nama Hawa yang sudah membalas pesan yang semalam dia kirim.

 

*Hawa

 

"Aku ada di rumah Syah, ada apa?"

 

Ah, maksudku dia pergi ke mana sore tadi kenapa tidak cerita kalau pergi dengan Raka dan yang lainnya biasanya Hawa super heboh mengenai Raka apalagi kini dia berjalan dengan cowok itu pergi nonton di bioskop.

 

*Ilham

 

"Morning Syah, tugasku sudah diselesaikan belum?"

 

Membaca pesan dari Ilham rasanya dia ingin menceritakan bagaimana perasaannya kini namun hal itu sangat sulit baginya menceritakan kepada orang lain Aisyah malu dengan dirinya jika sampai mengakui bahwa dia mengagumi Raka.

 

"Morning to Ilham, nanti di sekolah aku kasih kok tenang saja."

 

Kini jemarinya kembali mengusap layar menampilan pesan dari Fatimah yang mengatakan dengan kalimat yang menyentuhnya, ya dia adalah sahabat yang mengertinya bagaimana mungkin Aisyah bisa berbohong dengan Fatimah jika selama ini dia selalu bercerita kepadanya.

 

"Maafkan aku Fat, aku kira ini adalah perkataan yang sebenarnya tapi nyatanya perasaanku tidak sedang baik-baik saja nanti di sekolah kita lanjut ceritanya ya!"

 

Jam pun sudah menunjukan pukul 06:10 WIB, Aisyah membuka jendela rumahnya yang mana langsung terlihat pepohonan yang menyegarkan untung saja rumahnya masih banyak pepohonan dan tumbuhan yang memang sengaja dirawat untuk memperindah sekaligus agar bisa melihat yang hijau-hijau saat keluar rumah begitulah yang Ayahnya katakan.

 

Adiba masih sibuk dengan urusannya di dapur hari ini dia ingin memasakan makanan yang enak untuk Aisyah, anak bungsu yang masih mempunyai sikap manja itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja, sedangkan Haris sedang tertidur sebab dia harus istirahat sebentar untuk kembali mengerjakan laporan-laporan dari kariyawan di kantornya dan akan ada pertemuan yang tidak mungkin dia lewatkan.

 

"Bunda, apa ada yang bisa aku bantu?" ujar Aisyah saat hendak pergi mandi.

 

Tidak sengaja melihat Bundanya yang sibuk di dapur membuatnya ingin menghampirinya dan membantu perkerjaan Bundanya itu, Adiba menoleh menatap wajah lesu putrinya.

 

"Sedikit lagi selesai kok sayang, sudah sana pergi mandi nanti kamu berangkat sekolah diantarkan Pak Ujang!" pekik Adiba yang masih disibukan dengan alat penggorengnya.

 

Mendengar perkataan Bundanya Aisyah pun beranjak pergi ke kamar mandi pagi ini dia akan menghadapi air yang sedingin es itu dengan sekuat mungkin, Adiba mengerti apa yang menjadi masalah anaknya yang takut untuk mandi pagi akhirnya dia pun menyalakan air panas dalam bak mandi sehingga Aisyah tidak lagi merasakan kedinginan.

 

Haris pun sudah bangun dari tidurnya dan kini dia sudah berpakaian rapi seperti biasanya, Aisyah yang harus pergi sekolah lebih awal memutuskan untuk tidak sarapan bersama dengan ke dua orangtua.

 

"Bunda, Ayah kalian dapat salam dari ka Katya katanya kakak rindu dengan kalian," seru Aisyah saat hendak mengambil air susunya.

 

Adiba tersenyum mendengar berita yang dibawakan Aisyah, dia selalu berdoa untuk anak pertamanya itu yang jauh dari jangkauannya apalagi dia adalah seorang gadis hal itu selalu membuatnya khawatir tapi sebagai orangtua Adiba juga tidak bisa bersikap egois.

 

"Sampaikan salam balik dari Ayah ya Nak," sahut Haris dengan tersenyum hangat.

 

Aisyah mengangguk, "Ya sudah, aku berangkat duluan ya Ayah, Bunda." Aisyah bangkit dari duduknya.

 

Melihat itu Adiba langsung memberikan sekotak bekal untuk Aisyah di sekolah berupa roti tawar dengan selai coklat dan strawberry kesukaan Aisyah, "Nih sayang bawa untuk kamu di sekolah!"

 

"Terima kasih Bunda, aku pamit ya." Aisyah pun mencium tangan ke dua orangtuanya secara bergantian lalu pergi menuju pintu keluar yang mana mobil pun sudah terparkir rapi di depan rumah.

 

"Silahkan masuk Non Aisyah!" ujar Pak Ujang yang mempersilahkan Aisyah untuk duduk di bangku belakang.

 

Aisyah tersenyum mendapatkan baik dari prilaku Pak Ujang, "Terima kasih ya Pak."

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!