Seni Seviyorum Aisyah
Bermain Banana Boat
Akhirnya mereka pun bersiap-siap untuk menaiki banana boat dan saat itu juga Raya mengatakan bahwa dirinya baru pertama kali akan menaiki banana boat jadi dia karena sahabat-sahabatnya membuatnya begitu berani dan sangat ingin mencobanya.
"Eh aku ambil tongsis dulu ya di tas," ujar Hawa yang langsung berlari menuju gubuk tempat barang-barangnya ditaruh.
"Haw jangan lama-lama yah!" teriak Aisyah takut jika nanti perahunya akan jalan duluan.
Ombak kecil pun menyapu rumah-rumah pasir yang ditelah dibuat oleh anak-anak yang sedang bermain pasir di sana ada juga yang sedang menulis nama di atas pasir tiba-tiba hilang terbawa air, angin laut terasa begitu sejuk menerpa kulit wajah mereka bahkan rambut Raya pun berterbangan diterpa oleh angin yang begitu kencang.
Hawa telah kembali sembari membawa tongkis di tangannya, "Eh tungguin gw dong!"
"Sini Hawa buruan naik," seru Raya dengan melambaikan tangannya.
Dengan senangnya Hawa terus berlari untuk menghampiri ke tiga sahabatnya itu yang sudah naik di atas perahu hingga akhirnya dia pun langsung memberikan tongkis kepada Aisyah dan naik ke atas perahu dengan dibantu oleh seorang perempuan yang sepertinya bekerja di bagian bananan boat.
Si pengendara perahu pun mengatakan bahwa jika sudah sampai di tengah-tengah laut mereka akan berganti duduk di atas banana boat hal itu membuat empat orang sahabat itu berteriak dengan senang ya mereka sangat antusias untuk bisa menaiki banana boat.
Tak pernah disangka sebelumnya oleh Aisyah mempunyai sahabat sebaik mereka, dulu waktu masih duduk di bangku dasar Aisyah tidak mempunyai sahabat mungkin kalau teman banyak yang dekat dengannya namun tentu saja sahabat dan teman itu berbeda, karena tidak setiap teman itu bisa mengerti keadaan kita dan bisa mendengarkan cerita kita di saat kita butuh telinga, apalagi Aisyah selalu menyibukan diri dengan menghafal al-quran jadi banyak teman-teman kelasnya yang minder atau entah bagaimana dengan Aisyah sehingga dia hanya mempunyai beberapa teman saja waktu itu.
"Ahhh," teriak Hawa dengan keras tetapi tentu saja teriakannya tidak dapat didengar oleh orang-orang yang jauh di sana karena kini mereka sudah berada di tengah laut.
Fatimah menepati duduk yang paling pertama di bananan boat dan yang paling terakhir adalah Hawa, mereka di putar-putar di tengah-tengah laut hingga mendekati sebuah pulau kecil yang ada beberapa orang di sana karena Fatimah yang duduk paling pertama maka dia yang harus megang tongsing untuk memotret serta membuat vidio selama menaiki banana boat.
Sangat seru, senang dan bahagia itulah definisi yang tergambar di wajah mereka semua bahkan Raya tidak terlihat takut atau cemas meski dia pertama kali menaiki banana boat katanya dia berani karena ditemani dengan sahabat-sahabat mereka yang rata-rata bisa berenang dan pastinya tidak mungkin membiarkan dia tenggelam di pantai.
"Ciiss!!" seru Fatimah sembari mengarahkan kameranya ke arah semua sahabat-sahabatnya.
Hawa pun berdiri dengan berani meski si pengendara di perahu membawa mereka dengan cepat, kini mereka menuju pulau tempat mereka menaiki perahu yang artinya mereka harus siap-siap jika seketika perahu akan membalikan banana boat milik mereka.
Fatimah memberikan tangsis berserta ponsel miliknya kepada si mbak-mbak yang berada di perahu dan saat kecepatan mereka bertambah akhirnya banana boat pun di miringkan sehingga mereka jatuh semua di pantai tapi untungnya daerah tempat mereka jatuh tidak ada perkarangan sehingga mereka selamat meski napas mereka berhembus dengan berat saking kagetnya.
"Fatimah lihat aku!" Aisyah berseru membuat Fatimah langsung menoleh ke arahnya
Byurr ... byurr
Aisyah dengan iseng menyipratkan air laut ke arah Fatimah sehingga air laut pun masuk ke mulutnya Fatimah membuat cewek itu langsung mengeluarkannya kembali, dia menatap tajam ke arah Aisyah yang sudah mengerjainya.
"Awas ya kau Aisyah! tunggu pembalasanku," kata Fatimah mengambil posisi siap untuk mengejar Aisyah yang sudah lebih dulu berlari karena merasa takut dengan amarah Fatimah yang disebabkan oleh ulahnya sendiri.
"Akhh Fatimah jangan please jangan lakukan itu!" protes Aisyah saat Fatimah mengeletikan tubuhnya dia mengeliat mencoba menghindar akhirnya dia terjatuh di pasir kotorlah pakaiannya terkena pasir.
Sedangkan Hawa dan Raya sedang asik bermain pasir mereka mengubur kakinya di pasir sembari mengambil foto dengan gaya yang berbeda-beda, Raya sangat menikmati liburannya dengan sahabat-sahabatnya itu.
Kini Hawa telah selesai menggali lubang untuk melakukan penguburan kaki di pasir, "Sini Ray bantu aku!" ujarnya.
"Baiklah akan kubantu tapi jangan bangun sebelum pasir ini terkena ombak ya." Raya membuat persetujuan untuk mengerjai permainan yang dibuat oleh Hawa.
Dan akhirnya Hawa pun setuju, "Okey tidak masalah," katanya dengan tersenyum.
Hawa pun akhirnya bermain pasir dengan Raya yang sibuk mengubur kaki mereka jika banyak orang yang melihat mereka seperti anak-anak itu wajar sebab rata-rata anak remaja yang berada di pantai ini lebih senang naik perahu, banana boat atau berenang di tengah-tengah laut.
"Eh ke sana yuk sambil cari makan!" ajak Aisyah yang langsung disetujui oleh para sahabatnya itu.
Kini mereka sedang menuju ke arah penjual yang berada tidak jauh dari pantai, banyak sekali karang-karang di pasir membuat Aisyah tertarik untuk mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah dan satu lagi Raya dan Aisyah memang ingin membeli kura-kura sebelum pulang untuk menjadi peliharaannya di rumah.
"Assalamualaikum Ibu, kita mau mesen baksonya yang pedas ya Bu," ujar Fatimah saat sampai di penjual pantai itu.
"Empat dong Fat kan kita juga mau makan bakso," sergah Hawa sembari melirik ke arah Aisyah dan Raya.
Ibu-ibu itu pun tersenyum melihat kedatangan pembeli yang menurutnya mereka datang hanya berempat tidak dengan ke dua orangtuanya masing-masing, masih remaja bebaskan dulu untuk bersenang-senang apalagi di waktu liburan sekolah itulah yang sedang mereka lakukan kini beristirahat sejenak dari pekerjaan sekolah dengan jalan-jalan ke pantai.
"Jadi mesannya empat nih neng?" ujar si Ibu penjual itu dengan lembut suaranya sangat khas orang sunda.
Seketika panggilan 'Neng' membuat Aisyah teringat oleh cowok yang kerap kali memanggilnya dengan sebutan itu, 'ah sudahlah Aisyah kenapa harus memikirkannya lagi sih kan sekarang sedang berlibur' gumamnya dalam hati mencoba menghilangkan pikirannya tentang Raka.
Sedang asik makan tiba-tiba ada penjual keripik yang umurnya sangat tua membuat Aisyah merasa kasihan sehingga dia langsung mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membeli jualan si Bapak-bapak itu.
"Eh gays aku beli keripik nih kalian mau gak?" ujar Aisyah sambil menoleh menatap satu persatu sahabatnya.
"Boleh Syah," sahut Fatimah sambil tersenyum.
"Makasih ya Neng," kata Bapak tua itu dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Raya menepuk bahu Aisyah pelan, "Apakah kamu merasa kasihan pada Bapak-bapak itu Syah? sehingga kau mendadak jadi beli keripik ini."
Saat melihat bapak yang sedang jualan itu seketika membuat Aisyah teringat akan mendiang kakeknya yang dahulu selalu semangat dalam bekerja, membuatnya merasakan perjuangan kakeknya dulu waktu keliling berjualan.
"Iya aku merasa kasihan," jawab Aisyah sembari mengangguk lemah, "Ya sudah nih makan enak loh."
Tidak sia-sia Aisyah membeli keripik itu ternyata mereka semua suka apalagi di campur dengan bakso membuat rasa bertambah enak, orang yang paling pertama menghabiskan bakso adalah Raya karena dia salah satu pencinta bakso diantara ke tiga sahabatnya yang lain.
Sambil menunggu senja mereka menikmati pemandangan pantai yang udaranya sejuk, angin sepoi-sepoi sampai membuat mata Aisyah mengantuk, banyak orang Indonesia yang asik berjemur di pantai menikmati hembusan angin yang sejuk.