Seni Seviyorum Aisyah
Silaturahmi di Rumah Ilham
Setelah pulang sekolah Aisyah, Hawa dan Fatimah pulang bersama dengan niat ingin menjenguk Raya di rumahnya yang dia bilang sedang sakit demam.
"Aisyah!" teriak Ilham.
Semuanya menoleh saat nama Aisyah dipanggil oleh seseorang, entah mengapa akhir-akhir ini Ilham sering sekali bersama Raka membuat Aisyah harus kembali bertemu cowok itu.
"Eh ada Raka Syah," seru Hawa dengan tersenyum.
"Ada apa Ilham?" tanya Aisyah saat melihat Ilham menghampiri dirinya.
"Syah, nanti malam ada acara syukuran di rumah kamu datang ya ajak Aqila juga," ujar Ilham yang memang atas perintah Mamahnya juga yang sudah mengenal Aisyah.
"Hem bagaimana ya?" Aisyah tidak tahu apa nanti malam dia bisa datang atau enggak pasalnya dia sangat kesusahan untuk izin ke orangtuanya.
Fatimah menyenggol lengan Aisyah, "Sudah datang saja gak enak loh sudah diundang gitu."
"Kamu juga ikut Raka?" tanya Hawa yang kini pandangannya terpokus kepada Raka.
Ilham menoleh memandang Raka yang berdiri di sampingnya, Raka langsung mengangguk sambil tersenyum namun matanya melirik kepada Aisyah berharap cewek itu akan datang juga.
"Tuh Syah, Raka juga ikut loh," seru Ilham sembari menyenggol lengan Raka dan mengerlingkan sebelah matanya.
Aisyah memasang wajah cemberut tidak mengerti apa dimaksud omongan Ilham Fatimah hanya tertawa saja mendengarnya Raka sendiri hanya senyum-senyum saja menanggapi ucapan Ilham.
"Aku gak paham maksudnya tapi sebenarnya aku juga ingin datang apalagi nanti akan bertemu Mamah kamu tapi aku takut untuk gak dikasih izin sama Bunda," ungkap Aisyah dengan perasaan yang bimbang.
"Nanti aku yang akan bilang ke Bunda kamu," celetuk Raka membuat sahabat Aisyah kaget mendengarnya dan tersenyum mengejek Aisyah.
Jantung Aisyah kini berdebar dengan sangat kencang entah kenapa Raka terus menguji imannya saja membuat dirinya terasa tak berdaya jika cowok itu terus menganggu pikirannya.
"Jangan suka baperin cewek kamu Raka!" Ilham menepuk bahu Raka dengan sangat kencang.
"Nanti kamu pergi bersama aku saja Syah," seru Hawa dengan tersenyum simpul
Fatimah memegang tangan Aisyah, mendengar perkataan Raka membuat Aisyah tersenyum tersipu malu dan merasakan bahwa kini hatinya sedang berbunga-bunga andai saja Aisyah bisa dekat dengan cowok itu sudah pasti dirinya akan sangat bahagia
Aisyah menghembuskan napasnya perlahan, "Huhf, jangan bicara macam-macam kau Raka! akan aku kabarkan jika memang nanti dibolehkan sama Bunda."
Raka tertawa mendengar perkataan Aisyah yang sepertinya nampak kesal namun tentu saja dia tahu betul orangtua Aisyah, ucapannya barusan hanya ingin merayu Aisyah dan membuat cewek itu tersenyum.
"Owh okey tapi aku harap kamu bisa datang, Mamah pasti kecewa kalau kamu gak bisa datang," jelas Ilham mengingat bahwa Mamahnya ingin sekali Aisyah datang ke malam syukuran itu.
Aisyah jadi sangat tidak enak hati mendengarnya, "Aamiin semoga saja aku bisa datang.
"Ya sudah yuk pulang!" ajak Hawa dengan tidak sabar ingin pulang.
"Jadi kan ke rumah Raya dulu pulangnya," seru Fatimah kepada ke dua sahabatnya itu.
Aisyah mengangguk, "Ya sudah kita duluan ya!" Aisyah tersenyum kepada Ilham lalu saat matanya menatap Raka cowok itu dengan genitnya mengerlingkan sebelah matanya.
Membuat Aisyah berbalik badan takut jika nanti akan jatuh hati kepada cowok itu, "Jaga hati ini ya Tuhan," gumam Aisyah dalam hatinya.
Mereka pun berjalan dengan tangan yang saling bertautan satu sama lainnya, dulu Aisyah sangat tidak percaya dengan adanya sahabat di dunia ini namun saat Fatimah dan Raya menyakinkan dirinya bahwa sahabat itu ada hanya saja kita tidak menyadari keberadaanya, Aisyah sangat begitu senang bisa mendapatkan sahabat yang pengertian dan begitu menyayanginya, seiring di perjalanan mereka terus tertawa membahas apa saja yang mereka suka dan tentang liburan yang akan datang.
"Aku harap kita bisa berlibur bersama," ujar Fatimah yang sudah mempunyai tempat untuk liburan bulan depan.
Aisyah berseru dengan histeris, "Aku mau ke pantai!"
Hawa menepuk Aisyah dengan pelan, "Hey, apa yang ingin kau lakukan di sana? berjemur? nanti kulit kita hitam lagi."
"Aku setuju sih karena aku juga sudah lama tidak ke pantai tapi masalahnya kamu kita kan berhijab Syah apa bisa?" keluh Fatimah dengan wajah yang ditekuk.
Mendengar perkataan Fatimah, Aisyah baru ingat bahwa dia terkahir kali ke pantai waktu kecil dan itu belum berhijab, "Terus ke mana dong?" lanjut Aisyah.
"Sebenarnya bisa sih ke pantai meskipun kita berhijab tapi terserah mending nyari tempat lain saja," tukas Hawa yang mencoba mencari solusi juga.
Fatimah mendadak berhenti dan berteriak, "Owh my god, itu bagus banget Syah."
Aisyah dan Hawa mengikuti arah pandangan Fatimah yang membuatnya terkejut karena mendadak berteriak yang ternyata Fatimah melihat gantungan boneka teddy bear dengan ukuran yang kecil terpajang di depan toko.
"Astagfirullah Fat, kamu buatku kaget saja," tegur Aisyah lirih lalu menghampiri Fatimah yang sudah berada di sana.
Fatimah berdiri memperhatikan gantungan tersebut yang ternyata bukan hanya gambar boneka teddy bear saja akan tetapi ada beberapa gambar juga seperti boneka hello kitty, mickey mouse dan beruang.
"Aku mau beli juga," ujar Hawa yang ikut tertarik melihat gantungan lucu itu
Fatimah masuk ke dalam toko untuk memanggil penjualnya, "Asaalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut seseorang Ibu-ibu tua keluar dari dalam toko.
"Syah, Hawa kita beli samaan ya," ajak Fatimah yang sepertinya akan seru jika dipakai bersama-sama.
"Hemm ... kalau begitu beli empat dong buat Raya juga." Aisyah berseru padahal awalnya dia tidak berniat membeli gantungan itu namun begitu Fatimah mengajaknya dia pun tertarik untuk memasangnya di resleting tasnya nanti.
"Iya benar Fat," timpal Hawa yang sudah memegang gantungan tersebut.
Fatimah pun mengangguk, "Okey, Bu kita mau beli gantungan ini empat," ujar Fatimah lalu memberikan gantungan tersebut berserta uangnya.
Ibu-ibu itu tersenyum melihat gadis-gadis yang menjadi pembelinya, "Subhanullah, semoga Allah selalu memperkuat hubungan pertemanan kalian ya, Nak."
Mereka tersenyum dan saling menatap satu sama lainnya, "Aamiin makasih Ibu, semoga jualannya laris manis ya!" ujar Aisyah.
"Kami pergi dulu Bu," Fatimah berpamitan kepada Ibu-ibu itu yang sudah mendoakan persahabatannya.
Sesungguhnya tidak ada ikatan yang tidak diridhoi oleh Allah, Aisyah selalu berharap bahwa persahabatan mereka akan abadi selamanya sampai di jannah-Nya Fatimah lalu memberikan gantungan tersebut kepada Hawa dan Aisyah lalu memasangnya di resleting tasnya.
"Oh, manisnya." Fatimah bergumam saat melihat gantungan itu bersada di tas Aisyah dan Hawa dengan indahnya.
Hawa pun ikut tersenyum senang, "Hemm cantik ya?"
Ini akan menjadi barang pertama yang persahabatan mereka miliki, perjalanan mereka akhirnya sampai juga di tempat tujuan tidak lupa mereka membawa makanan dan buah-buahan untuk memberikannya kepada Raya.
"Assalamualaikum," teriak Hawa sambil membunyikan bel rumah Raya.
Lama tidak ada jawaban dari dalam rumah, Aisyah pun kembali mengetuk pintu rumah tersebut hingga akhirnya keluarlah Ibu-ibu yang tidak lain adalah orangtuanya Raya.
"Waalaikumsalam, ada apa ya?" tanya Ibu tersebut yang belum mengenal mereka.
Fatimah tersenyum, "Kami temannya Raya Bu, mau menjenguk Raya yang mana hari ini di absen sekolah.
Ibu itu tersenyum mendengar bahwa ke tiga gadis cantik dan sepertinya anak baik-baik ini adalah teman anaknya di sekolah, "Owh kalau begitu silahkan masuk, Nak!"
Setelah dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah mereka pun dengan senang hati memasuki rumah tersebut, tidak besar tidak pula kecil rumah Raya adalah rumah yang sederhana melihat isi di dalam rumahnya pun tidak ada barang mewah satu pun televisinya pun kecil jauh dari punya Aisyah dan Fatimah di rumahnya.
"Assalamualaikum Raya," ujar Aisyah saat dibolehkan untuk masuk langsung ke kamarnya Raya yang tidak berukuran besar.
Raya bangun dari keadaan berbaringnya saat mendengar suara yang sudah sangat dia kenal, bertapa senangnya dia kedatangan sahabat-sahabatnya di rumah.
"Waalaikumsalam, masya Allah kalian," seru Raya dengan mata yang berbinar-binar ada haru yang dia rasakan kini
Aisyah langsung memeluk Raya begitu melihat keadaannya yang nampak begitu kurus saat mengalami sakit, Fatimah dan Hawa pun duduk di bangku panjang samping tempat tidur Raya
"Bagaimana keadaanmu Ray?" tanya Hawa sambil memegang tangan Raya.
"Aku sudah baikan kok, terharu banget lihat kedatangan kalian maaf ya rumahku seperti ini." Raya memang merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka yang berada di keluarga berada namun tetap mau berteman denganya.