Sistem Penebusan Ibu Pemarah

02. Family Redemption System

"Kesempatan kedua? Siapa kalian? Keluarkan aku dari sini!"

Suara Mira menggema di ruang putih tanpa ujung. Ia berputar ke segala arah, tetapi tidak menemukan pintu, dinding, ataupun langit. Yang ada hanya cahaya putih yang membuat matanya silau.

Di hadapannya, layar transparan masih melayang tenang.

[Selamat datang, Pengguna Mira.]

[Family Redemption System telah berhasil diaktifkan.]

"Aku tidak mengerti!" bentak Mira. "Aku harus pulang! Suamiku... anak-anakku...."

Suara mekanis itu kembali terdengar.

"Status tubuh pengguna sedang dalam kondisi kritis."

Mata Mira membelalak.

"Kritis?"

"Benar."

"Kemungkinan bertahan hidup: 37%."

Tubuh Mira melemas.

Bayangan Arman yang sedang berlutut di jalan langsung memenuhi pikirannya. Disusul wajah Raka yang penuh kebencian dan Lila yang menangis ketakutan.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, dada Mira terasa sesak. Bukan karena marah, melainkan takut.

Takut tidak sempat mengatakan apa pun kepada mereka.

"Aku... akan mati?"

"Hal itu bergantung pada pilihan pengguna."

Mira menatap layar itu tanpa berkedip.

"Maksudmu?"

Layar berganti.

FAMILY REDEMPTION SYSTEM

Pengguna : Mira

Usia : 35 Tahun

Status Keluarga :

Suami — Kepercayaan 8%

Anak Sulung — Kepercayaan 0%

Anak Bungsu — Kepercayaan 12%

Reputasi di Lingkungan : Sangat Buruk

Poin Kebajikan : 0

Poin Dosa : 9.860

"Apa ini?"

"Data kehidupan pengguna."

"Poin dosa?"

"Akumulasi tindakan yang melukai orang lain."

Mira mengerutkan dahi.

"Aku memang pernah marah, tapi...."

Layar kembali berubah.

Tiba-tiba berbagai gambar muncul seperti potongan film.

Mira melihat dirinya lima tahun lalu.

Ia sedang melempar mangkuk karena Arman pulang tanpa membawa uang.

Adegan berganti.

Raka kecil menangis sambil memegang buku yang robek karena dilempar ibunya.

Adegan lain muncul.

Lila yang masih balita ketakutan bersembunyi di bawah meja saat mendengar suara Mira berteriak.

Lalu Bu Rini, tetangga yang pernah menangis karena dihina di depan banyak orang.

Satu demi satu.

Semuanya muncul begitu jelas.

"Sudah!" teriak Mira sambil menutup telinganya.

"Ini bohong!"

"Semua rekaman adalah kenyataan."

"Bukan salahku!"

Ia mundur beberapa langkah.

"Kami miskin! Aku tertekan! Tidak ada yang mengerti hidupku!"

Suara sistem tetap datar.

"Tekanan hidup menjelaskan tindakan pengguna. Namun tidak menghapus akibatnya."

Kalimat itu membuat Mira membeku.

Selama ini ia selalu menyalahkan keadaan.

Kemiskinan.

Suami.

Nasib.

Tetangga.

Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang hidup bersamanya.

Layar kembali berubah.

Kini muncul gambar rumahnya.

Arman sedang duduk di lorong rumah sakit. Kemejanya masih berlumur darah. Tangannya menggenggam sandal Mira yang putus akibat kecelakaan.

Pria itu terus menunduk. Sesekali mengusap wajahnya. Di sampingnya, Lila tertidur di pangkuannya sambil masih menangis.

Sementara Raka berdiri memandang ruang IGD.

Tatapannya kosong.

Mira menggigit bibir.

"Apakah... mereka melihatku?"

"Tidak."

"Kalau aku mati..."

Suara sistem menjawab tanpa emosi.

"Pengguna dapat melihat simulasi."

Gambar berubah.

Beberapa hari kemudian.

Rumah mereka dipenuhi pelayat. Foto Mira berada di atas meja. Lila menangis sambil memeluk baju ibunya.

"Ayah... Ibu benar-benar pergi?"

Arman hanya mengangguk pelan.

Raka berdiri di luar rumah.

Salah seorang tetangga menghampirinya.

"Kamu sedih?"

Anak itu terdiam lama sebelum menjawab lirih.

"...Aku tidak tahu."

Jawaban itu menghantam dada Mira lebih keras daripada kecelakaan tadi.

Anaknya bahkan tidak tahu apakah ia harus bersedih. Bukan karena tidak punya hati. Tetapi karena terlalu lama terluka.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mira.

"Tidak...."

Adegan kembali berganti.

Beberapa bulan kemudian.

Arman bekerja lebih keras. Rumah semakin sepi. Lila menjadi pendiam. Raka memilih berhenti sekolah demi membantu ayahnya.

Mira menggigit bibir hingga terasa nyeri.

"Cukup...."

Ia tidak sanggup melihat lagi.

"Cukup!"

Semua gambar menghilang.

Ruangan kembali putih.

Keheningan menyelimuti semuanya.

Setelah beberapa saat, sistem kembali berbicara.

"Pengguna diberi kesempatan memperbaiki seluruh kesalahan."

"Bagaimana caranya?"

"Selesaikan misi."

"Misi?"

Layar baru muncul.

MISI UTAMA

Bangun kembali keluarga yang hampir hancur.

Hadiah:

Kesempatan hidup kedua.

Di bawahnya muncul misi lain.

MISI PERTAMA

Ucapkan permintaan maaf yang tulus kepada seluruh anggota keluarga.

Target:

Arman.

Raka.

Lila.

Waktu: 24 jam setelah sadar.

Hadiah: 20 Poin Kebajikan.

Kegagalan: -20 Poin.

Mira mengernyit.

"Hanya meminta maaf?"

"Permintaan maaf harus tulus."

"Kalau mereka tidak memaafkanku?"

"Memaafkan adalah hak mereka. Meminta maaf adalah kewajiban pengguna."

Mira terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa begitu berat.

Selama tiga puluh lima tahun hidup, ia hampir tidak pernah meminta maaf lebih dulu kepada siapa pun.

Bahkan ketika sadar dirinya salah.

Ia selalu merasa harga dirinya akan jatuh jika mengaku bersalah.

Kini...

Hal pertama yang harus dilakukan justru meminta maaf.

"Aku tidak yakin bisa."

"Pengguna bebas menolak."

Layar berubah sekali lagi.

Muncul pilihan

Ya

Tidak

"Kalau aku memilih tidak?"

"Sistem dibatalkan."

"Lalu?"

"Pengguna kembali ke kondisi semula."

"Artinya?"

"Peluang hidup tetap 37%."

Jantung Mira berdegup lebih cepat. Ia memandang dua pilihan di depannya.

Selama hidup, ia selalu merasa dunia tidak adil.

Namun sekarang, dunia benar-benar memberinya kesempatan.

Entah mengapa, bayangan wajah Lila muncul di benaknya.

Anak kecil itu selalu gemetar saat mendengar suaranya.

Kemudian Raka.

Tatapan penuh kebencian yang bahkan tidak pernah berusaha disembunyikan.

Lalu Arman.

Pria yang tetap bertahan meski setiap hari dihina.

Dada Mira sesak.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Apakah selama ini aku benar-benar menjadi istri dan ibu yang buruk?"

Jawabannya datang begitu cepat.

Ya.

Ia menutup mata.

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

"Aku... ingin hidup."

Bukan hanya untuk dirinya.

Tetapi untuk memperbaiki semuanya.

Tangannya perlahan menyentuh tulisan Ya.

Seketika cahaya terang memenuhi ruangan.

[Pilihan diterima.]

[Misi pertama telah diaktifkan.]

[Poin Kebajikan: 0.]

[Semoga pengguna berhasil menjadi ibu yang layak bagi keluarganya.]

Suara mesin mulai memudar.

Ruangan putih perlahan menghilang.

Telinga Mira mulai menangkap suara yang sangat dikenalnya.

"Dokter... bagaimana kondisi istri saya?"

"Itu tergantung apakah dia bisa melewati malam ini."

Mata Mira bergerak pelan.

Kelopak matanya terasa berat.

Bau obat-obatan memenuhi hidungnya.

Saat berhasil membuka mata sedikit, sosok pertama yang dilihatnya adalah Arman.

Pria itu tertidur di kursi rumah sakit sambil tetap menggenggam tangannya.

Wajahnya tampak sangat lelah. Janggut tipis mulai tumbuh. Matanya sembab karena kurang tidur.

Mira menatap tangan kasar yang menggenggam jemarinya.

Tangan yang selama ini bekerja tanpa pernah mengeluh.

Tangan yang justru paling sering ia tepiskan.

Di sudut pandangannya, sebuah layar transparan kembali muncul.

[Misi Pertama Aktif.]

Meminta maaf kepada suami dan kedua anak dalam waktu 24 jam.

Sisa waktu: 23:59:48.

Jantung Mira kembali berdebar.

Ini bukan mimpi.

Sistem itu benar-benar mengikutinya ke dunia nyata.

Dan waktu penebusannya... baru saja dimulai.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!