Seni Seviyorum Aisyah

Aku Juga Punya Pilihan

"Bi, bagaimana dengan kuliahku nanti?" tanya Raka memberanikan dirinya sebelumnya dia sudah memikirkan akan hal itu.

 

Azmi yang memang masih makan memilih diam dan melanjutkan makannya, sedangkan Habibah yang sudah tahu apa yang Azmi rencanakan dia pun tersenyum memandang Raka seakan-akan dia berkata 'Semuanya akan baik-baik saja serahkan semuanya kepada Abimu'

 

Setelah selesai makan, Azmi pun mengambil air putihnya dan mengangkat suara, "Abi berserta Ummi sudah memutuskan ke mana kamu akan melanjutkan pendidikan kamu setelah ini dan kami akan mengirim kamu ke Turky karena di sana ada sahabat Abi yang akan membantumu, bagaimana pendapatmu apakah kamu setuju?"

 

Memutuskan secara sepihak bukan hal baik bagi Azmi namun dia sangat berharap bahwa anaknya itu mau menuruti apa yang sudah dia putuskan karena itu dia yakin bahwa keputusannya adalah yang terbaik bagi anaknya itu.

 

Wajah Raka menampakan ketidak sukaan karena sebelumnya dia sudah bilang kepada Umminya akan pendidikan selanjutnya yang ingin dia tempuh dan saat itu Umminya tidak bisa memutuskan karena itu semuanya dia serahkan kepada Abinya yang kini malah bertolak belakang dengan keinginannya.

 

"Tidak adakah tempat lain selain di sana Bi? aku ingin melanjutkan pendidikanku ke Jerman bukan ke Turky," ungkapnya dengan jujur, baginya pendidikan di Turky memang baik namun dia ingin ke Jerman sebab dia sangat ingin mengambil jurusan kedokteran di sana.

 

Sudah bisa Azmi tebak sebelumnya bahwa anaknya itu sudah mempunyai pilihan lain, "Mau ambil jurusan apa kamu di Jerman?"

 

"Kedokteran Bi, aku mempunyai impian menjadi seorang Dokter dan membuka klinik setelah berhasil nanti," jelasnya dia memang sudah memikirkan sebelumnya apa yang dipilih sehingga ke dua orangtuanya bisa menyetujui keputusannya.

 

Mendengar penjelasan itu Azmi diam begitu pun dengan Habibah yang tidak bisa berbuat apa-apa dia sudah menyerahkan semuanya kepada suaminya meski kini anaknya sudah menolak keinginan suaminya.

 

"Sudahlah Bi, kali ini turuti saja kemauan kakak bukankah semuanya tergantung kepada kakak yang akan menjalankannya," seru Ameera yang kini berada di pihak kakaknya, lalu dia tersenyum kepada kakaknya.

 

Azmi menyetujui apa yang Ameera katakan akhirnya dia pun memberikan senyuman kepada Raka, "Abi memang menyerahkan semuanya kepadamu tapi keputusan Abi juga harus kamu pikirkan mateng-mateng jangan sampai menyesal!"

 

Azmi pun bangkit dari duduknya setelah mengatakan kalimat itu, Habibah memberikan sentuhan hangat kepada putranya yang kini sudah beranjak dewasa dia tidak bisa berpihak diantara anak dan suaminya sendiri dia hanya bisa menjadi penengah diantara ke duanya.

 

"Mi, bukannya aku tidak ingin menolak keinginan Abi tapi aku juga punya impian untuk masa depanku." Raka bercerita kepada Umminya dia tidak bisa untuk menyembunyikannya sendirian apalagi ini menyangkut masa depannya.

 

Ameera beranjak dari tempat duduknya untuk memilih menunggu saja di ruangan televisi sebab kini kakaknya sedang butuh waktu untuk berbicara dengan Umminya.

 

"Serahkan semuanya kepada Tuhan, Nak! seindah apapun yang telah kau rencanakan jika Tuhan tidak menghendaki maka tidak akan terjadi maka dari itu yakinlah pada skenario-Nya." Habibah memberikan sedikit nasehat yang selalu anaknya ingat dan jalankan.

 

Bagi Raka ke dua orangtuanya adalah sosok penasehat dan pelindung terbaik di dunia ini, begitu banyak kisah dan kejadian seseorang yang melanggar aturan dan keinginan orangtuanya menjadi tidak berkah hidupnya dan dia tidak ingin hal itu terjadi kepada hidupnya, dia sangat membutuhkan ridho ke dua orangtuanya untuk masa depannya dan jalan hidupnya.

 

"Huhf." Raka menarik napasnya yang terasa sedikit berat kali ini, "Raka pergi dulu Mi, Ameera minta bantuan untuk mengerjakan tugas sekolahnya," pamit Raka kepada Umminya dengan bersalaman.

 

Melihat Raka yang sudah merasa lebih baik dia pun tersenyum dan menganggukan kepalanya, bagaimana pun Raka mempunyai jiwa kepemimpinan di mata Habibah membuatnya bangga dan sangat menyayangi putranya itu.

 

"Mana yang mau diajarkan?" tanya Raka pada Ameera yang sudah duduk dengan pulpen di tangannya.

 

Kini Ameera sudah kelas 3 SMP berselisih 3 tahun dengan Raka sebentar lagi Ameera akan naik ke kelas 1 SMA dan Raka akan lanjut kuliyah, tugas yang Gurunya berikan sangat begitu sulit dan saat menjelaskan pun Ameera tidak mengerti namun dia beruntung memilik kakak yang pintar sehingga dia bisa meminta kakaknya untuk kembali menjelaskan pelajarannya.

 

"Ini ka, jelaskan dulu agar aku mudah untuk paham," ujar Ameera sembari menunjukan tugasnya.

 

"Iya pasti akan kakak jelaskan selanjutnya kamu yang isi jawabannya habis isya kakak mau pergi." Raka memang mau mengajari adiknya tapi bukan untuk mengerjakan soal-soalnya dia hanya menjelaskan saja agar adiknya paham dan bisa mengerjakan tugasnya sendiri.

 

Ameera memasang wajah cemberut dia memang sudah mengenal sosok kakaknya itu, "Ya sudah tidak apa-apa asal nanti periksa lagi ya jawabanku!"

 

Raka mengangguk lalu mulai menjelaskan materi yang sedang Ameera pelajari beserta tugasnya yang begitu memusingkan kepala Ameera saat ini, dia akui bahwa dia sangat bodoh dalam hal hitung menghitung dan itu pun telah disadari oleh kakaknya itu.

 

"Bagaimana sudah paham?" Raka meletakan kembali buku paket Ameera di atas meja.

 

Pikiran Ameera masih berusaha berkutik pada penjelasan-penjelasan dari kakaknya, "Duh kak, pusing sekali kepalaku sepertinya otakku tidak sampai buat mikir ke situ ka sudahlah bantuin aku ka isi soal-soalnya," mohon Ameera dengan prustasi.

 

"Anak-anak ini cemilannya dan minumannya!" seru Habibah membawa senampan berisi satu kaleng cemilan dan minuman

 

"Ummi, nih si Ameera masa tugasnya aku yang mengerjakannya kakak masih banyak tugas sebentar lagi juga kakak mau pergi," adu Raka pada saat Ummi datang membawakan makanan untuknya belajar seperti biasanya.

 

Habibah hanya mengernyit bingung, "Ameera kerja sendiri dong kan itu tugas kamu masa kamu nyuruh kakak yang ngerjain?" katanya sembari menatap putrinya.

 

Mendengar itu Ameera melemparkan tatapan tajam kepada Raka yang kini terkekeh di belakang, akhirnya dia pun memeluk Umminya dengan manja otaknya sudah sangat capek dan sepertinya penjelasan Raka hanya sedikit yang nyangkut.

 

"Tuh dengerin Ummi kerjakan sendiri jangan manfaatkan kakak kamu juga harus jadi anak yang pintar ayo kakak jelaskan sekali lagi kalau gak mau kakak mau pergi ke kamar kakak capek habis rapat dan nanti akan mau pergi lagi," tukas Raka dengan tegas.

 

Habibah mengusap lembut kepala putrinya yang masih belum tertutup hijab, "Sudah sana belajar lagi nanti kakakmu tidak mau ngajarin!"

 

Ameera langsung bangun dari pelukan Habibah dan tersenyum kepada kakaknya, "Iyaiya ayo jelaskan lagi agar aku paham."

 

Raka tersenyum mendengar keputusan adiknya yang masih mau berusaha, tidak lupa dia pun menyuruh adiknya untuk membaca doa sebelum belajar agar diberikan kemudahan dan kepahaman oleh sang pencipta.

 

"Ya sudah yang semangat ya sayang belajarnya, Bunda mau ke kamar dulu!" ujar Habibah meninggalkan ke dua anaknya yang sedang belajar, dia menepuk bahu Raka dan tersenyum.

 

Raka dan Ameera mengangguk mengiyakan ucapan Umminya, dan Ameera harus kembali pokus mendengarkan kakaknya kali ini Raka menjelaskan dengan cara yang sangat pelan sembari sesekali dia memancing adiknya untuk menebaknya sampai akhirnya Raka meminta adiknya itu untuk mengerjakan tugasnya sambil ditemani dirinya yang memilih untuk menunggu adiknya itu mengerjakan tugas sekolahnya.

 

"Sudah kerjakan dulu! lain kali kalau Guru jelasin jangan tertidur apalagi bercanda kan kalau gagal pokus jadi gak paham apa yang dijelaskan!" omel Raka menyadarkan Ameera akan prilakunya di kelas.

 

"Huhf tahu aja sih kalau aku sering tidur," gumam Ameera dalam hatinya sambil berusaha menyelesaikan tugasnya sedangkan Raka memperhatikannya dari belakang sembari makan cemilan yang dibawakan oleh Umminya.

 

***

 

"Minggu depan kamu harus menyiapkan diri ya!" ujar Adiba sambil mengelus-elus dengan lembut kepala Aisyah.

 

Aisyah pun melepaskan pelukannya, "Baik Bun, Ayah terima kasih banyak ya!" Mata Aisyah menyorotkan kebahagian yang dia rasakan.

 

Haris tersenyum, "Ayah senang jika kamu juga senang besok Ayah akan bicarakan lagi dengan bimbingan kamu waktu kapan saja yang tepat untuk bimbingan, ya sudah Ayah mau ke kamar dulu!" katanya sembari beranjak dari tempat duduknya dan menutup korannya begitu saja.

 

"Ya sudah sana pergi mandi dan istirahat kamu pasti lelah setelah seharian penuh dengan kegiatan-kegiatan sekolah." Kini Adiba tersenyum memandang putrinya dia juga hendak menyusul suaminya.

 

Gadis itu mengangguk. "Baik Bun, aku ke kamar dulu ya!" pamitnya sambil mengecup pipi Bundanya.

 

Aisyah berlalu ke kamarnya dengan hati yang senang dia tidak sabar untuk memberitahu sahabat-sahabatnya nanti, saat sampai di kamar pandangannya melihat meja belajarnya yang di atasnya ada buku diarynya beserta al-quran miliknya.

 

"Ah aku mandi dulu saja deh gerah sekali rasanya apalagi tadi aku tertidur di mobil huh," pekik Aisyah sembari mengantungkan kembali tasnya dan hijab yang telah dia gunakan.

 

Kini rambutnya dia gerai sebab sore ini dia berniat untuk keramas, dengan bergegas Aisyah meraih handuknya yang tergantung di dekat kamar mandi lalu masuk langsung mengunci pintu kamar mandinya.

 

"Ah dingin sekali airnya," keluh Aisyah saat merasakan tetesan air yang mengalir di tubuhnya, "Duh bisa-bisa aku gak jadi keramas jika airnya dingin seperti ini."

 

Yang akhirnya Aisyah pun memaksakan dirinya untuk membasahi rambutnya sebab siraman pertama telah membasahi sedikit rambutnya itu kali ini Aisyah sangat mempercepat gerakan mandinya karena tangannya kini sudah sangat pucat dan mengkerut sebab kedinginan.

 

"Aisyah ada apa dengan dirimu?" teriak Adiba melihat Aisyah yang merengkuk kedinginan di atas kasur.

 

"Aku kedinginan Bun." Aisyah menyahut dengan bibir yang gemetaran.

 

Mendengar hal itu Adiba terkekeh dan menghampiri anaknya, "Ya ampun Bunda kira kamu sakit Nak, ya sudah Bunda buatkan air hangat ya untuk kamu."

 

Aisyah mengangguk tanpa berkata apapun dia tidak suka dengan hujan sebab dia akan merasakan kedinginan dan hujan selalu memiliki makna tersirat baginya yang sampai belum dia pahami mengapa hal itu terjadi padahal banyak orang-orang di luar sana menyukai hujan tapi dia sangat tidak menyukainya dan yang paling menakutkan lagi melihat kilat yang menyambar-nyambar ke mana-mana arah yang menjadi sasarannya.

 

Setibanya Adiba di kamar putrinya dia pun langsung menyulurkan teh hangat untuknya, "Nih minum, owh iya Bunda ke sini mau nanya sama kamu soal ka Katya apakah dia tidak menghubungimu?"

 

Aisyah menggeleng lemah, memang sangat sulit bagi kakaknya itu memberi kabar kepada keluarga entah ada masalah apa sehingga kakaknya itu hanya bisa memberikan kabar dua minggu sekali bahkan sampai 3 minggu baru kasih kabar.

 

"Ya sudah deh mungkin kakak kamu sedang sibuk di sana, ya sudah Bunda ke kamar dulu ya!" pamit Adiba dan beranjak pergi dari tempat tidur Aisyah.

 

Melihat raut wajah Bundanya, dia merasakan ada kerinduan yang mendalam di sana, 'Nanti akan aku usahakan untuk menanyakan kabar pada ka Katya kapan dia akan pulang ke Indonesia lagi?' gumam Aisyah melihat kepergian Bundanya.

 

Setelah meminum teh hangat Aisyah mulai merasa baikan dan tidak sedingin tadi dia pun bangkit dari tempat tidurnya untuk memakai pakaiannya sebab kini dia hanya memakai handuk yang melilit tubuh kecilnya.

 

Selesai memakai baju Aisyah pun langsung mengeringkan rambutnya yang basah, pikirannya kini penuh dengan tugas-tugas sekolah serta tugasnya sebagai sekretaris acara yang pasti akan banyak urusan yang akan dia lakukan.

 

Dia pun meraih ponselnya untuk menghubungi sahabatnya namun saat dirinya sedang mengetik nama seseorang tiba-tiba ada panggilan dari Fatimah membuat dirinya langsung menekan tombol hijau.

 

"Assalamualaikum Syah," ujar Fatimah dengan wajahnya yang cerianya.

 

"Waalaikumsalam Fat, baru saja aku mau telpon kamu eh tahunya kamu duluan hehe." Aisyah terkekeh dengan begitu merdu.

 

Fatimah yang sedang menonton Drakor kesukaannya ingin mengajak sahabatnya itu menonton bersama meski dia tahu bahwa Aisyah sedang sibuk dan banyak tugas yang harus dia selesaikan tapi dia mengenal Aisyah adalah tipe orang yang selalu membutuhkan refresing sebelum mengerjakan tugasnya.

 

"Kamu sedang apa Syah?" tanya Fatimah memastikan bahwa sahabatnya itu bisa di ajak pergi.

 

Setengah berpikir Aisyah pun masih sibuk mengerikan rambutnya yang sudah setengah kering, "Ada apa memangnya? hari ini aku sih niatnya mau mengerjakan tugas sekolah."

 

"Berarti tidak bisa ke rumah ya?" ujar Fatimah dengan lirih.

 

Seperti hari-hari biasanya Fatimah selalu mengajak sahabatnya untuk datang ke rumahnya untuk sekadar menemaninya di rumah sebab ke dua orangtuanya masih berada di luar kota entah kapan akan pulangnya mereka belum bisa memastikan itu kepada Fatimah.

 

"Sini main saja Fat ke rumah pasti Bunda akan mengizinkanmu bermalam di sini," usul Aisyah dengan senang hati dia menginginkan Fatimah untuk tidur bersama di rumahnya.

 

Mendengar usulan itu Fatimah malah marah kepada Aisyah, "Kalau aku tidur di rumahmu terus siapa yang akan menjaga rumahku?" gerutunya menyadari bahwa dia adalah anak semata wayang yang selalu ditinggalkan ke dua orangtuanya untuk bekerja yang jauh darinya.

 

"Hehehe maaf Fat tapi aku gak bisa bermalam di rumahku hari ini ada Ayah di rumah," jelas Aisyah berusaha membuat Fatimah mengerti meski sahabatnya itu sedikit kecewa mendengarnya.

 

"Ya sudah tidak apa-apa Syah, sekarang ayo ceritakan kepadaku rahasia yang sedang sembunyikan dari semua orang!" Dia masih ingat akan janji Aisyah yang akan menceritakan sesuatu kepadanya.

 

Aisyah pun langsung mengambil posisi yang nyaman untuknya menceritakan kejadian-kejadian yang akan menjadi kenangan yang tak sepertinya tidak akan mudah untuknya melupakan hari-hari itu.

 

Tanpa lepas dari senyuman manis dari Aisyah saat memulai menceritakan hal-hal yang dia lalui dan rasakan bersama Raka, yang entah mengapa membuatnya senang meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

 

"Aku takut Fat, jika Hawa beneran memiliki rasa kepada Raka dan kau tahu aku pernah membenci akan kelakuan itu yang sama halnya dengan penghianatan," ungkap Aisyah dengan lirih.

 

"Aku rasa kau tanya saja dengan Hawa apa yang sebenarnya dia sembunyikan dari kita bukankah selama ini kita selalu bersikap jujur satu sama lain." Fatimah memberikan usulan yang mungkin bisa membantu Aisyah.

 

Huhf, Aisyah menghela napasnya perlahan. "Apa itu hal yang wajar nanti jika aku bertanya gitu dengan Hawa dia malah akan menduga bahwa aku pun memiliki rasa dengan Raka."

 

"Ya biarkan dia sekalian tahu Syah dari pada dia malah mencuri hati Raka tanpa tahu kamu pun memiliki perasaan dengan cowok itu?" Apa yang dikatakan Fatimah memang benar membuat Aisyah kembali merasa gamang dan takut untuk melakukan hal itu.

 

"Fat aku lebih baik memendamnya dari pada aku akan merasakan penolakan yang begitu menyakitkan? aku sangat mengenal Raka aku rasa kau pun tahu dia, apakah kau ingin aku terluka karena mencintainya?"

 

Pernah mengalami penolakan dari seseorang yang sudah lama disukainya? jika sudah pernah katakan bagaimana rasanya itu, hal itu pun yang sedang Aisyah takuti dalam mencintai sosok Raka yang memang banyak disukai dan kagumi oleh para siswi-siswi di sekolahannya.

 

"I know Syah, ya sudah aku hanya bisa menyarankan saja selebihnya itu hak kamu tapi jika akhirnya dia akan menyakiti perasaanmu aku tidak akan terima itu, karena selama ini aku percaya bahwa Raka juga memiliki rasa yang sama denganmu," jelas Fatimah dengan mengulum senyum di wajahnya.

 

Mendengar perkataan sahabatnya Aisyah merasa menemukan tempat yang pas untuknya bercerita, karena itu dia tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari satu sahabatnya itu yang sudah dia anggap saudarinya sendiri sama seperti Aqila.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!