Seni Seviyorum Aisyah

Hawa Menyukai Raka

"Owh okey deh Bunda tinggal dulu ya!" Adiba pun berlalu pergi setelah mengusap pipi Aisyah dengan lembut.

 

Saat Bundanya pergi Aisyah pun kembali menutup pintu kamarnya dan melepaskan mukena yang masih melekat di tubuhnya lalu diraihnya ponsel miliknya untuk kembali mendapatkan pencerahan dari ceramah seseorang yang kini sangat dia kagumi.

 

'Dan Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hatimu. (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 51) Meski kau tidak mengucapkannya tapi Allah tahu apa sedang kamu rasakan tidak ada rasa bosan Allah mendengarkan cerita kita karena Allah maha mendengar, semakin lama kita bercerita dengan-Nya maka Allah akan semakin sayang dengan kita.'

 

Mendengarkan ceramah yang sudah menjadi hobbynya di pagi hari membuatnya sedikit tenang dan yakin bahwa dia bisa menahan hawa nafsunya untuk tidak terlalu mencintai Raka bahkan sampai meneteskan air mata hanya untuk cowok itu saja.

 

Setelah merasa sedikit tenang Aisyah bangkit untuk mandi dan berangkat ke sekolah tadi malam Raka sudah mengirim dokumen untuk di print sehingga membuat Aisyah harus segera ke foto copy sebelum berangkat ke sekolah.

 

Fatimah dan Raya sudah berencana untuk berangkat sekolah bersama-sama dengan Aisyah dan juga Hawa dengan sabar Fatimah menghampiri satu per satu rumah sahabat-sahabatnya itu karena sebelumnya dia sudah memberitahu mereka lewat grup jadi tidak terlalu lama dia menunggu.

 

"Raya! assalamualaikum," teriak Hawa sembari mengetuk pintu rumah sahabatnya itu.

 

Tidak lama kemudian Mamahnya Raya yang keluar dari dalam rumah dan terlihat kaget, "Waalaikumsalam eh kalian mau cari Raya ya?" tanyanya dengan senyuman.

 

"Iya Mah Rayanya ada kan? kita mau ngajak dia berangkat bareng," ujar Fatimah setelah bersalaman dengan Mamahnya Raya.

 

Mamahnya Raya pun langsung memanggil anaknya, "Raya, Nak ini ada teman-teman kamu di depan!"

 

"Tolong katakan ke mereka tunggu sebentar aku sedang buang air besar dulu!" Raya berteriak dari kamar mandi membuat Mamahnya kembali menemui teman-teman anaknya yang masih berada di luar sebab tidak ingin masuk ke dalam.

 

"Rayanya sedang di kamar mandi Nak, katanya tunggu sebentar saja hehehe," tukas Mamahnya sembari terkekeh.

 

Hawa pun berdecak pinggang, "Huhf kebiasaan banget tuh anak pasti nabung dulu tiap pagi." Dia tahu cerita itu dari Hawanya sendiri yang bilang saat mereka sedang berada di sekolah.

 

"Ya sudah Mamah tinggal dulu ya lagi masak takut gosong hehe kalian kalau mau masuk, masuk saja!" Mamahnya Raya pun berlalu masuk saat Hawa dan Fatimah memilih untuk menunggu di depan saja.

 

"Fat kamu sudah hubungi Aisyah?" tanya Hawa dia tidak ingin menunggu lama lagi.

 

Fatimah langsung membuka ponselnya untuk menghubungi satu sahabatnya itu, "Assalamualaikumm Aisyah!" salam Fatimah dengan suara yang sangat nyaring.

 

Dengan sabar Aisyah hanya mengelus-elus dadanya saja, "Waalaikumsalam, kecilin volume suaranya aku gak budek tahu gak?!" Dia menggerutu kesal.

 

"Hehehe, sorry sorry saking semangatnya aku ini loh, gimana kamu sudah siap-siap belum?" Hawa menguping pembicaraan Fatimah dengan Aisyah yang di loudspeaker sehingga bisa terdengar jelas.

 

"Aku sedang makan nih sama Bunda dan Ayah, kalian sudah di jalan?" ujar Aisyah sembari menatap ke dua orangtuanya.

 

Yang kini memandangnya dengan tanda tanya, sebetulnya dia tidak dibolehkan mengangkat telepon ketika sedang makan namun karena itu adalah sahabatnya sendiri akhirnya dia dibolehkan lagi pula dia sudah hampir selesai makannya.

 

"Hay gays maaf ya buat kalian nunggu lama," seru Raya ketika keluar dari rumahnya menyapa para sahabatnya yang sedang duduk di teras depan rumahnya.

 

Terdengar suara Raya membuat Aisyah terkekeh ternyata ke dua sahabatnya sedang berada di rumah Raya, mereka menoleh menatap Raya yang sudah berpakaian rapi dengan tas selempang yang menggantung di bahunya.

 

"Sudah selesai kan Ray? ya sudah yuk langsung saja berangkat!" seru Hawa sembari bangun dari duduknya.

 

Diikuti oleh Fatimah yang masih menghubungkan ponselnya dengan Aisyah, "Syah kita mau berangkat ke rumah kamu nih."

 

Mendengar nama Aisyah, Raya pun langsung mengambil alih ponsel Fatimah. "Hay Aisyah gimana rapat kemarin, lancar?" Raya penasaran akan acara ulang tahun sekolah dan tentu saja dia ingin tahu apakah Rian aktif dalam berorganisasi atau malas-malasan seperti yang dulu dia dengar dari Aisyah.

 

"Alhamdulillah lancar kok," jawab Aisyah dengan tersenyum sembari menyeruput air minumnya. "Ayah mau berangkat sekarang?" katanya berbicara dengan Ayahnya yang hendak pergi ke kantor.

 

"Tidak usah Yah, aku pergi bersama Fatimah dan yang lainnya," sahut Aisyah saat disuruh untuk berangkat bareng dengan Ayahnya. Haris pun mengangguk dia mengenal sahabat-sahabat Aisyah yang tak lain orangtuanya Hawa adalah pemilik perusahaan Azael yang sudah berkerjasama dengan perusahaan miliknya.

 

Raya menyimak dengan diam, "Syah kita sudah berangkat nih nanti kamu tunggu aja di depan ya," kata Raya sambil melihat-lihat jalanan.

 

"Kita sampai kamu harus sudah rapi ya Syah!" seru Hawa dari bangku belakang.

 

Aisyah pun memutuskan untuk mengakhiri sambungannya, "Ya sudah sampai ketemu nanti ya assalamualaikum."

 

Setelah sambungan terputus Raya pun kembali mengembalikan ponsel milik Fatimah yang kini sedang pokus menyetir mobil tanpa disadari oleh ke dua sahabatnya itu.

 

"Rumah Aisyah jauh gak sih kok kayanya aku belum pernah ya ke sana?" Hawa menoleh ke arah jalanan memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi sampai dia tidak bisa melihat dengan jelas seberapa tingginya gedung-gedung itu.

 

Fatimah melirik sahabatnya itu dari kaca depan, "Sebentar lagi kok sampai."

 

"Untung saja Raka tidak bisa jemput hari ini jadi aku bisa berangkat bareng kalian," ungkap Hawa dengan lirih.

 

Raya yang mulai menyadari perubahan sikap satu sahabatnya itu mendengus kesal, "Memangnya kenapa Raka harus mengantarkanmu ke sekolah?" sahutnya.

 

Fatimah memilih menyimak saja dia ingin mendengar tanpa harus banyak bertanya Raya terlihat kesal mendengar ucapan Hawa, 'Jika Raka tidak sibuk otomatis dia bakal memilih cowok itu dibanding berangkat bersama mereka.

 

"Ya karena Raka mulai punya rasa kepadaku wkwkwk," ujarnya sembari tertawa senang.

 

Huhf semakin hari Hawa mulai tergoda dengan rayuan cowok itu membuat Fatimah akhirnya mengangkat suaranya sebab merasa gereget. "Hey Hawa apa saja yang cowok itu katakan kepadamu sampai membuat kamu seperti ini hah?"

 

"Iya gak usah berharap lebih deh nanti kalau dia menyakitimu baru tahu rasa," gerutu Raya sembari menatap Hawa sebentar lalu kembali bermain dengan ponsenya lagi.

 

Mendengar satu per satu ucapan yang keluar dari mulut sahabat-sahabatnya itu membuat telinga Hawa panas, "Kalian kenapa sih kayanya gak suka banget lihat aku dekat dengan Raka? ini kan urusanku sendiri." Emosinya kini kian meluap Hawa menghadapkan pandangannya ke arah jendela dengan ke dua tangan yang terlipat di depan dada.

 

"Ya bukan kita bermaksud bagaimana Haw tapi kan kita sebagai sahabatmu hanya mengingatkan kebenarannya!" ujar Raya dengan suara yang rendah dia tidak ingin Hawa salah paham atas ucapannya.

 

Hawa masih terlihat gambek, "Tapi aku gak suka kalian ikut campur urusan pribadiku dan hak atas perasaanku ini maaf jika aku juga sudah berkata dengan nada tinggi kepada kalian namun aku tidak suka dengan sikap kalian yang seperti ini kepadaku."

 

Saat Raya ingin kembali menyahut Fatimah segera menenangkannya dengan sentuhan pada tangan Raya membuat cewek itu tidak lagi berkata dan memilih untuk diam.

 

"Ya sudah tidak usah bertengkar sebentar lagi rumah Aisyah sampai nih nanti jika dia tahu kita bertengkar dia pasti akan sedih." Fatimah kini menjadi penengah yang sebelumnya di posisi itu adalah Aisyah sendiri hanya dia seorang yang bisa mengakurkan kembali para sahabatnya.

 

Hari ini Raya pun mulai menyadari perubahan sikap Hawa yang sedang falling in love terhadap Raka itu memang hal yang wajar tapi sikap Hawa membuat para sahabatnya itu gemas, apalagi mendengar ucapannya barusan yang seakan-akan Raka lebih penting dibanding mereka yang sudah lama dia kenal.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!