SIMPANGAN RASA
Siapa Lelaki Itu?
Gimana Gas, jadi nggak ke Bali? Suara Jimmy terdengar dari seberang sambungan telepon yang kini dipegang Bagas.
“Boleh deh. Gue juga jenuh sama kerjaan.” Bagas menyanggupi lalu memutus pembicaraan mereka.
Sejak tiga bulan lalu, komunikasi antara Bagas dan Jimmy memang mulai kembali intens. Jimmy adalah teman SMA Bagas dan Rayu. Lulus SMA, Jimmy ikut orangtuanya yang seorang diplomat ke Amerika.
Bagas nyaris melupakan Jimmy kalau saja tiga bulan lalu secara tidak sengaja mereka bertemu di bandara Soekarno Hatta. Saat itu Bagas mau kembali ke Bandar Lampung sedangkan Jimmy menuju Bali. Ternyata sudah hampir tiga tahun ini Jimmy pulang ke Indonesia dan mengembangkan berbagai usaha. Salah satunya sebuah vila dan restoran di Bali.
Puluhan kali Jimmy mengundang Bagas ke Bali, namun Bagas tidak dapat menyanggupinya karena memang sedang banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya. Kali ini, Bagas akan meluangkan waktu karena Jimmy mau mengadakan semacam syukuran atas pembukaan restorannya. Bagas tentu saja merasa tidak kalau menolaknya lagi. Apalagi Jimmy sudah menyiapkan tiket pesawat dan mengosongkan vilanya khusus untuk Bagas.
Selain itu, Bagas juga merasa butuh menyegarkan pikiran sejenak. Pernikahannya dengan Rena bisa diibaratkan mati suri. Meski setiap bulan Bagas pulang ke Jakarta, tetap saja hatinya merasa hampa. Jika tidak ingat bahwa dirinya sudah menikah dan harus menjaga kehormatan serta nama baik Rayu, ingin rasanya Bagas memacu mobilnya menemui Rayu.
Bagas sudah berusaha keras untuk bisa menerima Rena. Tapi terasa sangat sulit. Setiap kali mereka bersama di rumah, Bagas seolah melihat Rena yang memakai topeng. Entahlah, mungkin itu hanya perasaan Bagas saja. Pastinya, Bagas tidak pernah bisa menjadi dirinya sendiri seperti kalau bersama Rayu. Bagas tahu itu salah. Hatinya berulangkali mengingatkan kalau dia sudah tidak boleh lagi mengingat atau membayangkan Rayu.
Pernikahan mereka sudah memasuki bulan ke enam. Tapi semuanya malah tidak baik-baik saja. Meski Bagas dan Rena bisa menutupi ketikdakharmonisan dari keluarga masing-masing, tetap saja Bagas merasa tidak nyaman.
Entah mengapa, Bagas merasa sulit sekali membuka hati untuk Rena. Padahal dia sudah membuang jauh-jauh semua tentang Rayu. Sekedar menanyakan kabar pun sudah tidak pernah Bagas lakukan lagi. Hari-harinya dihabiskan di kantor atau sesekali mengecek bisnisnya yang lain. Bagas pun sudah mencoba rutin pulang dan menemui Rena. Tetap saja dinding kokoh itu sangat sulis untuk diruntuhkan.
Untuk melepaskan penat, Bagas menyanggupi undangan Jimmy ke Bali. Dia berharap Bali akan memberikan warna tersendiri di hatinya.
Pesawat baru saja mendarat di Bandara Ngurah Rai. Bagas mengedarkan pandangannya mencari sosok Jimmy. Sahabatnya itu tadi mengatakan kalau dia sendiri yang akan menjemput kedatangan Bagas.
Tak menunggu lama, Bagas langsung melihat Jimmy yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Laki-laki itu tampak gagah dengan kacamata hitam yang Bagas yakin harganya bisa mengalahkan harga sepeda motor.
“Gimana penerbangannya? Lancar?” Jimmy bertanya sambil merangkul pundak Bagas.
“Lancar. Hei gue Cuma terbang dari Lampung ke Jakarta lanjut Bali doang. Bukan mau keliling dunia.”
Kedua lelaki yang banyak menarik perhatian para perempuan itu berjalan menuju tempat parkir. Jimmy sengaja tidak membawa sopir karena ingin menikmati perjalanan bersama Bagas.
“Gue pikir, lo ke sini bakal bawa pacar lo yang dulu lo pepet terus itu. Siapa namanya? Rayu ya?.” Jimmy kini sibuk dengan setir mobilnya.
“Pacar apaan. Gue udah nikah Jim.” Bagas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
“Hah? Serius lo? Sama Rayu?”
“Bukan. Gue nikah sama Rena. Anak temennya nyokap. Gue dijodohin.”
“Rayu gimana? Lo nggak sempet jadi sama Rayu?”
“Gue bahkan sempet tunangan sama Rayu. Nggak lama habis tunangan, Rayu ketemu sama cinta lamanya. Orang yang selama ini dia tunggu. Terus gue putusin deh pertunangan kita. Dia nikah sama laki-laki dari masa lalunya itu.”
“Ada ya cowok bego kayak elo? Kok bisa-bisanya gue kenal sama cowok modelan begini. Orang kalau udah bucin emang beda tipis sih kelakuannya sama orang idiot.”
“Maksud lo, gue idiot?” Bagas melotot ke arah Jimmy.
“Lo pikir aja sendiri. Orang waras nggak mungkin ngasih tunangannya ke orang lain.”
‘Tapi kan gue jalanin semuanya buat kebahagiaan dia.”
“Terus? Elo yang harus menderita sendirian?”
“Gue udah nikah juga Jim.” Bagas berkata lirih. Seolah mengingatkan dirinya sendiri tentang Rena.
“Lo bahagia?” Jimmy melirik ke arah Bagas.
“...”
“Lo bahagia nggak? Kenapa nggak langsung jawab pertanyaan gue.”
“Gue nggak tahu.”
“Lo jawab nggak tau, bagi gue fix kalau elo nggak bahagia. Mau cerita?”
“Nggak. Gue bisa selesaikan sendiri.”
“Gas, gue emang nggak tahu apa yang lo alamin. Saran gue, lo kejar deh kebahagiaan buat diri lo sendiri. Orang lain belum tentu bakalan mikirin kebahagiaan kita Gas. Bahagia itu cuma bisa kita ciptakan sendiri, nggak bisa tergantung kepada orang lain.”
“Tumben lo bener ngomongnya?”
“Gue emang selalu bener. Lo aja yang nggak tahu gue.”
Keduanya pun tertawa. Sampai kemudian mobil Jimmy memasuki sebuah vila yang cukup besar. Jimmy sudah mengatakan kalau Bagas harus menginap di vilanya.
“Kita di sini cuma berdua?” Bagas memandang vila yang tampak sepi.
“Iya. Tapi lo harus kondisikan otak lo. Gue masih normal walaupun kita di sini berdua. Lo catet, gue masih suka cewek.”
“Beneran kita cuma berdua?” Bagas membelalakan mata.
“Gila lo, Gas. Lo udah kayak anak perawan yang gue culik aja. Kita nggak berdua, ada beberapa orang yang kerja di sini. Puas?” Jimmy meninju bahu Bagas. Sementara Bagas malah tertawa puas melihat Jimmy yang mulai emosi.
***
Malam baru saja dimulai. Bagas sudah duduk manis di salah satu meja di dalam restoran milik Jimmy. Letak tempat duduknya yang disudut memudahkan Bagas mengamati sekelilingnya. Sedangkan orang lain belum tentu bisa langsung melihat ke arahnya. Ya, malam ini Jimmy mengadakan acara peresmian restorannya. Hiruk pikuk orang yang sudah memadati restoran itu menjadi pemandangan menarik di mata Bagas.
Jimmy duduk di depan Bagas. Meski bibirnya tersenyum, namun Jimmy tidak bisa menyembunyikan raut lelah di wajahnya.
“Gimana? Keren nggak resto gue?” Jimmy meminta pendapat Bagas.
“Luar biasa. Lo emang nggak setengah-setengah niat bisnis.”
“Sialan lo. Ngapain juga gue bisnis kalau cuma iseng doang. Lo di sini sendiri nggak apa-apa kan? Gue harus memastikan semuanya biar lancar.”
“Nggak masalah. Lo nggak usah mikirin gue. Nggak bakalan ada yang nyulik anak perawan macam gue kecuali elo.” Bagas terbahak melihat mata Jimmy yang sudah mau keluar dari tempatnya.
Pandangan Bagas masih mengikuti punggung Jimmy ketika tiba-tiba saja netranya terpaku kepada sosok seorang perempuan yang sangat dikenalnya. Perempuan itu masuk ke restoran bersama seorang laki-laki. Bagas tidak akan berpikiran macam-macam kalau saja dia tidak melihat tangan laki-laki melingkar begitu posesif di pinggang perempuan yang dikenalnya. Kemesraan di antara mereka terlihat begitu jelas.
“Rena.” Bagas berdesis. Sungguh, otaknya masih belum bisa mencerna kenapa Rena ada di Bali. Siapa lelaki yang bersamanya?
***