Seni Seviyorum Aisyah
Pandai Menyimpan Rasa
"Aisyah, bangun sayang!"
Aisyah menggeliat saat sebuah suara serak milik Bundanya berhasil membangunkannya dari mimpi indah namun sangat dia benci karena kenyataannya tidak seindah itu.
"Astagfirullah, kenapa dia selalu hadir dalam mimpiku?" kata Aisyah pada dirinya sendiri, dia jadi berpikir apa jangan-jangan karena kemarin dia ketemu cowok itu.
Afifah tidak sengaja mendengar ucapan putrinya itu meski tidak terlalu jelas, Afifah lalu membuka jendela kamar Aisyah yang membuat cahaya menembus masuk ke kamar.
"Bun, silau." Aisyah berteriak merasa terganggu dia pun kembali menarik selimut dan membalikan badannya membelakangi Bundanya.
Afifah menghampiri anaknya yang tertidur kembali, "Aisyah bangun sayang, nanti kamu telat sekolah loh."
Aisyah dengan malas akhirnya bangun karena dia sadar jika harus pergi sekolah pagi-pagi untuk menyiapkan presentasi bersama kelompoknya untuk nilai tambahan.
"Bunda tunggu ya di meja makan jangan lama-lama!" tukas Bundanya dan berlalu pergi meninggalkan Aisyah.
"Siap Bun," sahut Aisyah pelan sambil mengucek-ngucek matanya yang masih terlihat buram.
Dengan masih menguap Aisyah beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi, hawa dingin kembali dia rasakan saat dirinya menyiram tubuhnya dengan air hari ini sebenarnya Aisyah merasa deg-degan untuk berangkat sekolah apalagi semalam dia memimpikan cowok itu ada rasa aneh dalam dirinya saat kembali memimpikan cowok yang sama akankah hal itu wajah atau ada yang salah dengan dirinya.
Aisyah dengan santai menghampiri Bundanya yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan, sudah Aisyah pastikan bahwa Ayahnya sudah berangkat ke luar kota di waktu subuh.
"Bun, Ayah sudah berangkat ya?" tanya Aisyah saat sudah terduduk di meja makan.
Afifah mengangguk, "Iya tadi diantarkan Pak Ujang, jadi kamu nanti berangkat naik taksi saja ya!"
"Owh, ya sudah gak apa-apa Bun aku naik angkot saja ya?"
Aisyah memang selalu dilarang menaiki angkutan umum berwarna merah itu apalagi untuk pergi sekolah karena bisa menghambat waktu, Afifah pun menoleh menatap anaknya.
"Sudah Bunda bilang naik taksi aja nanti kalau telat bagaimana? lagian Ayah nyuruh kamu naik taksi pergi ke sekolahnya nanti pulangnya akan dijemput Pak Ujang," jelas Afifah sambil menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Aisyah.
"Makasih Bunda," ujarnya dengan tersenyum manis.
Aisyah mengambil piring tersebut dengan senangnya karena Bunda selalu memperlakukannya seperti itu padahal Aisyah bisa mengambil sendiri piring makannya.
"Makan yang banyak biar kamu tumbuh sehat!" Afifah terkekeh melihat raut wajah anaknya yang tersenyum sampai matanya tertutup.
Meski kini mereka tinggal berdua di rumah untuk beberapa hari ke depan rumah sepertinya tidak akan sepi saat Aisyah berada di rumah, dulu waktu Ayahnya harus pergi ke Bali untuk ikut rapat Bunda bercerita bahwa dirinya sangat merasa kesepian di rumah.
"Bunda jangan rindu Ayah ya!" ejek Aisyah dengan deru tawanya.
Afifah hanya tersenyum lalu kembali sibuk melahap sarapan bersama anak perempuannya itu dengan hati yang tenang, Aisyah sesekali menatap wajah Bundanya yang sudah melahirkannya dan merawatnya dengan baik sampai saat ini.
"Bunda, aku berangkat sekolah dulu ya!" ujar Aisyah lalu mencium tangan Bundanya.
"Hati-hati ya sayang belajar yang benar di sekolahnya!"
"Siap Bunda." Aisyah memberi hormat kepada Bundanya lalu berjalan keluar rumah.
Hari ini untuk ke dua kalinya Aisyah akan berangkat ke sekolah dengan taksi dengan sebab mobilnya dipakai untuk mengantar Ayah ke kantor lalu Pak Ujang akan pulang lagi sedangkan Ayah akan berangkat bersama sekretaris Ayah ke luar kota.
Saat taksi sudah datang Aisyah langsung masuk ke dalam tiba-tiba saja ponselnya bergetar menampilkan pesan suara dari Aqila yang memintanya untuk mengerjakan tugas dari Guru agama.
"Aku masih di jalan Aqila sudah kerjakan saja sendiri," tukas Aisyah yang sepertinya tidak mungkin cukup waktunya.
Terdengar rengekan Aqila membuat Aisyah jadi bingung apa yang harus dia lakukan untuk saudarinya itu, tiba-tiba saja Aisyah menyuruh Ilham untuk membantu Aqila mengerjakan tugas.
"Ya sudah tunggu saja di kelas!" ucap Aisyah tanpa memberitahu bahwa bukan dialah yang akan membantunya.
Aqila pun menutup sambungan teleponnya membuat Aisyah langsung menghubungi Ilham untuk meminta pertolongan yang sudah Aisyah pastikan bahwa cowok itu pasti mau membantunya apalagi untuk Aqila.
"Assalamualaikum Ilham, kamu lagi ada di mana?"
Aisyah menunggu balasan Ilham yang seperti biasanya cowok itu selalu cepat membalas pesan darinya sambil menunggu balasan Aisyah mengeluarkan al-quran dari tasnya seperti biasa dia akan murojaah hafalannya agar tidak lupa.
"Waalaikumsalam Aisyah, aku sedang di kelas nih ada apa?"
Aisyah tersenyum saat mendengar bahwa cowok itu sudah berada di sekolah jadi dia bisa menyuruhnya untuk membantu Aqila mengerjakan tugas di kelasnya.
"Ilham aku minta tolong ya sekarang kamu ke kelas Aqila dia sedang membutuhkan seseorang untuk mengerjakan tugas dari Guru agamanya aku gak bisa karena masih di jalan takut waktunya gak cukup, maaf ya jika tidak bisa juga tidak masalah." Aisyah mengirimkan pesan suara dengan cowok hanya dengan Ilham dia berani mengirimnya entahlah kenapa dia sepercaya itu kepada Ilham.
Ilham langsung mengetik balasan membuat Aisyah berharap sekali bahwa cowok itu bisa membantunya.
"Iya Syah, tidak apa-apa kok santai aja sama aku."
Ponsel Aisyah berdering menampilkan panggilan dari Fatimah dengan cepat Aisyah menekan tombol hijau dan menaruhnya di dekat daun telinga.
"Aisyah, lo di mana kok lama banget datangnya gue deg-degan nih," teriak Fatimah yang memecahkan gendang telinganya lalu Aisyah pun menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Astagfirullah Fat, suara lo bisa gak sih dikecilin sedikit," keluh Aisyah.
"Up sorry Syah habisnya lo kan tahu sendiri kalau kita hanya tinggal berdua saja jadinya gue panik nungguin lo," ujar Fatimah yang suaranya sudah terdengar rendah.
Aisyah menoleh ke depan dan ke samping untuk melihat sudah sampai mana dirinya sekarang, "Bentar lagi gue sampai lo tunggu aja okey!"
"Ya sudah gue tunggu di taman ya! nanti lo langsung ke sini." Fatimah memutuskan sambungan secara sepihak.
Aisyah kembali menaruh ponselnya ke tas beserta al-qurannya dia selalu berusaha menyempatkan waktu murojaah hafalannya yang sudah bertambah, dia sudah tidak tahan untuk ikut tes kuliyah ke Turky dalam hidupnya banyak sekali mimpi-mimpi yang ingin dia capai, apalagi Ayahnya terkadang suka membanding-bandingkan dengan Ka Katya yang sudah semester 4 di Kairo.
"Makasih ya Pak," ujar Aisyah saat taksinya sudah berhenti di depan gerbang sekolahnya.
Aisyah pun berjalan menuju taman untuk menemui seseorang namun langkahnya terhenti tiba-tiba saat melihat Raka dan Fasya sedang berada di depannya, gugup rasa itulah yang pertama dia rasakan lalu Aisyah menundukan pandangannya dan kembali berjalan.
"Aisyah!"
Aisyah kembali berhenti saat namanya dipanggil namun dia tidak berani untuk menoleh ke belakang sampai suara langkah kaki menghampirinya.
"Ini pulpen kamu jatuh," ujar Raka sambil mengulurkan pulpen standar milik Aisyah.
Aisyah dengan santai mengambil pulpen itu, "Makasih," serunya lalu kembali berjalan dengan langkah cepat-cepat.
Aisyah memang selalu masang muka jetuk kepada Raka karena dengan begitu dia bisa menjaga dirinya dari perasaan yang berlebihan, hal pertama yang Aisyah rasakan mendengar Raka adalah anak yang rajin dalam ibadah itu sudah membuat dirinya penasaran akan kebenarannya dan tentu saja kagum karena yang dia tahu teman-teman cowok di kelasnya hanya Raka yang rajin puasa senin dan kamis apalagi Raka pintar dalam mata pelajaran agama.