SIMPANGAN RASA

Hentikan Waktu Walau Sejenak

Rayu melepaskan pelukan Bagas dengan paksa. Pasti terjadi sesuatu pada Bagas. Pikir Rayu. Ditatapnya lekat manik hitam mata Bagas. Terlihat sekali Bagas menghindari tatapan Rayu. Menunduk adalah satu-satunya cara yang Bagas pilih.

“Gas, katakan padaku ada apa denganmu?” Rayu kembali bertanya.

“Hhhhhhhhh...” Bagas malah menghembuskan nafas dengan keras.

“Gas...” Rayu memegang lengan Bagas. Masih menuntut jawaban.

“Aku... Aku akan pergi Yu.” Akhirnya Bagas memutuskan untuk memberitahu Rayu tentang rencana kepindahannya.

“Pergi? Maksudmu?” Rayu semakin penasaran.

“Aku sudah mengajukan untuk pindah ke Bandar Lampung.”

“Gas, kamu serius? Tapi kenapa?”

“Haruskah aku menjawabnya dengan jelas? Kamu pasti sudah tahu jawabannya.”

“Maaf Gas, apakah karena aku?” Rayu bertanya lirih.

“Aku tahu kalau aku tidak bisa berbohong atau menyembunyikan semuanya darimu. Ya, salah satu alasan kenapa aku memutuskan pindah adalah kamu Yu.”

“Gas, kenapa harus jadi begini? Maafkan aku Gas.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah ikhlas dan menerima semuanya. Hanya saja, aku tidak sekuat yang kamu kira. Tetap saja hati ini merasa hancur. Aku pindah justru karena sekalian ingin menenangkan hati.”

Perlahan air mata luruh di pelupuk mata Rayu. Hati Rayu semakin tersayat saat mengingat semua perngorbanan Bagas untuknya. Andai bisa memilih, Rayu ingin ada cinta dihatinya untuk Bagas. Cinta yang bisa mengalahkan cintanya pada Bintang. Sebut saja Rayu serakah. Tak ingin Bagas pergi, namun di sisi lain Rayu juga tidak bisa meninggalkan Bintang. Sungguh dilema tak berujung.

“Jangan menangis.” Bagas mengusap air mata di pipi Rayu. “Aku tak mau melihatmu seperti ini. Kita akan tetap menjadi sahabat baik. Selamanya. Kamu tidak usah risau. Di belahan langit manapun aku berada, aku selalu ada untukmu. Kumohon, tetaplah menjadi Rayu yang aku kenal. Sahabat terbaik yang aku punya.”

Rayu semakin tak bisa mengendalikan air matanya. Tanpa ragu, dia menghambur ke dalam pelukan Bagas. Untuk kesekian kalinya, dada bidang lelaki itu menjadi tempat ternyaman untuk Rayu menumpahkan semua kesedihan.

“Ayolah jangan menangis begini. Kamu harus memastikan dan melaporkan padaku kalau kedepannya kamu bahagia. Itu permintaanku. Kamu harus bahagia.” Bagas mengusap punggungg Rayu dengan lembut.

“Jangan pergi. Jangan seperti ini. Aku tidak bisa memaafkan diriku kalau kamu pergi.” Isak Rayu.

“Hei, coba lihat aku.” Bagas menangkup kedua pipi Rayu. Memaksa perempuan itu agar menatapnya. “Percayalah, aku akan baik-baik saja. Anggap aku sedang berlibur sekaligus mencari jodoh. Kamu harus berjanji padaku kalau kamu akan menjadi istri terbaik untuk Bintang. Ayolah Rayu, aku tidak akan bisa mencari perempuan lain kalau aku selalu ada didekatmu.” Bagas mencoba bercanda. Dalam hatinya, Bagas sendiri ragu. Mampukah dia mencari pengganti Rayu?

Rayu terpekur. Bertahun-tahun melewati hari bersama Bagas bukan hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja. Rayu selalu berpikir, bagaimana jadinya jika dia tidak pernah bertemu dan mengenal Bagas. Apakah akan seperti ini? Atau malah jauh lebih hancur?

“Bisakah kamu membatalkan kepindahanmu itu?” Rayu masih mencoba berharap Bagas tetap tinggal.

“Bisa. Hentikan waktu untukku. Maka aku akan tinggal di sini. Bahkan mungkin aku akan merebutmu dari Bintang.” Jawab Bagas yakin.

“Gas, aku tidak sedang bercanda.” Rayu mendelik marah.

“Aku juga serius. Hentikan saja waktu walau sejanak. Aku pastikan semua akan kembali seperti semula. Hanya ada kita.”

“Aku... tentu saja aku tak bisa.” Rayu menjawab gugup.

“Maka biarkan semua seperti ini. Aku akan baik-baik saja. Kita hanya perlu waktu untuk menjadi terbiasa. Sebagai kekasih, aku tidak bisa mempertahankanmu. Aku memilih pergi. Tapi sebagai sahabat, sampai kapanpun aku akan selalu disisimu. Kapanpun kamu membutuhkanku.”

“Bagaimana dengan Mama dan Papa? Mereka mengizinkanmu? Aku malu bertemu mereka. Semuanya terjadi karena kesalahanku.”

“Hei hei hei... memangnya sudah berapa lama kamu mengenal Mama dan Papa? Bukan satu atau dua hari kan? Kamu tahu bagaimana mereka. Aku tidak menampik kalau mereka kecewa. Tapi mereka tidak pernah sekalipun menyalahkan apalagi membencimu. Percayalah, kamu tetap anak mereka. Mama dan Papa mendukung semua keputusanku. Oh ya, sekalian aku titip mereka ya. Sesekali datanglah ke rumah. Mama pasti merindukanmu.”

Rayu semakin tersayat. Tak ada perpisahan yang indah. Semuanya pasti meninggalkan kesedihan lalu luka. Sehebat apapun Bagas menutupi perasaannya, Rayu tahu hati Bagas remuk. Rayu tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa berdoa semoga Bagas baik-baik saja dan mendapatkan pengganti dirinya.

“Kapan kamu berangkat?”

“Besok.”

“Hah?” Rayu sampai terlonjak saking kagetnya.

“Kenapa? Kaget? Iya aku berangkat besok.” Bagas memastikan.

“Kenapa secepat itu? Tidak bisa dimundurkan atau dibatalkan?”

“Aku sudah yakin dengan keputusan ini. Sama yakinnnya ketika aku mundur dan melepaskanmu untuk bersama Bintang. Ini sudah menjadi bagian dari takdir kita. Jalani saja. Terima saja.”

“Aku masih berharap semua ini hanya mimpi Gas.”

“Maka bangunlah. Kita harus kuat menghadapinya.”

Selalu seperti itu sikap Bagas. Menenangkan bagi Rayu. Tak pernah ada masalah berat yang tidak bisa dihadapi dengan santai oleh Bagas. Bukan berarti Bagas menyepelekan semua masalah. Tapi Rayu tahu, Bagas selalu berusaha menggunakan logika dan kepala dinginnya.

“Sepertinya sudah terlalu lama aku meminjammu. Ayo kita ke kamar Bintang lagi. Jangan membuatnya khawatir apalagi berpikir aku membawamu kabur.” Gurau Bagas.

“Apa sih Gas. Nggak lucu deh.”

Mereka berjalan bersisian menuju kamar Bintang. Lorong rumah sakit seakan merekam setiap jejak langkah mereka. Mengurai rasa Bagas yang tengah terkoyak. Mendeskripsikan emosi Rayu yang merasa sangat bersalah.

Sampai di depan kamar Bintang, Bagas sempat menarik nafas panjang. Menenangkan perasaannya yang sedang berkecamuk. Bagaimanapun, Bagas telah memutuskan semuanya. Dialah yang menentukan pilihan ini. Pergi dari hidup Rayu demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya itu.

“Loh, Mas Ferdi mana?” Tanya Bagas saat dilihatnya kamar itu hanya diisi oleh Bintang.

“Sudah pulang. Mungkin sekitar 20 menit yang lalu. Kalian sih kelamaan melepas kangennya.” Bintang tersenyum tanpa ada amarah. Dia tahu bagaimana Bagas mencintai Rayu. Tidak mungkin Bagas berbuat hal yang tidak diharapkan.

“Terima kasih ya Bin. Sudah mengijinkan aku bicara dengan Rayu.” Ucap Bagas tulus pada Bintang.

“Aku percaya kalian. Aku juga tidak punya hak untuk melarang kalian berhubungan.” Bintang tersenyum.

“Aku pamit. Jaga Rayu baik-baik Bin. Ingat, ada aku yang akan selalu memantaumu.” Imbuh Bagas.

“Seharusnya kamu mengatakan itu pada Rayu, Gas. Aku kan sakit. Nggak mungkin bisa menjaga Rayu. Yang terjadi malah sebaliknya. Aku yang harus dijaga oleh Rayu.”

Bagas tergelak. Lepas itu dia menggenggam erat tangan Rayu. Memastikan bahwa semuanya bisa mereka lewati. Tak ada jalan mundur bagi mereka kecuali mereka bisa menghentikan waktu walau sejenak.    

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!