Seni Seviyorum Aisyah

Rapat OSIS

"Hay Aisyah," sapa Amel dan Feby sembari tersenyum.

 

Senang banget Aisyah baru datang saja sudah disambut oleh rekan-rekan OSIS dengan baik, dia pun berjalan menghampiri barisan cewek-cewek yang terletak di sebelah kiri.

 

Pak Bambang menatap satu per satu anak muridnya, Raka pun langsung membuka rapat dengan suaranya yang terdengar lantang dan fasih betapa senangnya Pak Bambang memiliki anak-anak yang cerdas di sekolah ini.

 

Raka menatap satu per satu anggotanya saat semuanya sudah lengkap rapat pun akhirnya dimulai Raka membuka rapat tersebut dengan suara yang tegas dan menggema di seluruh ruangan melihat itu Pak Bambang tersenyum bangga terhadap muridnya.

 

Rapat ini memang menginai acara ulang tahun sekolah yang akan diadakan dimeriahkan oleh perlombaan dan kegiatan-kegiatan yang lainnya, dia pun membacakan bagian-bagian dalam acara tersebut dan tugas-tugas yang akan dilaksanakannya.

 

"Jadi saya harap bagi semua yang memegang bagian-bagian penting bisa melaksanakannya dengan baik, dan apakah ada usulan atau saran untuk acara ulang tahun sekolah ini?" ujar Raka dengan tegas.

 

Setelah bagian-bagian diumumkan Aisyah kaget mendengar dirinya ditempatkan di bagian sekretaris yang tak lain ketuanya adalah Raka sendiri, Raka membuka acara rapat dengan baik sehingga membuat Pak Bambang tersenyum melihat keaktifan anak-anak muridnya.

 

Rian pun mengangkat tangan kanannya untuk menyampaikan sesuatu, "Maaf sebelumnya teman-teman semuanya, saya mau menyampaikan usulan saya mengenai acara yang akan kita adakan ini yaitu ulang tahun sekolah, saya mengusulkan bagaimana jika kita adakan tiket untuk masuk para siswi dan siswa yang akan hadir dalam acara ini apalagi kan acara ini tak hanya dihadiri oleh siswa dan siswi dari sekolah ini saja akan tetapi kita mengundang sekolah lain untuk hadir, untuk biayanya terserah sih, sekian terima kasih," ujar Rian menyempaikan usulannya saat Raka mengizinkan dan mempersilahkannya untuk berbicara.

 

Mendengar usulan Rian semua anggota pun nampak menyetujui usulan itu, Aisyah pun terkejut dengan apa yang Rian sampaikan karena itu memang usulan yang bagus.

 

"Saya setuju dengan ide Rian, untuk biaya masuknya minimal 3 ribu atau 5 ribuan deh," kata Fasya dengan antusias.

 

"Iya bagus tuh biar semuanya berjalan dengan tertib, saya setuju dengan usulan Rian," sahut Amel dengan tersenyum.

 

Mendengar persetujuan anggota OSIS Raka pun akhirnya membicarakannya lagi dengan Pak Bambang sebelum mengambil keputusan atas usulan Rian.

 

Akhirnya Pak Bambang pun membuka suara, "Baiklah setelah mendengar usulan kalian Bapak rasa itu adalah ide yang bagus untuk kita adakan pada acara ulang tahun sekolah, jadi Bapak menyetujui usulan tersebut nanti Aisyah dan Raka segera buatkan tiketnya dan tentukan ya siapa yang akan menjaga pintu masuk dan memegang tiket tersebut," tutur Pak Bambang dengan tegas namun terkesan lucu.

 

Aisyah menoleh saat namanya disebut dia kaget mendengar Pak Bambang memerintahkan dirinya untuk segera membuat tiket masuk atas usulan yang telah disetujui bersama, Rian tersenyum bangga mengetahui bahwa usulannya diterima oleh semua teman-teman anggota OSIS.

 

"Baik Pak, nanti akan saya buat," sahut Aisyah dengan tersenyum kepada Pak Bambang.

 

Sangat sulit bagi Raka menentukan siapa yang akan dapat dia tugaskan untuk memegang tiket masuk ini, "Terus siapa yang akan memegang tiket ini? apakah ada bagian yang bersedia untuk membantu melaksanakan tugas ini?"

 

Melihat anggota yang lainnya terdiam sebab merasa sudah sangat pusing memegang bagiannya sendiri Aisyah pun memutuskan untuk membantu berjaga di pintu masuk, "Maaf saya rasa untuk tiket kan pastinya bersangkutan dengan uang ya jadi yang akan memegang tiketnya bagian bendahara dan saya sendiri," katanya dengan tersenyum.

 

Mendengar hal itu Amel pun menyetujuinya, "Okey tidak masalah kok lagipula aku dan Aisyah kan pasti akan saling berkaitan ya kan?" ujarnya sembari melirik ke arah Aisyah dengan sebelah alis yang terangkat.

 

"Iya benar biar kita berdua saja yang menjaga di pintu masuk," sahut Aisyah sambil tersenyum kepada Amel.

 

Ya memang dalam acara ulang tahun sekolah sangat diperankan oleh para OSIS sehingga semuanya saling bekerja sama dan membantu satu sama lainnya agar acara bisa berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun, Raka tersenyum memandang Aisyah saat cewek itu bersedia membantu dalam urusan lain.

 

Karena rapat sudah berjalan dengan cukup lama Via dan Sisil pun bangun dari duduknya untuk membagikan snak makanan dan minuman untuk para anggota OSIS yang telah hadir pada rapat hari ini.

 

"Ya sudah karena semuanya sudah mengerti dan usulan pun sudah diterima, Bapak pamit langsung pulang ya karena ada urusan yang belum Bapak selesaikandan kamu Nak Raka jika semuanya sudah beres jangan lupa kirim laporan hasil rapat hari ini di meja Bapak ya!" Pak Bambang pun bangkit dari duduknya.

 

Karena Pak Bambang berperawakan mempunyai tubuh yang besar dan gemuk jadi beliau merasa kesulitan untuk bangun sebab terlalu lama duduk sehingga Fasya dan Raka membantu Pak Bambang tempat duduk mereka berdua tidak jauh dari tempat duduk Pak Bambang.

 

"Hati-hati di jalan Pak!" seru Raka melihat kepergian Pak Bambang.

 

"Iya Pak hati-hati," sahut Fasya dengan tersenyum dan bersandar pada punggung bangkunya.

 

Selama snak dibagikan Raka pun akhirnya mengambil air minumnya untuk menghilangkan dahaga yang dia rasakan sejak tadi, "Baiklah apa ada usulan lagi? saya sudah pusing nih jadi yang punya usulan langsung saja sampaikan di sini biar bisa langsung selesai."

 

Rian terkekeh mendengar Raka mengeluh lalu ditepuknya bahu Raka pelan, "Sabar bro! jangan pusing-pusing kita akan siap membantu kok."

 

"Iya Rak jangan dibawa pusing, kita akan sama-sama menjalankannya dengan baik kok," timpal Adit.

 

"Jangan khawatir Rak! Aisyah akan siap membantu kamu kok menghandle semua agenda." Amel menyenggol lengan Aisyah sembari tersenyum jail kepada cewek itu.

 

Bukan hanya sekarang saja bahkan jika ada acara-acara yang diadakan oleh anggota OSIS Guru-guru dan Pak Bambang selalu memasangkan dirinya dengan Raka itu semua membuat anggota OSIS bahkan sahabat-sahabatnya mengejeknya, dalam anggota OSIS mereka semua sudah saling menganggap satu dengan lainnya adalah sebagai saudaranya sendiri karena mereka sama-sama berjuang dan saling membantu satu sama lainnya.

 

"Iihh apaan sih kamu Mel, sudah sepertinya tidak ada lagi usulan dari kami semua," sahut Aisyah memewakili semua suara karena melihat tidak ada yang mau memberikan usulan lagi.

 

Ya Raka akui Aisyah memang pandai mengalihkan pembicaraan orang mengetahui itu ingin sekali tersenyum namun tentu saja itu tidak bisa dia lakukan yang ada semuanya malah mengira yang aneh-aneh.

 

"Iya sudah sepertinya memang tidak ada lagi yang mau dibicarakan." Feby pun membuka suara dia sudah mengantuk dan ingin segera pulang.

 

Setelah Raka merangkum semua yang sudah dibahas selama rapat waktunya pembacaan kesimpulan atau notulen untuk memperjelas rangkaian-rangkaian yang akan dilakukan selama acara ulang tahun, Raka pun memberikan bukunya kepada Rian untuk dibacakan dengan suara yang keras.

 

Setelah rapat selesai Aisyah langsung menghubungi Bundanya untuk menyuruh supir pribadinya agar menjemput dirinya di sekolah sebelumnya Aisyah memang sudah mengabarkan bahwa dirinya akan pulang sore karena ada rapat OSIS jadi Bundanya sudah tahu akan hal itu.

 

*Aisyah

 

"Assalamualaikum, Bun aku sudah hampir selesai jangan lupa kabarkan Pak Ujang untuk menjemputku segera."

 

Ditepuknya bahu Aisyah oleh Feby, "Syah, minum dulu nih kamu pasti haus bukan?" katanya dengan begitu perhatian.

 

"Gays saya pulang duluan ya," seru Fasya si cowok berwajah sangar tapi hatinya sangat baik dan tidak pernah menyakiti hati wanita.

 

"Hati-hati Sya!" sahut anak-anak dengan melambaikan tangannya kepada Fasya.

 

Melihat Raka yang pokus dengan ponselnya Rian pun mengagetkan cowok itu, "Woy serius banget, lagi ngapain sih hah? jangan-jangan kamu lagi meladenin wanita-wanita Cheerleaders itu ya?" tuduhnya.

 

Anggota yang lain pun menoleh memandang Raka dengan sinis dan aneh sebab mereka juga telah mengetahui bahwa ada anggota Cheerleaders yang mengejar-ngejar ketua OSISnya itu, menyandang julukan playboy memang susah dihilangkan itulah yang membuat Raka kesulitan dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik apalagi setelah terpilih menjadi ketua OSIS yang mana peraturannya sangat ketat yang harus dia hindari juga.

 

Raka pun langsung menoyor kepala Rian dengan kesal, "Kalau ngomong suka asal, saya lagi baca berita yang sedang membuka beasiswa ke luar negeri tapi syaratnya harus hafal minimal 3 juz al-quran mau kau?"

 

"Ah kamu mah mengejek diriku saja," gerutu Rian mendengar hal itu.

 

Sedangkan disisi lain ada seseorang yang sebenarnya ingin tahu akan berita itu namun dia malu untuk menanyakannya tidak lebih dia merasa tidak enak hati kepada semua teman-teman OSISnya.

 

"Paketu, rapatnya sudah selesai bukan? kalau begitu tutup dulu saja aku juga mau pulang nih," ujar Sisil setelah makanannya telah habis dan hari ini juga dia ada janji sehingga tidak bisa berlama-lama di sini. Paketu adalah panggilan pendek dari Pak Ketua yang disudutkan oleh Raka sebagai ketua OSIS.

 

Mendengar perkataan Sisil membuat Raka akhirnya mengakhiri rapat siang hari ini, "Baiklah, saya tutup rapat hari ini dengan membaca kafarotul majlis."

 

Setelah selesai rapat satu per satu pun keluar dari ruangan tersebut dan Fasya yang paling terkakhir sebab dia yang ditugaskan untuk memegang kunci ruangan OSIS, Aisyah memutuskan untuk menunggu di depan gerbang setelah mendapatkan pesan balasan dari Bundanya.

 

*Bunda

 

"Waalaikumsalam sayang, kamu tunggu saja ya di sana nanti Pak Ujang akan menjemputmu."

 

Sambil berjalan Aisyah membuka status whatsappnya yang mana Fatimah serta sahabat-sahabatnya kompak memposting foto-foto mereka yang sedang makan terlihat wajah mereka yang fun membuat Aisyah sedih tidak bisa ikut dengan sahabat-sahabatnya.

 

*Fatimah

 

"Syah, kamu sudah selesai rapat?"

 

Melihat notip pesan dari Fatimah dia pun langsung menggeser layar ponselnya dia menduga bahwa Fatimah mengetahui karena baru saja Aisyah telah melihat statusnya sehingga dia langsung mengirim pesan kepadanya.

 

"Iya sudah selesai Fat."

 

*Fatimah

 

"Pak Ujang sudah menjemputmu?"

 

"Belum, aku sedang menunggunya."

 

"Jangan lupa ya Syah, nanti malam kamu harus menceritakan tentang tadi di sekolah kepadaku!"

 

Huhf, Aisyah menarik napasnya pelan begitulah salah satu sikap sahabatnya dia akan selalu ingat apa yang dia janjikan dan dia tipe orang yang penasaran setelah mengetik balasan untuk Fatimah, Aisyah pun kembali menaruh ponselnya ke dalam tasnya dan mengambil buku yang sedang dibaca.

 

Aisyah memilih untuk duduk di halte samping sekolahnya sambil membaca bukunya, teman-teman OSISnya sudah pulang menggunakan motornya masing-masing yang terkadang membuat Aisyah iri diberikan izin untuk mengendarai motor namun itu tidaklah mungkin untuk pulang naik taksi pun dirinya tidak diperbolehkan apalagi menaiki motor, ke dua orangtuanya sangat mengikatnyta dengan peraturan-peraturan serta menjaga dirinya dengan sangat ketat.

 

"Hey!"

 

Terdengar suara seseorang yang entah di mana dia berada membuat Aisyah panik dan menoleh ke kanan dan kirinya mencari asal sumber suara tersebut.

 

"Hey," sapanya lagi dengan tersenyum jail.

 

Mendengar suara itu lagi dia pun menoleh ke arah belakang yang sungguh membuat dirinya terkejut sehingga dia langsung beristigfar dengan tangan yang memegangi dadanya.

 

"Raka kau mengagetkanku, astagfirullah ngapain sih ada di situ?" gerutu Aisyah.

 

Sedangkan cowok itu hanya tertawa dan keluar dari tempat persembunyiannya, "Hehehe afwan Syah, bukan maksudku mengagetkanmu," katanya dengan berjalan menghampiri cewek itu.

 

"Lalu ngapain? lagipula kenapa kamu belum pulang aku kira anak-anak semuanya sudah pulang," ujar Aisyah masih dengan nada kesal.

 

"Saya nungguin kamu pulang, baru akan pulang juga, saya khawatir kamu kenapa-napa," sahut Raka dengan suaranya serak namun lembut terdengar di telinga Aisyah.

 

Mendengar ucapan Raka membuat Aisyah berpaling menghadap jalanan, "Jangan mencoba mengodaku Raka, aku tidak akan tergoda oleh ucapanmu itu mengerti!"

 

Raka kembali tertawa dia kira Aisyah akan senang mendengar bahwa dirinya sudah diperhatikan namun ternyata cewek itu malah bersikap sebaliknya membuat dirinya semakin merasa bahwa Aisyah sangat berbeda dengan kebanyakan cewek-cewek yang lain di sekolahannya.

 

"Kok ketawa sih? memangnya ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Aisyah dengan dahi yang mengkerut wajahnya masih menampakan kekesalan.

 

Raka berhenti tertawa, "Gak ada yang salah kok Syah tapi kamu beda dari cewek-cewek yang lain,"

 

"Bedanya?" Aisyah masih penasaran apa yang dimaksud ucapan Raka kepadanya.

 

"Iya beda, buktinya kamu malah marah bukannya senang padahal saya serius berkata seperti itu," jelas Raka. "Dan jika saya ngomong kaya gitu ke cewek lain sudah pasti dia bakal senang karena diperhatikan oleh saya yang tidak sembarangan cewek-cewek bisa mendapatkan perhatian dari saya," lanjutnya dengan nada yang membanggakan dirinya sebagai cowok incaran cewek-cewek sekolah.

 

"Huhf, aku bukan tipe cewek yang seperti itu apalagi dengan kamu yang semua orang tahu kalau kamu itu ..."

 

"Apa? playboy maksud kamu?" sergah Raka sebelum Aisyah menyelesaikan ucapannya.

 

Aisyah mengangguk mengiyakan ucapan cowok itu, "Intinya aku tidak mudah buat digombalin terlalu menyesakan saat cowok itu tidak bertanggung jawab atas apa yang dia ucapkan."

 

"Hahaha, memangnya kamu pernah mengalami hal itu sehingga kamu bisa mengatakan itu?" tanya Raka dengan terkekeh dia tidak percaya bahwa Aisyah berkata itu yang otomatis cewek itu sudah pernah terpancing oleh rayuan cowok entah itu siapa.

 

'Duh, Aisyah tahan diri kamu jangan sampai cowok itu bisa menebak semua perasaan kamu, kok Pak Ujang lama sekali ya?' gumam Aisyah dia bingung rasanya dia mati kata untuk berbicara kepada Raka yang terus memancing dirinya dan mencoba menciptakan kenangan untuk hari ini yang mungkin tidak akan mudah untuk Aisyah lupakan, ada rasa kesal yang dia rasakan andai saja dia bisa mengungkapkan semuanya agar cowok itu tahu bahwa dialah orang yang tidak bertanggung jawab itu.

 

Raka memperhatikan gerak-gerik cewek di depannya itu dengan saksama, ada rasa nyaman di sana saat berbicara dengannya senyum manis Aisyah terbit saat dia berhasil membuatnya tersipu malu.

 

"Sudahlah lupakan saja, owh ya tadi tidak sengaja aku mendengar bahwa kamu sedang membaca berita tentang beasiswa dengan jurusan tahfidz itu beasiswa apa ya?" ujar Aisyah mengalihkan pembicaraan.

 

"Ada apa kamu mau mencoba mendaftarkan diri?" Raka melihat antusias cewek itu saat membahas tentang beasiswa tahfidz.

 

Aisyah memang tertarik namun dia tidak ingin terburu-buru untuk mendaftarkan diri dalam lomba atau apapun yang belum dia ketahui bagaimana kebenarannya.

 

"Ah, tidak aku hanya bertanya saja tidak masalah kan," tukas Aisyah dengan gugup.

 

Jika ada yang bertanya apakah Aisyah masih merasakan getaran hatinya saat melihat Raka, jawabannya adalah getaran itu masih ada dan masih terus dia rasakan apalagi kini mereka duduk dengan berdekatan namun Aisyah kini bisa mengendalikannya sebagaimana seperti janjinya kemarin dia akan mencoba menghilangkan rasa itu agar tidak akan menyakitkan perasaan Hawa nantinya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!