SIMPANGAN RASA

Mungkin Aku Bisa...

Sejak menghadiri pernikahan Rayu, Bagas hampir tidak pernah lagi menghubungi perempuan itu. berkali-kali Bagas ingin menanyakan kabar tentang Rayu, namun selalu urung dia lakukan. Apalagi Rayu juga tidak pernah sekalipun mengirimkan kabar kepada Bagas.

Di sosial medianya, Rayu juga tidak pernah memposting apapun. Hanya sekali Bagas pernah melihat Rayu menuliskan kalau dia akan lebih fokus menghabiskan hari-harinya berdua sang suami. Tanpa memikirkan pekerjaan dan semacamnya. Tentu saja Bagas enggan bertanya lebih jauh. Dan akhirnya, beginilah mereka. Hilang komunikasi.

Bagas tengah bersiap memanaskan mobilnya. Akhir pekan ini dia harus pulang ke Bogor. Sang Mama sudah mengultimatum akan menyusulnya ke Bandar Lampung jika Bagas tidak segera pulang ke Bogor. Akhirnya Bagas mengalah. Lebih baik dia yang pulang daripada Mamanya yang repot datang.

Sampai di rumah, suasana agak sedikit berbeda. Aroma masakan menguar memenuhi seluruh ruangan. Bagas memang sudah memberi kabar kalau dia akan pulang.

Papanya sedang duduk di ruang keluarga tampak terkejut mengetahui kedatangan anak sulungnya. Lelaki itu segera saja menghampiri Bagas dan merangkulnya erat seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal baru tiga bulan.

“Mamah di mana Pah? Kok tumben Papah di sini sendirian?” Bagas melepaskan pelukan Papanya lalu meletakkan tasnya di sofa. Mata Bagas mengitari seluruh ruangan mencari keberadaan perempuan yang telah melahirkannya itu.

“Mamahmu itu lagi sibuk di dapur sama calon menantunya.” Papa mengerlingkan matanya.

“Hah? Calon menantu? Siapa yang akan menikah?” Seketika Bagas ingat kalau dia anak tunggal. Jika Papa mengatakan calon menantu, itu berarti... Bagas menghentikan pikirannya lalu segera beranjak ke dapur untuk menemui Mamanya.

“Mah, Bagas pulang Mah...” Teriak Bagas sambil berjalan menuju dapur.

Tak lama Mamahnya menghampiri Bagas. Benar kata Papa, ada seorang perempuan yang mengekor Mamanya. Tentu Bagas terkejut. Rencana apa yang sedang dijalanan oleh Mamanya? Bagas mulai menduga-duga banyak hal. Meski dia masih kebingungan, tapi tidak mengurangi rasa bahagianya bisa kembali memeluk perempuan paruh baya yang sangat dicintainya itu.

“Ya ampun Gas, kenapa sekarang kamu kurus begini? Padahal baru tiga bulan kamu tinggal jauh dari Mamah. Aduh Nak, kalau begini caranya bagaimana Mamah tidak mengkhawatirkanmu. Pasti tidak ada yang ngurus makan kamu. Pasti kamu juga terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai melupakan makan dan istirahat. Mamah tahu kamu Gas. Sudahlah, pindah ke Jakarta lagi ya. Setidaknya Jakarta lebih dekat dari Bogor. Kamu bisa pulang setiap hari. Atau kamu langsung pindah ke kantor Papah aja Gas. Kasihan Papahmu masih harus mengurusi perusahaannya sendirian. Kalau kamu di sini kan Papah bisa santai dan bisa setiap hari menemani Mamah. Nggak sibuk terus di kantor.” Bu Endang terus saja berbicara sambil sesekali memeluk tubuh anak kesayangannya.

“Ya ampun Mah, Bagas baru datang sudah langsung mendengar omelan Mamah yang nggak ada jedanya. Mamah nggak capek ngomelin Bagas? Ntar Bagas pergi lagi nih kalau pulang ke sini cuma untuk dimarahin sama Mamah.” Canda Bagas sembari merangkul pundak Mamahnya. Ya, meski Bagas mengatakan tidak suka, tapi selama tinggal di Lampung, Bagas kerap merindukan suara dan omelan Mamahnya.

“Iya Mah, coba ditunda dulu ngomelnya. Kasihan Bagas masih capek loh.” Papah menghampiri mereka yang masih berdiri di lorong menuju dapur. Ketiganya seakan lupa kalau di antara mereka masih ada satu sosok perempuan yang dari tadi selalu memperhatikan interaksi Bagas dengan Mamahnya.

Mendengar suara suaminya, Bu Endang segera menggamit lengan Bagas agar duduk di kursi yang ada di ruang makan.

“Oh iya Gas, sekalian nih kenalin anak teman Mamah. Namanya Rena. Dia cantik kan? Sejak kamu pergi, Rena yang sering main ke sini dan menemani Mamah. Ayo Ren ke sini. Kenalan dulu sama anak Mamah yang ganteng ini. Ganteng kan Ren?” Bu Endang meraih lengan Rena untuk mendekat.

Mamah? Bagas membatin sambil mengernyitkan dahi. Sejak kapan ada orang luar yang memanggi Mamah pada ibunya selain Rayu. Selama ini, hanya Rayu yang memanggil Mamah karena mereka sudah kenal sangat lama dan pernah bertunangan.

“Iya Mah.” Rena menjawab malu-malu.

“Gas, kenalan dulu sana. Atau kamu terpesona oleh kecantikan Rena?” Goda Bu Endang.

Rena semakin terlihat malu-malu. Sedangkan Bagas menatapnya dengan datar. Rena memang cantik. Tapi sedikitpun hati Bagas tidak merasa terusik apalagi bergetar dengan kehadirannya. Bagas berdiri dan menghampiri Rena. Hanya untuk menjaga sikap sopan santun. Dia tidak mau Mamahnya kembali ngomel dan mengatakan kalau dia bukan anak yang baik. Apalagi jika ditambahi iming-iming dia harus kembali dan tinggal di rumah ini.

Bagas bukannya tidak tahu maksud Mamahnya. Namun Bagas memilih untuk pura-pura tidak tahu. Sejak putus hubungan dengan Rayu dan pindah ke Bandar Lampung, Bu Endang selalu saja bertanya kapan Bagas akan mengenalkan pacarnya.

Bagi Bagas, mencari pacar tidaklah sulit. Tapi bukan pacar yang Bagas cari, melainkan istri. Bagas sudah tidak mau jika harus berlama-lama lagi pacaran. Sedikit banyak, hatinya masih trauma dengan kandasnya hubungan dia dengan Rayu. Padahal Bagas sudah sabar menjalaninya lebih dari 10 tahun.

“Kenalkan, aku Bagas.” Bagas mengulurkan tangan. Dia laki-laki. Sudah sepantasnya dia yang memiliki inisiatif. Bagas tidak mau membuat Rena malu di pertemuan pertama mereka. Apalagi di sana ada orang tua Bagas.

“Rena. Renata Maharani.” Rena menyebutkan nama lengkapnya sambil menerima uluran tangan Bagas. jujur saja, Rena setuju dengan ucapan Bu Endang. Bagas memang menarik. Kulit coklatnya tampak eksotik dan memperlihatkan kalau dia memang laki-laki. Belum lagi tubuh tegap Bagas yang terlihat sangat kokoh. Rena sudah merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.

Setelah itu, mereka kembali duduk sambil menikmati masakan yang sudah disiapkan Bu Endang dan Rena. Meski sebenarnya kehadiran Rena di sana tidak lebih dari sekedar menemani Bu Endang ngobrol. Rena tidak mengerti apa-apa jika tang masakan. Selama ini dia memang tidak pernah turun ke dapur karena ada pembantu yang melakukan tugas itu di rumahnya.

“Gas, Rena ini anak teman arisan Mamah loh. Mamah sudah lumayan lama mengenal ibunya Rena. Tapi baru beberapa bulan ini Mamah kenal Rena. Karena sebelumnya Rena kuliah di Australia. Mamah pikir, kalian akan menjadi pasangan yang serasi kalau berjodoh.” Bagas langsung tersedak mendengar ucapan Bu Endang yang to the point tanpa tedeng aling-aling.

“Mah, sudahlah. Bagas baru saja datang. Mamah sudah ngomong kemana-mana. Biarkan Bagas istirahat dulu Mah. Toh kita masih punya banyak waktu sama Bagas.” Papa menengahi.

 Bagas menghentikan suapannya. Selera makannya tiba-tiba saja hilang. Mungkin Bagas bisa menerima Rena sebagai teman. Tapi sebagai calon istri? Mungkinkah Bagas bisa menerima?

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!