Seni Seviyorum Aisyah

Kecemburuan Hawa

"Terima kasih banyak ya Han," seru Aisyah setelah Reyhan membantu dirinya dan Fatimah mengerjakan tugas Bu Maya.

 

Reyhan tersenyum, "Iya sama-sama santai aja kok sama gue mah."

 

Saat bel sekolah berbunyi dengan sangat nyaring, para siswa dan siswi pun langsung buru-buru keluar dari kelasnya masing-masing seperti semut yang keluar dari tempat persembunyiannya, Aisyah sendiri memilih untuk menetap dulu di kelas menunggu anak-anak sudah pada keluar sebab mereka saling dorong mendorong dan berdesakan hanya untuk bisa keluar daari kelasnya.

 

"Fat aku jadi kepikiran dengan Hawa, apakah aku harus menghubunginya sekarang?" Dia bingung harus bagaimana mengambil tindakan saat ini dia tidak mau salah bertindak sebab dia tahu bagaimana perasaan Hawa.

 

Fatimah menoleh memandang Aisyah, "Jangan dulu Syah! kita tunggu kabar dari Raya aja yah," sahutnya sembari menepuk punggung Aisyah dengan lembut.

 

"Syah, aku mau bicara berdua sama kamu boleh?"

 

Aisyah dan Fatimah lantas menoleh dengan terkejut melihat Raka sudah berada di dekatnya kini kondisi kelas sudah sepi tidak ada orang lain selain mereka dan satu anak laki-laki yang terkenal culun.

 

"Tidak boleh kalau mau bicara di sini saja," sahut Aisyah dengan sedikit ketus.

 

Raka mengangguk mengerti, "Aku minta maaf."

 

"Maaf untuk apa?" Aisyah heran pasalnya kejadian tadi pagi itu adalah hal yang tidak di sengaja meski dirinya sedikit kesal mengapa selalu Raka yang menolongnya.

 

Raka menundukan kepalanya untuk memastikan tangan Aisyah baik-baik saja, "Untuk cengkremanku sampai membuat tanganmu merah," katanya yang kembali berdiri tegap.

 

Aisyah dan Fatimah terdiam, 'Tahu dari mana dia kalau tanganku merah sebab cengkraman tangannya?' guman Aisyah dalam hatinya.

 

"Ya sudah aku duluan urusan maafku mau diterima atau tidak itu urusan kamu dengan Allah yang terpenting aku sudah minta maaf." Raka berlalu meninggalkan dua cewek itu setelah mengatakan kalimat itu.

 

Aisyah pun tidak mau ambil pusing dari dulu dia tidak bisa marah dengan Raka meski sering kali cowok itu menyakiti perasaannya, Fatimah pun mengelus-elus punggung Aisyah dengan lembut.

 

"Sabar ... ya sudah yuk ke ruangan bu Maya nanti ke buru bel," ajak Fatimah dengan menampakan wajah yang ceria seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

 

Aisyah pun bangkit dari duduknya berjalan berdua bersama Fatimah ke ruangan bu Maya yang berada lumayan dari dari kelasnya, diam-diam Fatimah mengirimkan pesan kepada Raya untuk menanyakan kabar Hawa.

 

Ponsel Raya bergetar sangat terasa di tubuhnya sehingga dia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya, dalam empat sahabat itu hanya Aisyah dan Hawa yang menggunakan hijab dulu Raya pernah memakai hijab waktu smp namun dia memutuskan untuk melepasnya kembali dengan alasan tertentu namun tentu saja hal itu tidak mempengaruhi persahabatan mereka, Raya mempunyai rambut yang panjang hitam namun kriting gantung sedangkan Fatimah mempunyai rambut sepunggung dan bawah rambutnya berwarna cokelat caramel.

 

*Fatimah

 

"Ray, bagaimana keadaan Hawa apakah dia masih menangis?"

 

"Sudah reda namun sepertinya dia masih marah dengan Aisyah tapi aku masih mencoba menjelaskannya."

 

Pelayan pun datang membawa dua gelas air minum yang sudah Raya pesan, dia juga memesan makanan sebab dia berpikir setelah menangis terlalu lama membuat perutnya pasti akan kelaparan karena dia sendiri pernah mengalami hal seperi itu.

 

"Haw, makan dulu nih!" pinta Raya sembari menyodorkan piring kepada Hawa yang kini sedang pokus menatap ponselnya.

 

"Ray kau tahu, aku sungguh mencintai Raka sejak dulu kau tahu sendiri bukan sangat sulit untuk berada di dekat cowok itu? aku bahkan sampai relain harga diri tahu buat ngajak Raka jalan, minta Ummi buat nyuruh Raka mau mengantarkan aku pulang sekolah itu butuh perjuangan banget Ray," ungkap Hawa dengan nelangsa.

 

Mendengar hal itu membuat Raya mengerti apa yang sedang sahabatnya itu rasakan, "Sudahlah Haw gak usah bersedih lagi masih banyak kok cowok di luar sana yang lebih tampan dari Raka."

 

"Aku suka iri kalau dengar Raka sedang mencari Aisyah apalagi sekarang ada acara ulang tahun sekolah membuat mereka berdua nambah deket saja," lanjut Hawa dengan tersenyum getir.

 

Raya menyuruh Fatimah dan Aisyah untuk datang menemui mereka karena dia merasa bahwa Hawa akan menjadi tenang setelah mendengar penjelasan langsung dari Aisyah sendiri.

 

"Aku mengerti perasaanmu Haw kau pun tahu bahwa Raka memang playboy mengapa masih ngejar-ngejar dia? sudah makan dulu nih nanti Aisyah dan Fatimah sebentar lagi datang ke sini loh," sahut Raya sembari mengambil air minumnya.

 

Baru di bicarakan Fatimah dan Aisyah pun sudah sampai di depan mereka, melihat kedatangan mereka Hawa pun bangkit dari sandarannya.

 

"Hawa!" teriak Aisyah yang langsung berhambur dalam pelukan Hawa dia menangis histeris ada rasa bingung dalam dirinya.

 

Perasaannya selama ini berhasil dia tutupi sehingga sahabat-sahabatnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Fatimah tempat duduknya yang kerap kali memergoki Aisyah yang diam-diam mencuri pandang ke arah Raka bahkan menangisi Raka.

 

"Aku minta maaf sama kamu ya Haw, itu kejadian yang tidak disengaja kau lihat sendiri kan?" ujar Aisyah dengan lirih tepat di samping telinganya Hawa.

 

Hawa melepaskan pelukan Aisyah dengan pelan, "Iya aku maafkan Syah lagipula aku hanya kaget saja melihat kejadian tadi apalagi tangan kalian yang saling berpegangan dengan eratnya."

 

"Gitu dong kan enak lihatnya sudahlah tidak usah lagi mengharapkan Raka aku kurang setuju kau mengejar-ngejar Raka gitu Hawa," sergah Raya setelah menghabiskan sesuap nasi.

 

'Huhf kau terlalu bersikap berlebihan Hawa,' gumam Fatimah memandang wajah Hawa yang penuh dramatis.

 

"Fat, Aisyah kalian mau ikut makan bareng tidak? biar aku yang pesan ya!" seru Raya sembari melemparkan pandangan ke arah dua sahabatnya yang baru saja datang.

 

Fatimah mengangguk mengiyakan tawaran Raya perutnya memang belum diisi nasi sejak pagi, "Ya tidak apa-apa Ray pesan lagi dua porsi," sahutnya mewakili Aisyah.

 

Raya bangkit dari duduknya menuju tempat untuk memesan sekalian dia juga ingin ke toilet sebentar saat itu Aisyah diam bingung harus bersikap bagaimana dia sibuk memikirkan 'Bagaimana jika Hawa tahu bahwa Aisyah sendiri pun telah menyukai Raka sejak dulu? akankah Hawa akan membencinya?' gumamnya.

 

Ponsel Aisyah pun berdering menampilkan panggilan dari seseorang di sana, "Aku angkat telepon dulu ya," katanya beranjak pergi ke luar caffe.

 

"Assalamualaikum Syah," ujar seseorang dari sebrang sana dengan suaranya yang pelan.

 

"Waalaikumsalam, ini Ummi ya?" tebak Aisyah yang mengenal suara di sebrang sana, memang Fahri yang menghubunginya namun itu adalah suara Umminya.

 

"Nak, nanti jadi kan ke rumah?"

 

"Insya Allah Mi, habis ini aku ke sana," ujar Aisyah tidak lupa akan hal itu dia memang sudah berjanji pada Fahri untuk datang ke rumahnya.

 

Terdengar suara Ummi yang sedang berbicara dengan Fahri. "Aisyah, Ummi suruh Nak Fahri untuk menjemput kamu agar cepat sampai karena Ummi akan ada acara pengajian di komplek bersama Ibu-ibu."

 

'Hah, mengapa harus di jemput sih bersama Fahri lagi betapa canggungnya aku nanti di mobil' pekik Aisyah panik dia tidak bisa bersikap biasa saja dengan cowok itu karena waktu di sekolah dia sudah membaca surat darinya yang berisi sebuah sebuah perhatian dan ajakan dinner malam minggu nanti.

 

"Nak Aisyah bagaimana?" Aisyah tersentak seketika mendengar Ummi yang memanggilnya kembali.

 

"Ah iya Mi tidak masalah tapi sekarang aku sedang di caffe bersama teman-temanku nanti aku sarlok saja deh Mi," ujar Aisyah dengan tersenyum gugup.

 

Lalu setelah Ummi mengatakan akan menunggu dirinya di sana sambungan pun terputus secara tiba-tiba meninggalkan bunyi dari ponsel Aisyah, dia kembali berjalan menghampiri sahabat-sahabatnya di dalam.

 

"Syah makan dulu nih aku sudah memesannya untuk kalian berdua," seru Raya sembari menyodorkan piring kepada Aisyah.

 

Tanpa berpikir lama Aisyah pun mengambil piring tersebut, "Eh gays nanti Fahri akan ke sini menjemputku, hari ini Ummi memintaku untuk datang ke rumahnya," ungkap Aisyah. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!