Si Kecil Mimpi Menjadi Hafidz

Si Penggila Bola, Ahmad

"Aku akan menjadi pemain bola dunia yang terkenal, aku akan menjadi seperti Ronaldo!" begitu cita-cita Ahmad. Dia sibuk mempersiapkan impiannya untuk menjadi pemain bola profesional, bahkan dia sering membolos saat mengaji.

Ahmad adalah bocah ceria berusia 8 tahun. Rambutnya yang ikal sebahu selalu terlihat berantakan karena sering bermain sepak bola. Setiap sore, begitu azan Ashar berkumandang, Ahmad langsung berlari ke lapangan kecil di dekat rumahnya. Bola bundar kesayangannya menjadi sahabat setianya.

Di rumah, Ahmad tinggal bersama Ayah, Ibu, dan adik perempuannya yang masih balita. Ibu Ahmad selalu mengingatkannya untuk rajin mengaji. "Ahmad, sudah selesai sholat, sekarang waktunya mengaji," ujar Ibu lembut. Namun, Ahmad lebih suka beralasan ingin bermain lagi.

"Bentar lagi, Bu, bentar lagi!" jawab Ahmad sambil terus menggiring bola.

Ayah Ahmad mencoba berbagai cara untuk memotivasi anaknya. Ia membelikan Al-Quran dengan sampul yang menarik dan berwarna-warni, serta memberikan hadiah kecil setiap kali Ahmad berhasil menghafal beberapa ayat. Namun, semangat Ahmad untuk mengaji tetap saja tidak sebesar semangatnya untuk bermain bola.

Suatu sore, setelah selesai bermain sepak bola, Ahmad merasa lelah dan lapar. Ia masuk ke rumah dan langsung menuju kulkas. Saat membuka kulkas, ia melihat sebuah toples berisi kue kesukaannya. Dengan semangat, Ahmad mengambil satu kue dan memakannya.

"Ahmad, jangan makan kue itu dulu. Tunggu Ayah dan Ibu pulang," tegur neneknya yang sedang duduk di ruang tamu.

Ahmad menghela napas. "Kenapa sih, Nek? Aku kan lapar," rengeknya.

Nenek tersenyum lembut. "Nenek tahu kamu lapar, Nak. Tapi, sebelum makan, kamu harus membaca doa dulu."

Ahmad mengerutkan kening. "Doa lagi, Nek?"

"Iya, Nak. Membaca doa sebelum makan adalah sunnah Rasulullah. Dengan membaca doa, kita akan mendapatkan berkah dari Allah," jelas Nenek.

Mengaji dan diminta berdoa, Ahmad selalu malas melakukannya. Baginya, dia hanya suka bermain bola dan akan menjadi pemain hebat. Namun, karena malas diomeli neneknya itu, Ahmad pun terpaksa membaca doa.

Ahmad diam terdiam. Ia merasa sedikit malu karena telah mengeluh. Dengan ragu, ia mengambil Al-Quran mini yang selalu dibawa oleh neneknya dan mulai membaca doa sebelum makan.

Setelah selesai membaca doa, Ahmad merasa hatinya menjadi tenang. Ia menyadari bahwa berdoa itu tidak sesulit yang ia bayangkan. Bahkan, membaca doa saja sudah membuatnya merasa lebih baik. Ahmad melihat al-Qurannya kembali, iya ingat bahwa orang yang mulia kata ayahnya adalah orang yang mempelajari Qur'an.

Lalu ... kenapa dia selama ini malas mengaji? Ahmad mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!