Seni Seviyorum Aisyah

Pergi Bersama Aqila

"Ray, kita pamit pulang ya!" ujar Aisyah karena takut kedua orangtuanya akan mencarinya.

 

"Baiklah, terima kasih karena kalian sudah datang menjengukku." Raya tersenyum senang memandang satu persatu sahabatnya.

 

Fatimah mengambil ranselnya dan merapihkan hijabnya yang agak berantakan, "Semoga cepat sembuh ya!"

 

"Jangan lupa taruh gantungannya di tas ya Ray." Hawa tersenyum sembari menunjukan miliknya yang terlihat cantik di resleting tas.

 

"Iya siap," ujar Raya.

 

Raya pun menghantarkan sahabat-sahabatnya sampai depan pintu saja karena kondisinya masih kurang stabil untuk banyak bergerak.

 

"Mah, sahabatku mau pulang!" teriak Raya.

 

Mendengar teriakan Raya Mamahnya pun datang dengan terburu-buru, "Kok pulang kan belum makan, katanya mau makan malam di sini."

 

Aisyah sampai lupa bahwa Mamahnya Raya memang sudah mengatakannya, "Duh maaf Mah, sepertinya lain waktu saja deh," katanya dengan merasa tidak enak hati.

 

"Iya Mah, lain waktu kita pasti cobain masakan Mamah," timpal Hawa dengan tersenyum simpul.

 

Mamahnya Raya mengangguk mengerti, "Ya sudah tidak apa-apa, maaf ya Mamah gak bisa ngasih kalian apa-apa."

 

"Ya ilah Mah, gak usah repot-repot sama kita mah ya kan?" seru Fatimah sambil melirik satu per satu sahabatnya.

 

Aisyah mengandeng tangan Fatimah, "Iya Mah, kalau pulang malam aku takut kena omel orangtua juga."

 

"Ya sudah kalian hati-hati ya, makasih sudah jenguk Raya!" Mamah Raya menunduk sambil memandang Raya yang sudah mengandeng tangannya.

 

"Kami pamit pulang ya Mah!" Hawa pun tersenyum sambil bersalaman dengan orangtua Raya.

 

Akhirnya mereka pun pulang bersama, ponsel Fatimah tiba-tiba berdering ada panggilan dari seseorang.

 

"Waalaikumsalam, kenapa Han?" tanya Fatimah setelah sambungan terhubung.

 

Aisyah dan Hawa terdiam sambil terus berjalan, Aisyah pun kini sibuk memaikan ponselnya yang terdapat pesan dari Ayahnya, tidak lama kemudian Fatimah mengakhiri sambungannya.

 

"Ada apa Fat?" tanya Hawa penasaran.

 

Fatimah masih sibuk memainkan ponselnya lalu, "Reyhan mengajakku makan malam," jawabnya.

 

"Hah, seriusan? ada apa nih diantara kalian berdua?" Aisyah nampak penasaran dengan kedekatan Fatimah dan Reyhan yang mungkin sengaja disembunyikan darinya.

 

Fatimah merasa hubungan dengan Reyhan hanya sebatas teman biasa, "Ihh apaan sih kalian ya, aku sama Reyhan gak ada hubungan apa-apa kok," sergah Fatimah.

 

"Ya sudah kayanya aku juga harus pulang duluan deh ada urusan, sampai ketemu nanti!" Hawa beranjak pergi meninggalkan Fatimah dan Aisyah dengan begitu saja.

 

"Yuk kita pulang!" ajak Aisyah karena memang dia takut kena omel ke dua orangtuanya.

 

Saat Fatimah sudah turun duluan Aisyah masih tetap di mobil untuk berhenti di halte dan menaiki mobil lagi menuju rumahnya, tiba-tiba ponsel Aisyah berdering ada panggilan masuk dari Aqila.

 

"Assalamualaikum Syah," ujar Aqila dari sebrang sana.

 

"Waalaikumsalam, ada apa La?"

 

Aisyah sangat merasa gamang saat ini karena sebelumnya dia belum pernah naik mobil angkot, hal ini akan menjadi rahasianya jika ke dua orangtuanya tahu pasti akan kena omel.

 

"Syah, tadi pagi Ilham ke kelas dan membantuku mengerjakan tugas? apakah itu perintahmu?" tanya Aqila dengan lirih mengetahui bahwa Aisyah dibalik perbuatan Ilham tadi pagi.

 

"Hemm ... sepertinya bukan aku deh itu atas kemauan dia sendiri kok katanya biar dia saja yang membantumu." Aisyah terpaksa harus menghilangkan bantuannya agar Aqila merasa senang tapi memang faktanya Ilham yang mau memabntu Aqila.

 

Aqila terperajat mendengar penjelasan Aisyah, "Kamu seriusan, aku senang banget mendengarnya Syah."

 

Aisyah terkekeh, "Sepertinya Ilham menyukaimu La," ujarnya.

 

Ya Aisyah memang tahu itu semua, tidak ada perhatian yang tulus kecuali ada rasa sayang di dalamnya, Aisyah melihat itu pada diri Ilham yang ingin selalu membuat Aqila bahagia.

 

"Aahhh Aisyah aku jadi malu, ya sudah makasih ya!" Aqila memutuskan sambungan secara sepihak.

 

Meninggalkan bunyi pada ponsel Aisyah, angkot pun nampak penuh dengan penumpang Aisyah menoleh menatap keluar jendela dia takut akan terlewat.

 

"Sayang kenapa tidak minta jemput saja sama Pak Ujang." Adiba begitu khawatir mendengar anaknya akan pulang sendiri.

 

Aisyah menghembuskan napasnya dengan pelan saat sudah berhenti di halte, betapa senangnya dia saat keluar mobil bisa menghirup udara luar Aisyah terkejut saat melihat Bundanya mengirim pesan.

 

"Ah Bunda sebentar lagi aku sampai kok Bunda tenang saja, aku akan baik-baik saja okey."

 

Aisyah menutup ponselnya lalu memasukannya ke dalam tasnya sambil menunggu taksi dia pun mendengarkan musik dari headset bluetooth sampai akhirnya taksi pun datang dan menghantarnya pulang.

 

Sedangkan Raka sedang asik chattan dengan Hawa dan sesekali melantunkan sholawatan bersama, Hawa sangat senang saat itu suara Raka memang selalu terngiang-ngiang di telinganya dan tidak membosankan baginya.

 

"Rak, nanti malam kamu akan pergi?"

 

Hawa ingin sekali ikut menghadiri acara syukuran tapi dia tidak mendapat undangan dari Ilham karena acara itu dihadiri oleh orang-orang terdekat saja.

 

Raka yang sedang duduk di teras depan rumah merasa kantuk sebab serayu berhembus menerpa wajahnya, "Ya, Ilham mengundangku untuk hadir dan aku juga akan bermain hadroh di sana."

 

Mendengar itu Hawa jadi penasaran apakah Aisyah akan datang atau tidak, beruntung sekali jika Aisyah datang ke rumah Ilham karena bisa melihat Raka bermain hadroh dan bersholawat.

 

"Owh, ya sudah hati-hati ya Rak!"

 

Raka temenung saat Hawa mengakhiri percakapannya, disisi lain dia berharap bahwa Aisyah akan datang ke rumah Ilham.

 

"Duh, kok tiba-tiba aku kepikiran Aisyah ya?" gumam Raka merasa ada yang aneh kepada dirinya.

 

Kini Aisyah sudah sampai di rumahnya dengan selamat Pak Ujang meminta maaf kepada Aisyah sebab dia tidak menjemputnya hal itu membuat Adiba memarahinya.

 

"Tidak apa-apa Pak, lagian aku sudah besar kok dan aku baik-baik saj adi jalan." Aisyah tersenyum dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.

 

"Assalamualaikum Bun," ujar Aisyah saat melihat Bundanya sedang duduk di ruang televisi.

 

Adiba menoleh menatap putri bungsunya, "Waalaikumsalam, kok tumben pulang sore?"

 

Mendengar pertanyaan itu Aisyah langsung duduk di dekat Adiba, "Aku beserta sahabat-sahabatku habis menjenguk Raya di rumahnya dia sakit dan absen sekolah."

 

Adiba kaget pasalnya dia tahu Raya, "Sakit apa memangnya? bukannya dia habis kerja kelompok bareng kamu kemarin," katanya.

 

"Demam dan kurang darah, owh iya Bun aku dapat undangan dari orangtuanya Ilham untuk hadir di rumahnya," ungkap Aisyah to the point.

 

"Ada acara apa memangnya?" Adiba masih gamang mengizinkan Aisyah pergi sendirian apalagi malam-malam.

 

Sudah Aisyah duga Bundanya pasti tidak akan mengizinkannya, "Acara syukuran Bun."

 

"Bunda bukannya gak mau mengizinkan kamu pergi malam-malam tapi jika ada teman cewek Bunda akan izinkan," jelas Adiba masih mengikuti aturan suaminya.

 

Saat itu juga Aqila datang ke rumah Aisyah, "Aku akan ikut bersama Aisyah Tante," ujarnya begitu saja.

 

Ya Aisyah tersenyum melihat kehadiran Aqila di rumahnya, dengan sopan Aqila pun mencium tangan Adiba lalu duduk di samping Aisyah.

 

"Bagaimana Tante apakah Aisyah diizinkan jika perginya bersamaku?" tanya Aqila memperjelas.

 

Adiba terdiam dan menopak kepalanya dengan tangan, "Ya sudah asal jangan larut malam ya pulangnya!" katanya.

 

Aisyah langsung memeluk Adiba dengan erat, "Thanks you Bunda."

 

Aqila mengerlingkan sebelah matanya kepada Aisyah kode keras aktif, entah dari mana Aqila tahu namun kali ini Aisyah merasa senang dan sangat berterima kasih kepada Aqila.

 

Adzan magrib pun berkumandang Aisyah dan Aqila menunaikan sholat magrib bersama-sama dilanjut dengan membaca al-quran Aisyah sangat berhati-hati dalam menjaga hafalannya dia sangat benci sekali jika surat yang sudah dia hafal hilang kembali.

 

"Kamu tahu aku akan pergi dari mana?" Aisyah berniat menanyakan itu karena dia penasaran siapa yang telah memberitahunya.

 

Aqila tersenyum, "Ya siapa lagi kalau si Tuan rumahnya."

 

"Ilham?" seru Aisyah lupa bahwa tentu saja cowok itu akan mengundang Aqila juga di acara syukuran itu.

 

Aqila hanya tersipu malu untuk mengakuinya yang jelas dia bisa ngajak Aisyah hadir dalam acara, Bunda menyuruh Pak Ujang untuk menghantarkan Aisyah dan Aqila ke tempat tujuan yang sudah ramai dengan keluarganya Ilham.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!