SIMPANGAN RASA
Kenalkan, Aku Sharena
Setelah meminta orang untuk menyelidiki di mana Rayu berada, kini Rena menyusun rencana untuk bisa bertemu dengan Rayu. Rena sadar, sebenarnya dia tidak punya kepentingan apapun tehadap Rayu. Tapi entah mengapa, Rena merasa terusik dengan kehadiran Rayu meski itu hanya masa lalu bagi Bagas.
“Dia sudah punya anak, Mbak. Umurnya sekitar 5 bulan.” Orang kepercayaannya melaporkan.
“Apakah Bagas pernah menemuinya?” Kejar Rena penasaran.
“Tidak. Saya sudah tanya semua orang di sekitar rumahnya. Mereka tidak pernah melihat ada lelaki yang mengunjungi Mbak Rayu selain Ferdian. Saya sudah menyelidiki, Ferdian ini kakaknya almarhum Bintang. Suaminya Rayu.”
“Jadi, suami Rayu sudah meninggal?” Kabar itu sangat mengejutkan Rena.
“Sudah lama Mbak. Sebelum anak mereka lahir, Bintang sudah meninggal.”
“Rayu tinggal di sana sama siapa?”
“Ada perempuan paruh baya yang ikut tinggal di sana. Sepertinya mereka sudah lama saling mengenal.”
“Rayu kerja di mana?”
“Sepertinya tidak bekerja. Selama saya di sana, tidak pernah melihat Mbak Rayu keluar dari rumahnya.”
“Baiklah. Terima kasih informasinya. Nanti saya hubungi lagi kalau saya memerlukan bantuan lain.”
Rena termenung. Rayu hidup di Cipari, satu desa yang cukup jauh dari Jakarta. Mungkin sekitar 5 atau 6 perjalanan untuk sampai di sana. Jika Rayu tidak bekerja, dari mana dia mendapatkan biaya untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya? Apa mungkin ada andil Bagas? Berbagai pikiran mulai berkecamuk di benak Rena. Semakin banyak dia menduga, semakin banyak pula kemungkinan kalau Bagas dan Rayu masih berhubungan walaupun tidak pernah bertemu.
Mungkin benar Rena belum sepenuhnya bisa mencintai Bagas karena kehadiran Dion. Tapi sebagai perempuan, ego Rena terusik ketika menyaksikan Bagas sama sekali tidak pernah melihat ke arahnya. Meskipun mereka sudah hampir lima bulan mengarungi biduk rumah tangga, sikap Bagas tetap saja dingin.
Sebulan sekali Bagas pulang ke Jakarta dan memilih tinggal di apartemennya sendiri. Lelaki itu hanya mengirimkan pesan kepada Rena kalau dia sedang di Jakarta tanpa pernah meminta Rena untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Setiap kali Bagas datang, Rena selalu berusaha untuk menemaninya. Bahkan Rena sampai mengambil kursus masak hanya untuk menyenangkan hati Bagas. Tapi lelaki itu tetap saja dingin padanya. Bagas malah tidur di sofa ruang tamu daripada bersama Rena di ranjang besar yang sudah tersedia.
Berbagai cara Rena lakukan untuk memikat Bagas. Mulai dari memakai pakaian seksi sampai menyentuh beberapa bagian tubuh Bagas. Hasilnya tetap saja nihil. Bagas masih sedingin es. Tidak ada tanda-tanda akan mencair. Rena merasa seperti seorang pelacur yang tidak diinginkan. Mungkin lebih murah dari pelacur.
Bagas bertahan begitu kuat. Inilah yang menjadi salah satu alasan akhirnya Rena kembali jatuh ke pelukan Dion. Ya, Rena bertemu Dion untuk memuaskan hasratnya yang tidak pernah dipenuhi oleh Bagas. Tentu saja mereka melakukannya diam-diam. Rena masih menginginkan menjadi istri sah Bagas. Sampai hari ini, Dion tidak pernah membahas tentang pernikahan. Mungkin benar jika Rena hanya dijadikan pelampiasan nafsunya saja.
Setelah memastikan urusan butiknya bisa dipegang oleh asistennya, Rena keluar dari butik menuju rumahnya. Meski tidak menemukan alasan yang tepat kenapa harus bertemu dengan Rayu, hati Rena mantap untuk berangkat ke Cipari. Melihat langsung seperti apa sosok yang sangat dipuja oleh suaminya itu.
***
Rena memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa, dia tidak terlalu suka jika harus melewati Tol Cipali ini. Menurut Rena, jalur ini terasa sangat membosankan dan gersang. Tidak ada pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Berbeda jika menempuh Tol Cipularang yang masih banyak pemandangan indah di sekelilingnya.
Tidak sampai empat jam Rena sudah masuk ke daerah Cirebon. Karena lelah, Rena memilih untuk istirahat dan makan dulu. Pilihannya jatuh pada nasi jamlang. Masakan khas Cirebon yang begitu menggugah selera. Ada banyak sekali pilihan menu yang ditawarkan. Nasi jamlang dibungkus dengan daun jati sehingga mengeluarkan aroma yang sangat khas. Porsinya yang tidak terlalu banyak juga menjadi pertimbangan Rena.
Puas menikmati nasi jamlang, Rena melanjutkan perjalanannya menuju Kuningan. Ya, Desa Cipari tempat Rayu tinggal saat ini memang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kuningan. Rena sengaja tidak mengambil jalur tol. Dia memilih lewat Linggarjati. Sekalian menikmati pemandangan alam yang sangat luar biasa.
Setelah hampir satu jam, kini Rena tiba di Cipari. Sesaat dia bingung bagaimana caranya menemui Rayu. Rasanya akan aneh kalau Rena tiba-tiba datang dan memperkenalkan diri sebagai istri Bagas.
Akhirnya dia memilih mencari rumah Rayu terlebih dahulu sesuai alamat yang sudah diberikan oleh orang kepercayaannya.
Rena memarkirkan mobilnya sedikit menjauh dari rumah minimalis bercat hijau yang diyakininya sebagai Rumah Rayu. Rumah tanpa pagar itu ditumbuhi banyak sekali bunga. Ada dua buah pohon mangga yang sepertinya belum lama ditanam.
Tak lama Rena melihat seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam rumah menuju mobil yang terparkir di halaman.
Sepertinya dia akan keluar. Batin Rena.
Benar saja, setelah lelaki paruh baya itu menghidupkan mesin mobil, Rena melihat seorang perempuan yang sepertinya seumur dengan dia keluar dari dalam rumah sambil menggendong bayi gembul yang terlihat menggemaskan.
Mobil merah itu perlahan menjauh meninggalkan rumah. Rena segera menghidupkan mobilnya dan mengikuti mobil Rayu. Rena memilih untuk mengikuti Rayu, meski masih belum tahu bagaimana caranya bicara dengan Rayu.
Ternyata Rayu menuju sebuah pusat perbelanjaan. Rena ikut memarkirkan mobilnya. Kini dia punya gambaran untuk menyapa Rayu terlebih dahulu. Rena mengambil keranjang belanja. Dia juga membutuhkan beberapa cemilan untuk mengganjal perutnya.
Rena berjalan menyusuri lorong-lorong pusat perbelanjaan itu dengan sesantai mungkin. Dia tidak mau terlihat sedang memperhatikan atau mengikuti Rayu. Perlahan Rena mendekati posisi Rayu yang sedang berdiri di area perlengkapan bayi. Rena berusaha menarik perhatian bayi yang sedang digendong Rayu. Kebetulan posisi kepala bayi itu menghadap ke arah Rena.
“Hai anak ganteng.” Rena menyapa ramah sambil menjawil pipi gembil bayi itu yang kini tertawa.
“Eh, hai tante.” Rayu membalikkan badan menjawab sapaan Rena.
“Anak ganteng ini siapa namanya?” Rena benar-benar terpesona melihat bening mata bayi yang ada dalam gendongan Rayu.
“Nama aku Nugi, Tante. Nama tante siapa?” Rayu meraih tangan Nugi dan mengulurkannya ke arah Rena untuk bersalaman.
“Hai Nugi, nama tante Sharena. Nugi bisa panggil Tante Sharen. Ini anak pertama ya, Mbak?” Rena bertanya kepada Rayu.
“Panggil aja Rayu, Mbak. Iya, ini anak pertama saya.”
“Kalau begitu, panggil saya Sharen aja. Nggak usah pakai mbak segala.” Rena mengulurkan tangannya kepada Rayu.
“Oke deh kalau gitu. Sendirian aja belanjanya?”
“Iya. Aku sendiri. Kebetulan aku mau cari makan, jadi sekalian belanja deh. Eh, gimana kalau habis ini kita makan bareng. Tempat makan di depan kayaknya enak tuh.” Rena menunjuk ke arah cafe di seberang pusat perbelanjaan.
“Boleh. Aku selesaikan belanja dulu ya.”
***