Sistem Penebusan Ibu Pemarah

05. Poin Pertama

"Bu Mira! Jangan pura-pura tidak dengar! Besok utang warung harus dibayar!"

Suara Bu Ratna kembali terdengar dari luar pagar bambu.

Sengaja lebih dikeraskan. 

Mira yang baru saja berdiri dari meja makan mengepalkan tangan. Kebiasaan lamanya langsung muncul. Kalimat-kalimat kasar sudah memenuhi kepalanya.

Biasanya ia akan keluar rumah, menunjuk wajah Bu Ratna, lalu pertengkaran berlangsung sampai warga berdatangan.

Namun sebelum ia melangkah, layar transparan tiba-tiba berkedip merah.

Peringatan!

Emosi meningkat.

Jika pengguna menghina atau membentak, misi harian akan gagal.

Mira memejamkan mata.

Tarik napas. Buang perlahan. Ia mengulanginya beberapa kali.

Saat membuka mata kembali, kemarahannya belum hilang, tetapi sudah tidak lagi menguasainya.

"Berisik sekali," gumam Mira.

Arman yang melihat perubahan itu tampak bingung. "Kamu tidak apa-apa?"

"Aku baik."

"Biasanya kamu...."

"Aku capek."

Jawaban itu membuat Arman mengangguk pelan. Mungkin istrinya benar-benar kelelahan setelah kecelakaan.

Di luar, Bu Ratna akhirnya pergi setelah tidak mendapat balasan.

Namun bisik-bisik tetangga masih terdengar.

"Heran, Bu Mira kok diam."

"Jangan-jangan kepalanya benar-benar terbentur."

Mira mendengarnya dengan jelas.

Anehnya, Ia tidak ingin membalas.

***

Malam hari, rumah begitu sunyi.

Lila sudah tertidur.

Raka masih belajar di kamarnya dengan lampu minyak kecil.

Sementara Arman duduk di teras, menghitung sisa uang yang ada di sakunya.

Mira menghampiri pelan. "Boleh aku lihat?"

Arman spontan menutup telapak tangannya.

Refleks.

Seolah takut uang itu akan dirampas.

Melihat reaksi tersebut, dada Mira terasa nyeri.

Ternyata, suaminya bahkan sudah terbiasa menyembunyikan uang darinya.

"Aku tidak akan mengambilnya," ucap Mira pelan.

Arman ragu beberapa saat.

Kemudian ia membuka genggamannya.

Hanya ada tiga lembar uang sepuluh ribuan.

Ditambah beberapa keping uang logam.

"Buat makan besok cukup?" tanya Mira.

Arman tersenyum tipis.

"Kalau hemat... mungkin."

"Utang warung?"

"Nanti aku bicara baik-baik sama Bu Ratna."

Mira menunduk.

Utang itu sebenarnya bertambah karena dirinya.

Beberapa kali ia membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan hanya karena gengsi.

Sekarang akibatnya harus ditanggung Arman.

"Maaf."

Arman menatap Mira bingung. "Kamu bilang maaf lagi."

"Aku memang salah."

Pria itu mengembuskan napas panjang. "Aku belum terbiasa mendengar itu."

Mira tersenyum pahit.

"Aku juga belum terbiasa mengaku salah."

Untuk pertama kalinya sejak lama, mereka duduk berdampingan tanpa bertengkar.

Meski tidak banyak bicara. Setidaknya, suasana itu terasa damai.

***

Keesokan paginya...

Mira terbangun lebih dulu.

Jam dinding tua bahkan belum menunjukkan pukul lima.

Biasanya pada jam seperti ini, Arman sudah menyalakan tungku sendirian sebelum berangkat mencari pekerjaan.

Sedangkan Mira masih tidur.

Hari ini berbeda.

Mira perlahan bangkit. Luka di kepalanya masih terasa ngilu. Namun ia tetap menuju dapur.

Kaleng beras tinggal sedikit.

Ia menanak nasi secukupnya.

Lalu merebus air.

Saat sedang menyiapkan sarapan sederhana, suara sistem terdengar.

Misi Harian.

Siapkan sarapan untuk keluarga sebelum mereka bangun.

Hadiah: 5 Poin Kebajikan.

Mira tersenyum tipis.

"Ternyata misi kecil juga ada."

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki.

Arman masuk ke dapur.

Melihat Mira sedang meniup api tungku, ia langsung membeku.

"Kamu... bangun sepagi ini?"

"Iya."

"Kepalamu?"

"Masih sedikit sakit."

"Sudah, biar aku saja."

Mira menggeleng. "Hari ini aku yang masak."

Arman memperhatikannya cukup lama.

Ia masih belum percaya. Semalam Mira masak makan malam dan pagi ini masak sarapan. Namun, akhirnya ia memilih membantu mengambil air tanpa berkata apa-apa.

Beberapa menit kemudian aroma nasi hangat memenuhi rumah.

Lila keluar sambil mengucek mata.

"Ibu?"

"Iya."

"Masak lagi?"

Mira mengangguk. "Ayo cuci muka."

Lila tidak langsung menjawab.

Namun kali ini ia tidak lari.

Ia benar-benar pergi mencuci muka.

Perubahan kecil itu membuat hati Mira menghangat.

Setelah sarapan selesai, Arman bersiap berangkat.

Ia mengambil topi lusuhnya. "Aku pergi dulu."

"Tunggu."

Mira berlari kecil ke dalam rumah. Ia mengambil botol air minum yang sudah diisi.

"Ini."

Arman tertegun. Ia menerimanya perlahan. "Kamu yang isi?"

"Iya."

Biasanya ia harus membawa botol kosong karena tidak sempat mengisinya.

Hari ini, istrinya sudah menyiapkan lebih dulu.

"Terima kasih."

Kalimat sederhana itu membuat Mira tersenyum.

"Hati-hati."

Arman mengangguk.

Meski wajahnya masih penuh tanda tanya.

Raka keluar rumah beberapa menit kemudian. Tas sekolahnya tampak usang. Di bagian bawah bahkan mulai sobek.

Mira baru menyadarinya sekarang.

Dulu, ia tidak pernah memperhatikan hal sekecil itu.

"Raka."

Anak itu berhenti.

"Ada apa?"

"Hati-hati di sekolah."

Raka mengernyit.

Hanya itu?

Biasanya ibunya akan mengomel karena ia dianggap terlalu lama bersiap.

Hari ini tidak ada.

"Aku berangkat."

"Iya."

Raka pergi tanpa menoleh.

Namun langkahnya terlihat sedikit lebih lambat.

Rumah menjadi sepi.

Lila sedang bermain sendiri di halaman.

Mira membereskan dapur.

Saat sedang mencuci piring, suara sistem kembali terdengar.

Selamat.

Misi Harian selesai.

+5 Poin Kebajikan.

Total Poin: 35.

Layar berikutnya langsung muncul.

Item Toko

Bibit Sayur Unggul

Harga:

30 Poin.

Mira menatap tulisan itu.

"Hanya bibit?"

Bibit memiliki tingkat panen tiga kali lebih tinggi dibanding bibit biasa.

Cocok untuk pengguna yang ingin meningkatkan penghasilan keluarga.

Jantung Mira berdegup.

Panen tiga kali lebih banyak?

Kalau benar, mungkin ini bisa membantu kehidupan mereka.

Namun semua poinnya hampir habis jika membeli.

Ia masih ragu.

"Kalau aku beli, apakah bisa dijual lagi?"

Tidak dapat dijual.

Hanya dapat digunakan.

Mira berpikir cukup lama.

Akhirnya ia mengangguk.

"Aku beli."

Layar berkilau.

Transaksi berhasil.

-30 Poin.

Sisa Poin: 5.

Seketika sebuah kantong kain kecil muncul di atas meja dapur.

Mira terlonjak kaget. Ia buru-buru melihat ke arah halaman. Untung tidak ada siapa pun yang melihat.

Dengan tangan gemetar ia membuka kantong itu.

Di dalamnya terdapat beberapa bungkus kecil bibit.

Tidak ada merek.

Hanya tulisan sederhana.

Bayam.

Kangkung.

Cabai.

"Ini saja?"

Gunakan dengan usaha sendiri.

Sistem tidak menjamin keberhasilan jika pengguna malas.

Mira tersenyum kecil.

"Tidak ada jalan pintas rupanya."

Ia menyimpan bibit itu dengan hati-hati.

Saat sedang menutup kantong, terdengar suara pelan dari belakang.

"Ibu...."

Mira menoleh.

Lila berdiri di ambang pintu.

Tangannya memegang boneka kain yang sudah lusuh.

"Ada apa?"

Anak kecil itu tampak ragu. "Ibu...."

"Hm?"

"Mulai sekarang... Ibu tidak marah lagi?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Mira membeku. Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok agar sejajar dengan putrinya.

"Ibu akan berusaha."

"Benarkah?"

"Iya."

Lila menggigit bibir.

Beberapa detik kemudian, dengan gerakan sangat pelan, ia mengulurkan tangan kecilnya.

Menyentuh ujung lengan baju Mira.

Hanya sebentar.

Namun itu adalah pertama kalinya sejak bertahun-tahun Lila berani mendekati ibunya atas keinginannya sendiri.

Mata Mira langsung memanas.

Ia tidak memeluk putrinya.

Ia tidak ingin membuat anak itu takut.

Ia hanya tersenyum.

"Terima kasih, Lila."

Layar sistem tiba-tiba muncul di hadapannya.

Hubungan dengan Anak Bungsu

Kepercayaan: 13%→ 15%

Disusul sebuah notifikasi baru.

Selamat.

Misi Pertama Selesai.

Permintaan maaf yang tulus telah dibuktikan melalui tindakan awal.

Hadiah: +20 Poin Kebajikan.

Misi Utama Tahap Pertama selesai.

Mira menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca.

Dua persen kepercayaan.

Dua puluh poin.

Bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa.

Namun baginya, itu adalah bukti bahwa langkah kecilnya mulai mengubah sesuatu yang selama ini ia kira sudah hancur selamanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup bersama, putri kecilnya tidak lagi mundur karena takut ketika berdiri di hadapannya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!