Sistem Penebusan Ibu Pemarah
10. Panen Pertama
"Bu! Daunnya sudah besar!"
Lila berlari dari halaman belakang dengan wajah berseri-seri.
Tangannya masih basah karena baru selesai menyiram tanaman.
Mira yang sedang menjemur pakaian segera mengikuti putrinya ke kebun kecil di belakang rumah.
Begitu melihat petak sayuran itu, ia langsung berhenti melangkah.
Bayam yang mereka tanam kini tumbuh lebat. Daunnya hijau segar. Batangnya kokoh. Kangkung di sampingnya bahkan menjalar lebih cepat daripada yang pernah ia lihat sebelumnya.
Sementara tanaman cabai mulai dipenuhi bunga-bunga putih kecil.
Mira berjongkok.
Tangannya menyentuh daun bayam dengan hati-hati. "Syukurlah… Semuanya tumbuh baik."
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Fitur Pertanian Dasar
Status Tanaman:
Bayam : Siap Panen.
Kangkung : Siap Panen.
Cabai : 40%.
Mira menarik napas panjang.
Cepat sekali.
Jauh lebih cepat daripada tanaman milik tetangga.
Ia tahu pupuk dari sistem membantu. Namun setiap hari mereka juga menyiram, membersihkan rumput, dan menjaga tanaman itu bersama-sama.
Hasil ini terasa pantas.
Tak lama kemudian Arman pulang lebih awal. Begitu melihat kebun kecil tersebut, matanya membelalak.
"Ini...." Ia berjalan mendekat. "Masa sudah bisa dipanen?"
Mira mengangguk.
"Menurut sistem..." Ia segera menghentikan ucapannya. "...maksudku, menurut Bu Rini memang sudah siap."
Untung Arman tidak terlalu memperhatikan. Ia memetik satu batang kangkung.
Daunnya lebar. Batangnya renyah.
"Bagus sekali." Senyumnya mengembang. "Kalau begini hasilnya, kita bisa mulai menjual."
Lila bertepuk tangan. "Yay!"
"Besok kita kaya?"
Semua tertawa kecil.
Arman mengusap kepala putrinya.
"Tidak secepat itu."
"Tapi kita sudah mulai."
Kalimat itu membuat Mira tersenyum.
Benar.
Mereka belum kaya.
Namun mereka akhirnya bergerak ke arah yang benar.
Sore hari, mereka memanen bersama.
Raka juga ikut membantu. Ia membawa keranjang bambu.
"Potong dari bawah." Arman menunjukkan caranya.
"Iya."
Mira memperhatikan anak sulungnya.
Wajah Raka jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu. Meski masih belum banyak bicara. Setidaknya ia sudah mau bergabung.
Lila bertugas mengumpulkan bayam.
"Ibu!"
"Apa?"
"Bayamnya banyak!"
Mira tertawa kecil.
"Iya."
Mereka terus memanen hingga keranjang hampir penuh. Jumlahnya memang belum besar. Namun cukup banyak untuk ukuran pekarangan sekecil itu.
Saat panen selesai, layar sistem berbunyi.
Selamat!
Panen Pertama Berhasil.
+30 Poin Kebajikan.
Total Poin: 105.
Disusul pemberitahuan lain.
Prestasi Terbuka.
Panen Pertama Keluarga
Hadiah:
Kupon Keberuntungan x1.
Mira tidak langsung membuka hadiah tersebut. Ia lebih dulu memandang hasil panen di hadapannya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Beberapa minggu lalu, pekarangan ini hanya dipenuhi rumput liar.
Sekarang, rumput itu berubah menjadi harapan.
Menjelang petang, Arman membawa sebagian sayur ke rumah Bu Rini.
"Ini hasil panen pertama kami."
Bu Rini tersenyum lebar. "Wah. Cepat sekali."
"Ambillah sedikit."
"Tidak usah."
"Ini tanda terima kasih."
Wanita tua itu akhirnya menerima beberapa ikat bayam. "Semoga usahamu lancar."
"Ya."
Sebelum pulang, Bu Rini berkata, "Kalau mau menjual, coba ke pasar pagi. Pembeli sayur di sana lumayan banyak."
Arman mengangguk.
"Nanti kami coba."
Di rumah...
Mira mencuci sisa hasil panen. Ia memisahkan sayur yang paling bagus. Saat itulah terdengar suara Bu Ratna dari balik pagar.
"Hm."
"Panen juga akhirnya."
Mira menoleh.
Bu Ratna berdiri sambil melipat tangan.
Tatapannya jatuh ke keranjang bayam.
"Kelihatannya banyak."
"Lumayan."
"Hati-hati. Harga sayur lagi murah. Nanti capek-capek tanam malah rugi."
Nada bicaranya tetap sinis. Namun kali ini Mira tidak merasa marah. Ia hanya tersenyum.
"Kalau pun tidak laku semua. Kami tetap bisa makan sayur segar."
Bu Ratna mendengus. "Kamu sekarang pintar bicara."
Wanita itu pergi tanpa menunggu jawaban. Begitu ia menghilang, Arman tertawa pelan.
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Kamu sekarang selalu bisa menjawab tanpa bertengkar."
Mira ikut tersenyum. "Aku masih belajar."
Malam harinya...
Mereka makan dengan sebagian hasil panen.
Tumis kangkung. Sayur bening bayam. Tempe goreng.
Lauk yang sederhana. Namun hompir sebagian besar bahan berasal dari kebun mereka sendiri.
Saat makan, Lila berseru, "Enak! Karena kita tanam sendiri."
Arman mengangguk. "Betul."
Raka mengambil suapan berikutnya.
"Iya. Kangkungnya lebih manis."
Mira menatap anak sulungnya. "Itu berarti Ibu tidak salah masak?"
Sudut bibir Raka terangkat sedikit.
"Tidak."
Meski hanya senyum tipis, suasana meja makan terasa jauh lebih hangat.
Layar sistem muncul perlahan.
Hubungan Keluarga Meningkat.
Kepercayaan Anak Sulung:
5% →8%
Kepercayaan Anak Bungsu:
15% →18%
Kepercayaan Suami:
8% →15%
Mira menunduk.
Air matanya hampir jatuh. Bukan karena poin. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keluarganya makan bersama sambil tersenyum.
Setelah semua tidur, Mira duduk sendirian di halaman belakang. Ia memandang petak kebun yang kini mulai kosong setelah dipanen.
Angin malam berembus pelan.
Di hadapannya, layar sistem kembali muncul.
Apakah ingin membuka Kupon Keberuntungan?
Mira memilih Ya.
Cahaya lembut menyelimuti layar.
Beberapa detik kemudian muncul hadiah.
Selamat.
Anda memperoleh:
Resep Sambal Rumahan Premium.
Efek:
Disukai sebagian besar pelanggan.
Cocok dijual bersama hasil panen.
Mira mengerutkan kening.
"Resep sambal?"
Ia sempat mengira akan mendapat alat atau bibit baru.
Namun setelah dipikir-pikir, resep itu justru lebih berharga. Kalau hanya menjual sayur, keuntungan mereka terbatas.
Tetapi jika diolah menjadi makanan, nilainya bisa meningkat.
Belum sempat Mira berpikir lebih jauh, sistem kembali berbunyi.
Misi Baru
Gunakan hasil panen pertama untuk menghasilkan uang.
Hadiah: 50 Poin Kebajikan.
Membuka Fitur Memasak.
Batas waktu: 7 Hari.
Jantung Mira berdegup lebih cepat. Ini berbeda. Selama ini ia hanya diminta berubah menjadi ibu yang lebih baik.
Sekarang sistem mulai mengarahkannya untuk mencari penghasilan. Ia memandang resep sambal yang baru diterimanya. Lalu menoleh ke arah rumah sederhana tempat Arman dan kedua anaknya sedang tidur.
Perjalanan mereka baru saja memasuki babak baru. Mereka tidak lagi hanya berusaha bertahan hidup.
Kini...
Mereka mulai belajar membangun masa depan dengan tangan mereka sendiri.