SIMPANGAN RASA

Jangan Terima Aku Apa Adanya

Sesuai yang dikatakan Bintang, pagi ini Mas Ferdian datang dengan membawa beberapa bundel amplop berwarna coklat.

“Bin, apa tidak bisa ditunda sampai kamu keluar dari rumah sakit? Kamu seenaknya aja nyuruh Mas datang ke sini pagi-pagi. Mana surat-surat kamu ini harus diambil dulu di bank. Jadi merepotkan aja.”

“Ke bank? Maksud Mas?” Rayu terheran-heran.

“Loh kamu tidak tahu? Bintan tidak cerita sama kamu? Dia menyewa deposit box di bank untuk menyimpan dokumen-dokumen penting miliknya. Setelah ada kamu, semoga Mas berhenti dari tugas menjaga bocah ini.” Ferdian melemparkan amplop-amplop itu ke hadapan Bintang.

“Wah Mas Ferdi udah nggak sayang lagi sama adeknya ya Mas? Gini-gini aku adek yang sangat berbakti Mas. Aku kan selalu menuruti semua ucapan Mas Ferdi.” Bintang cengengesan dengan wajah tanpa dosa.

“Sejak kapan kamu berubah jadi penurut? Bahkan soal perempuan pun kamu tidak pernah mau mendengarkan omongan Mas. Yu, Mas ini sampai bosan ngomong sama Bintang kalau dia tidak usah menunggu atau mencari-cari kamu. Tapi bocah tengil ini tetap saja keras kepala. Kamu tahu nggak alasan Bintang diputuskan sama pacar-pacarnya?”

“Memang dia diputuskan Mas? Bukannya dia yang meninggalkan pacar-pacarnya setelah tahu kalau dia sakit?” Rayu mulai penasaran.

“Kamu pasti sudah termakan ucapan Bintang. Dia bohong.”

“Mas, kenapa harus membahas soal itu?” Bintang menyela.

“Dia bohong kalau bilang dia meninggalkan pacarnya. Kejadiannya itu, justru pacar-pacarnya yang pergi meninggalkan Bintang. Ya gimana nggak pergi, setiap pacaran yang diingat dan diceritakan itu cuma kamu. Perempuan mana yang tahan kalau kekasihnya malah mengingat dan membahas perempuan lain saat bersamanya? Kamu bayangkan saja sendiri. Kalau nggak percaya, coba kamu tanya langsung tuh sama tersangkanya.” Ferdian menunjuk Bintang dengan dagunya.

“Bin, apa itu benar?” Selidik Rayu.

“Sudahlah jangan membahas masalah itu. Lagian kan itu juga sudah jadi masa lalu. Ngapain sih masih aja dibahas?”

“Dia bucin Yu. Tapi nggak mau ngaku. Kamu udah lihat isi dompet Bintang belum? Ada foto kamu waktu SD tuh di dompetnya. Hahahahahaha.” Ferdian mulai merasakan kepuasan melihat wajah Bintang yang sudah merah padam.

“Mas, kali ini sepertinya lebih baik kalau aku mengusir Mas Ferdi. Aku kok ya jadi nyesel udah nyuruh Mas Ferdi ke sini.”

“Bener kamu nyesel? Bukannya kamu butuh semua surat-surat itu? Wah wah wah sepertinya sebentar lagi sudah ada yang siap untuk jadi Nyonya Angkasa. Sampai semua aset pun harus dibahas.” Lagi-lagi ucapan Ferdian membuat Bintang kesal. Sedangkan Rayu hanya diam tanpa mampu memahami apa yang sedang dibahas oleh kakak beradik itu.

“Mas, pleaasssseeeee...” Bintang memohon.

“Oke oke oke. Mas akan pulang. Sepertinya sekarang kehadiran Mas sudah tidak diperlukan lagi. Yu, Mas titip adik kesayangan Mas ini ya. Kamu bebas melakukan apa saja sama dia. Toh dia pasti akan menuruti semua ucapan kamu. Dia bucin tingkat dewa sama kamu. Mas pergi dulu ya. Bin, jangan galak-galak ke Rayu. Nanti kalau Rayu nggak ada, kamu kelabakan lagi. Awwwwww.” Lemparan bantal dari Bintang menghentikan ucapan Ferdian. Secepat kilat Ferdian pergi meninggalkan kamar adiknya sebelum Bintang melakukan tindak kekerasan lainnya. Suara tawa Ferdian terdengar jelas sampai beberapa meter setelah dia keluar dari kamar.

“Bin, mau menjelaskan sesuatu padaku?” Tanya Rayu penuh selidik.

“Nggak ada. Lebih baik kita fokus pada apa yang mau aku bicarakan denganmu.” Bintang berusaha menghindar.

“Kita punya rencana akan menikah. Aku mohon, sebaiknya kita jujur dan saling terbuka. Apa benar semua ucapan Mas Ferdi itu?”

“Hhhhhhhhh.... Aku paling tidak suka situasi seperti ini.” Bintang mengeluh. “Ya, semua ucapan Mas Ferdi benar. Dia sangat tahu kalau sejak dulu aku sangat mencintai kamu. Ketika awal pindah aku bahkan tidak menyadari semua perasaanku. Beberapa tahun kemudian, setelah aku mengenal perempuan dan cinta, tanpa sadar aku banyak cerita ke Mas Ferdi. Tapi apa yang aku ceritakan itu hampir semuanya tentang kamu. Aku juga nggak tahu kenapa. Lalu setelah aku mulai serius untuk pacaran, masalah muncul. Setiap kali aku jalan dengan perempuan, aku merasa kamu hadir di sana. Apa yang aku lakukan, selalu saja menyeret ingatan tentang kamu. Akhirnya aku malah beberapa kali keceplosan membahas kamu di depan pacarku. Ujungnya, ya seperti yang kamu dengar tadi, aku diputuskan. Puas?” Bintang menjelaskan dengan wajah sedikit kecut.

“Aku cinta sama kamu. Selalu. Sejak dulu.” Rayu mengusap pipi Bintang lembut.

“Aku tahu.” Timpal Bintang penuh keyakinan.

“Dari mana kamu bisa tahu? Aku kan nggak pernah bilang apa-apa sama kamu.”

“Bagas yang cerita. Sejak kita berpisah, kamu tidak pernah dekat dengan lelaki lain kecuali Bagas. Yah, meskipun aku sempat marah karena kamu bertunangan dengan Bagas. Coba kalau nggak tunangan, aku bisa jadi satu-satunya lelaki di hidupmu.”

“Kamu mau bersaing dengan Ayah dan Naren?” Rayu menyebutkan dua lelaki yang sangat dia cinta. Ayahnya dan Narendra adiknya.

“Siapa takut?”

“Lagian siapa juga yang pergi terus menghilang.” Rayu merajuk.

“Sudahlah, yang penting sekarang aku sudah kembali dan kita bisa bersama. Doakan aku supaya bisa mengalahkan sakit ini.”

Bintang mengambil amplop yang tadi dibawa Ferdian. Lalu mulai membukanya satu per satu. Bintang menjelaskan secara rinci kepada Rayu. Surat itu meliputi surat kepemilikan sebuah apartemen, tiga rumah yang dikontrakkan, kost-kostan yang berjumlah 60 kamar, beberapa bidang tanah, beberapa mobil, ada juga deposito, berbagai asuransi, kepemilikan beberapa saham, dan tentu saja tabungan.

Rayu takjub. Sejak dulu Bintang memang senang bekerja keras. Bahkan ketika kecil Bintang sudah pintar berjualan. Meski keluarga Bintang memang berkecukupan, tapi Rayu yakin kalau Bintang memperoleh semua itu dari hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.

“Aku tidak mungkin menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai penulis atau editor saja. Makanya aku membuka beberapa usaha. Selain itu, kalau kamu jeli, ada beberapa novelku yang sudah difilmkan. Royaltinya lebih dari cukup untuk aku gunakan sebagai modal investasi. Aku juga tidak suka menghambur-hamburkan uang. Aku sangat rajin menabung dan memutar uangku untuk dijadikan aset. Aku usahakan kamu tidak akan kekurangan saat bersamaku.” Bintang tersenyum jenaka.

“Bin, aku tidak butuh semua ini.” Tegas Rayu. “Aku mencintai kamu sebagai apa adanya kamu. Sejak dulu. Kamu harus tahu itu Bin.” Sambungnya.

“Jangan pernah mencintai atau menerimaku secara apa adanya Yu. Itu sangat tidak realistis. Cintailah aku minimal karena aku bisa membuatmu bahagia. Aku nggak mau ke depannya kita akan diributkan oleh masalah ekonomi. Aku sakit, waktuku mungkin tidak banyak. Aku hanya ingin menikmati sisa-sisa hariku dengan orang yang aku cintai. Jadi terima aku ketika ada apanya.” Bintang memeluk Rayu dengan hangat.

“Bin...” Rayu hanya bisa terisak di dada Bintang. Sakit rasanya ketika membayangkan kalau mereka sedang bertarung melawan waktu.   

***


     

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!