SIMPANGAN RASA

Tetaplah Menjadi Bintang

Bintang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kini dia dan Rayu bisa kembali menikmati kebersamaan mereka di rumah. Tanpa ada yang mengganggu. Usia kehamilan Rayu sudah memasuki bulan ke enam. Tentu saja Bintang semakin protektif menjaganya. Rayu tidak boleh melakukan aktivitas yang memberatkan sama sekali. Bahkan untuk olahraga ibu hamil pun Bintang mendatangkan trainer pribadi ke rumahnya. Dia tidak mau Rayu harus lelah keluar.

Seringkali Rayu risih dengan perlakuan Bintang yang menurutnya sangat berlebihan. Namun tiap kali Rayu membantah, Bintang selalu punya jawaban yang membuat Rayu langsung diam dan hanya bisa menuruti semua kemauan suaminya itu.

Rayu mungkin tidak tahu bagaimana perasaan Bintang saat ini. Ya, Bintang melakukan semuanya karena dia tahu tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menemani Rayu. Terakhir kali di rumah sakit, dokter mengatakan jika Bintang tidak mau mencoba berobat ke Singapura, maka harapannya untuk dapat bertahan hanya hitungan bulan.

Alih-alih berobat ke Singapura, Bintang malah memilih tetap menerima perawatan dari dokternya di Indonesia dan tetap melewatkan hari-harinya bersama Rayu serta seluruh keluarga. Jika besok atau lusa dia harus benar-benar pergi, Bintang ingin meninggalkan semua cerita indah yang akan dikenang oleh orang terdekatnya. Tak perlu ada tangis berlebihan atau duka berkepanjangan.

Ferdian sudah memastikan kalau semua urusan aset-aset Bintang telah selesai. Untuk sementara, perusahaan Bintang tetap dipegang oleh Ferdian. Setiap bulan, Rayu akan mendapatkan tunjangan untuknya dan anak mereka. Ingatan Bintang melayang pada obrolannya dengan Ferdian saat kakaknya itu menjenguknya di rumah sakit. Tentu saja tanpa sepengetahuan Rayu yang diminta oleh Bintang membeli sandwich.

“Aku percayakan mereka berdua di tanganmu Mas. Pastikan mereka hidup layak dan anakku kelak bisa bersekolah dengan baik.” Bintang memohon pada Ferdian.

“Tenanglah. Tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya. Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa anakmu adalah anakku juga Bin. Darahku ikut mengalir di tubuhnya. Kamu tidak perlu risau tentang itu.” Ferdian menegaskan.

“Mas, aku juga titip Rayu. Jangan biarkan dia sedih berlarut. Jika ada lelaki lain yang nanti bisa membuatnya bahagia, tolong izinkan dia untuk bahagia. Tapi Mas Ferdi harus memastikan lelaki itu memang mencintai Rayu.”

“Bin, kamu gila ya. Masmu ini nggak mungkin ikut campur terlalu jauh dalam hubungan pribadi Rayu. Mas tidak punya hak apa-apa terhadap hidupnya Rayu. Kalau tentang calon anakmu, Mas masih bisa terlibat dengannya seumur hidup Mas. Tapi Rayu? Mas hanya bisa memantau dari jauh. Bagaimanapun dia adalah ibu dari anakmu. Maka Mas juga harus menjamin ibu dari anakmu itu hidupnya baik-baik saja.”

“Aku tetap masih belum tenang Mas.”

“Bin, kamu sudah berusaha semampumu. Sudah melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan. Ingat Bin, masih ada Allah yang lebih mampu menjaga Rayu dan calon anakmu. Semua yang kamu dan aku kerjakan ini hanya sebagian kecil dari upaya kita untuk masa depan mereka. Selebihnya biarkan tangan Tuhan dan semesta yang bekerja Bin. Jangan terlalu jauh berpikir tentang segala sesuatu yang belum terjadi. Lebih baik kamu fokus pada kesehatanmu. Segera pulang. Apa kamu tidak kasihan melihat Rayu yang sedang hamil itu harus menginap di rumah sakit dan menjagamu siang malam?”

“Iya Mas, terima kasih sudah mengingatkan dan memberi kekuatan padaku.”

“Itulah gunanya saudara Bin.”

Lamunan Bintang buyar ketika Rayu menghampirinya sambil membawa sepiring mangga kesukaan Bintang. Tanpa berkedip, Bintang terus saja menatap wajah Rayu.

“Kamu kenapa Bin?” Rayu merasa jengah terus menerus ditatap oleh Bintang.

“Kenapa apanya?” Bintang malah balik bertanya.

“Itu mata kamu. Ngeliatin aku segitunya. Ngeri ih Bin. Kamu kayak mau makan aku.”

“Kalau boleh, aku memang ingin memakanmu supaya kamu nggak pergi dari aku.”

“Bin, ngaco deh kamu. Memangnya siapa yang bisa pergi dari kamu? Aku keluar kamar aja kamu ikut.” Rayu membayangkan repotnya dia karena melangkah kemana pun selalu diikuti oleh Bintang.

“Ray, boleh aku tanya sesuatu?”

“Tanya aja. Biasanya juga kamu langsung tanya. Nggak pakai basa basi. Bukan kamu banget deh kalau harus izin dulu begini.” Rayu meledek.

“Ray, kamu pernah nggak sedikit saja menyesal karena sudah menikah denganku?”

“Bin, itu pertanyaan paling konyol yang pernah aku dengar. Ingat ya Tuan Bintang Angkasa, menikah dengan kamu itu jadi salah satu keputusan paling benar yang aku pilih.” Rayu menangkup kedua pipi Bintang dengan tangannya.

“Tapi kan kondisiku sakit Ray. Bahkan mungkin bisa saja aku tiba-tiba meninggalkanmu untuk selamanya.”

“Bukankah kita sudah membahas ini sebelum kita menikah? Sudahlah Bin, aku yakin kok Allah akan memberikan kesembuhan itu. Kita bisa mengurus dan membesarkan anak kita bersama-sama. Mau bagaimanapun kondisi kamu, bagiku kamu tetap Bintang Angkasa. Cinta pertamaku dan orang yang sejak dulu ingin aku jadikan sebagai suami.”

“Ray, terima kasih ya. Sekali lagi terima kasih telah mencintaiku tanpa syarat. Mau menerima kondisiku apa adanya.” Bintang memeluk Rayu. Tubuhnya sedikit bergetar menahan haru.

Ada banyak kata yang masih ingin Bintang katakan. Namun dia tak sanggup. Apalagi jika harus mengatakan kondisi tubuhnya yang sebenarnya.

Sayangnya, Bintang lupa kalau perempuan yang ini menjadi istrinya itu tidak sebodoh atau sepolos dugaannya. Rayu berusaha mencari informasi sedetail mungkin saat Bintang di rumah sakit.

Rayu akhirnya tahu kalau tubuh Bintang tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Alih-alih menangis dan membuat Bintang mengjhawatirkannya, Rayu memilih mengabaikan semua informasi yang diperolehnya dari dokter yang merawat Bintang.

Jika memang waktu yang dimiliki oleh Bintang sesingkat itu, maka Rayu akan menemani Bintang melewati setiap detik hidupnya. Itulah tekad Rayu. Dibuangnya jauh-jauh air mata yang hanya akan membuatnya semakin bersedih.

Rayu akan tetap ceria terutama di depan Bintang. Rayu ingin hari-hari terakhir Bintang hanya merekam senyum dan tawa bahagia mereka. Seperti yang Rayu katakan kepada Bintang, tidak ada sedikitpun penyesalan karena telah menerima Bintang sebagai suaminya.

Jika ada hal yang membuat Rayu sedih, itu adalah sikap tertutup Bintang tentang kondisinya. Meski Rayu tahu, Bintang melakukan itu karena sangat ingin menjaga perasaannya. Tidak mau membuat Rayu terluka atau bersedih. Rayu pun hanya bisa mengikuti keinginan Bintang. Pura-pura tidak tahu dan menganggap semua baik-baik saja. Apalagi ada Bintang junior yang kini sedang tumbuh di rahimnya. Rayu akan menjaga kehamilannya dengan baik. Karena hanya calon anak merekalah yang akan menjadi tali penghubung Rayu dan Bintang selamanya.

“Bin, sudah malam. Pindah ke kamar yuk.” Ajak Rayu ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.

“Ah, waktu. Kenapa sih waktu tidak mau berhenti saja untuk beberapa saat?” Keluh Bintang yang hanya ditanggapi senyum oleh Rayu. 

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!