Sistem Penebusan Ibu Pemarah

12. Jualan di Pasar

"Ibu benar-benar mau jualan?"

Raka menghentikan gerakannya mengikat tali sepatu. Tatapannya tertuju pada belasan bungkus sambal yang tersusun rapi di atas meja bambu.

Masing-masing dibungkus menggunakan plastik bening kecil dan diikat dengan karet gelang. Di sampingnya terdapat beberapa ikat bayam dan kangkung yang baru dipanen saat fajar.

Mira mengangguk sambil mengelap keringat di dahinya.

"Iya."

"Tapi... kalau tidak laku?"

Pertanyaan itu bukan bernada meremehkan. Lebih terdengar seperti kekhawatiran.

Mira tersenyum tipis.

"Kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu."

Raka terdiam beberapa saat, lalu mengambil satu bungkus sambal.

"Kelihatannya bagus."

Mira tersenyum semakin lebar.

"Itu berarti kamu mau jadi pelanggan pertama?"

Raka menggeleng pelan.

"Aku belum punya uang."

"Kamu tidak perlu bayar."

Raka mengembalikan bungkus itu.

"Nanti saja."

"Aku beli kalau sudah dapat uang jajan lebih."

Jawaban itu membuat hati Mira menghangat.

Anaknya tidak ingin meminta cuma-cuma. Ia ingin membeli hasil kerja ibunya dengan uangnya sendiri.

"Itu janji?"

"Iya."

Mira mengangguk. "Ibu tunggu."

Tak lama kemudian Arman keluar dari kamar sambil mengenakan topi lusuhnya.

"Kamu siap?"

"Iya."

"Aku antar sampai pasar."

Mira sempat ragu. "Tapi pekerjaanmu?"

"Aku masuk agak siang hari ini."

"Mandor bilang boleh."

Mira menghela napas lega.

"Terima kasih."

Lila ikut berlari membawa tas kain.

"Ibu! Aku ikut!"

Mira tertawa kecil.

"Kamu sekolah."

"Yah." Lila langsung cemberut. "Aku mau bantu jualan."

"Nanti kalau hari libur."

"Janji?"

"Janji."

Anak kecil itu akhirnya mengangguk puas.

Perjalanan menuju pasar desa memakan waktu hampir dua puluh menit dengan sepeda tua Arman.

Di sepanjang jalan, Mira memeluk keranjang bambu berisi sayur dan sambal.

Tangannya berkeringat.

Ia jauh lebih gugup dibanding saat pertama kali menghadapi sistem.

Arman menoleh sekilas. "Takut?"

"Sedikit."

"Kenapa?"

"Aku belum pernah menjual sesuatu."

Arman tersenyum. "Semua pedagang juga pernah pertama kali."

Kalimat sederhana itu membuat Mira sedikit lebih tenang.

Pasar pagi sudah ramai.

Suara pedagang saling bersahutan.

Pembeli berlalu-lalang sambil membawa kantong belanja.

Mira memandang suasana itu dengan jantung berdebar.

Arman menunjuk sebuah sudut yang masih kosong. "Kita di sana."

Mereka menggelar tikar kecil.

Sayuran disusun rapi.

Sambal diletakkan di depan agar mudah terlihat.

Awalnya tidak ada yang mendekat.

Beberapa orang hanya melirik sekilas lalu berlalu.

Mira mulai gelisah. "Sepertinya tidak ada yang tertarik."

"Sabarlah."

Arman tetap tenang.

"Baru lima menit."

Namun setelah hampir dua puluh menit berlalu, keadaan masih sama.

Keranjang mereka tetap penuh.

Mira mulai kehilangan kepercayaan diri.

Mungkin Bu Ratna benar.

Siapa yang mau membeli dari wanita yang selama ini dikenal galak?

Di saat itulah seorang ibu berhenti di depan lapak mereka.

"Bayamnya berapa?"

Mira langsung berdiri.

"Lima ribu satu ikat, Bu."

Wanita itu mengambil satu ikat.

"Masih segar."

"Baru dipanen tadi pagi."

Setelah memperhatikan sebentar, ibu itu mengangguk. "Baiklah."

"Aku ambil dua."

Jantung Mira berdegup kencang.

Pembeli pertama. Ia menerima uang dengan tangan sedikit gemetar.

"Terima kasih."

Wanita itu tersenyum. "Sama-sama."

Begitu pembeli pertama pergi, layar sistem muncul.

Pelanggan Pertama Berhasil.

Progres Misi: 1/5.

Mira menahan senyumnya.

Ternyata rasanya seperti ini.

Tidak lama kemudian datang seorang pria paruh baya. "Sambal apa itu?"

"Sambal rumahan."

"Boleh coba?"

Mira menyiapkan sepotong kecil mentimun untuk dicocol.

Pria itu mencicipinya. Alisnya langsung terangkat.

"Pedasnya pas. Istriku pasti suka. Berapa?"

"Tiga ribu satu bungkus."

"Aku ambil tiga."

Mira hampir tidak percaya.

Dalam beberapa menit, tiga bungkus sambal langsung terjual.

Arman ikut tersenyum. "Tuh, kan. Kamu bisa."

Menjelang pukul sembilan pagi, dagangan mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Ada pembeli yang membeli sayur. Ada yang penasaran dengan sambalnya. Beberapa bahkan membeli keduanya sekaligus.

Seorang ibu berkata,"Sambalnya enak. Cocok buat bekal suami."

Yang lain menimpali, "Besok jualan lagi ya."

Mira mengangguk berkali-kali.

"Iya. Tentu."

Kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Namun ketika dagangan mulai ramai, terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Hm. Ternyata benar jualan."

Mira menoleh.

Bu Ratna berdiri beberapa langkah dari lapaknya. Di tangannya tergantung kantong belanja besar. Tatapannya menyapu sayur dan sambal dengan sinis.

"Wah. Berani juga."

Mira hanya tersenyum. "Silakan kalau mau lihat."

"Aku cuma heran." Bu Ratna tertawa kecil. "Orang yang dulu kerjanya marah-marah sekarang jadi pedagang."

Beberapa pembeli menoleh. Suasana mendadak canggung.

Dulu...

Ucapan seperti itu pasti dibalas dengan teriakan.

Hari ini Mira hanya menarik napas panjang.

"Semoga dagangan Ibu juga laris."

Bu Ratna terdiam. Ia jelas tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

"Hmph." Wanita itu akhirnya pergi.

Arman yang sejak tadi memperhatikan hanya menggeleng kagum. "Kamu benar-benar berubah."

Mira tersenyum tipis.

"Aku masih belajar."

Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.

Berhasil mengendalikan emosi di depan umum.

+15 Poin Kebajikan.

***

Menjelang siang, keranjang sayur hampir kosong. Sambal hanya tersisa dua bungkus.

Seorang pemuda menghampiri.

"Masih ada?"

"Masih."

"Aku ambil dua."

Mira menyerahkannya sambil tersenyum.

Begitu pembeli itu pergi, keranjang sambal benar-benar kosong.

Layar sistem langsung berbunyi.

Misi Selesai.

Jual produk pertama kepada lima pelanggan.

Progres: 7/5.

Hadiah: +50 Poin Kebajikan.

Fitur Bisnis Dasar Terbuka.

Mata Mira berbinar.

Tanpa terasa, pembelinya bahkan lebih dari target.

Ia memandang keranjang yang kini hampir kosong. Hanya tersisa beberapa ikat kangkung.

Tak lama kemudian seorang pedagang sayur besar menghampiri.

"Kalau masih ada sisa, aku borong."

Mira dan Arman saling berpandangan. "Silakan."

Seluruh dagangan mereka habis. Tidak tersisa satu pun.

Mira menggenggam uang hasil jualan itu erat-erat. Jumlahnya memang belum besar. Namun ini adalah uang pertama yang benar-benar mereka hasilkan dari usaha bersama.

Dalam perjalanan pulang, Arman tersenyum sepanjang jalan.

"Hari ini kita untung."

"Iya."

"Nanti sebagian kita simpan."

"Sebagian lagi?"

"Beli bibit tambahan."

Mira mengangguk. Ia juga sudah memikirkan hal yang sama. Usaha kecil mereka baru saja dimulai.

Saat mereka tiba di rumah, Lila langsung berlari menyambut.

"Ibu!"

"Jualannya bagaimana?"

Mira mengangkat keranjang yang sudah kosong.

"Habis."

Lila bertepuk tangan kegirangan.

"Hore!"

Raka yang baru pulang sekolah keluar dari kamarnya. Tatapannya jatuh pada keranjang kosong itu.

"Laku semua?"

"Iya."

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, senyum bangga terlihat jelas di wajah remaja tersebut.

"Keren."

Hanya satu kata. Namun cukup membuat mata Mira kembali berkaca-kaca.

Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, sistem kembali muncul.

Fitur Bisnis Dasar Berhasil Dibuka.

Laporan Hari Pertama Berjualan

Pendapatan: Baik.

Pelayanan: Sangat Baik.

Potensi Pelanggan Tetap: Tinggi.

Kemudian muncul sebuah misi baru.

Misi Berikutnya:

Kumpulkan keuntungan pertama dan lunasi sebagian utang kepada Bu Ratna.

Mira menatap tulisan itu lama. Ia memegang uang hasil jualan yang disimpan di dalam kaleng kecil.

Besok, ia akan melakukan sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.

Membayar utang dengan kepala tegak, bukan dengan amarah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!