Seni Seviyorum Aisyah

Raka Datang ke Rumah

Aisyah mengangguk mengerti, saat sudah selesai bicara Ummi pun pamit untuk pergi ke pengajian sore hari ini karena sudah ditunggu jadi gak bisa berlama-lama mengobrol dengan Aisyah, akhirnya Ummi kembali menyuruh Fahri untuk mengantarkan Aisyah pulang ke rumahnya.

 

"Iya Mi ada apa?" tanya Fahri yang muncul dari ruang tengah kini pakaiannya pun sudah ganti dengan baju pendek warna hitam dibaluti dengan jaket kulit miliknya.

 

"Antarkan Aisyah pulang dengan selamat, Ummi akan pergi dengan Paman Lie ke tempat pengajian Aisyah tidak apa-apa kan Ummi pergi duluan," ujar Ummi sembari bangkit dari duduknya.

 

Aisyah pun ikut bangkit setelah menelan habis air minumnya, "Iya Mi tidak apa-apa kok," katanya.

 

Setelah Ummi pergi Aisyah memilih kembali duduk sebentar memainkan ponselnya yang sepertinya ada pesan masuk di dalamnya da ternyata itu memang benar.

 

*Raka

"Assalamualaikum Syah, kau ada di mana?"

 

"Waalaikumsalam, aku sedang pergi ada apa?"

 

Setelah selesai membalas pesan dari Raka dan membaca pesan dari Bundanya agar segera pulang Aisyah pun bangkit untuk menyusul Fahri yang sudah bergegas keluar dari rumahnya.

 

Selama perjalanan pulang Aisyah memilih untuk membaca buku yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi, begitu pun Fahri yang pokus menatap jalanan yang sedikit macet sinar senja pun menerobos masuk ke dalam mobil, Aisyah langsung mengalihkan pandangannya dari buku ke arah luar.

 

'Indah sekali sinarnya,' gumam Aisyah sembari tersenyum simpul sembari mengulurkan tangannya ke atas agar menutupi dirinya dari sinar senja yang menyilaukan.

 

"Apa kamu terganggu dengan sinarnya?" ujar Fahri yang melirik Aisyah sekilas lalu kembali pokus memandang jalanan.

 

"Ah tidak, biarkan saja aku suka melihatnya kok." Aisyah memang tidak mempermasalahkan senja meski sinarnya mengenai dirinya.

 

Mendengar jawaban Aisyah Fahri hanya mengangguk saja, ponsel Aisyah pun kembali berdering menampilkan pesan dari Raka dan Fatimah yang ingin bercerita kepada dirinya.

 

Aisyah membuka pesan dari sahabatnya terlebih dahulu meski dia sangat ingin membaca pesan dari Raka yang sepertinya menyangkut tugas OSIS.

 

*Fatimah

"Syah kamu ada di mana? lagi sibuk gak? aku ingin bercerita sesuatu dengan kamu."

 

"Aku sedang di mobil bersama Fahri menuju jalan pulang nanti ketika sampai rumah aku akan kabarin kamu ya!"

 

Kemudian tangannya mengeser layar menampilakan pesan dari Raka yang masih membahas tentang acara ulang tahun sekolah.

 

*Raka

"Syah bagaimana aku butuh bantuanmu menyusul agenda acara, apakah kamu bisa?"

 

"Mengapa harus aku kan kamu ketuanya!"

 

Aneh, pekik Aisyah dalam hatinya cowok itu selalu memanfaatkan dirinya untuk mengerjakan semuanya padahal tugasnya Aisyah sendiri pun sudah banyak sekali.

 

Kini mobil sudah masuk ke dalam gang rumah Aisyah dan berbelok ke kanan hingga sampai di depan gerbang rumahnya, Aisyah langsung turun dari mobil sebab hari sudah semakin sore.

 

"Makasih banyak ya Syah," ujar Fahri dengan tersenyum manis, dia masih duduk di tempatnya tidak berniat untuk mampir ke rumah Aisyah terlebih dahulu.

 

"Ya sudah kamu hati-hati ya!" Aisyah melambaikan tangannya ke arah Fahri.

 

Pintu pun dibuka oleh Pak Ujang yang mengetahui kedatangan Aisyah, "Non Aisyah baru pulang?"

 

"Iya Pak, Ayah sudah pulang juga ya Pak?" tanya Aisyah memastikan.

 

"Sudah non baru saja sampai, tuh mobilnya!" Pak Ujang menunjukan mobil yang Haris pakai tadi yang kini sudah terparkir rapi di halaman rumahnya.

 

Mendengar kabar itu Aisyah langsung berlari takut Ayahnya akan mengomel meskipun dia sudah izin kepada Bundanya namun tetap saja Ayah akan menanyakannya.

 

"Assalamualaikum," ujar Aisyah saat membuka pintu rumahnya.

 

Haris dan Adiba menoleh saat mendengar suara putrinya yang sudah pulang, "Waalaikumsalam," sahut Adiba yang langsung bangkit dari duduknya untuk menghampiri putrinya.

 

"Ayah mana Bun?" tanya Aisyah begitu melihat Bundanya.

 

Adiba menunjukan dengan dagunya membuat Aisyah langsung melihat sosok Ayahnya yang sedang duduk di ruang televisi dia pun akhirnya berjalan cepat untuk menemui Ayahnya.

 

"Baru sampai kamu Aisyah?" serunya saat Aisyah bersalaman dengan Ayahnya dan duduk di dekat cowok itu.

 

Up, ternyata Haris langsung menanyakan kepada putrinya meski dia sudah mendengar dari istrinya sendiri, Haris memang sosok Ayah yang tegas dan berpendirian.

 

Diam Aisyah tidak langsung menjawabnya dia melirik ke arah Bundanya, 'Bunda tidak memberitahu Ayah?' ujarnya pelan dengan sebelah alis yang terangkat.

 

Adiba pun menjawabnya dengan begitu pelan, yang akhirnya Aisyah harus memikirkan kalimat yang baik untuk dijelaskan kepada Ayahnya yang super tegas itu.

 

"Hemm, iya Yah aku tadi habis pergi ke rumah Ummi," jawab Aisyah dnegan gugup, "Owh tadi juga Ummi nitip salam buat Ayah dan Bunda."

 

Ternyata tidak sampai di situ saja Haris ingin mengetahui sebab mengapa anaknya bisa pulang sampai sore, dia kembali menanyakan hal itu kepada putrinya.

 

"Selain itu apa yang membuat kamu pulang dengan telat?" Ya Haris ingin memastikan bahwa bukan hanya alasan itu saja yang membuat putrinya pulang hingga sore hari, selain itu Haris juga ingin memastikan bahwa putrinya tidak berkata bohong.

 

Aisyah menunduk takut dan capek tentunya dia baru pulang langsung diintrogasi dengan Ayahnya, "Maaf ya tadi ada masalah yang harus aku selesaikan dan akhir-akhir ini aku sibuk mengerjakan acara ulang tahun sekolah minggu depan," jelas Aisyah.

 

"Owh ya sudah Ayah maafkan lain kali kamu harus pergi ditemani dengan Pak Ujang tidak boleh sendiri apalagi dengan laki-laki, kamu kan sudah dewasa Ayah khawatir kamu kenapa-napa."

 

'Aku sudah besar Yah aku juga bisa jaga diriku sendiri dan tahu mana yang baik dan mana yang buruk sudahlah Yah tidak usah membuat peraturan macem ini aku capek.' Hatinya menggerutu dengan kesal namun tentu saja bukan kalimat itulah yang keluar dari mulutnya melainkan.

 

"Baik Yah, aku pergi ke kamarku dulu!" Aisyah berlalu meninggalkan ke dua orangtuanya yang masih menatapnya dengan penuh pertanyaan.

 

"Apakah harus kamu selalu menekankan Aisyah Yah?" ujar Adiba memandang suaminya itu dengan tajam baginya tidak merasa kasihan dengan Aisyah yang harus selalu ditekan seperti itu.

 

Haris meminum teh hangat terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu, "Lalu kamu ingin aku membebaskan Aisyah pergi ke mana pun dia mau? dan membiarkan dia jalan dengan siapa pun?" sahutnya dengan tegas layaknya seorang Ayah yang berprinsif.

 

"Ya tidak seperti itu juga Yah, memangnya kau tidak kasihan dengan Aisyah dia juga butuh berpergian sendiri di luar sana tanpa harus ditemani Pak Ujang dan apakah kamu tidak mempercayai putrimu itu, hah?!" Kini Adiba merasa bahwa suaminya itu sudah kelewatan kepada Aisyah yang sudah tumbuh besar itu.

 

"Kita ini suami istri kita orangtuanya yang seharusnya sama-sama mendidik anaknya dengan baik, kau tahu Aisyah memang sudah jadi anak remaja pada umumnya di saat itulah hawa nafsunya semakin besar banyak godaan di luar sana yang membuatku memberikan aturan seperti ini," jelas Haris yang tidak mau kalah dengan istrinya baginya apa yang sudah diputuskan olehnya tidak bisa diganggu gugat.

 

Diam-diam Aisyah mendengar perdebatan ke dua orangtuanya itu membuat hatinya terluka wajah Bundanya menunduk sebab tidak ingin membantah perintah suami meski sebetulnya dia kurang setuju dengan peraturan yang dibuat suaminya itu meski pun itu baik tapi baginya itu sudah kelawatan.

 

"Ya sudah terserah kamu saja aku hanya kasihan dengan anakku," celetuknya dan berlalu pergi meninggalkan suaminya sendiri.

 

Aisyah pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis sedih dia pun kesel terhadap Ayahnya meski apa yang dikatakan Ayah adalah yang terbaik untuk dirinya.

 

****

 

Aisyah pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan menangis sedih dia pun kesel terhadap Ayahnya meski apa yang dikatakan Ayah adalah yang terbaik untuk dirinya.

 

Ponsel Aisyah berdering terdapat panggilan dari Raka yang di sana, sebelum mengangkat telepon dari cowok itu Aisyah mengambil napas terlebih dahulu agar suaranya bisa kembali normal lalu ditekannya tombol hijau.

 

"Assalamualaikum Syah," sapa cowok itu memastikan bahwa teleponnya suda tersambung.

 

"Waalaikumsalam, ada apa Raka?" ujar Aisyah yang terduduk di tempat belajar.

 

Raka sangat mengenal Aisyah dengan sangat dekat meski terkadang suka bertengkar, suara Aisyah terdengar parau membuat dirinya penasaran apa yang telah terjadi dengan cewek itu.

 

"Syah, kamu tidak apa-apa?" Raka mencoba bertanya sebab dia begitu penasaran apa yang telah terjadi dengan cewek itu.

 

'Apakah suaranya masih terdengar parau' pekik Aisyah dan ada perasaan yang aneh dalam dirinya senang itulah yang hati Aisyah rasakan saat ini mendengar Raka yang menanyakan tentang dirinya.

 

"Aku lagi kurang baik ada apa?" jawab Aisyah berharap Raka akan memberikan perhatian kepada dirinya.

 

Tapi nyatanya Raka memilih mematikan ponselnya membuat Aisyah mengernyit heran dan membalas pesan dari Fatimah yang konon katanya ingin bercerita dengannya.

 

"Syah aku ceritanya lewat telepon saja ya!"

 

Saat itu juga Aisyah langsung menelpon Fatimah untuk mendengarkan apa yang ingin sahabatnya itu ceritakan kepadanya, biasanya Fatimah bercerita tentang keluarganya, hubungannya dengan lawan jenis dan tentang masalah yang sedang dia alami.

 

"Syah, sebentar lagi kan aku ulang tahun aku khawatir Reyhan akan menembakku seperti yang dikatakan oleh Adit waktu itu, lalu apa yang harus aku lakukan Syah aku tidak ingin membuatnya sakit terluka karena penolakanku," jelas Fatimah dengan lirih.

 

"Kamu seirusan suka sama dia Fat?"

 

"Aku serius Syah namun aku tidak ingin berpacaran karena aku pernah merasakan disakiti pas sayang-sayangnya," keluh Fatimah sembari mengenang pengalaman duluannya saat berpacaran.

 

"Kamu bilang saja sama Reyhan kalau kamu gak bisa berpacaran untuk saat ini, mendingan hubungan kita seperti biasa saja pasti Reyhan bisa mengerti kamu Fat." Aisyah berusaha memberikan solusi yang baik meski dia tidak berpengalaman dalam hal tersebut.

 

Akhirnya Fatimah mau menuruti apa yang Aisyah anjurkan meski dia sempat ragu apakah Reyhan bisa menerima keputusannya atau tidak, intinya Fatimah tidak ingin menyakiti perasaan cowok itu.

 

Bukan hanya Raka saja yang menyadari suara Aisyah yang terdengar berbeda kini Fatimah pun mencurigai Aisyah.

 

"Syah kau baik-baik saja kan?" tanya Fatimah setelah urusannya sudah selesai.

 

"Aku baik-baik saja Fat kau tidak perlu khawatir ya!"

 

Terdengar suara ketukan pintu kamar berbunyi dan memanggil namanya yang mengharuskan Aisyah menunda obrolannya dengan Fatimah.

 

"Fat tunggu sebentar ya," katanya sebelum berjalan menuju pintu kamarnya.

 

"Sayang, ada teman kamu di luar yang katanya teman organisasimu," ujar Adiba dengan tersenyum hangat.

 

'Siapa ya?' gumam Aisyah dengan mengernyit heran pasalnya hari ini dia tidak mempunyai janji apapun dengan seseorang.

 

Akhirnya Aisyah memutuskan untuk langsung melihat siapa yang telah berkunjung malam-malam ke rumahnya itu, kata Bunda Ayahnya sudah tertidur setelah salat membuat Aisyah mempunyai keberanian untuk menerima tamu malam-malam itu pun atas izin dari Bundanya.

 

Saat membuka pintu rumahnya Aisyah melihat seorang laki-laki yang membelakangi dirinya hal itu membuatnya bertambah penasaran akan sosok laki-laki yang berkunjung ke rumahnya malam-malam begini.

 

"Siapa ya?" ujar Aisyah dengan sangat pelan, laki-laki itu pun membalikan tubuhnya membuat Aisyah refleks teriak, "Raka?" katanya sembari melangkah mundur sebab saat ini dia sedang berpakaian tidur untung saja dia memakai kerudung instan.

 

Raka terkekeh melihat Aisyah yang mengintai dibelakang pintu, betapa terkejutnya cewek itu melihat orang yang dia sukai berani menginjakan kakinya di depan rumahnya, malam-malam pula.

 

"Mengapa kau kemari? dan kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu?" Aisyah mengomel tidak bisa menahan pertanyaan yang sedang ada dipikirannya.

 

Raka berjalan mendekati Aisyah, "Maaf aku hanya ingin mengantarkan agenda acara yang harus kau urus bersama anggota yang lain sebab aku akan sibuk mengurus dekorasi bersama Rian dan Pak Bambang," ujarnya dengan tersenyum.

 

"Owh baiklah, mengapa kau harus repot-repot datang ke rumah?" tanya Aisyah masih tidak menyangka bahwa Raka ke rumahnya.

 

"Tidak apa-apa kebetulan juga aku sedang ingin mencari makan malam adikku ingin aku membelikannya es cendol durian hehe," jelas Raka masih dengan terlihat santai cowok itu memang tidak mempermasalahkan keadaan Aisyah yang hanya bisa melihatnya dengan mengintai dari balik pintu.

 

Butuh keberanian yang cukup untuk Raka bisa datang ke rumah Aisyah dia juga sempat menghubungi Ilham sahabat dekatnya Aisyah untuk menanyakan banyak hal mengenai Aisyah dan keluarganya sehingga dia bisa sampai di rumah ini dan di sambut dengan baik oleh saptam dan Bundanya Aisyah sendiri.

 

"Owh ya sudah aku akan sampaikan kepada Amel dan yang lainnya mengenai ini," ujar Aisyah sembari menggigit bibir bawahnya.

 

Perkataan Aisyah bermaksud agar Raka lekas pulang ke rumahnya apalagi urusannya telah selesai tapi cowok itu masih berdiri entah apa lagi yang ingin dia katakan kepadanya membuat Aisyah mengernyit bingung.

 

Khem, Raka berdeham sebentar lalu bersikap kikuk seperti ada yang ingin cowok itu sampaikan namun tertahan, "Hmmm, apakah kamu baik-baik saja?"

 

Diam, hatinya terasa deg-degan melihat sikap Raka yang tidak biasanya itu, "Ya aku baik-baik saja lebih tepatnya karena melihat kamu datang ke rumah," sahut Aisyah pelan sembari tersenyum malu.

 

Ya hatinya mengelitik dirinya untuk berkata dengan terus terang, sedangkan Raka sendiri terkejut mendengar Aisyah bisa berkata seperti itu tapi tentu saja hal itu membuat dirinya senang dan tidak belagak canggung di depannya.

 

"Ah benarkah?" goda Raka sembari tersenyum jail.

 

"Sudah lupakan saja, apa yang ingin kau katakan sudah malam nanti Ayahku bangun." Begitu cepat Aisyah mengkondisikan dirinya kembali seperti biasanya yang dia lakukan saat dirayu oleh Raka.

 

Raka mengangguk menyadari hal itu, "Baiklah, apakah kau ingin makan malam bersamaku?" ajak Raka dengan gugup, Aisyah bukan cewek yang sama seperti yang pernah dia dekati sebelumnya agak sulit juga menaklukan Aisyah.

 

"Sekarang?" sahut Aisyah kaget mendengar Raka berkata seperti itu.

 

Cowok itu tersenyum, "Terserah kau saja asalkan mau."

 

"Aku tidak bisa jika sekarang, mungkin besok malam insya Allah bisa, diriku tergantung dengan persetujuan dari Bunda," jelas Aisyah sembari tersenyum simpul, jantungan berdebar dengan sangat kencang malam ini.

 

"Aku mengerti, kabarkan saja jika Bundamu melarang akan kupastikan kau mendapat izin darinya, ya sudah aku pulang dulu assalamualaikum." Raka berlalu pergi dengan tersenyum.

 

Kepergian cowok itu telah meninggalkan masalah dalam hati Aisyah yang kembali terbang melayang di atas udara yang Aisyah berharap cowok itu tidak akan lagi membuatnya menangis atau terluka.

 

"Aisyah!" panggil Raka membuat Aisyah kembali menoleh. "Happy nice dream," katanya seraya tersenyum kemudian naik ke atas motornya.

 

"To," gumam Aisyah pelan, tangan kanannya memegangi dadanya dia merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.

 

Aisyah menutup pintu dengan pelan lalu kembali berjalan menuju kamarnya dengan berlari kecil dia ingin berniat melaksanakan salat terlebih dahulu sebelum beranjak tidur, dalam keadaan apapun Aisyah tidak pernah meninggalkan ibadahnya karena kebahagian yang dia dapatkan juga datang dari sang pencipta jadi dia harus bersyukur karena telah diberikan kebahagian dalam hari-harinya.

 

Malam itu Aisyah bercerita dengan Fatimah tentang kedatangaan Raka begitu pun Ilham yang menanyakan keadaan dirinya sekarang kini Aisyah memang harus terbiasa untuk menyendiri dan pokus dengan apa yang harus dia kejar. Untung saja Ilham dan Fatimah mengerti sehingga jika suatu saat dirinya tidak memberikan kabar kepada ke dua sahabat baiknya itu tidak akan ada kata sombong dalam pikiran mereka.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!