SIMPANGAN RASA

Maaf, Aku Tidak Mencintaimu

Pernikahan Bagas dan Rena berlangsung meriah. Bagas tetap memenuhi janjinya untuk menikahi Rena. Bagaimanapun, undangan sudah disebar dan semua persiapan sudah rampung. Bagas tidak ingin membuat malu dua keluarga hanya karena keputusannya yang egois. Bagas sadar, ada banyak sekali masalah yang hanya bisa dia biarkan tanpa harus dipaksa untuk menyelesaikan. Takdirnya dengan Rayu memang bukan harus bersatu. Sekeras apapun Bagas ingin mengejar Rayu, ada jurang yang menganga di depan mereka.

Saat ini dia sudah sah menjadi suami Rena. Bagas sepenuhnya bertanggung jawab pada hidup Rena. Bagas berjanji akan berusaha keras menjadi suami yang baik meski hingga detik ini tidak ada cinta sama sekali di dalam hati Bagas kepada Rena.

Tentang Rayu, Bagas memilih untuk mencintainya dalam diam. Sama seperti dulu. Menjadi pelindung Rayu dengan doa-doanya. Allah pasti punya rencana lain untuk membuat Rayu bahagia lagi.

Akad dan resepsi yang cukup melelahkan telah usai. Seluruh tamu undangan sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanya kedua mempelai dan keluarga. Mereka sengaja menginap di hotel mewah ini agar tidak repot bolak balik ke rumah.

Bagas dan Rena sudah ada di kamar mereka. Semerbak bunga menyapa penciuman begitu mereka masuk kamar. Kamar pengantin yang romantis. Meski begitu, tetap saja tidak membuat hati Bagas bahagia. Pikirannya masih tertuju pada Rayu.

Rena memeluk Bagas. Perempuan itu memang terlihat sangat bahagia bisa menikah dengan Bagas. Ya, Rena sudah sangat ingin menjadi Nyonya Bagas sejak pertama kali mereka bertemu. Rena sampai memutuskan Dion kekasihnya karena ingin memiliki Bagas.

Bagas hanya diam membiarkan Rena memeluk dan menciumnya. Lelaki itu memejamkan mata. Ingin melepaskan bayangan Rayu dan menikmati malam pertamanya dengan Rena.

Setelah beberapa saat, tangan Bagas mulai memberikan respons. Dia menyentuh beberapa bagian tubuh Rena yang sudah sangat bergairah.

Entah siapa yang memulai, keduanya kini sudah sama-sama polos. Desahan berkali-kali keluar dari bibir Rena saat menerima sentuhan demi sentuhan tangan Bagas.

“Dioonnn... ah iya begitu... Ini nikmat Dion...” Ceracau Rena yang sukses membuat Bagas seketika menghentikan ativitasnya.

Bagas menatap tajam mata Rena. Setelah itu Bagas berdiri dan mengambil pakaiannya serta pakaian Rena. Lalu Bagas duduk di samping ranjang sambil melanjutkan tatapan tajamnya kepada Rena.

“Siapa Dion?” Tanya Bagas menusuk.

“Aku... aku...” Rena gugup dan tidak mampu menjawab. Alih alih memakai baju yang diberikan Bagas, Rena malah meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Sekali lagi aku tanya, siapa Dion?” Suara Bagas mulai terlihat gusar.

“Bukan siapa-siapa.” Jawab Rena lirih.

“Tidak mungkin dia bukan siapa-siapa. Kamu menyebutkan nama laki-laki selain suamimu di puncak gairahmu, apakah itu biasa saja?” Bagas mulai meninggikan suaranya.

“Gas, aku tidak sengaja. Sungguh aku dan Dion sudah tidak ada hubungan apa-apa.” Rena mencoba meraih lengan Bagas namun ditepis oleh lekaki itu.

“Apa? Sudah tidak ada hubungan apa-apa? Berarti sebelumnya kalian memiliki hubungan? Sejauh mana hubungan kalian sampai-sampai kamu menyebutkan namanya ketika akan bercinta denganku?” Kilat kemarahan terpancar dari mata Bagas.

“Apa maksudmu?” Rena malah balik bertanya.

“Jawab sejujurnya Ren, apa benar aku laki-laki pertama yang akan memasuki tubuhmu? Atau aku hanya lelaki kesekian?” Kali ini, Bagas sudah kehilangan kelembutan dan kesabaran. Perasaan dibohongi begitu kuat menguasai hati Bagas dan membakar amarahnya.

“Maafkan aku Gas, maafkan aku.” Rena mulai terisak.

Cukup sudah. Meski tidak secara gamblangan mengatakan iya, jawaban Rena sudah sangat cukup bagi Bagas.

Bagas berlalu menuju kamar mandi. Saat ini dia sangat ingin mendinginkan kepalanya. Hasrat dan gairahnya sudah tidak tersisa sama sekali. Bahkan jika Rena merayu dan menyuguhkan tubuh polosnya lagi, Bagas yakin dia sudah tidak akan tergoda sama sekali.

Aaahhhh kenapa harus seperti ini? Bagas menggeram di bawah guyuran air shower. Perlahan bulir air mata menetes. Bagas bukan menangisi hatinya yang patah. Bagas mengeluarkan air mata untuk rasa sesalnya karena tidak mengikuti kata hati.

Setelah mendengan kabar tentang Bintang dan Rayu kemarin, kata hati Bagas menuntunnya untuk membatalkan pernikahan dan menyusul Rayu. Namun, uruang dia lakukan dengan pertimbangan tidak mau membuat malu keluarga dan tidak mau merasa bersalah kepada Rena. Bagas bisa membayangkan rasanya bagaimana jika pernikahan yang sudah di depan mata harus dibatalkan. Pasti menyakitkan. Lebih sakit dari sekedar membatalkan pertunangan. Bagas tidak mau Rena mengalami hal itu. Bagas masih meyakini kalau Rena adalah perempuan baik-baik yang sangat tidak layak untuk menerima perlakuan menyakitkan.

Tapi apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan Bagas. Rena malah menyebut nama lelaki lain di ujung gairahnya saat akan bercinta dengan Bagas. Sejauh itukah hubungan Rena dan Dion? Apakah hanya Dion saja atau masih ada lelaki lain yang sudah sangat menikmati tubuh Rena? Pertanyaan itu berseliweran memenuhi benak Bagas.

Sebenarnya Bagas bukan lelaki kolot yang sangat menuntut keperawanan dari perempuan yang dinikahinya. Meski Bagas sendiri masih perjaka dan sangat menjaganya karena dia berniat memberikannya hanya pada istrinya kelak. Bagas bisa menerima keadaan Rena andai sejak awal Rena jujur mengatakan semuanya dan tidak menyebutkan nama laki-laki lain ketika mereka sedang bercinta.

Sudah setengah jam. Bagas merasa kepalanya sudah cukup dingin untuk kembali menghadapi Rena. Dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap lalu menghampiri ranjang.

“Sudah malam. Tidurlah. Besok kita bicarakan lagi tentang kita.” Titah Bagas.

“Gas, maafkan aku.” Rena mencoba memeluk Bagas. Dia sangat tidak ingin kehilangan Bagas. Dion bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Bagas. Rena tidak mau berbuat bodoh melepaskan Bagas begitu saja.

“Jika kamu tidak sabar menunggu sampai besok, baiklah. Kita selesaikan malam ini. Aku tidak akan menceraikanmu saat ini juga karena itu akan membuat malu dan sedih keluarga kita. Aku akan memberikan waktu satu tahun untuk kita berdua. Selama itu, biarlah waktu yang akan memberikan jawaban. Tapi selama itu pula, aku tidak bisa berjanji akan memberikan nafkah batin padamu. Aku masih belum bisa. Kebutuhanmu menjadi tanggungjawabku sepenuhnya.” Bagas jeda sejenak.

“Cutiku masih seminggu sebelum aku kembali ke Lampung. Terserah kamu mau ikut denganku atau tidak. Tapi besok aku akan ke luar kota. Ada hal yang sangat penting harus segera aku urus. Kamu punya waktu satu minggu untuk memikirkan apakah mau ikut denganku ke Lampung atau tetap tinggal di Bogor. Aku tidak akan protes apapun keputusanmu. Oh ya, aku tidak akan membicarakan lagi hubunganmu dengan lelaki manapun selama kamu juga tidak mencampuri urusan pribadiku. Jangan berani mengarang cerita apapun kepada keluargaku. Kalau kamu melakukan itu, aku tidak akan segan menceraikanmu hari itu juga dan mengatakan yang sebenarnya alasan kenapa aku tidak bisa menerimamu.” Pungkas Bagas dengan tegas.

Bagas memejamkan mata mencoba untuk tidur. Sedangkan Rena hanya mampu diam tanpa bisa menjawab sepatah kata pun semua ucapan Bagas.       

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!