Sistem Penebusan Ibu Pemarah

01. Ibu Yang Dibenci

"Keluar dari rumah ini kalau kalian cuma tahu menghabiskan beras!"

Suara Mira menggema sampai ke halaman. Tangannya mencengkeram sapu lidi, sementara napasnya naik turun karena amarah.

Arman yang baru pulang dari mencari pekerjaan serabutan berhenti di depan pintu. Kemejanya basah oleh keringat, sandal jepitnya dipenuhi lumpur. Di tangan kirinya hanya ada kantong plastik berisi dua bungkus mie instan dan beberapa batang kangkung.

Itu saja hasil kerjanya seharian.

Tatapan Mira langsung jatuh ke kantong plastik itu.

"Hanya ini?" suaranya meninggi. "Seharian keluar rumah cuma bawa dua bungkus mi?"

Arman menghela napas pelan.

"Maaf. Hari ini tidak ada yang butuh jasa angkut."

"Alasan!"

Plastik itu direbut dari tangan suaminya lalu dilempar ke lantai.

Mie instan berserakan.

Kangkung yang masih basah menggelinding hingga ke kaki seorang anak laki-laki yang berdiri di sudut ruangan.

Raka.

Usianya baru lima belas tahun, tetapi sorot matanya sudah kehilangan semangat seperti orang dewasa yang terlalu lama hidup dalam kesedihan.

Ia memungut kangkung itu tanpa sepatah kata.

"Ayah sudah berusaha, Bu," katanya lirih.

Mira menoleh tajam.

"Kamu membela ayahmu?"

Raka menggertakkan gigi.

"Ayah memang bekerja."

"Bekerja?" Mira tertawa sinis. "Kalau benar bekerja, kenapa kita tetap miskin?"

Suasana mendadak sunyi.

Di balik pintu dapur, Lila yang baru berusia sembilan tahun memeluk lututnya. Tubuh kecilnya gemetar setiap kali mendengar suara ibunya meninggi.

Baginya, rumah bukan tempat yang aman.

Rumah adalah tempat untuk belajar diam.

Arman berjongkok memunguti mie instan yang jatuh.

"Jangan marahi anak."

"Aku marahi siapa pun kalau memang pantas dimarahi!"

"Sudahlah...."

"Sudahlah? Kamu selalu bilang sudahlah!"

Mira menunjuk wajah suaminya.

"Enam belas tahun menikah, apa yang sudah kamu berikan? Rumah bocor. Utang di warung. Anak-anak pakai seragam bekas. Bahkan makan pun harus menghitung beras!"

Beberapa tetangga mulai melongok dari pagar bambu.

Bukan untuk membantu.

Mereka sudah terbiasa mendengar pertengkaran itu hampir setiap hari.

"Kasihan Pak Arman."

"Itu Bu Mira ngamuk lagi."

"Aku heran kenapa suaminya masih betah."

Bisik-bisik terdengar jelas.

Namun Mira tidak peduli.

Justru ia semakin keras berteriak.

"Kalau bukan karena kalian semua, hidupku tidak akan semenderita ini!"

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk satu per satu.

Raka mengepalkan tangan.

"Kalau Ibu menyesal punya kami..." suaranya bergetar, "...kenapa dulu melahirkan kami?"

Ruangan mendadak hening.

Tatapan Mira berubah dingin.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Raka.

Anak itu terdorong hingga membentur dinding kayu.

Arman segera berdiri. "Cukup, Mira!"

"Jangan ikut campur!"

"Kamu sudah kelewatan."

"Semua orang menyalahkanku! Tidak ada yang pernah mengerti bagaimana rasanya hidup miskin!"

Air mata mengalir di pipi Lila. Ia menutup kedua telinganya. Setiap kali ibunya marah, ia berharap bisa menghilang.

Raka mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada kemarahan.

Hanya tatapan kosong.

"Aku benci tinggal di rumah ini."

Ia berbalik menuju kamar.

Pintu dibanting dengan keras hingga dinding bambu bergetar.

Arman memejamkan mata.

Sudah terlalu sering pertengkaran seperti ini terjadi. Dan ia tidak tahu bagaimana menghentikannya. 

***

Menjelang sore, rumah Mira kembali sunyi.

Mira duduk sendirian di bangku bambu depan rumah. Bukan karena menyesal. Melainkan karena masih kesal.

Perutnya lapar.

Di dapur hanya tersisa sedikit beras.

Tagihan listrik belum dibayar.

Pemilik warung sudah tiga kali menagih hutang.

Mira memandang rumah-rumah tetangga. Sebagian memang sederhana. Namun mereka masih bisa tertawa bersama.

Mengapa hanya keluarganya yang selalu hidup dalam kesengsaraan?

"Aku tidak pantas hidup begini," gumamnya.

Saat itu Bu Ratna melintas menggunakan sepeda motor baru. Wanita itu sengaja memperlambat laju kendaraannya.

"Wah, Bu Mira sedang di rumah?" sapanya sambil tersenyum tipis.

Mira mendengus. "Ada urusan apa?"

"Tidak ada. Cuma mau kasih tahu, anak saya diterima kerja di kota."

"Lalu?"

"Gajinya lumayan. Bulan depan katanya mau membelikan kulkas baru."

Senyum Bu Ratna semakin lebar.

"Syukurlah ya kalau anak dididik dengan baik. Bisa jadi orang sukses."

Ucapan itu terdengar seperti sindiran.

Wajah Mira memerah.

"Pergi sana!"

Bu Ratna tertawa kecil lalu melaju meninggalkan rumah itu.

Mira mengepalkan tangan.

"Semua orang merendahkanku...."

Tanpa sadar, ia mengambil tas lusuhnya.

Ia harus pergi ke warung membeli garam.

Meski hutangnya belum dibayar, setidaknya pemilik warung masih mau memberinya pinjaman bahan makanan.

Langkah Mira cepat. Pikirannya dipenuhi kemarahan. Ia bahkan tidak memperhatikan jalan desa yang mulai ramai menjelang magrib.

Di belakangnya terdengar suara seseorang memanggil.

"Bu Mira!"

Ia tidak menoleh.

"Bu Mira, awas!"

Decitan ban terdengar nyaring.

Sebuah sepeda motor meluncur dari tikungan dengan kecepatan tinggi.

Pengendaranya berusaha menghindar.

Namun jaraknya sudah terlalu dekat.

Brak!

Tubuh Mira terlempar beberapa meter.

Tas lusuhnya jatuh ke parit.

Orang-orang berteriak panik.

"Ya Tuhan!"

"Cepat panggil ambulans!"

"Dia tidak bergerak!"

Arman yang sedang memotong kayu di belakang rumah mendengar keributan itu. Jantungnya langsung berdegup kencang.

Saat melihat kerumunan warga di jalan, entah mengapa firasat buruk memenuhi dadanya.

Ia berlari sekuat tenaga.

Orang-orang memberi jalan.

Di tengah jalan tanah yang mulai gelap, Mira terbaring tak bergerak.

Darah mengalir dari pelipisnya.

Matanya terpejam.

Arman langsung berlutut.

"Mira... dengar aku."

Tidak ada jawaban.

Raka dan Lila yang ikut berlari dari rumah membeku di tempat.

Lila mulai menangis.

"Ayah... Ibu kenapa?"

Arman menggenggam tangan istrinya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa benar-benar takut kehilangan wanita itu.

Bukan karena rumah mereka penuh kebahagiaan.

Melainkan karena di balik semua kemarahan, Mira tetap bagian dari keluarga mereka.

Suara sirene ambulans terdengar dari kejauhan.

Pandangan Mira yang gelap tiba-tiba dipenuhi cahaya putih.

Tubuhnya terasa ringan.

Ia membuka mata perlahan.

Namun yang dilihatnya bukan rumah sakit.

Bukan pula langit.

Melainkan ruang putih tanpa batas.

Di hadapannya melayang sebuah layar transparan.

Huruf-huruf berwarna biru muncul satu per satu.

[Mendeteksi penyesalan hidup....]

[Kecocokan pengguna: 100%]

[Family Redemption System berhasil diaktifkan.]

Mata Mira membelalak.

"Apa... ini?"

Sebuah suara dingin bergema di seluruh ruang kosong.

"Selamat datang, Mira."

"Kesempatan keduamu baru saja dimulai."

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!