Sistem Penebusan Ibu Pemarah
04. Makan Malam Tanpa Amarah
"Bu Mira, Ibu sudah boleh pulang."
Perawat tersenyum sambil menyerahkan beberapa lembar resep obat kepada Arman.
"Obatnya diminum setelah makan. Luka di kepala jangan sampai terkena benturan lagi. Selama beberapa hari, pasien juga sebaiknya tidak melakukan pekerjaan berat."
Arman mengangguk.
"Baik, Bu."
Mira duduk perlahan di tepi ranjang. Kepalanya masih sedikit pusing, tetapi rasa gugup jauh lebih besar daripada rasa sakit di tubuhnya.
Hari ini ia harus pulang.
Artinya, hitungan mundur dari sistem benar-benar dimulai.
Di sudut pandangannya, layar transparan kembali muncul.
Misi Tambahan Aktif
Lewati satu hari penuh tanpa membentak, menghina, atau menyakiti anggota keluarga.
Sisa waktu: 23 jam 58 menit.
Mira menghela napas panjang.
"Demi satu hari saja," gumamnya pelan.
Perjalanan pulang berlangsung sunyi.
Arman mengayuh sepeda tuanya dengan hati-hati.
Mira duduk di boncengan.
Biasanya, sepanjang perjalanan ia selalu mengeluh.
Tentang jalan rusak.
Tentang panas matahari.
Tentang hidup yang tidak pernah adil.
Namun kali ini, ia hanya memandang punggung suaminya.
Baju lusuh yang dipakai Arman mulai memudar warnanya.
Di bagian bahu bahkan terlihat beberapa jahitan kasar.
Sudah berapa lama Arman tidak membeli baju baru?
Mira mencoba mengingat.
Ia tidak bisa.
Yang ia ingat justru dirinya yang beberapa kali memaksa membeli pakaian demi gengsi, meski uang belanja tidak cukup.
Rasa bersalah kembali memenuhi dadanya.
"Kenapa diam saja?" tanya Arman tanpa menoleh.
"Tidak apa-apa."
"Kalau pusing, bilang."
"Iya."
Jawaban singkat itu membuat Arman sedikit heran.
Biasanya Mira akan membalas dengan omelan.
Kini wanita itu justru berbicara pelan.
Sesampainya di rumah, suasana langsung berubah canggung.
Lila yang sedang menyapu halaman berhenti bergerak. Begitu melihat ibunya turun dari sepeda, sapu itu langsung diletakkan. Anak kecil itu masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa.
Mira hanya bisa tersenyum pahit.
Ia tahu. Bukan karena Lila membenci dirinya. Melainkan karena takut.
Raka juga keluar dari kamar.
Tatapan mereka sempat bertemu.
Namun remaja itu segera berlalu menuju belakang rumah.
Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Rumah yang dulu selalu dipenuhi suara bentakannya kini justru terasa asing.
Arman membuka pintu.
"Masuklah. Duduk saja dulu."
"Iya."
Mira duduk di kursi bambu yang mulai lapuk.
Pandangannya berkeliling.
Dinding rumah ternyata jauh lebih kusam daripada yang ia ingat.
Atap di sudut dapur masih bocor.
Meja makan bahkan hanya memiliki tiga kursi yang sudah tidak sama bentuknya.
Selama ini, ia hanya sibuk menyalahkan kemiskinan.
Padahal suaminya tetap berusaha mempertahankan rumah ini agar tidak roboh.
Arman mengambil gelas.
"Aku buatkan teh."
"Biar aku saja."
Arman langsung menoleh.
"Kamu?"
"Iya."
"Kepalamu masih sakit."
"Aku bisa. Cuma bikin teh."
Arman mengangguk pelan, meski masih terlihat ragu.
Mira melangkah menuju dapur.
Begitu masuk, ia langsung terpaku.
Rak piring hampir kosong.
Beras di kaleng tinggal seperempat.
Di sudut ruangan hanya ada dua butir telur, seikat kangkung, sedikit tempe, dan bawang.
Hanya itu.
Ia membuka penutup tempat gula.
Kosong.
Matanya mulai memanas.
Selama ini ia selalu merasa makanan di rumah terlalu sedikit.
Namun ia tidak pernah benar-benar melihat seberapa keras Arman berusaha mengisinya.
Tiba-tiba suara sistem terdengar.
Misi Baru Terdeteksi.
Masak makan malam untuk keluarga tanpa amarah.
Hadiah: 20 Poin Kebajikan.
Bonus: +10 Poin jika seluruh anggota keluarga makan bersama.
Mata Mira membulat.
"Makan malam?"
Ia menatap bahan makanan yang sangat sederhana.
"Ini saja?"
Sistem tidak menilai kemewahan makanan.
Sistem menilai ketulusan pengguna.
Mira menarik napas panjang.
"Baik."
Ia mulai mencuci kangkung.
Memotong tempe.
Mengocok telur.
Tangannya masih sedikit gemetar akibat luka di kepala.
Beberapa kali pisau hampir terlepas.
Namun ia tetap melanjutkan.
Dari ruang depan terdengar suara Arman.
"Lila, jangan ganggu Ibu."
"Iya, Yah."
"Tolong ambilkan kayu bakar."
"Iya."
Biasanya, Mira akan berteriak karena merasa semuanya lambat. Kini ia hanya mendengarkan.
Beberapa menit kemudian, suara minyak mendesis memenuhi dapur.
Aroma tempe goreng mulai menyebar.
Lila mengintip dari balik pintu. Matanya membulat.
"Ibu... masak?"
Mira tersenyum.
"Iya."
Lila segera mundur satu langkah.
Seolah takut senyum itu hanya jebakan sebelum kemarahan datang.
Mira merasakan dadanya kembali sesak. Ia tidak memaksa anaknya mendekat. Hanya diam-diam memperhatikan.
Beberapa saat kemudian, tumisan kangkung selesai.
Disusul telur dadar sederhana. Menu yang sangat biasa. Namun untuk keluarga itu, sudah cukup mengenyangkan.
Saat hendak mengangkat wajan, sedikit minyak mengenai tangannya.
"Ah."
Refleks.
Hampir saja ia memaki. Kata-kata kasar bahkan sudah sampai di ujung lidah. Namun layar sistem tiba-tiba berkedip merah.
Peringatan.
Emosi meningkat.
Mira langsung menutup mulutnya.
Ia memejamkan mata.
Menarik napas perlahan. Mengembuskannya pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rasa kesal itu perlahan menghilang.
Mira kembali mengangkat piring tanpa mengucapkan sepatah kata kasar.
Layar kembali berubah hijau.
Emosi Stabil.
Mira tersenyum tipis. "Ternyata sesulit ini."
Menjelang magrib, meja makan akhirnya terisi.
Sepiring tumis kangkung. Tempe goreng. Telur dadar. Semangkuk nasi.
Tidak mewah.
Tetapi hangat.
Arman memanggil anak-anak.
"Ayo makan."
Raka keluar dari kamar.
Begitu melihat meja makan, ia mengernyit.
"Ibu yang masak?"
"Iya. Tidak usah khawatir." Suara Mira pelan. "Tidak ada yang gosong."
Raka tidak menjawab.
Ia duduk perlahan.
Lila masih berdiri di belakang kursi.
Mira menarikkan kursi itu.
"Duduklah."
Anak kecil itu menatap ayahnya lebih dulu.
Setelah Arman mengangguk, barulah ia duduk.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Biasanya, saat makan Mira selalu mengeluh.
Kurang asin. Kurang banyak. Kurang ini. Kurang itu.
Hari ini tidak ada keluhan. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Arman mencoba tumisan kangkung. Ia berhenti mengunyah beberapa detik.
"Lumayan."
Mira tersenyum kecil. "Terima kasih."
Raka ikut mengambil tempe.
Wajahnya tetap datar.
Namun ia menghabiskan satu potong tanpa komentar.
Lila masih ragu-ragu.
"Ibu...."
"Iya?"
"Tempenya... boleh tambah?"
Mira langsung mengambilkan. "Tentu."
Lila tampak terkejut.
Biasanya, permintaan seperti itu akan dibalas omelan karena dianggap rakus.
Tapi hari ini… Tidak.
Anak kecil itu menerima tempe dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Mira hanya mengangguk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Mungkin beginilah rasanya makan bersama.
Tanpa bentakan.
Tanpa tangisan.
Tanpa piring yang dilempar.
Meskipun suasananya masih canggung, setidaknya tidak ada ketakutan.
Tepat setelah makan selesai, layar sistem muncul.
Misi Selesai.
Masak makan malam tanpa amarah.
Hadiah:
+20 Poin Kebajikan.
Bonus keluarga makan bersama:
+10 Poin.
Total:
30 Poin.
Poin Kebajikan: 30.
Belum sempat Mira tersenyum lega, layar itu kembali berubah.
Toko Sistem berhasil dibuka.
Item pertama tersedia.
Bibit Sayur Unggul
Harga: 30 Poin.
Mata Mira membelalak.
Semua poin yang baru didapat, cukup untuk membeli satu item pertama.
Apakah ini kebetulan?
Atau memang sudah dirancang oleh sistem sejak awal?
Di saat yang sama, dari luar rumah terdengar suara seorang wanita berteriak.
"Bu Mira! Besok pagi jangan lupa bayar utang warung! Sudah nunggak terlalu lama!"
Suara itu milik Bu Ratna, sengaja diucapkan keras agar seluruh tetangga mendengar.
Senyum tipis di wajah Mira perlahan menghilang.
Ujian berikutnya, ternyata sudah menunggunya.