SIMPANGAN RASA
Karena Dia Jodohmu
Rayu sedang sibuk menyuapi Bintang ketika gawainya berbunyi. Dering pertama dan kedua Rayu abaikan. Dia lebih memilih fokus untuk mengurus Bintang. Sudah seminggu Bintang di rumah sakit, namun belum ada tanda-tanda diperbolehkan pulang. Padahal Rayu melihat kondisi Bintang sudah mulai stabil. Dokter pun hanya mengatakan semuanya baik-baik saja. Dering ketiga dari gawainya membuat Rayu mau tidak mau beranjak untuk melihat siapa yang menghubunginya.
“Siapa?” Tanya Bintang
“Bagas.” Rayu menjawab singkat ketika dilihatnya Bagas melakuka panggilan video.
“Angkat saja. Kasihan mungkin ada hal yang penting.”
“Tapi kamu belum selasai makan.” Kilah Rayu.
“Kan kamu bisa terima panggilan Bagas sambil menyuapi aku. Nanti aku yang pegang deh handphonenya.” Kekeh Bintang membuat Rayu mendelik.
“Giliran pegang HP bisa, tapi makan malah nggak bisa dan cerewet minta disuapi.”
“Itu kan beda Yang. Kalau kamu suapi aku, rasa masakannya jadi jauh lebih enak.”
“Halah gombal. Halo Gas...” Rayu akhirnya menerima panggilan Bagas lalu melambaikan tangan ketika dia sudah melihat wajah Bagas.
“Hai Ray, ini kamu di rumah sakit ya? Siapa yang sakit?” Tanya Bagas panik.
“Bukan aku Gas. Tapi Bintang. Nih orangnya.” Rayu memindahkan layar ke wajah Bintang.
“Bin, kamu kenapa?”
“Biasa lah Gas. Aku lagi pengen liburan penuh sama istriku ini. Maunya sih di hotel atau bulan madu keliling Eropa. Eh, malah terdampar di sini.” Canda Bintang.
“Rayu gimana? Baik-baik aja kan?”
“Wah luar biasa kamu Gas. Malah mengkhawatirkan istri orang di depan hidung suaminya. Bukannya kamu menanyakan kabar aku, malah kabar Rayu. Ini sih namanya ngajak ribut Gas.” Bintang mendelik menatap Bagas.
“Hahahahaha... Kabar kamu nggak penting Bin. Lagian juga ada Rayu tuh yang urus kamu. Dia pasti full service kan? Sedangkan Rayu? Siapa yang ngurus dan perhatian sama dia? Hmmmm sepertinya aku harus pulang ke sana deh Bin. Biar ada yang jaga Rayu.” Bagas semakin menggoda Bintang.
“Cari mati kalau kamu berani ke sini. Sudahlah, kalau mau membahas Rayu, lebih baik aku matikan teleponnya.” Ancam Bintang.
“Bin, apaan sih? Nggak sopan itu. Tadi kamu yang nyuruh aku angkat telepon Bagas, sekarang malah kamu yang marah-marah.” Sela Rayu.
“Dia cari ribut Yang. Kamu dengar kan tadi apa yang dia bilang? Aku di depannya aja dia berani ngomong gitu.” Bintang memberengut.
“Sudah sudah. Kalian kenapa sih kayak anak kecil gitu. Gas, kamu apa kabar di sana? Sehat-sehat aja kan? Kok kamu sepertinya kurusan Gas?” Rayu mengalihka obrolan kepada Bagas.
“Aku baik Ray. Kalau kurusan sih ya mungkin aku sedang penyesuaian aja. Biasanya kan kalau di sana ada yang ngurusin aku makan, di sini nggak ada.”
“Gas, aku cemburu.” Teriak Bintang.
“Santai bro... Maksud aku, kalau di sana kan ibuku. Ada pembantu juga yang siap setiap saat ngurusin aku. Kamu bawaannya marah terus. Kenapa sih Bin? Belum dikasih jatah sama Rayu ya?”
“Apaan sih Gas?” Muka Rayu mulai bersemu merah.
“Bin, udah jangan marah-marah. Aku menghubungi Rayu karena ingin mengabarkan bulan depan aku mau nikah.”
“Hah? Kamu mau nikah? Serius Gas? Sama siapa? Kok aku ngga tahu? Kamu jahat ih nggak pernah cerita ke aku.” Rentetan pertanyaan Rayu tentu saja membuat Bagas gelagapan sendiri.
“Aku senang dengarnya. Jadi aku nggak khawatir lagi jika nanti kamu dan Rayu bertemu.” Timpal Bintang dengan tersenyum.
“Ray, satu-satu dong kalau mau tanya. Aku jawab yang mana dulu nih?” Bagas mengabaikan ucapan Bintang.
“Terserah mau jawab yang mana duluan. Tapi harus dijawab semuanya.”
“Beberapa minggu lalu aku pulang karena ibu suri memaksa agar aku pulang. Kamu tahu sendiri Ray gimana kalau ibu suri sudah ada maunya. Singkatnya, pas aku pulang itulah aku dikenalkan sama anak temannya ibu suri. Namanya Rena. Baru lulus kuliah di Australia. Anaknya sih cantik dan baik. Tadinya aku pikir, kita akan pendekatan dulu, pacaran dulu. Pokoknya proses saling mengenal gitu deh. Tapi ya aku tidak bisa menolak titah ibu suri. Beliau ingin aku segera menikah. Ya sudah aku terima saja. Toh di umurku yang sekarang ini rasanya memang sudah tidak pantas lagi ribet-ribet pacaran. Takut nyesel kayak kemarin. Lama jagain jodoh orang. Hahaha.” Bagas tergelak mengingat bagaimana dia berjuang mendekati Rayu namun akhirnya harus menyerah.
“Itu namanya jodoh Gas. Ngomong-ngomong, aku kan sudah bilang terima kasih sama kamu. Kenapa harus kamu ungkit terus?” Bintang melotot ke arah Bagas.
“Kalem bro kalem. Kenapa sih kamu tegangan tinggi terus begitu? Aku juga nggak akan ngerebut Rayu kok. Kalau niat ngambil Rayu dari dulu, aku bisa aja tetap ikut rencana dan jadwal pernikahan kami. Nggak usah mikirin kamu.” Kekeh Bagas.
“Gas, bagaimanapun caranya kamu bertemu Rena, aku ikut seneng Gas. Aku bahagia akhirnya kamu akan menikah. Semoga dia jodoh terbaik kamu Gas. Pokoknya aku seneng banget. Bahagia selalu ya Gas.” Rayu berkaca-kaca karena saking bahagianya.
“Terima kasih Ray. Kamu juga harus kuat ya sama bayi gede di samping kamu itu. Semoga Bintang segera sembuh. Aku mau kamu dan Bintang nanti datang di pernikahanku.”
“Enak aja aku dibilang bayi gede.” Bintang mulai geram. “Asal kamu tahu, bayi gede yang kamu bilang ini sudah mau punya bayi Gas.” Sambungnya.
“Oh ya? Ray, kamu hamil?” Bagas nyari berteriak.
“Iya Gas. Doakan ya semoga kehamilan ini baik-baik saja. Lancar sampai lahiran.” Rayu tersenyum malu.
“Bin, makanya kamu harus cepat sembuh. Kasihan Rayu. Masa iya ibu hamil harus tinggal di rumah sakit terus. Kamu benar-benar payah Bin. Apa perlu aku angkut Rayu ke sini supaya bisa nyaman istirahat.” Bagas mulai lagi menggoda Bintang.
“Gas, kayaknya beneran aku harus membuat perhitungan sama kamu yang udah berani ganggu Rayu. Awas kalau kamu pulang nanti, aku janji bakal habisin kamu.”
“Hahahaha. Coba aja Bin kalau kamu bisa. Aku tunggu.” Bagas semakin antusias.
“Gas, salam ya untuk Rena. Kapan-kapan aku mau dong dikenalin sama calon istri kamu itu.” Ucap Rayu tulus.
“Oke. Ray, udah dulu ya. Itu bayi gede kamu kayaknya udah nggak bisa dijinakkan lagi. Cepet sembuh Bin. Kamu juga Ray, jangan terlalu lelah. Jaga kesehatan.”
Bagas menutup sambungan telepon lalu menghempasan tubuhnya di kursi dengan kasar. Meski dia sudah berusaha untuk ikhlas dan menerima semuanya, namun tetap saja sakit itu masih sangat terasa. Melihat pijar bahagia di mata Bintang dan Rayu membuat Bagas harus menerima keputusan yang dia buat. Mungkin benar, Rena adalah jodohnya. Rayu adalah cinta yang tak pernah padam.
***