Sistem Penukar Kenangan
Dunia yang Tak Terlihat
Arya masih berdiri mematung di depan meja kecil di samping ranjang rumah sakit.
Tangannya gemetar.
Tatapannya terpaku pada foto lama yang beberapa saat lalu masih terasa begitu berharga.
Foto dirinya bersama ayahnya saat memancing di sebuah danau, ia tahu itu adalah ayahnya, ia tahu anak kecil yang tersenyum lebar di foto itu adalah dirinya.
Ia tahu peristiwa itu pernah terjadi namun anehnya, ia tidak dapat mengingat apa pun tentang hari tersebut.
Tidak ada suara, tidak ada perasaan, tidak ada kenangan.
Yang tersisa hanyalah sebuah foto dan fakta bahwa kejadian itu pernah ada.
Seolah seseorang telah mencabut isi dari sebuah buku dan hanya menyisakan sampulnya.
"Apa ini..." gumam Arya pelan dadanya terasa sesak.
Jauh lebih sesak dibanding saat menghadapi Shadow Ghoul.
Jika monster bisa melukai tubuhnya, maka hal yang baru saja terjadi melukai sesuatu yang jauh lebih dalam.
Melukai dirinya sendiri. "Aether."
Suara Arya terdengar parau. "Apa yang sebenarnya kau maksud dengan Sistem Penukar Kenangan?"
Gadis kecil berambut perak itu melayang perlahan mendekat.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya terlihat sedikit rumit.
Seolah ia sudah mengetahui bahwa percakapan ini tidak akan mudah.
"Sistem yang kau miliki berbeda dari sistem lainnya."
Arya mengalihkan pandangan dari foto. "Berbeda bagaimana?"
"Setiap sistem memiliki harga."
Arya mengernyit. "Harga?"
Aether mengangguk. "Kekuatan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma."
Ruangan kembali hening. Di luar jendela, hujan masih turun perlahan.
Butiran air menempel di kaca yang retak akibat pertarungan tadi. Arya mencoba memahami kata-kata itu.
Namun semakin ia memikirkannya, semakin tidak masuk akal rasanya.
"Harga dari kekuatan ini adalah kenanganku?"
"Ya."
"Dan setiap kali aku naik level..."
"Satu kenangan bahagia akan hilang." Jantung Arya seperti berhenti berdetak sesaat.
Ia menatap Aether tidak percaya. "Itu gila."
"Tidak."
Aether menjawab tenang. "Itu adalah aturan."
"Aku tidak peduli itu aturan atau apa pun!"
Suara Arya meninggi untuk pertama kalinya. "Aku tidak pernah menyetujui ini!"
"Aku tahu."
"Lalu kenapa sistem ini memilihku?" Aether terdiam.
Tatapan birunya tampak kosong selama beberapa detik.
Seolah sedang mengakses sesuatu yang tidak dapat dilihat manusia biasa kemudian ia menggeleng pelan.
"Informasi itu terkunci." Arya menggertakkan giginya.
Sejak sadar dari koma, semua yang terjadi hanya menambah pertanyaan baru.
Sistem? monster? Level dan sekarang kenangan.
Tidak ada satu pun yang memiliki jawaban jelas. Ia kembali melihat foto ayahnya.
Biasanya foto itu selalu membuatnya tersenyum.
Biasanya ia bisa mengingat bagaimana ayahnya tertawa saat kail pancing Arya tersangkut ranting.
Biasanya ia bisa mengingat suara omelan ringan yang disampaikan dengan penuh kasih sayang.
Namun sekarang kosong hanya kosong yang tersisa hanyalah perasaan kehilangan.
Perasaan bahwa ada bagian dari dirinya yang baru saja dicuri.
"Aku membencinya." Suara Arya hampir seperti bisikan.
Aether mendengarnya. "Apa?"
"Sistem ini." Ia mengepalkan tangan.
"Aku membencinya." Tidak ada jawaban.
Karena bahkan Aether tidak dapat menyangkal kenyataan itu.
Tiba-tiba layar biru kembali muncul. [Misi Darurat Selesai] Hadiah Telah Diterima Skill Baru Diperoleh
Arya menghela napas panjang. "Sekarang apa lagi?"
Layar itu berubah. [Skill Baru] Mata Pengamat Lv.1
Memungkinkan pengguna melihat energi tersembunyi dan jejak keberadaan makhluk Void.
Arya membaca deskripsi itu beberapa kali. "Mata Pengamat?"
"Skill pasif."
Aether menjelaskan. "Skill tersebut akan membantumu menemukan ancaman sebelum ancaman menemukanmu."
Arya tertawa hambar. "Bagus sekali."
"Ada masalah?"
"Masalahnya aku bahkan tidak ingin berada di dunia ini." Aether terdiam.
Arya sadar gadis itu tidak bersalah namun ia terlalu lelah untuk menahan emosinya.
Baru beberapa jam lalu ia hanyalah siswa SMA biasa.
Sekarang ia dipaksa menerima kenyataan bahwa monster itu nyata dan kekuatan yang ia dapatkan harus dibayar dengan kenangan.
Semua terjadi terlalu cepat, terlalu berat dan ia belum siap untuk semua ini.
Tiba-tiba cahaya biru di mata Arya berkedip.
Kepalanya terasa sedikit hangat kemudian sesuatu berubah. Pandangannya berubah.
Ruangan yang semula terlihat normal tiba-tiba dipenuhi garis-garis cahaya tipis berwarna biru.
Arya membelalak. "Apa ini?"
"Mata Pengamat telah aktif." Arya melihat sekeliling.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ruangan rumah sakit ini tidak benar-benar kosong.
Di sudut-sudut dinding terdapat noda hitam seperti asap.
Jejak-jejak aneh yang sebelumnya tidak terlihat.
Sebagian besar menempel di tempat Shadow Ghoul berdiri.
"Itu..."
"Jejak energi Void."
Arya menelan ludah. "Ternyata dia benar-benar ada."
"Sistem tidak pernah berbohong."
Arya tidak tahu apakah itu menenangkan atau justru membuat situasi semakin buruk.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.
Tok.
Tok.
Tok.
Arya langsung menoleh namun kali ini bukan karena takut. Ia penasaran.
Pintu kamar terbuka perlahan, seorang perawat masuk sambil membawa catatan medis.
Perawat itu tampak normal. Sangat normal.
Seolah tidak pernah terjadi pertarungan yang menghancurkan setengah ruangan.
Arya membelalak. "Apa?"
Perawat itu tersenyum. "Sudah bangun, Dik?"
Arya menoleh ke sekeliling. Semua kerusakan hilang.
Lemari yang tadi hancur kini kembali berdiri utuh.
Kaca jendela yang pecah telah kembali normal.
Bahkan lantai yang retak tidak menunjukkan bekas apapun. Arya merasa merinding.
Perawat itu mengernyit. "Kenapa?"
"Tidak ada yang aneh?"
"Memangnya ada apa?"
Arya terdiam, perawat itu jelas tidak melihat apa yang ia lihat. Tidak melihat Shadow Ghoul, tidak melihat sistem.
Tidak melihat kehancuran yang terjadi beberapa menit lalu.
Setelah memeriksa kondisinya sebentar, perawat itu pergi meninggalkan ruangan pintu kembali tertutup.
Arya langsung menoleh kepada Aether. "Apa yang baru saja terjadi?"
"Lapisan."
"Apa?"
"Dunia manusia dan dunia Void saling bertumpang tindih." Arya mengernyit.
Aether melanjutkan. "Sebagian besar manusia hanya bisa melihat satu lapisan."
"Lalu aku?"
"Kau bisa melihat keduanya." Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.
Arya berjalan mendekati jendela. Hujan masih turun di luar.
Mobil berlalu-lalang, lampu kota berpendar di kejauhan, semuanya tampak normal. Sangat normal.
Namun kini ia tahu, di balik dunia yang terlihat biasa itu, ada dunia lain yang tersembunyi.
Dunia yang dipenuhi monster, dunia yang selama ini tidak pernah diketahui manusia biasa.
Dunia yang kini menjadi bagian dari hidupnya. "Aether."
"Hm?"
"Berapa banyak monster seperti Shadow Ghoul?"
Aether tidak langsung menjawab, ia memandang keluar jendela bersama Arya.
Kemudian berkata pelan. "Jauh lebih banyak daripada yang bisa kau bayangkan."
Arya terdiam, entah kenapa jawaban itu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Dan pengguna sistem?"
"Jumlah mereka terus berkurang."
"Kenapa?" Aether menatapnya.
Karena mereka diburu, jawaban itu membuat suasana menjadi jauh lebih dingin.
Arya mengepalkan tangan, ia mulai mengerti.
Pertarungan malam ini bukanlah akhir. Itu hanyalah awal.
Shadow Ghoul bukan musuh terakhir bahkan mungkin bukan yang terkuat.
Masih ada banyak makhluk lain di luar sana.
Makhluk yang sedang mencari pengguna sistem.
Makhluk yang mungkin suatu hari akan datang untuk membunuhnya.
Dan yang lebih mengerikan...
Setiap kali ia menjadi lebih kuat untuk melawan mereka, ia harus kehilangan lebih banyak kenangan. Ia memejamkan mata.
Tiba-tiba wajah ibunya muncul dalam pikirannya. Senyum hangat wanita itu, suara lembutnya.
Perhatian-perhatian kecil yang sering dianggap sepele.
Rasa takut kembali muncul di dalam dada Arya.
Bagaimana jika suatu hari ia melupakan semuanya?
Bagaimana jika suatu hari ia melihat ibunya sendiri dan tidak lagi mengingat kenapa wanita itu begitu berharga baginya?
Pikiran itu terasa jauh lebih mengerikan daripada monster mana pun. Arya membuka mata perlahan.
Hujan di luar mulai reda namun badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa musuh terbesarnya mungkin bukan monster dari dunia Void.
Melainkan sistem yang kini hidup di dalam dirinya sendiri.