Seni Seviyorum Aisyah
Malam Yang Berkesan
"Terima kasih telah memberiku kesan pada malam ini," gumam Aisyah dalam hatinya bagaimana pun dia tidak akan pernah lupa akan hari ini.
Raka menoleh ke arah pintu masuk seperti sedang menunggu seseorang, "Bunda kamu belum datang juga Syah?"
"Sebentar akan aku telepon," kata Aisyah meraih ponselnya lalu mengetik nama Bundanya dan menghubunginya.
Tidak lama kemudian Adiba datang menghampiri Aisyah dan Raka dan mengajak mereka pulang dengan berdalih bahwa Ayahnya selalu menanyakan kepulangan Aisyah meski sebetulnya Adiba telah memberikan pengertian kepada suaminya.
"Baik Bunda aku akan bayar dulu kalian berdua bisa nunggu di mobil saja!" kata Raka dengan sangat sopan bahkan Adiba pun menyukai sikap Raka kepada dirinya.
Saat menuju pintu keluar pun Adiba berbisik kepada putrinya, "Raka anak yang santun dan baik, apakah dia menyukaimu?"
Aisyah langsung menyikut lengan Bundanya dia malu dia sampai tahu yang sebenarnya bahwa anaknyalah yang sebetulnya telah diam-diam menyukai Raka.
"Bunda tahu perasaan anak Bunda yang satu ini meskipun lebih tertutup dibandingkan ka Katya yang selalu terbuka kepada Bunda, pirasat seorang Ibu tidak pernah salah Nak tapi Bunda hanya ingin kamu menikmati masa mudamu dengan hal yang posisif bukan hanya menghabiskan waktu untuk berpacaran." Adiba tersenyum sembari membawa anaknya ke dalam pelukannya.
Satu hal yang Aisyah tahu dari sosok Bundanya itu yaitu pengertian dan tidak pernah memihak atau memaksakan kehendak anaknya yang terpenting mereka masih berada di jalan yang benar dan pastinya anaknya bisa bahagia.
"Ka Katya memang jauh berbeda denganku Bunda, jadi jangan biarkan aku beda di matamu anggap aku anakmu yang baik dan sholehah, Bunda ngomong-ngomong ka Katya kapan pulang ya? aku rindu sekali Bun ingin dengar cerita ka Katya," terang Aisyah sembari membetulkan kerudungnya.
"Sabar hari senin kakakmu akan pulang," ujar Adiba menenangkan anak bungsunya, dia sudah mendapatkan kabar mengenai kepulangan anak sulungnya meski belum pasti.
Raka pun datang membawa satu plastik ditangannya, "Mari masuk ke dalam mobil!"
Perjalanan dari Ramyan ke rumah Aisyah memang lumayan jauh terdengar lantunan sholawat yang menggema di dalam mobil, Adiba yang sepertinya kelelahan tertidur pulas sedangkan Aisyah merasa tidak bisa tidur jika biasanya dia suka tertidur kini dia malah merasa tidak bisa.
"Kamu tidak tidur saja Syah?" seru Raka sembari melihat jalanan yang sedikit macet malam ini.
Aisyah menggeleng, "Aku tidak mengantuk Rak entahlah biasanya aku sering tertidur jika berpergian."
"Iya kan kamu mata Yuyu, yang suka tidur dimana aja makanya sering kena omel guru." Raka terkekeh sambil mengejek Aisyah.
Melihat Raka tertawa rasanya senang banget meski cowok itu suka sekali mengejeknya, "Maklum aku sering bergadang akhir-akhir ini dan banyak kegiatan juga sih," jelas Aisyah.
"Pasti nonton Drakor kan? Emang ya kamu nih kayak si Raya aja suka Oppa-Oppa Korea itu, apa bedanya sih sama orang Indonesia? Oh mungkin karena Oppa-Oppa Korea itu mukanya mulus badannya bagus ya jadi cewek-cewek pada suka?" cerocos Raka seperti roket yang hendak terbang di udara.
Begitu Raka melirik Aisyah cewek itu pun ikut menoleh hingga mata mereka bertemu dalam satu titik.
"Mungkin sih tapi gak semua Mandang fisik karena aku suka sama idol Korea karena karakter mereka dalam bermain film dan ekspresi wajahnya itu loh pas banget bikin gemes pengen cubit ajh," jelas Aisyah sambil meremas tangannya dengan gemas.
Tiba-tiba Raka menyodorkan wajahnya, "Kalau gemas cubit pipi aku aja nih gratis asal jangan kencang-kencang nanti sakit hehe."
Refleks Aisyah menepis wajah Raka pelan, "Ishh apaan sih kamu sama Oppa korea itu beda mereka mah kiyowo kamu mah ngeselin kalau udah dingin bikin pengen nabok tahu gak?"
Dengan sekilas Raka melirik Aisyah ada rasa yang aneh dalam hatinya melihat Aisyah dengan sedekat ini cewek yang dikenalnya sangat cuek, galak dan pendiam kini terlihat berbeda di matanya.
"Besok kau mau pergi ke mana Syah?"
Aisyah menoleh memandang Raka, "Aku mau pergi jalan-jalan."
"Dengan siapa hah, apakah kau ada janji dengan laki-laki?" sergah Raka dengan nada tinggi, 'Ups kenapa gue jadi ikut campur urusan dia sih?' pekik Raka menyadari akan ucapannya itu.
Kini Aisyah yang tertawa, "Ada apa denganmu? menurutmu aku bagaimana apakah aku terlihat seperti itu?" tanya Aisyah dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Bukan, bukan aku hanya penasaran saja apakah kamu ada janji dengan seseorang di hari liburan sekolah," jelas Raka dengan sedikit gugup tangan kirinya menggaruk-garuk rambutnya yang sebetulnya tidak gatal.
Meski Aisyah paham betul bahwa Raka terlihat seperti orang yang kaget dan menduga dirinya dekat dengan laki-laki, "Okey aku tidak punya janji dengan siapapun kecuali sahabatku dan aku juga ingin menghabiskan waktu liburanku di gudang buku ah rindunya aku dengan aroma buku apalagi aku sedang nabung buat beli novel keluaran terbaru."
Mobil pun sudah berbelok di gang yang mana akan menuju rumah Aisyah ada yang ingin Raka sampaikan tapi cowok itu memilih mengurungnya dia sudah larut malam.
"Syah bangunin Bunda!" kata Raka mengingatkan sembari melirik ke arah Adiba yang masih terlelap dalam tidurnya.
Terlihat Bundanya yang begitu kelelahan membuat Aisyah menjadi merepotkan sudah pasti Bunda sibuk dan kini malah menemaninya jalan-jalan dengan sentuhan pelan Aisyah menggoyangkan tubuh Bundanya dan menarik tangan Bundanya dengan pelan sehingga tepat sampai gerbang rumah Adiba terbangun kaget.
"Aku turun duluan ya Rak, kau mau masuk dulu atau langsung pulang?" tanya Aisyah mengikuti sikap Bundanya yang jika kedatangan tamu pasti berkata seperti itu dalam hal apapun.
"Nak Rak, terima kasih banyak ya atas traktirannya, yuk masuk sebentar nanti Bunda akan buatkan minuman untuk kamu." Adiba tersenyum memanang Raka yang masih duduk di mobil.
Jujur saja jika dia tidak takut dengan Ayahnya Aisyah sudah pasti dia akan memilih untuk mengobrol dulu di dalam tapi selain itu juga Umminya sudah menunggunya di rumah hal itu membuatnya mengambil keputusan untuk langsung pulang.
"Lain kali saja Bun, jangan lupa istirahat kau nampak begitu lelah sekali Bunda," ujar Raka sembari terkekeh.
Begitu pun dengan Adiba yang ikut tertawa mendengar candaan Raka, "Hehehe baiklah ya sudah kamu hati-hati ya bawa mobilnya, sayang Bunda masuk duluan ya!" seru Adiba sembari menepuk bahu Aisyah pelan seperti berjalan meninggalkan Aisyah yang masih berdiri.
"Sudah sana pulang!" ujar Aisyah kepada Raka.
Raka tersenyum, "Ya sudah aku pulang, lekaslah tidur!" pinta Raka sebelum menjalankan mobilnya
Aisyah tersenyum menatap kepergian Raka, "Hati-hati Raka!!" teriaknya berharap bisa didengar oleh cowok itu.
Setelah kepergian Raka Aisyah langsung masuk ke dalam rumahnya dan merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk dia meraih ponselnya yang masih berada di dalam tasnya.
*Fatimah
"Syah, kau jangan lupa untuk membawa kaca mataku besok, aku ingin memakainya nanti di pantai oh ya aku akan menjemputmu jam 08:15 WIB."
*Ilham
"Apakah kau merahasiakan kepergianmu itu kepadaku untung saja aku punya mata-mata jadi aku bisa mengetahuinya."
*Aqila
"Kamu di mana Syah, kok aku tanya Bibi kamu dan Bunda sedang pergi bersama seorang laki-laki siapa itu Syah? kau berpacaran?"
Menbaca pesan dari teman-temannya itu membuatnya gereget dan tidak ingin menimbulkan kesalapahaman akhirnya dia membalas satu per satu pesan itu, karena dia belum salat isya akhirnya Aisyah melaksanakan salat isya terlebih dahulu sebelum beranjak tidur.
Entah mengapa dan sejak kapan Aisyah jadi hobby menulis diary hingga kini kebiasaannya masih ada dalam dirinya, sebelum tidur Aisyah menceritakan kisahnya hari ini ke dalam buku diarynya.
"Terima kasih Raka untuk hari ini aku sangat bahagia aku harap ini menjadi akhir dalam pertemuan kita terima kasih untuk semuanya aku senang bertemu denganmu aku harap kau akan selalu mengingat namaku meski nanti aku pergi jauh darimu dan jika aku boleh meminta kepada Tuhan aku ingin bersama denganmu selamanya. Raka, aku menyayangimu karena-Nya."
Ambigu, itulah yang Aisyah rasakan, kerap kali dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri dia ingin berjodoh dengan Raka kelak namun mengingat bagaimana keluarga Raka dan kekurangannya untuk bersanding dengan lelaki itu membuatnya lebih memilih Raka bahagia dengan wanita yang dia cintai kelak. Dalam cinta ini Aisyah pasrahkan semuanya kepada Allah sang pemilik hati.
Seperti itulah yang Aisyah tulis dalam buku diarynya sebelum terlelap dalam mimpi yang indah, kini rasa seperti mimpi dia bisa berjalan dengan orang yang dulu dia kagumi hingga rasa ingin memiliki itu hadir dan kerap kali membuatnya kehilangan arah dan seperti orang bodoh. Entah apa namanya tapi perbuatan Hawa telah berhasil melukai perasaannya dan itu sungguh menyakitkan apalagi sampai Raka dan Hawa berpacaran sungguh itu adalah mimpi buruk yang mungkin akan selalu hadir di setiap mimpinya kini dia hanya bisa berharap agar hubungannya dengan Hawa baik-baik saja.