Sistem Penebusan Ibu Pemarah
03. Permintaan Maaf yang Ditolak
"Arman...."
Suara Mira terdengar lirih, hampir tenggelam oleh bunyi alat pemantau detak jantung di ruang perawatan.
Kelopak mata Arman yang semula terpejam perlahan terbuka. Selama beberapa detik, pria itu hanya menatap istrinya tanpa berkedip, seolah tidak yakin bahwa suara yang didengarnya benar-benar nyata.
"Mira...?"
Mira mengangguk pelan. Kepalanya masih terasa berat. Pelipisnya diperban, sementara seluruh tubuhnya nyeri setiap kali bergerak.
"Kamu sadar...."
Arman langsung berdiri. Wajah lelahnya berubah lega.
"Tunggu. Aku panggil dokter."
Ia hendak melepaskan genggaman tangannya, tetapi Mira menahan dengan tenaga yang tersisa.
"Jangan pergi."
Arman berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, Mira memperhatikan wajah suaminya dengan sungguh-sungguh.
Kerutan halus mulai muncul di dahi Arman. Rambut di pelipisnya sudah dipenuhi uban. Kulit tangannya kasar karena terlalu sering mengangkat semen, batu bata, atau apa pun yang bisa menghasilkan uang.
Selama ini, Mira tidak pernah benar-benar melihat semua itu.
"Maaf," bisik Mira.
Alis Arman berkerut.
"Kamu demam?"
Mira menggeleng. "Aku serius."
Hening.
Beberapa detik kemudian Arman menghembuskan napas pelan.
"Kamu istirahat saja."
"Aku minta maaf."
"Tidak usah bicara banyak."
"Aku sudah terlalu sering menyakitimu," timpal Mira dengan tegas.
Arman memalingkan wajah.
Entah mengapa, kalimat itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Bukan karena terharu.
Melainkan karena terdengar begitu asing.
Mira...
Meminta maaf?
Hal seperti itu bahkan lebih mustahil daripada hujan turun di musim kemarau.
"Dokter bilang kamu kena benturan di kepala," kata Arma pelan. "Kalau ada yang aneh setelah sadar, nanti kita periksa lagi."
Kalimat itu menusuk hati Mira.
Bahkan suaminya mengira perubahan ini hanyalah akibat cedera.
Bukan ketulusan.
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Permintaan maaf diterima.
Evaluasi ketulusan: 100%
Evaluasi penerimaan target: 8%
Status Misi: Belum Selesai.
Mira menghembuskan napas pelan.
Benar.
Meminta maaf ternyata jauh lebih mudah daripada mendapatkan kepercayaan.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang dokter dan dua perawat masuk untuk memeriksa kondisinya.
"Selamat, Bu Mira. Ibu sudah melewati masa kritis."
Dokter tersenyum tipis sambil memeriksa hasil monitor.
"Masih pusing?"
"Sedikit."
"Itu normal. Untung benturannya tidak menyebabkan perdarahan serius."
Arman mengangguk berkali-kali.
"Terima kasih, Dok."
"Besok kalau hasil observasi baik, pasien sudah boleh pulang."
Setelah dokter keluar, suasana kembali sunyi.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki kecil dari luar.
"Ayah...."
Suara Lila.
Arman segera membuka pintu.
Anak perempuan itu masuk sambil menggenggam ujung baju ayahnya.
Matanya langsung mencari sosok di ranjang.
Begitu melihat Mira membuka mata, wajahnya berubah pucat.
Ia spontan bersembunyi di belakang tubuh Arman.
Mira menelan ludah.
Biasanya ia tidak pernah memikirkan reaksi putrinya.
Namun kini, rasa takut di mata Lila terasa seperti hukuman.
"Lila...."
Anak itu tidak menjawab.
"Ayo sini."
Lila justru memeluk kaki ayahnya lebih erat.
"Ayah... kita pulang saja."
Kalimat sederhana itu membuat dada Mira semakin sesak.
"Lila.” Suaranya bergetar. "Ibu mau minta maaf."
Anak kecil itu perlahan mengangkat kepala.
Tatapannya penuh kebingungan.
"Minta... maaf?"
"Iya."
Mira tersenyum, meski terasa canggung.
"Maaf karena Ibu sering membentak Lila."
Keheningan memenuhi ruangan.
Lila berkedip beberapa kali.
Lalu...
Ia menoleh kepada Arman.
"Ayah."
"Iya."
"Apa Ibu akan marah lagi nanti?"
Pertanyaan polos itu membuat suasana mendadak hening.
Air mata langsung memenuhi mata Mira.
Selama ini, ternyata putrinya bahkan tidak percaya bahwa permintaan maaf bisa berarti perubahan.
Arman mengusap kepala Lila.
"Temui Ibu sebentar."
Anak itu menggeleng kuat.
"Tidak mau."
"Lila...."
"Nanti Ibu pukul lagi."
Mira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Ia menangis tanpa suara.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Semua ketakutan itu memang berasal darinya sendiri.
Layar sistem kembali muncul.
Hubungan dengan Anak Bungsu
Kepercayaan:
12%
→ 13%
Mira tertegun.
Naik?
Hanya satu persen.
Namun angka kecil itu terasa lebih berharga daripada apa pun.
Setidaknya… Masih ada harapan.
***
Menjelang siang, Raka datang.
Remaja itu masih memakai seragam sekolah.
Tasnya disampirkan di satu bahu.
Begitu memasuki ruangan, tatapannya langsung bertemu dengan mata Mira.
Tidak ada senyum.
Tidak ada rasa rindu.
Hanya tatapan datar.
"Ayah bilang Ibu sudah sadar."
"Iya."
"Itu bagus."
Raka hendak berbalik.
"Raka,” panggil Mira.
Langkah anak itu berhenti.
"Apa?"
Mira menarik napas panjang.
"Ibu minta maaf."
Raka tertawa pendek. Suara tawanya terdengar hambar.
"Lucu."
"Ibu serius."
"Ibu habis mimpi apa?"
Mira menggenggam selimut. "Dengar dulu...."
"Tidak ada yang perlu didengar."
Raka menatap Mira tanpa emosi.
"Lima belas tahun." Ia mengangkat lima jarinya. "Lima belas tahun aku hidup sama Ibu."
Setiap kata Raka terdengar dingin.
"Waktu aku juara kelas, Ibu bilang itu biasa. Waktu aku sakit, Ibu bilang aku cuma bikin repot. Waktu Ayah tidak punya uang, aku yang dimarahi. Waktu Lila menangis, aku yang disuruh diam."
Ia menggeleng pelan.
"Sekarang cuma karena bilang maaf... Apa semuanya selesai?"
Mira tidak mampu menjawab.
Karena memang tidak.
Permintaan maaf tidak bisa menghapus luka bertahun-tahun.
"Aku tidak membencimu karena satu tamparan kemarin."
Suara Raka semakin lirih.
"Aku membencimu karena setiap hari aku berharap Ibu berubah."
"Dan setiap hari juga... aku kecewa."
Mata Mira kembali basah. "Aku akan berubah."
"Aku tidak percaya."
"Ibu janji."
"Aku sudah terlalu sering dengar janji."
Raka memalingkan wajah.
"Ayah mungkin masih percaya. Lila mungkin masih berharap. Tapi aku tidak."
Kalimat itu jatuh seperti batu besar di dada Mira.
Raka melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti tanpa menoleh.
"Kalau Ibu benar-benar berubah...buktikan."
Pintu tertutup pelan.
Ruangan kembali sunyi.
Mira menundukkan kepala.
Air matanya terus mengalir.
Di hadapannya, layar sistem muncul sekali lagi.
Permintaan maaf kepada Anak Sulung telah dilakukan.
Evaluasi ketulusan: 100%
Evaluasi penerimaan target: 0%
Misi Belum Selesai.
Di bawahnya muncul tulisan baru yang sebelumnya tidak ada.
Peringatan Sistem
Kepercayaan tidak dapat dibeli dengan poin.
Kepercayaan hanya dapat diperoleh melalui tindakan yang konsisten.
Mira memandangi tulisan itu cukup lama.
Lalu perlahan mengangguk.
"Baik." Ia mengusap air matanya sendiri. "Aku akan membuktikannya."
Saat itulah sistem kembali berbunyi.
Misi Tambahan Terbuka.
Dalam 24 jam setelah pulang ke rumah, selesaikan satu hari penuh tanpa membentak, menghina, atau menyakiti anggota keluarga.
Hadiah: 20 Poin Kebajikan.
Kegagalan: -30 Poin.
Mata Mira membulat.
Satu hari tanpa marah?
Dulu...
Ia bahkan tidak pernah melewati satu detik pun tanpa berteriak.
Tantangan pertamanya di dunia nyata baru saja dimulai. Dan itu, akan cukup sulit dilakukan.