Sistem Penebusan Ibu Pemarah
14. Fitnah di Pasar
Langit masih diselimuti warna jingga ketika Mira kembali menggelar tikar kecilnya di sudut pasar desa. Di sampingnya, beberapa ikat bayam dan kangkung yang baru dipanen tersusun rapi. Belasan bungkus sambal rumahan buatannya berjajar di dalam keranjang bambu.
Ini adalah hari kedua Mira berjualan.
Semalam ia hampir tidak bisa tidur karena terus memikirkan rasa sambalnya. Ia khawatir para pembeli kemarin hanya bersikap ramah, bukan benar-benar menyukainya.
Arman membantu menata sayuran sebelum berangkat bekerja. Sementara itu, Mira merapikan bungkus-bungkus sambal untuk terakhir kalinya.
"Tenang saja," kata Arman pelan. "Kalau rasanya tetap sama seperti kemarin, pasti ada yang membeli lagi."
Mira mengangguk, meski jantungnya masih berdebar.
Tak lama kemudian pasar mulai ramai. Beberapa wajah yang dikenalnya dari hari sebelumnya kembali menghampiri lapaknya.
Namun, sebelum sempat melayani pembeli pertama, sebuah suara nyaring memecah keramaian.
"Jangan beli sambalnya! Kebersihannya belum tentu terjamin!"
Suara nyaring itu membuat beberapa pembeli yang sedang berdiri di depan lapak Mira langsung menoleh.
Mira yang sedang membungkus dua ikat bayam perlahan mengangkat kepala.
Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Bu Ratna berkacak pinggang sambil menatap lapaknya dengan senyum tipis.
Pasar pagi yang semula ramai mendadak dipenuhi tatapan penasaran.
"Katanya baru mulai jualan," lanjut Bu Ratna dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Siapa tahu sambalnya dibuat dari bahan yang sudah busuk."
Dua orang calon pembeli saling berpandangan.
Salah satunya langsung meletakkan kembali bungkus sambal yang tadi hendak dibeli.
Mira menggenggam plastik di tangannya sedikit lebih erat.
Dulu, ucapan seperti itu pasti langsung dibalas dengan makian.
Sekarang Mira hanya menarik napas perlahan.
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Peringatan!
Provokasi terdeteksi.
Pilih tindakan dengan bijak.
Mira menghembuskan napas pelan, lalu menatap Bu Ratna tanpa kebencian.
"Kalau Ibu ragu," katanya tenang, "silakan coba sendiri rasanya."
Bu Ratna tertawa kecil. "Mencoba saja tidak cukup. Lidah orang bisa dibohongi."
Mira mengangguk pelan.
"Benar. Tapi pelanggan berhak menilai sendiri."
Jawaban itu membuat Bu Ratna kehilangan ritme.
Ia berharap Mira akan marah.
Ternyata wanita itu justru berbicara dengan tenang.
Salah seorang ibu yang tadi ragu akhirnya berkata, "Kalau begitu saya coba satu bungkus. Kalau tidak enak, saya tidak beli lagi."
"Tentu, Bu."
Mira menyerahkan satu bungkus sambal sambil tersenyum.
Pembeli itu membayar, lalu pergi.
Bu Ratna mendengus kesal sebelum meninggalkan pasar.
Namun bisik-bisik tentang sambal Mira sudah terlanjur menyebar.
Beberapa orang mulai datang hanya karena penasaran.
Menjelang siang, pembeli yang tadi kembali lagi.
Kali ini bersama seorang wanita lain. "Bu."
"Iya?"
"Sambalnya enak. Saya mau beli lima bungkus."
Wanita di sampingnya ikut mengangguk. "Saya juga."
Mira tersenyum lega.
"Terima kasih."
Dalam waktu kurang dari setengah jam, hampir semua sambal yang dibawanya habis terjual.
Arman yang datang menjemput tampak heran. "Kok cepat sekali habis?"
Mira tersenyum kecil.
"Mungkin karena fitnah Bu Ratna."
Arman mengernyit.
"Maksudmu, Bu Ratna tadi datang?"
“Iya,” Mira mengangguk. “Dia mencoba memfitnah tapi orang-orang jadi penasaran."
Pria itu tertawa pelan. "Kadang rezeki memang datang dengan cara yang tidak kita duga."
Di saat itu pula, sistem kembali muncul.
Selamat.
Pengguna menghadapi fitnah tanpa kemarahan.
+20 Poin Kebajikan.
Reputasi Meningkat.
Mira mengangguk pelan. Ia baru sadar. Tidak semua serangan harus dibalas. Kadang hasil kerja yang baik sudah menjadi jawaban terbaik.
Sesampainya di rumah, Lila langsung menyambut mereka.
"Jualan ibu habis lagi?"
Mira mengangkat keranjang yang hampir kosong. "Tinggal sedikit."
Lila melompat kegirangan.
"Berarti kita berhasil!"
Mira tertawa. "Iya."
Namun saat sedang menyusun sisa dagangan, ia menyadari satu masalah.
Cabai di kebun belum siap panen.
Sementara kebutuhan sambal semakin banyak. Ia harus membeli cabai di pasar. Artinya modal mereka akan bertambah.
Mira mengambil buku kecil.
Mulai menghitung.
Pendapatan.
Modal.
Keuntungan.
Ia mencoret-coret angka dengan serius.
Raka yang baru pulang sekolah berhenti di sampingnya. "Ibu lagi belajar akuntansi?"
Mira tertawa kecil.
"Belajar menghitung untung rugi."
Raka melihat angka-angka itu.
"Kalau cabai beli di pasar untungnya berkurang."
"Iya."
Remaja itu berpikir beberapa saat. "Lalu kenapa tidak tanam lebih banyak?"
Mira menghela napas.
"Lahannya sempit."
"Di belakang rumah Pak Hasan banyak tanah kosong."
Mira mengangkat kepala. "Tanah kosong?"
"Iya."
"Katanya sudah lama tidak dipakai."
Kalimat itu membuat Mira teringat misi sistem beberapa hari lalu.
Memperluas lahan.
Mungkin...
Inilah jawabannya.
Sore itu, setelah Arman pulang, Mira menceritakan usul Raka.
"Aku juga pernah lihat." Arman mengangguk. "Tanah itu memang kosong."
"Pemiliknya?"
"Pak Hasan. Tapi beliau sudah tua. Jarang mengurus kebun."
Mira berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita minta izin memakainya?"
Arman tampak ragu.
"Belum tentu beliau mau."
"Kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu."
Arman tersenyum kecil. "Kamu sekarang sering bilang begitu."
Mira ikut tersenyum.
"Mungkin aku sudah lelah mengeluh."
Keduanya tertawa pelan.
Percakapan sederhana itu didengar oleh Raka dari ruang tengah. Tanpa mereka sadari, remaja itu ikut tersenyum tipis.
Malam harinya, keluarga itu kembali makan bersama.
Suasana jauh berbeda dibanding beberapa minggu lalu.
Kini Lila mulai banyak bercerita tentang sekolah. Raka sesekali ikut menanggapi. Bahkan Arman tampak lebih sering tersenyum.
Saat makan hampir selesai, Mira berkata, "Besok aku mau menemui Pak Hasan. Minta izin soal tanah."
Arman mengangguk.
"Aku ikut."
Raka tiba-tiba berkata, "Pak Hasan suka orang yang jujur."
"Lho? Dari mana tahu?"
"Beliau pernah bilang di sekolah.Kalau orang datang cuma mau minta, biasanya ditolak. Tapi kalau datang sambil menawarkan bantuan beliau lebih senang."
Mira memperhatikan putranya. "Itu informasi penting."
Raka mengangkat bahu.
"Aku cuma ingat."
Mira tersenyum hangat. "Terima kasih."
Untuk pertama kalinya, Raka tidak terlihat canggung saat menerima ucapan terima kasih dari ibunya.
Setelah semua tertidur, Mira keluar menuju kebun. Ia memeriksa tanaman satu per satu. Daun-daun muda bergoyang diterpa angin malam.
Di hadapannya, layar sistem perlahan muncul.
Laporan Harian.
Pengendalian Emosi: Sangat Baik.
Hubungan Sosial: Meningkat.
Reputasi Dagang: Meningkat.
Kemudian muncul notifikasi baru.
Misi Tambahan.
Dapatkan lahan baru melalui kepercayaan, bukan dengan uang.
Hadiah:
Bibit Cabai Premium x20.
Mata Mira berbinar.
Bibit cabai premium.
Kalau berhasil, mereka tidak perlu terus membeli cabai dari pasar.
Mira menatap kebun kecil yang kini menjadi saksi perubahan keluarganya.
Beberapa minggu lalu, ia masih menjadi wanita yang menyalahkan semua orang atas kemiskinannya.
Kini, ia mulai belajar bahwa jalan keluar bukan ditemukan lewat kemarahan. Melainkan lewat keberanian untuk berubah.
Di dalam rumah, terdengar suara Arman memanggil pelan, "Mira?"
"Iya."
"Sudah malam. Istirahat."
Mira menoleh ke arah rumah sederhana itu. Lalu kembali melihat kebun di depannya.
Besok mungkin ia akan ditolak oleh Pak Hasan.
Mungkin juga tidak.
Namun kali ini, ia tidak lagi takut menghadapi penolakan.
Karena ia tahu, setiap langkah yang diambil dengan niat baik selalu membawa mereka sedikit lebih dekat menuju kehidupan yang lebih baik.