SIMPANGAN RASA

Aku, Kamu, Kita

Selepas resepsi yang memang dibuat sesederhana mungkin, kedua keluarga kini sedang berkumpul di ruang tengah. Menikmati makan malam sambil ngobrol sejenak mengenang masa puluhan tahun silam saat menjadi tetangga baik.

Rayu memisahkan diri dari keluarganya. Ada Bagas yang akhirnya mau datang ke pernikahannya untuk memenuhi permintaan Rayu. Meski Bagas sudah sangat dekat dengan keluarga Rayu karena hampir menjadi menantu, tetap saja Rayu harus menjaga perasaan Bintang serta keluarganya. Maka Rayu memilih ngobrol dengan Bagas di teras depan rumahnya.

“Gas, terima kasih ya kamu sudah mau datang.” Wajah Rayu terlihat sangat berseri. Binar di matanya tak mampu dia tutupi.

“Aku pasti datang. Sesuai janjiku sama kamu, kalau aku akan tetap jadi sahabat terbaikmu.” Jawab Bagas setengah berbohong. Bagaimanapun, Bagas sempat berpikir untuk tidak hadir saat ini. Kenyataan itu terlalu sakit untuk dia hadapi.

“Aku tahu, kamu selalu jadi yang terbaik.” Rayu menepuk lengan Bagas pelan.

Bagas sedikit berjengit. Rasanya sudah sangat lama dia tidak merasakan sentuhan tangan lembut Rayu. Jemari yang dulu sering digenggamnya itu kini sudah bukan miliknya lagi.

Bagas memilih pamit pulang sebelum kewarasannya hilang di hari bahagia Rayu. Bagas laki-laki normal yang masih sangat mencintai Rayu. Melihat perempuan pujaannya itu tampil bergitu cantik, tentu saja membuat Bagas lupa diri dengan status Rayu yang kini sudah sah menjadi istri orang.

Hasratnya begitu menggebu untuk menarik tubuh Rayu ke dalam dekapannya. Menikmati bibir indah yang selalu terasa sangat manis, juga membaui aroma Rayu yang selalu terasa menenangkan bagi Bagas. Tubuh tiba-tiba saja Bagas bergetar sejenak tanpa dia sadari. Bagas pun melangkah pergi sebelum semuanya menjadi benar-benar di luar kendalinya.

Tak lama, orang tua Bintang pamit untuk pulang. Begitu pula Ferdian serta anak istrinya dan adik perempuang Bintang yang bernama Sekar bersama suaminya. Sekar memang belum dikaruniai anak. Dari tiga bersaudara itu, hanya Bintang yang belum menikah.

Setelah para tamu pulang, Bintang membawa Rayu ke kamar Rayu yang kini menjadi kamar mereka untuk sementara. Sebenarnya Bintang ingin segera memboyong Rayu pindah ke rumahnya, namun Rayu minta waktu beberapa hari untuk tetap tinggal bersama orang tuanya. Sekalian merapikan barang, itu alasan Rayu.

Kamar Rayu sudah dihias sedemikian rupa. Khas kamar pengantin baru. Aroma mawar menguar begiitu kuat menyapa indera penciuman ketika pintu dibuka.

Rayu melangkah ragu. Diikuti Bintang yang mengekor di belakangnya. Rayu memilih duduk di tepi ranjang dengan perasaan campur aduk. Jujur saja, Rayu sangat gelisah dan tidak tahu harus melakukan apa. Hati dan pikirannya masih belum percaya kalau kini dia dan Bintang sudah sah sebagai suami istri. Bahkan Bintang ada di kamar yang sama. Berdiri gagah di depannya memandangi wajah sumringah Rayu sambil tersenyum manis.

Bintang memilih bersandar pada tembok di samping pintu kamar Rayu. Senang sekali melihat wajah Rayu yang bersemu merah dan memandang dirinya jengah. Padahal selama di rumah sakit, hampir 24 jam Rayu mengurusi Bintang. Membawa pekerjaannya ke rumah sakit dan mereka menghabiskan waktu berdua di dalam kamar perawatan Bintang. Tapi mengapa hari ini Rayu berbeda? Terlihat sekali sangat pemalu dan gugup.

Tanpa Rayu tahu. Sebenarnya Bintang pun mengalami perasaan yang sama. Gugup. Jika di rumah sakit status mereka hanya sebagai kekasih, saat ini Rayu ada didepannya sebagai istri sah Bintang. Belahan jiwanya. Perempuan yang telah menjadi prioritas hari-hari Bintang ke depan.

Bintang melangkah menghampir Rayu. Duduk di sebelahnya lalu meraih jemari perempuan itu untuk digenggamnya.

“Sekali lagi terima kasih. Aku nggak akan pernah berhenti untuk berterima kasih sama kamu. Terima kasih untuk kesempatan kedua yang sudah kamu berikan hingga sekarang kita menjadi suami istri. Aku mencintai kamu dengan sangat. Aku menyayangimu dengan seluruh hidupku.” Bintang membawa jemari Rayu lalu menciumnya.

“Aku juga Bin. Terima kasih sudah mau mencariku. Menjadikanku sebagai perempuan terakhir dihidupmu.” Mata Rayu sudah berkaca-kaca karena terharu.

“Apa kamu lelah?” Tanya Bintang dengan tatapan yang tidak bisa Rayu artikan.

“Iya. Walaupun aku sudah minta agar pernikahan kita dilakukan secara benar-benar sederhana, tapi ternyata tetap saja melelahkan.” Keluh Rayu.

“Jadi...” Bintang sengaja menggantung ucapannya.

“Jadi apa?” Tanya Rayu yang masih belum paham dengan maksud Bintang.

“Bukankah ini yang disebut malam pertama kalau untuk pengantin baru?” Bintang mulai menggoda Rayu.

“Bin, apaan sih?” Seketika wajah Rayu merona semerah tomat.

“Loh aku serius. Kenapa kamu jadi malu begitu?”

“Siapa yang malu?” Rayu masih menyanggah.

“Itu muka kamu, udah merah banget. Kalau bukan malu, apa mungkin mukamu memerah karena menahan gairah?” Lagi-lagi Bintang menggoda istrinya.

“Bin, udah dong.” Rengek Rayu.

“Ya udah lebih baik kita mandi dan ganti baju. Habis itu kita sholat dulu. Malam pertamanya kita pikirkan nanti saja. Aku tidak akan memaksamu. Aku bisa menunggu sampai kamu siap kok.”

Selepas mengucapkan kalimat itu, Bintang mendahului Rayu untuk mandi dan berganti pakaian. Bintang tak bisa berbohong pada dirinya kalau dia benar-benar ingin memiliki Rayu, tapi dia tidak mau memaksakan kehendaknya. Dia harus memastikan kalau Rayu sudah benar-benar siap untuk menjadi milik Bintang sepenuhnya. Itu yang Bintang inginkan malam ini. Hubungan yang tidak didasari atas paksaan atau belas kasihan. Tapi karena memang cinta.

Rayu terpekur sambil menunggu Bintang mandi. Ditelusurinya semua ruang hati. Haruskah malam ini dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri? Apakah dia sudah siap? Bagaimana memulainya? Semua berkecamuk dalam pikiran Rayu sampai dia tidak sadar Bintang sudah selesai dan kini sedang memandangnya sambil tersenyum.

“Hei istri, ayo mandi sana.”

Sontak Rayu terkejut. Apalagi ketika Bintang memanggilnya istri. Terasa sangat berbeda. Ada sensasi tersendiri di hati Rayu.

Secepat kilat Rayu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Tak dihirauannya Bintang yang sedang tergelak menertawakan kegugupan Rayu.

Selesai Rayu mandi, Bintang mengajaknya untuk sholat berjamaah. Mereka berdoa bersama untuk mendapat semua keberkahan.

Bintang berbalik dan memandang wajah istrinya penuh cinta. Dibelainya pipi Rayu dengan segala kelembutan yang Bintang punya.

“Apa kamu siap?” Bintang bertanya penuh harap.

“Aku... aku siap.” Jawab Rayu gugup dan lirih.

Tiba-tiba saja Bintang berdiri dan menggendong tubuh Rayu. Membawanya ke atas kasur. Perlahan Bintang mengecup mata Rayu. Turun ke hidung, pipi, lalu bibir sebagai pelabuhan terakhirnya di wajah Rayu.

Rayu tida memprotes perlakuan Bintang. Bahkan dia mulai mengalungkan tangannya ke leher Bintang. Berharap lelaki semakin mendekat. Aroma Bintang sungguh menyegarkan. Membuat hasrat Rayu seketika menggelegak.

Bintang yang memang sudah sangat menginginkan Rayu, terus saja melakukan aksinya. Disentuhnya seluruh bagian tubuh Rayu sesuai instingnya.

“Aku harap, malam ini aku dan kamu akan menjadi kita.” Harap Bintang dengan suara parau.

Malam ini mungkin akan menjadi awal dari malam panjang yang akan dilalui oleh Bintang dan Rayu.    

***

 



Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!