Si Kecil Mimpi Menjadi Hafidz
Huruf-huruf yang Bermain Petak Umpet
Ahmad mulai terbiasa mengaji dengan Ustadz Rahman, meskipun dia kesulitan karena selama ini sering membolos mengaji. Hal itu membuat Ahmad ketinggalan jauh mengaji dari teman-teman yang mengaji lainnya.
Awal perjalanan Ahmad dalam mempelajari Al-Quran tidak semulus yang dibayangkan. Huruf-huruf hijaiyah seolah-olah bermain petak umpet dengan ingatannya. Setiap kali Ustadz Rahman menjelaskan, Ahmad mengangguk paham. Namun, begitu ia mencoba mengulanginya sendiri, huruf-huruf itu langsung kabur dari pikirannya.
"Ustadz, kenapa huruf-huruf ini sulit sekali dihafal?" tanya Ahmad putus asa.
Ustadz Rahman tersenyum lembut. "Sabar, Ahmad. Semua orang pasti pernah mengalami kesulitan seperti itu. Yang penting adalah kita terus berusaha dan tidak mudah menyerah."
Ustadz Rahman kemudian memberikan penjelasan yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Ia membandingkan huruf-huruf hijaiyah dengan bentuk-bentuk benda yang ada di sekitar Ahmad. Misalnya, huruf 'ba' seperti perut yang buncit, huruf 'ta' seperti tangan yang menunjuk, dan seterusnya.
Selain itu, Ustadz Rahman juga mengajak Ahmad untuk membuat permainan dari huruf-huruf hijaiyah. Mereka membuat kartu huruf hijaiyah dan bermain mencocokkan pasangan. Dengan cara ini, belajar mengaji menjadi lebih menyenangkan bagi Ahmad.
Namun, semangat Ahmad seringkali naik turun. Ada kalanya ia merasa bosan dan ingin berhenti belajar. Saat-saat seperti itu, Ustadz Rahman selalu memberikan semangat dan motivasi.
"Ingat, Ahmad, membaca Al-Quran itu seperti menanam pohon. Kita harus sabar menyiramnya setiap hari agar pohon itu tumbuh subur. Begitu juga dengan ilmu agama, kita harus rajin belajar agar ilmu kita semakin bertambah," kata Ustadz Rahman.
Perlahan tapi pasti, Ahmad mulai menunjukkan kemajuan. Ia sudah bisa menghafal beberapa huruf hijaiyah dan beberapa kata sederhana. Rasa percaya dirinya pun semakin meningkat. Selain itu, setelah mengaji, Ustadz Rahman mengajari Ahmad bermain bola juga. Jadi, itu sangat menyenangkan bagi Ahmad.
Suatu hari, setelah selesai mengaji, Ustadz Rahman mengajak Ahmad untuk membaca Al-Quran bersama-sama. Ahmad merasa gugup, tetapi ia tetap berusaha sekuat tenaga. Saat ia selesai membaca, Ustadz Rahman memberikan pujian kepadanya.
"Masya Allah, Ahmad sudah sangat pandai membaca Al-Quran. Ustadz bangga padamu," puji Ustadz Rahman.
Mendengar pujian dari Ustadz Rahman, hati Ahmad merasa senang sekali. Ia semakin bersemangat untuk terus belajar mengaji.