SIMPANGAN RASA
Tak Perlu Ada Penyesalan
Sampai di rumah, Bagas menutup pintu kamarnya dengan sedikit kasar. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Hari yang sungguh melelahkan. Bagas baru sadar, berpura-pura untuk baik-baik saja ternyata membutuhkan energi yang luar biasa.
Bagas memandang langit-langit kamar yang tiba-tiba saja menyajikan semua bayangan Rayu. Bagas baru menyadari, kenyataannya tidak mudah melepaskan Rayu. Tahun-tahun yang mereka lewati terlalu indah untuk diendapkan dalam memori lain di sudut hatinya. Bagaimana Bagas berjuang untuk mendapatkan Rayu sejak putih abu-abu tentu saja membuatnya tak pernah memiliki celah untuk kehadiran perempuan lain. Rayu selalu menjadi poros di mana hidup Bagas berputar.
Rayu yang pendiam dan tertutup sejak pertama kali bertemu, memberikan tantangan tersendiri bagi Bagas ketika mendekatinya. Entah pesona apa yang dimiliki Rayu saat itu. Kesendiriannya menjadi awal mula rasa penasaran Bagas.
Setelah bisa berteman, Bagas justru merasa nyaman dengan sifat Rayu yang jauh lebih dewasa dari usianya. Mereka akhirnya bersahabat meski harus berbeda jurusan saat kuliah. Ya, Bagas memilih kuliah di kampus yang sama dengan Rayu agar bisa terus mengawasi pujaan hatinya.
Setiap hari, Bagas menyempatkan diri untuk bisa mengantar dan menjemput Rayu. Sesibuk apapun dirinya, dia akan berusaha menjadikan Rayu prioritasnya, tentu setelah Mama dan kedua adiknya.
Hampir seluruh teman Bagas dan Rayu tahu bagaimana Bagas mencintai Rayu. Namun, entah mengapa sepertinya Rayu tidak pernah peka dengan perasaan Bagas. Bukan sekali dua kali Rayu mengenalkan Bagas ke teman-temannya. Hal yang sangat tidak disukai oleh Bagas. Tentu saja semua teman perempuan yang dikenalkan oleh Rayu akan mundur teratur melihat raut muka Bagas yang sangat dingin kepada mereka.
Apalagi binar cinta itu tercetak dengan sangat jelas di wajah Bagas. Cinta untuk Rayu. Tatapan Bagas, perlakuan yang Bagas berikan, sikap Bagas, dan semua gerak gerik Bagas di depan Rayu adalah akulumasi dari definisi cinta. Bukan hanya sahabat.
“Gas.... Bagas, kamu di dalam kan?” Ketukan di pintu kamar yang disertai dengan suara Mama membuyarkan lamunan Bagas.
“Iya Ma, Bagas di dalam.” Jawab Bagas setengah malas.
“Boleh Mama masuk Nak?” Bu Rahmi kembali bertanya.
Bagas sebenarnya ingin sendiri. menikmati setiap luka di semua sisi hati. Bagas tahu, agak sulit untuk mengobati luka-luka itu. Bagas hanya ingin mengenali seberapa dalam dan besar luka yang dia miliki.
“Gas, boleh Mama masuk?” Kedua kalinya Bu Rahmi memastikan kalau dirinya diizinkan untuk masuk.
Perlahan Bagas bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu. Dia yakin, mamanya tidak akan lelah merayunya agar membukakan pintu. Bagas pikir, sekarang atau nanti akan sama saja. Hanya masalah waktu sampai Bagas mau membuka pintu dan mengizinkan mamanya masuk.
Setelah pintu terbuka, Bu Rahmi menatap lekat raut muka Bagas. Anaknya ini sedang sangat hancur. Naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi. Bu Rahmi duduk di sisi ranjang. Sementara Bagas kembali berbaringi. Bu Rahmi meraih kepala Bagas. Membelainya dengan sangat lembut hingga membuat Bagas nyaman.
“Bagaimana perasaanmu Gas? Masih tidak baik-baik saja?”
“Sangat sakit Ma.” Jawab Bagas jujur.
“Kamu sudah bertemu Rayu?” Cecar Bu Rahmi.
“Bagas tadi ke rumah sakit Ma. Ketemu Rayu dan Bintang. Bagas pikir akan kuat menemui mereka. Tapi sakit Ma.” Bagas mengingat dengan baik wajah Rayu dan Bintang yang terlihat sangat bahagia.
“Sabar ya Nak. Itulah resiko mencintai. Hirarki tertinggi dalam proses mencintai itu ya melepaskan orang yang kita cinta dengan ikhlas. Mama tahu, tidak ada seorang pun yang bisa langsung ikhlas. Pasti ada sakit, kecewa, marah, dan entah rasa apalagi. Tapi kamu harus berjuang untuk tidak membenci mereka. Supaya hati dan pikiran kamu tetap sehat.”
“Apa Mama pernah merasakan kehilangan?” Bagas jadi penasaran tentang perasaan Bu Rahmi.
“Tentu pernah. Mama tahu sekali bagaimana perasaan itu.”
“Bisakah Mama cerita untuk Bagas?” Pinta Bagas.
“Sebelum menikah dengan Papamu, Mama memiliki kekasih. Kami sudah pacaran sejak SMA. Ketika kami sudah sama-sama lulus kuliah dan memiliki pekerjaan yang kami pikir cukup baik, kami memutuskan bertunangan. Setelah hampir setahun bertunangan, kami pun mulai membahas tentang pernikahan dan menentukan hari bahagia itu. Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan Mama.
Hari itu, ada seorang perempuan menemui Mama dan mengatakan bahwa dia sedang hamil. Anak yang dikandungnya itu adalah darah daging kekasih Mama. Bagas bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama. Kekasih yang sangat Mama cintai ketahuan menghamili perempuan lain di saat kami sedang menunggu hari untuk membawa hubungan kami ke jenjang pernikahan.
Mama mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Mama berharap apa yang perempuan itu katakan hanyalah sebuah lelucon dan kebohongan. Mama mengajaknya menemui kekasih Mama. Kamu tahu Gas, dunia Mama hancur berkeping-keping ketika kekasih Mama mengakui dengan gamblang semua perbuatannya.
Mama memilih mundur. Pergi dari kehidupan mereka. Mama tidak ingin ada hati yang terluka jika Mama memaksakan diri untuk tetap di sisi kekasih Mama. Apalagi ada calon bayi yang tidak berdosa di antara mereka. Bayi ini tentu sangat membutuhkan kehadiran orang tuanya.” Bu Rahmi menghentikan sejenak ceritanya.
“Lalu bagaimana Mama bisa menikah dengan Papa?” Bagas mulai penasaran. Baru kali ini dia mengetahui sisi lain dari kehidupan mamanya.
“Papamu adalah salah seorang teman dekat Mama. Kami berteman sejak kuliah. Lalu bertemu lagi di kantor yang sama. Sejak awal, Mama tidak pernah sangat dekat dengan Papamu. Hari itu, ketika Mama sedang menangis di ruang belakang kantor, Papamu datang. Mulanya Papa Cuma duduk dan menemani Mama. Lama kelamaan Mama yang sedang butuh teman untuk berbagi mulai cerita ke Papamu tentang apa yang menimpa Mama.
Sejak itulah kami semakin dekat. Sampai satu hari Papamu menyatakan cinta dan mengajak Mama menikah. Tentu saja Mama menolak mentah-mentah. Bagaimana bisa Mama menikah dengan orang yang tidak Mama cintai sama sekali.
Tapi Papamu tidak mengenal kata menyerah. Setiap hari berjuang untuk bisa menaklukan hati Mama. Papa mendekati kakek dan nenekmu. Meminta Mama pada mereka. Kakek nenek tentu saja tidak bisa menolak. Karena memang tidak ada alasan yang tepat untuk menolak Papamu. Dia lelaki yang sangat baik. Mencintai Mama dengan begitu tulus. Sudah punya pekerjaan yang bisa dijadikan sandaran hidup kami kelak. Benar-benar lelaki idaman untuk peremuan singel. Akhirnya Mama menerima lamaran Papa karena sudah sangat bosan melihatnya terus mendekati Mama.” Bu Rahmi tersenyum simpul mengingat bagaimana kesalnya dia didekati oleh Papa Bagas.
“Mama cinta sama Papa?” Bagas membayangkan Papanya adalah dirinya saat mengejar Rayu.
“Mama baru merasakan cinta setelah kamu lahir Nak. Melihat Papa yang begitu panik ketika menemani Mama melahirkan, menyadarkan Mama kalau Papa adalah lelaki yang dikirim Tuhan untuk menjaga Mama. Sejak itu, Mama mulai benar-benar membuka hati dan belajar mencintai Papa.”
“Cerita Mama jauh lebih membahagiakan dari cerita yang sekarang Bagas alami.”
“Mama sengaja cerita ke kamu, agar kamu tahu, kelak akan ada bahagia juga yang kamu rasakan. Mungkin wujudnya akan berbeda dari bayangan kamu. Tapi rasanya pasti akan lebih menakjubkan. Jadi, tidak perlu ada penyesalan terhadap keputusan yang sudah kamu ambil. Nikmati dan jalani saja semua prosesnya sampai kamu tidak menyadari kalau kamu sudah melangkah jauh meninggalkan kesedihan dan mendekati kebahagiaan. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk Bagas.”
“Terima kasih Ma. Terima kasih sudah mendukung Bagas.”
Bu Rahmi memeluk Bagas. Si sulung yang selamanya akan terlihat sebagai bayi kecil yang menggemaskan.
***