SIMPANGAN RASA

Anugerah Terindah

Tidak terasa sudah dua bulan Rayu dan Bintang resmi sebagai suami istri. Sesuai permintaan Bintang, Rayu berhenti dari pekerjaannya dan memilih sebagai penulis serta editor frelance. Tentu saja dibantu Bintang yang lebih paham dibandingkan Rayu tentang dunia penulisan.

Awalnya, Rayu membayangkan hari-hari yang dia lalui bersama Bintang akan terasa membosankan. Ternyata tidak. Setiap hari selalu ada saja kegiatan yang mereka kerjakan. Hal yang pasti mereka lakukan adalah berbagi cerita dan menuliskannya secara bersama. Ribuan hari berlalu dalam hidup Bintang dan Rayu tanpa kehadiran satu sama lain membuat mereka memiliki stok cerita yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas.

Hari ini rumah mereka terasa lebih ramai dari biasanya. Orang tua Rayu dan orang tua Bintang datang berkunjung. Sepertinya setiap akhir pekan rumah Bintang tidak pernah sepi. Kedua orang tua dan keluarga mereka selalu bergantian datang berkunjung.

Tanpa Bintang ketahui, Ferdian ternyata sudah menceritakan kondisi Bintang kepada kedua orang tua mereka. Begitu juga saudara kandung keduanya. Ferdian tidak mau pihak keluarga akan menyesal karena tidak menghabiskan banyak waktu bersama Bintang. Selain itu, keputusan Rayu dan Bintang untuk keluar dari pekerjaan mereka pun tentu menjadi tanda tanya besar bagi kedua keluarga. Sebagai orang terdekat Bintang, Ferdian sedikit terganggu karena terus menerus ditanya mengenai kondisi Bintang.

Akhirnya,dengan berbagai pertimbangan, Ferdian pun menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi. Pihak keluarga pun sepakat bahwa mereka tidak akan memberi tahu Rayu. Biarlah Bintang dan Rayu menikmati kebahagiannya tanpa dihantui perasaan akan kehilangan. Selain itu, keluarga pun berharap akan ada keajaiban yang bisa membuat Bintang sembuh dari sakitnya.

“Bin, tadi kebetulan Bunda membuat brownies. Kamu coba deh. Kata Ray, kamu suka makan brownies.” Bunda memberikan sekotak brownies yang masih hangat kepada Bintang. Tentu saja Bintang menerimanya dengan sukacita.

Mereka berkumpul di ruang makan. Kecuali Ayah dan Papa yang memilih untuk menonton televisi.

Tak lama, Mama muncul dari arah dapur membawa semangkuk besar asinan. Tanpa bertanya lagi, Rayu langsung makan asinan itu dengan lahap. Hal ini tak luput dari perhatian Bunda.

“Ray, sejak kapan kamu suka makan asinan?” Selidik Bunda.

“Loh, memangnya Raya nggak suka asinan ya?” Mama tentu saja kaget mendengar ucapan Bunda. Apalagi dilihatnya Raya makan asinan dengan sangat lahap.

“Setahu saya sih gitu. Tapi ini kok malah makan asinan banyak. Ray, jangan-jangan kamu hamil?” Todong Bunda tanpa basa basi.

“Ih Bunda apaan sih. Rayu nggak hamil kok. Cuma emang sekarang lagi pengen aja makan asinan.” Jawab Rayu.

“Bin... Bin...Coba ke sini dulu.” Mama berteriak memanggil Bintang yang sudah menyusul dengan Ayah dan Papa di ruang TV.

“Ada apa sih Mah? Heboh banget kayaknya.” Bintang terburu-buru menghampiri Mama. Lama sedikit, bisa sakit telinga mendengar teriakan Mama.

“Ini loh Bin, kata Bunda, Rayu ini nggak suka makan asinan. Tapi dari tadi dia makan asinan Mama nggak berhenti. Bunda sama Mama curiga jangan-jangan istrimu ini lagi hamil.” Mama menjelaskan.

“Sayang, beneran kamu nggak ngerasa kalau kamu lagi hamil?” Bintang menatap Rayu penuh harap semoga istrinya itu memang benar hamil.

“Kayaknya aku nggak hamil ah. Kalian terlalu berlebihan.” Rayu berkilah.

“Eh tapi tunggu tunggu, seinget aku sejak kita menikah kamu nggak pernah datang bulan deh.” Bintang mulai mengingat-ingat.

“Serius kamu Bin?” Bunda semakin penasaran.

“Iya Bun. Selama ini hampir tiap malam loh aku sama Rayu melakukan hal yang enak-enak. Seinget Bintang sih Rayu belum datang bulan sejak kami menikah.”

“Biiiiiiiiinnnnnnnn.” Rayu setengah berteriak. Merasa malu dengan apa yang dikatakan Bintang di depan kedua ibu mereka. “Kamu ngapain sih cerita itu sama Mamah dan Bunda? Aku malu tau nggak.” Rayu merajuk.

“Ssssstttt kalian ini. Mama sama Bunda juga pernah muda. Pernah jadi pengantin baru. Pernah berhari-hari nggak mau keluar kamar. Maunya kelonan terus.” Bunda malah menggoda Bintang dan Rayu.

“Bunda juga ngapain ikutan mesum kayak Bintang.” Muka Rayu sudah ditekuk dengan bibir yang manyun.

“Sudah jangan ribut. Lebih baik sekarang kita ke dokter untuk periksa. Mama sudah tidak sabar pengen segera punya cucu. Bin, kamu hebat. Tidak mengecewakan Mama. Feeling Mama sih Rayu memang hamil.”

“Siapa yang hamil Mah?” Papa menghampiri karena dari tadi mendengar ribut-ribut di ruang makan.

“Rayu loh Pah. Kata Bintang, sejak mereka menikah, Rayu belum pernah datang bulan. Ini kan sudah dua bulan. Pasti hamil deh.” Ucapan Mama yang begitu gamblang tentu saja membuat muka Rayu semerah udang. Rayu sudah gelisah menahan malu. Dia menyesal karena tadi menghabiskan asinan yang dibawa Mama.

“Iya nih Pah. Mamah ngajak periksa ke dokter. Katanya nggak sabar pengen tahu kondisi Rayu.” Bintang menimpali.

“Tapi kan sekarang hari minggu. Mana ada dokter yang praktek?” Ucapan Papa langsung saja membuat mereka terduduk lesu. Kecuali Rayu. Akhirnya dia bebas dari introgasi kedua keluarga.

Setelah kedua orang tua mereka pulang, Bintang izin keluar tanpa mengatakan ke mana tujuannya. Bintang penasaran dengan ucapan Mama dan Bunda. Dia memberanikan diri membeli test pack. Tidak tanggung-tanggung, Bintang membeli lima jenis test pack. Dia ingin memastikan secepatnya kalau Rayu benar-benar sedang hamil. Bintang yakin, instuisi Bunda sebagai ibu pasti tidak akan salah.

Sampai di rumah, Bintang langsung menyerahkan semua test pack itu kepada Rayu dan meminta agar Rayu segera mencobanya. Tentu saja Rayu kebingungan karena baru kali ini melihat benda yang dinamakan test pack.

“Bin, ini gimana cara pakainya? Aku nggak ngerti.” Keluh Rayu.

“Waduh Yang, aku juga nggak tahu gimana caranya.”

“Kamu tadi nggak nanya sama penjaga apoteknya?’

“Nggak. Aku tadi mana kepikiran mau nanya. Yang ada di kepalaku itu cepet pulang biar kamu bisa cepet tes.”

“Terus ini bagaimana?”

“Loh kenapa kita berdua jadi bodoh? Di sini sudah jelas loh Yang ada cara pemakaiannya. Kita tinggal mengikuti aja.”

Rayu pun melakukan tes sesuai dengan petunjuk yang ditulisa dalam kemasan. Untunglah tadi dia minum banyak sehingga tidak sulit untuk mengeluarkan urine.

Selama beberapa detik keduanya terdiam. Nyaris tidak melakukan gerakan apapun. Bahkan desah nafas keduanya terdengar sangat jelas. Bintang dan Rayu benar-benar tegang menunggu hasil yang akan mereka lihat.

Tak lama satu test pack menampakkan hasil. Disusul empat test pack berikutnya. Hasilnya? Semua sama. Memberikan hasil kalau Rayu memang positif hamil.

“Bin...” Rayu memandang Bintang dengan mata berkaca-kaca. “Aku hamil Bin. Aku hamil.” Rayu setengah berteriak saking senangnya. Lalu dia menghambur dalam pelukan Bintang.

“Iya Sayang. Kita akan menjadi orang tua. Ini adalah anugerah terindah untuk kita.” Bintang balas mendekap Rayu. Tangis pecah di matanya.

Rayu tidak tahu, tangis Bintang bukan saja tangis bahagia. Tapi sekaligus tangis kesedihan ketika Bintang ingat bahwa mungkin saja dia tidak akan pernah bisa melihat akan mereka lahir. 

***

 



Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!