Si Kecil Mimpi Menjadi Hafidz
Bab 2: Sang Guru Pembimbing
Sore itu, setelah pulang sekolah, Ahmad diajak ayahnya ke masjid untuk mengikuti pengajian anak-anak. Awalnya, Ahmad merasa malas. Ia lebih ingin bermain di rumah bersama adiknya. Namun, karena tidak ingin mengecewakan ayahnya, ia pun menurut.
Padahal, Ahmad sejak awal ingin membolos mengaji dan ingin bermain bola saja.
Sesampainya di masjid, Ahmad melihat banyak anak-anak seusianya sedang duduk melingkar di sekitar seorang pemuda. Pemuda itu terlihat ramah dengan senyum yang selalu mengembang. Ahmad belum pernah melihatnya sebelumnya.
"Assalamualaikum, Nak," sapa pemuda itu. "Nama saya Ustadz Rahman. Kamu siapa namanya?"
"Waalaikumsalam, Ustadz. Nama saya Ahmad," jawab Ahmad malu-malu.
Ustadz Rahman mengusap kepala Ahmad dengan lembut. "Ahmad, kamu mau belajar mengaji bersama teman-teman yang lain?" tawar Ustadz Rahman.
Ahmad ragu-ragu. Ia takut tidak bisa mengikuti pelajaran. Namun, melihat wajah ramah Ustadz Rahman, ia memberanikan diri untuk mengangguk.
Ustadz Rahman mulai mengajarkan huruf-huruf hijaiyah. Awalnya, Ahmad merasa kesulitan. Huruf-huruf itu seperti menari-nari di hadapan matanya. Namun, Ustadz Rahman sangat sabar membantunya. Ia menggunakan metode yang menyenangkan, seperti membuat permainan dari huruf-huruf hijaiyah atau menyanyikan lagu tentang tajwid.
Setelah selesai belajar, Ustadz Rahman mengajak Ahmad untuk bermain di halaman masjid. Mereka bermain sepak bola kecil-kecilan. Ahmad sangat senang karena Ustadz Rahman ternyata juga suka bermain sepak bola.
Tak terlalu buruk bagi Ahmad untuk mengaji dan bermain bola sekaligus, Ustadz Rahman ternyata pintar bermain bola.
"Ustadz, kenapa Ustadz mau repot-repot ngajarin saya?" tanya Ahmad penasaran.
Ustadz Rahman tersenyum. "Karena Ustadz ingin semua anak bisa membaca Al-Quran. Al-Quran itu kitab suci kita, Ahmad. Dengan membaca Al-Quran, kita akan menjadi anak yang sholeh dan beruntung."
Mendengar penjelasan Ustadz Rahman, hati Ahmad tersentuh. Ia merasa bahwa belajar mengaji itu penting.
Setiap hari, Ahmad selalu semangat mengikuti pelajaran mengaji bersama Ustadz Rahman. Ia merasa nyaman dan senang berada di dekat Ustadz Rahman. Ustadz Rahman tidak hanya mengajarkan Ahmad tentang agama, tetapi juga memberikan banyak nasihat dan motivasi.
Suatu hari, setelah selesai mengaji, Ustadz Rahman mengajak Ahmad untuk berjalan-jalan di sekitar masjid. Mereka duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati semilir angin.
"Ahmad, Ustadz punya hadiah untukmu," kata Ustadz Rahman sambil mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
Buku itu berisi cerita-cerita tentang para nabi dan sahabat. Ahmad sangat senang menerima hadiah itu. Ia berjanji akan membaca buku itu setiap hari.